
Gara-gara menyebut dirinya sendiri Daddy,dan terngiang di telinga Mita.Dia yang selesai mandi lalu memakai baju nya terus menggerutu.
Sempat berseteru tidak penting selesai subuh tadi,namun gara-gara Hafi meminta sekali lagi dan Mita mengangguk ki.Hafi bangun kesiangan.Beruntung hari ini hari Jumat dan dia bisa sedikit lebih santai karena tidak ada pertemuan apapun.
Mina yang sedari tadi sudah bertengger di kasur dan memegang botol dot nya hanya melihat Ayah dan Bunda sambungnya mondar mandir di kamar.Gadis kecil itu santai dengan kaki kanan diatas lutut kaki kiri nya.
"Undaa,pis!" Mita yang mendengar itu langsung mendekat dan menggendong Mina ke toilet.
"Pelan-pelan yaa?!" Hafi yang duduk di sofa sembari membuka laptopnya berteriak dari sana.
"Yaa ..." dan di jawab oleh Mina.
Selesai menuntun Mina ke toilet, dirinya meletakkan Mina kembali lagi di ranjang,namun anak itu segera bangun dan duduk.Melihat Fandi yang memakai kaca mata,dia pun turun dan menghampiri nya.Meminta naik ke sofa,lalu duduk di pangkuan nya.
Mita yang sedang memulas wajah,hanya melirik ke arah suami dan Mina.
"Sabar Mina,nanti ayah ajarkan jika sudah selesai ya!?"
Rasa ingin tahu nya sangat tinggi hingga Mina mencoba meraih keypad laptop yang ada di depan Hafi.
Mina pun mengangguk,patuh dengan ucapan Hafi.Melihat Hafi yang sedang mengutak-atik laptop nya,Mina tetap di sana tenang bersandar di bahu.
"Mina saja memanggil mu Ayah,kenapa tadi malam kamu menyebut Daddy? Aku tidak suka!"
Hafi hanya mendengar tanpa menoleh Mita.
Astaga,perkara sebutan nama masih di ungkit!
Hafi bergumam dalam hatinya.Ternyata berurusan dengan wanita hamil tidak semudah berurusan dengan polisi tilang.
"Aku tidak suka anak ku kebarat-baratan,aku ingin dia lemah lembut, penyayang kaya Bunda,ya nak yaaa?!" Mita mengusap perut nya sendiri.
"Itu kalau perempuan sayang,kalau lelaki dia harus seperti Daddy nya!"
"Tuh kan?! Aku tidak suka Daddy Daddy apa,Ayah pokok nya.Sama kaya Mina memanggil mu!"
Hafi menghela nafas "Iya,iya yaaa Ayah..Iya Ayah!"
Lebih baik mengalah dari pada berkepanjangan.
Tiba-tiba ponsel Hafi berdering.Meninggalkan Mina dan meraih ponsel di atas nakas.Melihat layar,Hafi langsung mengambil nya dan melangkah membuka pintu, keluar dari kamar.
Mita memicingkan mata melihat suami nya yang tergesa-gesa menerima panggilan.Merasa Aneh karena tidak seperti biasa yang selalu meminta tolong istrinya untuk mengambil ponsel.
Meraih Mina dan ikut keluar dari kamar,mencari Hafi.Sama sekali tidak terlihat bekas langkahnya.
"Cepat sekali,kenapa dia?Tidak biasa nya ada telfon pergi dariku!" Mita menghela nafas nya kasar.
__ADS_1
.
.
.
"Mita..Mencari siapa nak?" Mamah Ara yang di dapur pun terkejut melihat Mita masuk ke sana.
"Mamah lihat Hafi kemari?"
Ara pun mengerutkan keningnya.
"Seperti nya tidak kemari"
Hafi berjalan masuk ke dapur juga.
"Mah,bekal ku mana?" Mata nya membulat melihat Mita yang sudah ada di sana.
Mendengar itu Mita mengerucutkan bibir.
"Sayang,kamu disini ngapain?"
Hafi mengambil Mina dari gendongan istrinya.
"Aku mau bicara!"
Setelah memberikan Mina ke mbak Sri,Mita mengajak suami nya ke atas.Dan masuk ke dalam kamar.
Secara spontan Mita melayangkan bantal ke arah Hafi,ia pun menangkap nya dengan cepat.
"Ada apa sayang?" Hafi pura-pura belum menyadari,padahal dia sudah filling ini akan terjadi.
"Kenapa minta Mamah yang membuat kan mu bekal?"
"Kenapa memangnya?!"
"Aku istrimu, bagaimana nanti jika mamah bicara di belakang ku,menantu nya tidak bisa membuat kan suaminya bekal?"
"Maksud nya gimana sih?"
Mita sudah mulai kesel,dan menghempas pantat nya di ujung ranjang.
"Harus nya kamu meminta kepada ku bukan ke Mamah.Aku yang seharusnya menyiapkan semua kebutuhan mu bukan Mamah!!"
Matanya mulai mengembun.
"Kamu tadi sedang bersama Mina,jadi aku minta ke Mamah.Tidak usah berfikiran macam-macam!"
__ADS_1
Mita mulai menitikkan air mata.Entah kenapa hari ini lagi sedikit melow.
Hafi berjongkok di depan nya,memandangi perempuan yang di cintai.
"Bukan kah senang mempunyai mertua yang baik?"
Menyusut cairan di hidung,Mita mulai menangis.
"Mamah tidak pernah seperti yang kau fikirkan.Mamah baik sayang,Mamah tidak pernah menganggap menantu nya malas atau tidak bisa memasak.Dan aku yakin kamu juga masak karena kamu dulu hidup hanya bertiga dengan Ibu dan Mina.Aku percaya kamu bisa masak,hanya saja tadi kamu sibuk memegang Mina."
Hafi mengusap air mata Mita,dan menyeka ingus istrinya,meraih tissue di sebelah nya.
"Jangan menangis,Jangan sedikit-sedikit kebawa perasaan.Hari ini kamu sungguh sangat sensitif,jika aku tidak sabar mungkin sudah ku tinggal ke kantor dari tadi!"
Memegang dagu istrinya,mereka saling bertatap.
"Sabar,buatlah hari hari mu senang dan bahagia,aku ingin mempunyai anak yang manis.Jika kamu seperti itu, bagaimana dengan dia?!" Hafi memegang perut Mita yang mulai sedikit menonjol walau hanya beberapa Senti.
Mita mengangguk melihat Hafi.
"Maafkan aku selalu membuat mu marah!" Hafi mengusap air mata Di pipi Mita lagi.
Menyusut cairan di hidung,Mita tiba-tiba memeluk Hafi.
"Tidak usah ke kantor!!"
Hafi pun tersenyum dan hanya mengangguk.
"Aku ingin makan kripik belut!"
Mendengar itu,seketika pelukan nya terlepas.Mengerutkan keningnya dan menatap wajah Mita.
"Aku salah dengar kan?"
Mita menggeleng "Gak,kamu gak salah dengar"
"Memang boleh makan begituan?"
Mita mengangguk "Boleh,asal jangan racun!"
Dengan berat hati Hafi menyanggupi permintaan istrinya yang menurut dia sedikit aneh.Karena kenapa harus kripik belut,sedangkan kripik berbagai macam jenis dan rasanya.
.
.
.
__ADS_1
To be continue