TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 27 Sunat


__ADS_3

Ara yang beberapa saat lalu di kejutkan dengan laporan sopir pribadi keluarga,menjemput Daffin adalah tugas utama nya.


Pulang dengan tidak membawa Daffin,dan memberikan kabar jika Daffin tidak ada di sekolah.Bahkan Guru nya saja tidak tahu ketika Daffin keluar dari kelas.


Sangat panik tentu saja,semua sudah dihubungi hasil nya nol,Hanya menangis di pelukan suami nya.Orang-orang kepercayaan Opa Brahmana mulai di hubungi satu persatu untuk datang.


Fandi yang sangat terkejut dengan kejadian ini sontak langsung berfikir,siapa yang membawa Daffin, sedangkan dia sedang tidak ada musuh atau saingan dalam hal apapun.


"Maaf Tuan,sebagian pengawal sudah ada di halaman depan!" Fandi hanya mengangguk dan mengedipkan kedua mata untuk isyarat pada Bima,yang menjabat sebagai senior.


Bima pun undur diri dari sana.


Ara yang terus menangis di pelukan suaminya.Sangat mengkhawatirkan anak bungsu nya,selain masih kecil Daffin juga baru sembuh dari sakit.


"Mas!! Bagaimana ini?!"


Fandi mengusap punggung Ara untuk menenangkan istrinya "Tenang,kita sedang mencari nya!"


"Kelamaan mas,ini sudah dua jam lebih!"


"Iya sabar..."


Fandi terus bermain dengan gawai nya untuk melacak Daffin,tapi tidak ada tanda-tanda sama sekali.


"Permisi Tuan,pengawal sudah siap semua!"


Fandi dan Ara menatap Bima bersamaan.


"Iy..."


"Tahan dulu,aku tidak mau Daffin ku terluka sedikit pun!"


"Mas,jika Daffin kenapa-kenapa bagaimana?!!"


"Berdoa saja tidak,berdoa lah yang baik-baik"


Fandi masih melihat gawai nya,menunggu pendeteksian keberadaan Daffin.


tap


tap


tap


Langkah tegap terdengar "Mah.."


"Za....Adik mu Daffin Za!" Ara berlari menyongsong Riza yang baru saja terlihat memasuki pintu.Memeluk erat tubuh mamah nya, pandangan Riza tertuju pada Papah nya yang menatap tajam dirinya.


Riza paham dengan tatapan Papah nya "Please Pah,mamah butuh tempat untuk menenangkan perasaan nya!"


"Hemmm..."


Suasana sedang genting,terpaksa Fandi hanya menjawab dengan deheman saja.


"Kakak,dari dulu anak di cemburui terus.Aneh!!"


She yang tidak jauh dari sana bergumam,namun Fandi masih bisa mendengar.Hingga bantal sofa di lempar dan berhasil ditangkap oleh She.


"Aku mendengar nya She!"


"Ya,, memang aku sengaja!"


.

__ADS_1


.


Di Appartemen,kedua manusia kakak adik yang selisih umurnya sangat jauh itu sedang menikmati makanan yang Hafi buat.


"Habis ini kakak antar pulang ya Fin?"


Daffin mengangguk.


"Pasti di rumah,mamah sudah sangat panik.Kakak sudah mengirim pesan,tapi mamah belum juga membaca"


"Aku pulang,tapi kakak janji ya besok bawa kak Mita sama adik Mina.Aku merindukan mereka kak!"


Hafi yang tidak tahu mau menjawab apa lagi dan akhirnya mengangguk saja,mengiyakan permintaan sang adik.


Selesai makan,seperti biasa.Hafi mengangkat anak itu dan mendudukkan nya di sebelah wastafel.Membersihkan tangan Daffin dan mulut yang belepotan.


"Kakak ambil kunci motor dulu,kau tunggu di sini jangan kemana-mana!"


Daffin tersenyum dan mengangguk.


.


.


Melewati pintu gerbang yang menjulang tinggi,Hafi merasa aneh.Di depan banyak sekali pengawal.


Begitu pula dengan para pengawal,mata nya terpana melihat anak bos nya membawa anak kecil,wajahnya belum terlihat jelas karena tertutup Hoodie yang Hafi pakai kan.


Hafi melihat mereka satu persatu dari kejauhan.Membuka helm Daffin dan menggendong.


Semua pengawal melihat Hafi yang melangkah masuk ke rumah,berpapasan dengan Bima di pintu pada saat akan keluar.


"Hafi? Daffin?"


