TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 20 Memori Yang Kembali


__ADS_3

Mita sudah membuka mata,sikap nya mendadak dingin kepada Hafi.Sudah tidak ada jarum dan selang infus di tangan nya.


Sejak tadi mereka berdua saling diam hening tanpa kata sama sekali.


"Hallo kak Mita?"


Daffin masuk dan menyapa Mita,dirinya akan berpamitan kepada Mita,karena hari ini dibolehkan pulang.


"Haiii Daffin?!"


Daffin mendekati Mita,bibir nya tersenyum.


"Kak Mita ingat dengan ku?"


Mita menatap Daffin dan mengangguk.Jika sedang mengingat sesuatu Mita cenderung memejamkan mata dan menahan nyeri di kepala.


"Kak Mita sudah ingat semua nya?"


"Sedikit"


"Jangan di paksakan kak jika itu menyakiti mu?"


Mita tersenyum dengan ucapan Daffin.


"Boleh aku memeluk kak Mita?"


Daffin merentangkan tangan.


"Boleh,naik lah sini!!" Mita menepuk ranjang,pas di sebelah nya.


Daffin,sedikit kesusahan.Hafi pun mendekat dan mengangkat nya.Pria itu berdiri di dekat Mita dan Daffin.


Dengan erat Daffin memeluk Mita.Melingkar kan kedua lengan di leher Mita.Mengubah pelukan dari kanan ke kiri.


"Jika kak Hafi menyakiti kakak,bicaralah dengan ku.Aku akan menghukum nya!" Suara Daffin berbisik sangat lirih.Suara khas anak kecil yang lugu,Daffin bisa merasakan jika Mita dan kakak nya sedang berselisih tegang.


Mita yang mendengar nya melirik kepada Hafi.Lelaki itu pun tahu Daffin berbisik sesuatu pada Mita.Hanya saja dia mendengar nya kurang jelas.


"Boleh aku mencium pipi kak Mita?" Tangan kecil Daffin menangkup kedua pipi Mita yang tersenyum.Dia merasa anak kecil ini sangat lucu dan penyayang.


"Fin,udah Fin..Jangan banyak permintaan!" Hafi mendengus,jengah dengan tingkah Daffin yang macam-macam.


"Kak Mita saja tidak protes!" Daffin memalingkan muka nya.Lalu mencium pipi Mita dengan cepat.


"Cepat sembuh ya kak Mita,semoga besok kak Mita bisa pulang"


"Iya,kak Mita juga sudah bosan di sini!"


"Nanti aku bicara dengan kak Yilmaz untuk mengijinkan kakak pulang"


"Benarkah?"


"Hemmm" Daffin mengangguk.


Ceklek! Mereka bertiga menoleh bersama.


"Nak,Ayoo!! Papah sudah menunggu di bawah!" Ara mendekati ranjang Mita.


"Kenapa di atas,kamu mengganggu kak Mita sayang!" Ara mengambil tubuh kecil Daffin.


"Tidak apa mah!Aku senang jika Daffin bersama ku!"


Ara yang mendengar itu menutup mulut nya kaget,dia tidak salah mendengar bukan?


"Fi..Mita?"

__ADS_1


Hafi mengangguk "Sebagian memori nya sudah kembali.Tapi entah lah jika dengan ku"


Mengedikan bahu,dan berbalik badan.Hafi duduk di sofa,mata nya terus melihat Mita.


"Mita,apa yang tidak kau ingat?"


Mita diam termenung sesaat.Mata nya terus mengerjap mencoba mengingat suatu hal.


"Aku,tidak tahu kenapa aku bisa disini.Terakhir yang aku ingat adalah luka di kaki ku"


Hafi duduk bersandar,tangan nya bersedakep di dada.Dia mendengar apa yang Mita ucapkan.Ternyata benar kata Yilmaz.Semakin di ingatkan memori nya,dia akan terpancing walau efek nya akan sakit di kepala.


"Kau mengingat Ibu Dalilah dan Mina?"


Mita mengangguk cepat "Ibu dan...." ucapan nya terhenti,lirikan nya bergantian ke Hafi lalu ke Ara.


"Mina,masih balita"


Senyuman Ara menjadi kekehan yang sedikit keras.Mita sudah kembali ingatan nya walau masih sedikit berusaha lagi.


"Kalau Hafi?"


Ekor mata nya melihat Hafi "Aku tidak tahu!"


Ara terperangah "Tidak tahu atau tidak ingat?"


"Maaf mah,tanyakan sendiri kepada nya! Kepala ku mulai sakit!"


Merasa bersalah Ara mengusap bahu Mita "Ya sudah,jangan di paksa.Istirahat lah.Mamah dan Daffin pamit.Nanti besok kita akan mengunjungi mu lagi"


Ara dan Daffin bergandengan keluar dari ruangan Mita.Mita pun bisa melihat nya hingga hilang tak terlihat ketika pintu di tutup.


