
Beberapa kali tubuhnya terbentur karena mobil yang mengejarnya memepetkan body.Mita benar diluar dugaan.Mampu mengemudi dengan sangat lincah di situasi yang genting.
Hingga mobil tiba-tiba berhenti karena bahan bakar yang habis.Mengunci semua pintu mobil dan berpindah duduk di belakang,merunduk.Mita fikir mereka tidak akan tahu jika dia bersembunyi di sana.
Beberapa orang muncul dari mobil yang lain,benar saja salah satu dari mereka adalah Dito kakak Sharena.Keterkejutan Mita membuat dirinya menutup kedua telinga nya,matanya terpejam.Beberapa kali mobil nya di guncang,hingga benda berat sudah memukul kaca.
Jalanan benar-benar sepi,selain sudah melewati jam delapan malam.Jalan itu adalah jalan menuju hutan para pendaki.
Meski semua kaca sudah mulai retak,Mita masih bertahan di dalam nya.Beberapa serpihan sudah mengenai tangan dan wajah Mita,meski tidak seberat namun tetap saja perih.
Tanpa sadar air mata nya menetes,bukan karena sedih akan nasib nya.Mita lelah dengan drama kejar-kejaran,dan Dito berhasil membuka pintu.Mencengkram pergelangan Mita dan menariknya.Padahal kedua tangan Mita sudah banyak darah karena pecahan kaca.
"Lepaskan!! Aku mohon!"
Dito hanya tersenyum miring mendengar nya.
"Siapapun Anda,aku tidak pernah mempunyai masalah dengan mu!!!" suara Mita lirih namun terkesan menekan.
Mendengar nya Dito naik pitam,menarik dan melempar kan Mita di depan nya.Mita jatuh tersungkur di aspal.Badan nya susah di gerakkan.Nafas nya sudah sangat sesak.
Hafiii,aku lelah!!!
Dito mendekati,dan menarik lengan nya.Mencengkram dagu Mita,mereka saling bertatap.Mita terus mengerjapkan mata nya.
"Jika tidak mempunyai masalah dengan ku,Apa kau ingat dengan ku?"
Wajahnya hanya berjarak lima belas Senti di depan,Mita menggeleng.
"Aku Dito kakak Sharena,siapapun menyakiti adikku.Akan berurusan dengan ku! Di sini tidak ada satu orang pun yang akan mengetahui mu.Bisa saja besok mayat mu akan ditemukan di pinggir jalan atau sungai dekat sini!!"
Mita tergelak "Kau salah jika menculik ku.Aku hanya istri Hafi.Aku tidak lebih penting dari keluarga nya!" Mita mencoba tenang dan menelan ludah yang sudah bercampur darah karena bibir nya pecah akibat tergores kaca.
"Lagipula jika Hafi menikahi ku dan bukan menikahi adik mu mungkin adikmu tidak menarik lagi bagi Hafi!"
Plakk!!
Mita terpejam merasakan betapa pedas nya tamparan Dito.
"Hahaaa, seorang lelaki tidak akan memukul wanita.Apalagi di depan para bawahan nya!" Mita tersenyum miring!.
Bukan hanya sweeter dan celana nya yang sudah banyak bekas darah,kaki Mita sudah sobek dan Beberapa luka di sana.Tidak bisa terbayangkan betapa sakit nya Mita menahan itu semua saat ini.
"Dasar ******!" Dito menampar Mita sekali lagi.
Dito pun berbalik badan,dan sebuah pistol jatuh dari pakaian nya.Mita melihat itu dan meraih nya.
Tepat di belakang kepalanya,Mita mengarahkan pistol di belakang kepala Dito.Dengan segenap tenaga tersisa Mita bangkit,pelatuk sudah siap.
"Ternyata aku jauh lebih kuat dari mu!"
__ADS_1
Dito berbalik "Hai jangan main-main dengan senjata!"
"Senjata ini milik ku sekarang,dan mungkin beberapa detik lagi aku akan melepaskan pelatuk nya!"
Semua menegang,anak buah Dito juga langsung menegak.Lima orang di sana dan sepertinya satu lagi ada di dalam mobil.
Dan mereka terkejut mendengar suara peluru melesat dari pistol,dengan sangat kencang.
.
.
.
