TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 86 Belanjaan orang lain


__ADS_3

Hari ini Mita mengantar Hafi sampai lobby hotel ,lalu dirinya ke super market terdekat di sana.Tak lupa pengawal raksasa yang selalu bersama nya.


Mita membeli beberapa keperluan nya yang mulai habis.Menaikki eskalator ke lantai tiga.Mita membeli beberapa dalaman milik nya dan milik Hafi.Karena beberapa hari ini Mita malas untuk mencucinya sendiri.


Laundry hotel sebenarnya menerima apapun,namun bagi Mita itu tidak pantas.


"Bisa tidak Pak,agak jauhan!!" Mita sedikit kesal dengan pengawal,karena jaraknya sangat dekat.


Menundukkan wajah nya "Maaf Nona,ini sesuai perintah Tuan dan Pak Ricko!"


Mita menghela nafasnya kasar "Ini di bagian pakaian dalam wanita Pak,Apa anda tidak malu?!"


"Tidak Nona!"


"Tapi aku malu,dan tidak leluasa memilih.Tolong bergeser dua atau tiga meter!!"


Pengawal yang disebut Pak Raksasa itu pun masih terdiam,tak bergeser.


"Pak Raksasa,tolong yaa! Atau akan aku belikan bra dan kau memakainya Sekarang?"


Reflek pengawal itu pun menjauhkan dirinya satu langkah dari Mita.


Mita tersenyum tipis "Dua langkah lagi Pak!!"


Pengawal kembali ke mode diam tak bergerak.


"Kecoa!!!" Mita menunjuk lantai,dan reflek pengawal langsung melangkah ke belakang dua kali.


Mita yang tahu itu menutup mulutnya,menahan tawa.


Setelah di lantai atas,kini dirinya di lantai dasar,memilih makanan ringan dan buah-buahan.Susu dan cemilan yang lain.


Kali ini Pak raksasa tidak bersama nya.Karena Mita sengaja membuat dia sibuk untuk menunggu pesanan Mita di outlet kue yang di pesan hangat langsung keluar dari oven.


Tangan nya tak sengaja menjatuhkan lemon dari rak buah.


"Maaf,aku tidak sengaja!" menjatuhi kaki seseorang di dekatnya.


Lelaki itu pun mencondongkan tubuhnya,mengambil Lemon dan berdiri memberikan nya pada Mita.


"Tidak apa-apa!"


Mita menoleh,mata nya melebar melihat seseorang di depan nya.Bibir Mita tersenyum tipis.Tidak menyangka akan bertemu dengan nya di kota ini.


"Mita?..."


"Dion?..."


Dion mengulurkan tangan "Senang bertemu dengan mu di sini! Aku tidak menyangka sama sekali Mita!"


Mita tersenyum "aku juga Dion,sepertinya lama sekali kita tidak saling bertegur sapa!"


Dion menatap Mita "Itu karena aku sibuk dan kau sudah tidak bekerja Mita"


Mita menutup mulut nya "Itu benar Ion"


"Belanja?..." Dengan tanpa diminta Dion mendorong keranjang milik Mita.


"Eh tunggu,bukan kah kau juga akan belanja Ion.Aku merepotkan mu jika seperti ini!"


Dion menggeleng "Anggap saja kita belanja bersama"


Mita pun tersenyum,dan melanjutkan belanjaan nya.Memilih banyak barang,dan persediaan untuk sebulan berikutnya.


"Memang suami mu tidak bercerita jika bertemu dengan ku kala itu?"


Mita menggeleng.


"Suami mu sangat pencemburu Mita.Aku hanya ingin tahu kabar mu saja dia tidak suka"

__ADS_1


"Kau disini?"


"Hampir semua perusahaan kontraktor,dan supplier ada di sini.Kebetulan Pak Ameer ada sedikit kepentingan jadi aku yang standby di sini"


Mita mengangguk, mendengarkan semua cerita tentang pekerjaan nya dan perusahaan.Namun Dion tidak bercerita sedikitpun tentang asmara nya.


Mengantri di kasir,semua belanjaan terbayar oleh Dion.Dan terpisah sesuai dengan belanjaan masing-masing.


"Aku merepotkan mu Ion"


"Tidak.Ini aku bayar semua karena kita tidak bisa sekedar makan bersama.Aku tahu suami mu akan marah jika mengetahui nya!"


Mita terkekeh,ucapan Dion benar adanya.Hafi sangat pencemburu,terutama dengan Dion.


"Sekali lagi terima kasih!"


Mereka berpisah di pintu keluar,bersamaan dengan itu Pak raksasa datang menenteng lima kotak kue.


Meletakkan di keranjang bersama yang lain.Beliau pun mendorong hingga sampai di parkiran.