Mendengar nya,Hafi mengerutkan kening.Bima yang dia anggap seperti keluarga sendiri terkejut.


"Bos Fi...Dari tadi mamah mu menangis mencari Daffin!"


Tanpa menjawab Bima,Hafi masuk ke dalam rumah.


"Mah..."


Ara mendengar itu,Fandi pun mendongak.


Daffin yang turun dari gendongan kakak nya langsung berlari kecil dan menerjang memeluk Ara.


Fandi hanya bisa memandang itu.


"Daffin bersama mu Fi?


Hafi duduk di sebelah papah nya,karena di sebelah Ara ada Riza.Mereka masih perang dingin,dan tidak saling bicara.


"Tanya Daffin coba Pah"


Semua berpaling menatap Daffin.Bocah cilik yang sedang di peluk dan di hujani ciuman oleh mamah nya.


"Daffin, coba jelaskan pada Papah.Pulang sekolah kemana tadi?"


Daffin pun melepaskan tangan nya dari pelukan Ara.


"Daffin pergi ke kak Hafi Pah"


"Sendiri?"

__ADS_1


"Bersama taxi"


"Lalu siapa yang memberitahu kamar Appartemen kak Hafi?" Ara pun penasaran juga dengan ulah anaknya.


"Tanya security"


Tangan kecilnya menangkup wajah Ara "Maaf mah,aku hanya ingin kak Hafi pulang saat ulang tahun ku,aku tidak menginginkan kado apapun darinya,aku hanya ingin kak Mita dan adik Mina datang kemari"


Mereka hanya memandang satu dengan yang lain,melempar harapan.Apakah itu bisa atau tidak.


"Nanti kak Riza membawa kesini ya?" mendengar itu Daffin tersenyum senang.


Lain Daffin,lain juga Hafi.Sorot matanya sangat tidak senang dengan Riza.


Fandi yang tahu itu, semakin yakin kedua putra nya sedang berseteru.


"Mah,bawa Daffin ke kamar!" Ara menurut dan membawa Daffin ke atas.


.


.


"Riza, Hafi papah ingin bicara dengan kalian!"


Fandi beranjak dari sana dan memasuki ruang kerja dengan di susul Riza,kemudian Hadi yang berjalan malas.


Duduk di kursi kebesaran nya,Fandi memandangi kedua putra yang berdiri tepat di depan nya.


"Jelaskan!! Apa yang terjadi dengan kalian?"


Sedetik, dua detik,lima detik,hingga Fandi menggebrak meja di depan nya persis kedua nya tidak ada yang membuka suara.


Jangan kan membuka suara,yang satu duduk memegang ponsel,satu nya lagi membuka buku yang di ambil dari buku.


"Papah tanya,ada apa dengan kalian Riza, Hafi?Kalian sudah dewasa,setidak nya berfikir lah seperti orang dewasa pada umumnya!Jika ada masalah di bicarakan dan selesaikan.Bukan diam dan pergi.Hanya karena perempuan kalian seperti ini.Ingat kalian hanya empat bersaudara,masih ada mamah dan papah saja kalian begini.Bagaimana jika kami sudah tidak ada!"


Riza dan Hafi diam mendengarkan.Fandi yang bicara panjang lebar.Nafas nya sudah naik turun,tidak seperti dulu kala saat mereka masih balita.


"Kalian dengar tidak?!!" Keduanya masih diam.


"Lihat mamah mu,Daffin menghilang beberapa jam saja meraung-raung,kalian tahu betapa berharganya kalian untuk kami! Dan kau Hafi! Sejak kapan kau jadi seperti ini? Pergi ke hiburan malam,pulang mabuk, perusahaan ditinggal!"


Pria tua itu menarik nafas nya panjang.Meraih gagang telfon wairless di samping.


"Hallo Inggira..." suaranya pelan dan terputus-putus.


Hafi dan Riza langsung menoleh bersama.


"Bawakan inhaler Papah,di laci kamar atas!"


"PAH?!!" Hafi dan Riza bersamaan mendekat.


Beberapa tahun belakangan divonis asma,beruntung pola makan Fandi sangat terjaga.Sudah tidak bisa beraktivitas berlebihan seperti dulu,dan harus di bantu istrinya.


Ceklek! Pintu terbuka.


Inggira masuk,mata tajam nya melihat kedua kakak kembarnya.


"Awas saja kalau terjadi sesuatu dengan papah!! Gua sunat lagi kalian!" Gadis itu mengepalkan tangan ke Hafi dan Riza.


.


.

__ADS_1


.


to be countinue


__ADS_2