TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 102 Perasaan Daffin


__ADS_3

Hari ini genap satu bulan umur baby twin.Rumah Hafi mendadak menjadi basecamp,kini semua sering berkumpul di sana.Termasuk Fandi dan Ara hampir membawa semua pakaian nya ke sana.


Dua manusia yang sudah menjadi Opa dan Oma itu selalu berebut Rezka dan Nesha.Padahal sudah satu-satu seharusnya.Namun entah kenapa ingin berganti.


"Mah,kapan pulang sih? Daffin di rumah hanya dengan kak Inggi!" Wajah Daffin masam,sangat tidak enak.


Dirinya sungguh merasa di abaikan oleh Fandi dan Ara sejak ada baby twin.Bahkan Daffin sejak acara tasyakuran hingga kini terkesan menghindar dan acuh kepada baby twin.


Melihat adik ipar nya yang muram durja Mita mendekat.


"Fin,Daffin di rumah kakak saja.Kamar Mina lebar.Kenapa harus di rumah hanya dengan kak Inggi?"


Mendengar itu, Daffin menoleh Inggira yang tidak berminat dengan obrolan dan lebih memilih serius melihat ponselnya.


"Emang boleh kak Hafi?"


"Boleh lah!"


"Tapi nanti kak Inggi sendirian,tidak ada yang menjaga!" Begitu sayangnya Daffin si bungsu dengan Inggi kakak perempuan satu-satunya.


"Kak Inggi juga tidur sini." Kata Mita menyarankan.


"Di rumah kosong kak Mita!!"


Nah jika ini Mita bahkan tidak mengerti juga dengan Papah dan Mamah.


"Pindah sini semua saja,Riza pindah kediaman utama.Daripada di rumah kecil!" kata Hafi


Fandi pun menoleh mendengar nya.Meletakkan Nesha berpindah di gendongan Mita,lalu dirinya mendekati Daffin.


"Besok Papah dan Mamah pulang,Daffin jangan sedih!" Memeluk Daffin erat,Fandi sangat tau perasaan anak bungsu nya itu.Merasa terabaikan,dan tersisih.


"Daffin sayang tidak dengan Nesha dan Rezka?" Tanya Mita.


Bukan menjawab,Daffin masih memandangi dua keponakan yang ada di pangkuan Mamahnya dan Mita.


"Nesha dan Razka merebut kak Mita dan Papah Mamah ku.Bagaimana aku menyayangi nya jika begitu.Ade Mina juga,dia bahkan tidak pernah main dengan ku ke rumah!" Tangan nya dilipat di depan.


Mendengar itu Mita tak bisa berkata apapun,mata nya mencoba menahan genangan yang sudah penuh di sana.Seorang anak kecil seumuran Daffin yang sudah mulai menginjak remaja dan merasakan tersaingi oleh bayi.


Meletakkan Nesha di box, Mita pun melangkah di depan Daffin.


"Daffin,maafin kak Mita ya? Daffin boleh main disini terus,bersama Mina, Razka,dan Nesha.Kak Mita mempunyai baby twin bukan untuk merebut Papah Mamah,Mina atau siapapun darimu.Kak Mita sayang Daffin,begitu juga yang lain!"


Tak tahan dengan genangan di mata nya,Mita pun mengedip dan meneteskan air mata.Mita menunduk mengusap dan menyembunyikan tangis lirih nya.


"Daffin,kak Mita masih sayang Daffin begitu juga kak Hafi.Maaf,sekali lagi Kak Mita minta maaf ya?"


Memeluk erat Daffin,Mita pun menangis di pundak kecil.Bukan hanya Mita saja yang menangis,bahkan Ara pun ikut terharu karena anaknya sedang mode iri pada baby twin dan merasa tersisih kan.

__ADS_1


.


.


21 Bulan kemudian.


Sejak hari itu Fandi dan juga Ara kembali kekediaman utama.Sebagaimana mestinya yang sudah berumah tangga tetaplah menjalani hidup dengan semestinya.


Daffin yang menjalani sekolahnya sama seperti sebelum ada Mita dan juga Mina.Hanya saja kedua kakak nya memang sudah tidak tinggal lagi di sana.


Keluarga Hafi juga menjalani hidup dengan semestinya,hanya ada Hafi, Mita, Mina ketiga art nya dan juga baby twin.


Hari ini Razka dan Nesha berumur satu tahun enam bulan lima belas hari.Mita semakin bertambah kegiatan karena keduanya sudah mulai berjalan,apapun yang ada di dekat nya sudah menarik bagi keduanya.