Beberapa orang sudah berpencar dan membagi tugas sesuai dengan perintah.
"Ikut mereka,kau akan di jaga oleh mereka.Biarkan aku yang ikut om Abas.Selamatkan Mita terlebih dahulu.Jangan fikirkan apapun.Mengerti Fi?!"
Hafi mengerjapkan mata mendengar Riza yang baru kali benar-benar menjadi kakak yang melindungi adiknya.
"Aku berhutang pada mu Za!!"
"Jangan seperti itu,Aku memang kurang suka cara mu pada Mita.Tapi kalian tetap lah adikku,Dan kewajiban ku menjaga kalian! Cepatlah sebelum terlambat!!"
Sekelas pengamanan Garda Pratama,Hafi menggunakan mobil anti peluru.Kecepatan nya melebihi mobil sport pada umumnya.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit mereka sampai di atas bukit,di susul oleh Riza,dan Om Abas.Sedangkan Fandi dan beberapa polisi sudah di tempat penyekapan Mita sebelumnya.Mereka menemukan seseorang yang sangat Fandi kenali.
Sudah meminta maaf beberapa kali,namun tangan nya masih terikat dan di jaga oleh beberapa polisi di sana.
Hafi mendengar kabar itu sangat marah tak terkendali.Orang yang selama ini dekat dengan nya ternyata menusuk bahkan membuat istrinya celaka.
.
.
.
Suara tembakan terdengar begitu kencang,Mita yang masih dengan posisi nya dan belum melepas pelatuk nya terkejut mendengar itu, segerombolan orang berseragam hitam dan beberapa aparat keluar dari semak-semak dan mengepung Dito beserta anak buahnya.
Kaki nya sudah di lumpuhkan oleh senjata tajam.Mita yang tahu di antara mereka ada suaminya langsung jatuh,dengan lutut sebagai tumpuan nya.
"Astaga sayang!!" Hafi menangkap dan memeluknya.
"Aku tidak tahu lagi,jika beberapa menit kedepan!" Suara nya sudah terputus.Tubuh Mita sudah tak kuat lagi untuk berdiri.
Tembakan terdengar lagi di udara,ternyata ada Sharena yang keluar dari mobil dan mencoba melarikan diri.
Hafi tetap fokus pada istrinya.
__ADS_1
"Kita pulang sayang!"
Mita hanya mengangguk,lalu sedetik kemudian mata nya menutup dan terkulai lemas.Dengan cekatan Hafi mengangkat.
Tak berapa lama helikopter datang,di sana ada opa Alex,Riza tersenyum dan melambaikan tangan yang masih mengalir pistol.
"Hafi,bawalah Mita segera!"
Mendengar Riza berteriak,Hafi segera membawa Mita ke heli milik Opa Alex.
"Opa sudah menghubungi Inggi untuk menyiap siagakan dokter di rumah"
Hafi mengangguk "Terimakasih Opa?!"
"Sama-sama!"
Alex pun memegang pergelangan tangan Mita.
"Syukurlah,mungkin dia hanya lelah.Luka nya banyak sekali Fi."
Hafi mengusap perlahan pipi Mita.
"Aku sangat mencintai nya Opa,akan aku buat siapapun menyesal telah mencelakai istriku!!"
Alex pun tersenyum dan mengangguk.
.
.
.
Membaringkan di ranjang.Inggira sudah menyiapkan tim medis,dua orang dokter dan tiga perawat.Melihat kakak ipar nya yang bersimbah darah,gadis itu meneteskan air mata.Tidak hanya dirinya, Daffin pun begitu.
Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam,semua keluarga sudah di rumah,berada di ruang tengah.Namun ada satu orang yang terus mondar-mandir di depan pintu kamar nya.
Hafi menunggu keadaan Mita selesai di tangani.Hingga mulai pagi menjelang.Dokter baru keluar dari kamar Hafi,dan menghembuskan nafas perlahan.
Bibirnya tersenyum merekah.
"Semua nya baik-baik saja,dan bisa teratasi.Istrimu sangat kuat,selain melindungi dirinya sendiri,Calon bayi di dalam perut nya juga sangat kuat dan pintar!"
Mata Hafi membola mendengar nya "Hah??!! Mamah!!"
.
.
.
__ADS_1
To be continue