Merosotkan tubuh di ranjang lalu menarik selimut.Hafi tiba-tiba mendekat membantu posisi Mita agar nyaman.Tapk sayang,wanita itu benar-benar menyingkirkan kasar tangan Hafi.


"Awas!!! Minggir!!"


"Tidak perlu!"


Mita pun merebahkan tubuhnya di bantal yang sudah di susun,agar dia nyaman berada di sana.


Hafi hanya menghembuskan nafas saja, mendapati Mita yang marah.


.


.


Daffin dan Ara sampai di rumah menjelang sore hari.Melihat Mina bermain dengan asisten di ruangan bagian belakang.


Daffin pun mendekati nya dengan semangat "Hallo dedek Mina?"


Bocah kecil itu mendongak melihat Daffin,bibirnya tersenyum.


"Apa kabar Bu?" Ara menyapa Ibu Dalilah yang juga berada di sana.


"Alhamdulillah baik nyonya, Bagaimana keadaan Mita?"


"Doa ibu terjawab.Mita sembuh dan mampu mengingat semua.Itu semua berkat Dion yang kemaren menjenguk dan menceritakan semua tentang Mita dan keluarganya"


Ibu Dalilah kembali tersenyum "Nak Dion masih sebaik dulu,Kalau saja Mita selalu bersama Dion ibu merasa lega.Karena dari dulu Dion lah yang selalu menjaga Mita.Termasuk pekerjaan yang sekarang juga Dion yang mencarikan"


"Dion pernah berpacaran dengan Mita?" Ara merasa penasaran dengan kelanjutan cerita mereka.


"Dion menyukai dari dulu.Tapi tak pernah di anggap oleh Mita.Beberapa kali meminta pada saya.Tapi saya terserah Mita saja"


Ara menganggukkan kepala dan sedikit berfikir.

__ADS_1


Jika Hafi hanya mempermainkan Mita.Kau rugi Fi,saingan mu Dion.Asisten terpercaya keluarga Candra.Menyesal kau Hafi!


Tiba-tiba wajah Ara lesu.


"Kenapa nyonya?"


"Oh tidak apa-apa Bu"


.


.


Hafi sudah bosan terus menerus berdiam tanpa ada suara dari kedua nya.Mita yang masih gengsi untuk berbicara.Begitu juga dengan Hafi yang tidak mau mengalah.


Makanan sore hari saja masih utuh.Belum tersentuh sama sekali oleh Mita.


"Aku akan keluar sebentar,beberapa menit saja"


Mencoba berpamitan dengan Mita nyatanya hanya suara deheman saja yang Hafi dapatkan.


Hafi pun keluar,duduk persisi di depan pintu ruangan Mita.Merogoh saku celana nya dan mengeluarkan satu batang nikotin lalu mematik nya menggunakan korek gas.


Pandangan nya menerawang jauh ke luar sana.Masalah satu pun tidak ada yang kelar.Mall yang batal di resmikan,karena Daffin sakit.Perjanjian yang entah mau di bawa kemana dengan Mita.


Dan satu lagi,Kekasih nya belum juga mengabari beberapa hari ini.Sering muncul dan tiba-tiba menghilang.Berdalih sibuk dengan pekerjaannya.Hafi sangat percaya dengan perempuan itu.Meski berkali-kali di bohongi.


Sharena Baratha,anak dari perancang busana terkenal.Memulai karier menjadi pelukis busana hingga sekarang sekolah perancang busana.Selalu pergi ke luar negri dan hubungan nya tidak pernah di publish dengan Hafi.


Hafi mengambil benda pipih dan mencoba menghubungi Kekasih nya.Hingga panggilan ke tiga tidak ada respon sama sekali.


Pria itu pun membuang nafas perlahan dan hendak melangkah namun terhenti tatkala mendengar jeritan yang melengking dari kamar Mita.


Hafi cepat membuat batang nikotin dan membuka pintu,Mita tidak ada ranjang nya.Suara minta tolong terdengar dari toilet.Tanpa aba-aba Hafi membuka pintu yang ternyata tidak di kunci oleh Mita.


"Mitaa..kau kenapa?!"


Mata nya seketika membola,Mita hanya memakai kaos dalam bertali satu dan celana tipis berbahan hyget dengan panjang sejengkal.


Mita sudah naik di atas wastafel dan memejamkan mata.


"Tolong aku,kecoa!!! singkirkan itu!!!"


Jarinya menunjuk di sebelah pembuangan wc,benar saja bukan hanya satu melainkan dua.


Hafi berdecak, ternyata Mita takut dengan hewan hitam dan kecil.


"Turun,dia sudah mati dan aku buang!"


Hafi mengulurkan tangan,Mita ragu untuk meraih tangan Hafi.Karena pria itu tidak melihat ke arah Mita.


"Yang betul jika ingin menolongku!"


Dengan mata yang mengintip sedikit,Hafi menggapai tangan Mita.


"Aa-aaa-aaah!!!!!!"


Bragk!!!


Prang!!!


.


.


.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2