
Bukan hanya mobil Hafi saja yang terlempar dari jalan,mobil kedua nya juga sama.Namun di kedua mobil tidak ada satu orang pun korban.
Sirene ambulance bersautan,bukan hanya satu tapi dua.Tangan yang terpaut itu terlepas.Mencoba bertahan dan selalu menggenggam namun apalah daya jika Mita harus dilarikan ke rumah sakit terdekat dan terlebih dahulu,karena tidak sadarkan diri.
Hidung dan keningnya berdarah,bukan cuma itu dari pangkal paha,dan di kaki nya mengalir darah yang cukup banyak.
"Cepat bawa aku juga ke rumah sakit!"
Beberapa petugas sedang mencoba mengeluarkan Hafi dari mobil,karena posisi mobil terbalik.
"Sebentar lagi pak,kami sedang berusaha membuka pintu yang tergencet"
Lain dengan Mita yang posisi nya sudah terbalik,dan terlepas dari sabuk pengaman.Hafi masih dengan posisi yang sama di jog kursinya.
.
.
.
Setelah Mita sampai di rumah sakit,Hafi pun sama.Bukan mempedulikan diri nya,Hafi terus berteriak dan meminta untuk di antar di ruang tindakan.
Beberapa perawat berdebat dengan nya hingga setelah membalut luka Hafi,dia bisa melihat Mita di ruang Emergency IGD.Lampunya masih merah,dan tanda siapapun belum boleh masuk.
Suara beberapa langkah kaki terdengar semakin mendekat.Hafi menoleh.Ricko dan di ikuti semua keluarga nya berjalan cepat menghampiri dirinya.
Bukan Ara,namun Inggira lah yang pertama kali memeluk.Dia sangat tidak menyangka hal ini bisa terjadi pada kakak dan kakak ipar nya.
"Tenang kak.Kak Mita pasti baik-baik saja" Gadis itu juga sangat sedih melihat kakak nya di kursi roda dan beberapa perban di tangan,pipi,dan juga kening.
Lalu Ara memeluk bahu anaknya
"Mamah dapat kabar dari seseorang dan langsung kemari!"
"Siapa mah,Aku belum mengabari siapapun.Termasuk Ricko!"
Ara menggeleng "Mamah tidak tahu,dia menelfon rumah.Lalu mamah menelfon Ricko untuk memastikan di tempat kejadian,dan ternyata itu benar!"
"Sudah,biar nanti Papah yang urus itu.Fokus kita pada Mita ,doa kan dia baik-baik saja!"
"Calon bayi ku juga Pah, semoga dia baik-baik saja!"
"Aamiin!"
Mereka di sana melihat Hafi dengan pandangan berkabut,jelas Hafi memikirkan hal buruk tapi dia seolah-olah menepisnya.Dan Ricko sangat tahu itu.
.
.
__ADS_1
.
Vito membalikan badan nya dan menampar para anak buah nya dengan sebelum nya melayangkan beberapa kali Bogeman.
"Kalian bodoh!!! Aku bilang kejar dia,bukan untuk menyakiti! Di sana ada Mita,adik ipar ku yang sudah merawat anak ku!"
"Maaf kan saya Bos!"
"Bagaimana keadaan nya?"
Keempat orang itu saling berpandangan,mereka takut untuk bicara sebenarnya.
"kritis bos..."
Bragk!!!
Vito menendang salah satu nya hingga mengenai meja dan hancur.Dia adalah orang yang paling di percayai untuk melakukan itu,namun salah korban.
"Kalian tahu? Dari dulu aku sangat menyayangi Mita sebagai adik.Jika terjadi kepada nya di suatu hari.Akan ku bunuh kalian!"
"Tapi bukan nya gara-gara dia,Bos Dito di penjara!"
"Itu karena Dito yang tolol.Hanya karena cinta dia membela adik nya yang ****** itu!"
"Kalian,cari tahu bagaimana keadaan Mita dan suami nya! Sekarang!!!"
Mereka semua mengangguk,dan berhamburan keluar ruangan.Buan hanya itu,dua orang yang lain mencoba memapah satu teman nya yang tersungkur di atas meja.Karena tendangan Vito.
.
.
"Keluarga pasien?"
"Saya suami nya dok!" Hafi di dorong Ara mendekati dokter.