Mita masuk ke mobil terlebih dahulu.Tiba-tiba kepala nya merasa pusing.Dia pun bersandar di bantalan jog,memasang sabuk pengaman dan mencoba memejamkan mata.


.


.


.


Tok..


Tok...


Tok....


Kaca mobil diketok dari luar.Seketika Pengawal keluar dari sana.Padahal kaca di sebelah sisi satu nya terbuka.Namun karena mepet dengan tembok Hafi mengetok sebelah sana.


"Siang Tuan?"


"Maaf Tuan.bNona tertidur semenjak pulang dari mall."


Hafi melihat jam tangan nya.


"Aku berangkat pukul sepuluh,Lalu kalian ke mall.Memang berapa lama di mall?"


"Maaf,nona meminta kue yang langsung keluar dari oven"


Hafi mengangkat alisnya "Berapa banyak?"


"Lima kotak Tuan"


"Kau tidak mencoba membangun kan nya?!"


"Tidak berani Tuan!"


Tanpa bertanya apapun lagi,Hafi membuka pintu belakang.Dan benar Mita masih terpejam.


"Astaga!!" Mendekati dan melepas sabuk pengaman.Hafi meraih tubuh Mita.Tidurnya sangat nyenyak.Menggendong Mita hingga sampai ke lantai kamar nya.Mita sempat terbangun,namun dia melingkarkan tangan nya di leher Hafi.


Pengawal tetap berjalan di belakang membawa semua belanjaan Mita.Masuk ke kamar dan meletakkan nya di meja.


"Terimakasih,kau boleh keluar!"


.


.


.


Hafi membaringkan Mita di ranjang dan dirinya masuk kamar mandi untuk bersih-bersih.Kebetulan facial foam di dalam habis.Hafi membuka kantong belanjaan Mita dan mengambil itu dari sana.

__ADS_1


Sesuatu terjatuh dari kantong plastik,tapi Hafi tetap melenggang masuk tak menghiraukan.


Beberapa puluh menit berlalu,Hafi keluar dari sana.Melihat istrinya masih meringkuk.Dia pun berinisiatif membereskan belanjaan Mita.


Matanya melihat sesuatu yang jatuh,dahinya mengernyit.Merogoh lagi,hingga semua keluar.Mata Hafi memicing beberapa barang terlihat aneh dan tak pernah dia tahu Mita ataupun dirinya memakai itu.


Menjejerkan beberapa barang di meja.Akan dia tanyakan ketika istrinya terbangun.


.


.


.


Ricko menghela nafas ketika mendapat sesuatu di e-mail nya.


Ada-ada saja.


Membalas e-mail lalu menutup leptopnya.Kembali mengirim chat pada Pengawal Mita dan ternyata benar.


Namun Ricko tak bercerita yang lain karena kemungkinan pengawal nya tidak tahu.


Pria itu pun berfikir bagaimana caranya bertemu Mita tanpa tahu Hafi.


Dion mengirim e-mai lewat Ricko karena dia tahu,akan menjadi bencana jika dia langsung tanyakan pada Hafi.


"Aku fikir nanti saja jika Pak Hafi bekerja! Jangankan dia saya saja takut jika suaminya marah" Gumaman itu tentu hanya Ricko saja yang mendengar.Karena di dalam kamarnya tidak ada siapapun.


.


.


Mengerjapkan mata,dan membuka nya.Mita merenggangkan tubuh,mengumpulkan semua energi nya.


"Hoaaammb! Aku sudah di hotel ternyata!"


Hafi melihat pekerjaan nya di laptop,dan menurunkan kaca mata menoleh pada Mita yang sudah bangun.


"Sudah bangun sayang?Tidur mu sangat lama!"


Mita hanya mengangguk dan masih meringkuk.


"Tadi ke mall? Beli apa saja?" Matanya masih di depan laptop.


Istrinya menyandarkan punggung dan sejenak berfikir.


"Di kantong,Di bawa masuk tidak kantongnya oleh Pak Raksasa?"


Hafi hanya menunjuk kantong plastik yang sudah terlipat rapih.


"Untuk apa beli kue sebanyak itu?"


"Di bagikan cleaning service dan yang lain.Aku hanya ingin sedikit saja! Boleh kan?"


Hafi mengangguk "Lalu itu?...."


Suaminya kembali menunjuk beberapa belanjaan Mita yang lain,yang Hafi rasa itu bukan milik nya.


Mita terkejut dan seketika bingung harus menjawab apa.


"Apa itu punya mu,sejak kapan suka bau-bau seperti itu?" Kursi putar Hafi berbalik,kedua mata suami nya melihat lekat.Mita termangu dan mendadak tidak bisa menjawab.


"Apa itu punya konsumen yang terbawa oleh mu??!


.


.


.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2