"Assalamualaikum,,Mina pulang!!"


Gadis kecil yang kini sudah memasuki sekolah dasar,sangat cantik,dan santun,bukan hanya itu.Mina sangat lah periang,selalu bisa membawa perangai ceria dan meleburkan suasana.


"Taruh tas dan sepatu mu di tempatnya Mina!!"


"Iya Bunda!!.."


Padahal hanya dari taman samping,tapi Mina menyahuti nya.Dia tahu jika Bunda sedang mengurus kedua adik nya.


"Cuci kaki,tangan,dan ganti lah seragam mu!"


"Baik Bunda!..."


Setelah siap dan sudah mengganti pakaian,Mina mendekati Mita untuk mencium kening Bunda dan pipi kedua adiknya.


"Ayah belum pulang bunda?"


Kepalanya menggeleng,dan itu sangat lucu.Mita hingga kini bingung kenapa Mina berambut coklat muda sangat kontras dengan kulit putihnya.Padahal saat balita Mina berambut sangat tipis.Lain dengan kedua adiknya yang mempunyai rambut hitam legam.


"Belum Kakak, bagaimana di sekolah tadi?"


Menjatuhkan bobot tubuhnya yang tak seberapa,kedua tangan Mina disilang di depan dada.


"Lagi-lagi aku dibilang anak bule,memang rambut ku seperti ini kan Bund?"


Mita tersenyum miring.Tangan nya memegang sendok untuk menyuapi baby twin.


"Lalu Mina jawab tidak?"


"Jawab.."


"Jawab apa?"


"Terimakasih,sambil tersenyum begini bund" Memeragakan giginya yang sebesar biji jagung berjajar rata.

__ADS_1


"Good,anak bunda pintar!" Mita mengacungkan jempol.Dari Mina mengenal sekolah,dia diajarkan untuk tidak terpancing dengan ucapan apapun temannya.


"Baiklah kepada siapapun jika ingin terlihat baik Dimata...".


"Tuhan!" Belum selesai,Mina sudah menjawab nya.Kata-kata itu selalu terngiang di telinga gadis kecil.


Suara deru mobil terdengar,seketika Mina beranjak dari kursi dan berlari ke depan.Dia tahu dan paham dengan suara yang selama ini menemani.


Mita menggendong Nesha dan menggandeng Rezka.Mengikuti langkah lari Mina.


"Ayah!!..."


Mina selalu berlari dan menyambut Hafi terlebih dahulu.Menjadi anak sulung bagi Hafi dan Mita dari sebelum baby twin lahir.


Kemudian di susul Bunda nya dan Hafi selalu memberikan kecupan singkat pada Mita,meraih Rezka di genggaman Mita.Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan hati yang gembira.


"Kakak Daffin dan Opa nanti kemari menjemput mu Nak!"


Tangan kanan Hafi melepas dasi,sementara Mina yang ada di sebelahnya terus bergelayutan.


"Iya Yah,tadi pagi Bunda sudah memberitahu ku"


"Teh nya Yah!.."


Mita meletakkan secangkir teh di depan Hafi,baby twin tak jauh dari nya dan ada Mbak Sri menemani mereka bermain.


Bagi Hafi,bisa melihat mereka tak jauh darinya saat di rumah adalah suatu kebahagian sendiri.


Hingga sekarang Mita belum mau menambah mbak asuh untuk baby twin,seiring dengan bertumbuhnya Mina.Mbak Sri bisa ikut menjaga baby twin.Mendapat gaji yang besar,dan segala kebutuhan keluarga di cukupi membuat Mbak Sri betah bekerja dengan keluarga Hafi.


"Mbak,pakaian Mina sudah di siapkan?"


"Sudah Bund,kata Mina tidak usah banyak-banyak karena Nyonya membelikan nya di sana"


Mita pun menoleh pada anak gadisnya.


"Benar begitu Mina?"


Mina mengangguk.


"Omfin yang memilihnya untuk ku di gerai Oma"


Ketakutan Mita akan kedekatan Daffin dan Mina sebenarnya ada,namun selalu dia tepis karena Daffin selalu menganggap Mina adik.Namun rasa overprotektif dan posesif kala mereka berdua membuat Mita takut terbawa hingga dewasa.


Daffin bahkan tak segan-segan melukai teman yang lain ketika Mina menangis karena mereka membuat Mina terluka saat bermain bersama.


.


.

__ADS_1


.


.to be continue


__ADS_2