Dokter itu pun menatap Hafi terlebih dahulu.
"Maaf..."
Semua nya menegang mendengar itu,Hafi sudah tertunduk lesu.
"Maaf,calon anak anda tidak bisa terselamatkan.Sebentar lagi perawat membawa nya keluar,dan bisa di makam kan secara layak.Umurnya dua puluh satu Minggu dua hari berjenis kelamin perempuan!"
Seketika Hafi menunduk dan menitikkan air mata,Riza sama hal nya dengan saudara laki-laki nya.Menutup wajah dengan jas yang dia genggam.Inggira langsung berjongkok dan memeluk pinggang Hafi.Fandi mendekati Ara memeluk bahu nya,tangan Ara terus mengusap bahu Hafi sebagai penguat.
"Selain kehamilan yang rentan,goncangan nya juga sangat kuat dan calon bayi nya tidak kuat untuk bertahan.Kami sudah melakukan operasi pengangkatan,Nyonya masih belum sadarkan diri,mungkin setelah bius nya hilang perlahan dia akan membuka mata.Saya turut prihatin,dan sekali lagi saya meminta maaf."
Tanpa ada yang menjawab nya,Ricko mendekat dan menundukkan tubuhnya sedikit.
__ADS_1
"Saya mewakili semua nya, mengucapkan terimakasih dok!"
Dokter pun mengangguk,dan mengerti dengan keadaan itu.
Ricko berjalan melihat dari kaca yang ada di pintu.Mita yang terpejam dan terbaring lemah dengan infus dan oksigen.Dua perawat tak jauh dari nya sedang mengurus jenazah calon anak bos nya.
.
.
"Anabia Berliana Hafidan"
"Nama yang cantik kak.Aku ijin bersama kak Riza untuk memakam kan dekat opa uyut ya kak?"
Hafi pun mengangguk.Setelah di urus dengan layak.Dan di dekatkan untuk yang pertama dan terakhir kali nya dengan Ibunya.Bayi yang sangat mungil itu di bawa oleh Inggira dan Riza untuk di makam kan di dekat Opa Brahmana.Dan hal itu di setujui oleh Fandi dan Hafi sendiri.
Kini Hafi sedang menunggu Mita yang sudah di pindah di ruangan VVIP satu.Ara dan Fandi masih di sana,Ricko sudah diberi tugas oleh bos besar untuk menyelidiki kasus ini.Dan tentu mengarah kepada Vito persis seperti yang Hafi ceritakan beberapa saat lalu.
"Mah,aku minta maaf sudah mencelakai orang yang aku cintai!"
Hafi menangis,menatap Mita namun bicara pada Mamah di belakang nya.
"Aku gagal menjaga nya.Aku tidak seperti Papah,yang selalu menjaga Mamah.Aku tidak seperti harapan mamah!"
Mendengar itu Ara pun beranjak dari sofa dan mendekati anak nya.Butuh semangat dan motivasi pastinya.
"Salah satu kehilangan yang menyakitkan adalah kehilangan sesuatu yang kita tunggu dan inginkan.Tapi percaya lah,akan ada hal yang lebih besar setelah ini!"
Ara menjeda ucapan nya sebentar,memeluk anak lelaki nya dari belakang.
"Jangan merasa kamu paling salah dalam hal ini.Mamah yakin Mita nanti akan mengerti,jelaskan dengan tenang dan tidak usah dengan emosi nanti!"
Hafi mengangguk mendengar nya.
"Jalan kalian masih panjang.Bisa saja setelah ini Tuhan memberikan yang lebih dari Anabia,dan semoga itu cepat terjadi.Kini Mamah dan Papah hanya bisa membantu mu untuk menyelesaikan masalah ini.Dan menjaga Mina untuk selalu di keluarga kita!"
Hafi menitikkan air mata lagi. Pandangan nya tidak jauh dari sang istri yang masih memejamkan mata nya.Memandang wajah yang banyak perban kecil di sana.
Mengingat beberapa bulan lalu berjuang sendiri dari aksi penculikan Dito,dan kali ini mereka harus tertimpa musibah yang sangat luar biasa untuk memupuk kesabaran yang sangat luas kembali.
Maaf,kau selalu menanggung ini karena ku.Aku mencintai mu Paramita Berliana.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue