TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 91 Bucin


__ADS_3

Delapan Minggu sudah dilewati oleh Mita di kota itu.Keterpaksaan tinggal lebih lama di sana adalah hal yang sangat berat bagi nya.Menjalani hari-hari bagai burung di dalam sangkar emas.


Ara sering berkunjung jika Hafi sedang kembali ke kota asal karena harus menghadiri meeting.


Tangisan Mita di balik kelopak mata yang terpejam pun sering Ara dengar walaupun sangat lirih.Bertahan untuk beberapa Minggu lagi rasanya dia tidak mampu.


Sering melihat Mina hanya dalam layar pipih saja,balita itu menangisi nya karena rindu.Begitu pula dengan Mita.


Karena kehamilan kedua adalah kehamilan anak kembar,dan untuk kedua kalinya dia memeriksakan keadaan janin.Semua seperti yang di inginkan,kedua janin nya bertumbuh kembang dengan pesat sesuai harapan.


"Sayang,,Nak.Bangun!!.. Mamah sudah menyiapkan sarapan untuk mu!"


Mita,setelah adzan subuh dia kembali tidur karena memang kehamilan kali ini Mita lebih suka tidur.


"Hafi sudah pulang mah?"


"Belum sayang,dia baru menelfon Mamah.Pesawatnya baru terbang sepuluh menit yang lalu.Sabar ya..Sabar ya cucu Oma!"


Setelah mengusap bahu mulus Mita,Ara mengusap perut menantunya yang sudah mulai terlihat.


Fandi menyewa sebuah Appartemen setelah mengetahui kabar menantunya hamil kembali,terlebih hamil kali ini kembar.


"Iya mah.. " Mita beranjak dari ranjang di bantu oleh Ara.


Meski mengalami mual muntah,namun tubuh Mita mengalami perubahan yang signifikan.Berat badannya meningkat,pipi nya lebih tebal dari pada sebelum nya.Semua berkat Ara yang selalu membuat makanan yang bergizi dan langsung di masak oleh nya.


Menghindari makanan cepat saji.Awal nya Mita sering membuat sendiri,namun ketidak sanggup pannya berdiri lebih lama membuat dia malas membuat makanan sendiri.Selain itu bau nya juga terkadang sering mengganggu.


Hanya memakai daster dengan tali spaghetti,ucapan Hafi beberapa waktu lalu tidak main-main.Semua baju milik Mita dia kirim ke rumah dan membelikan nya daster rumahan dengan aneka model.Bukan hanya itu,semua make up dia singkirkan dan hanya ada bedak bayi dan satu buah lipstik,beralasan bahan baku kosmetik berpengaruh tidak baik untuk calon bayi,dia mengirimkan bersama pakaian Mita yang lain ke kediaman utama.


"Tidak mandi lagi Mita?"


Mita menggeleng "Makan dulu mah,Mita lapar"


Ara dengan sangat sabar menuruti anak menantu nya.Mereka pun sarapan bersama.Terlihat sangat jelas jika Mita sudah sangat merindukan suaminya.Matanya sayu,hampir setiap malam selama tiga hari ini dirinya menangis dan memeluk baju Hafi.Padahal Hafi sudah menelfon hingga menemani Mita sampai tertidur.


"Setelah ini mandi ya,nanti kita keluar.Mamah akan membeli beberapa souvenir untuk dibawa kembali pulang.Lalu menjemput suami mu di bandara!"


Mata Mita langsung membulat berbinar mendengar nya.


"Apa benar aku boleh ikut mah?"


Ara pun mengangguk "Mamah sudah meminta ijin,dan Hafi mengijinkan nya.Dengan syarat,kamu pakai kursi roda.Ada Pak Raksasa bersama kami!"


Apapun, asal dirinya bisa keluar dari ruangan yang tak seberapa luas itu.


"Tidak apa-apa mah,asal aku bisa menghirup udara di luar"


Ara tersenyum,sedikit iba dengan menantunya,tapi bagaimana lagi jika itu keinginan anak nya sendiri.Hafi melebihi Fandi saat dulu muda.

__ADS_1


.


.


.


"Itu untuk siapa mah? Inggira?!!"


Ara hanya tersenyum.


"Apa Inggira sekarang sekurus itu mah?"


Ara yang sedang melihat pakaian dan membuka lebar,dikejutkan dengan suara Mita yang ternyata sudah ada di sebelah nya.


"Bukan sayang! Ini untuk seseorang" Ara kembali memilah dan memilih.


Mita yang tidak ingin ikut campur privasi mertua nya memilih menepi.


Beberapa jam berlalu,kantong sudah memenuhi keranjang belanjaan mereka.Beberapa tas di sana juga ada milik Mita,sengaja membeli daster banyak karena untuk berganti.


.


.


.


Menunggu dikursi kedatangan.Mita duduk merebahkan punggungnya di kursi roda yang Hafi pesan khusus untuk nya.Sudah jelas lain dari yang lain.Lebih empuk dan nyaman.


"Sayank!!!!..."


Benar-benar suara yang dirindukan selama ini.Kepala Mita mendongak,mata nya bertemu dengan mata Hafi.Mata yang selalu melihat nya penuh dengan cinta.


"Hafiii..."


Kakinya seketika langsung berdiri tegap dan lagi-lagi Mita mulai melangkahkan kaki nya.


"Nonaa..." Pak Raksasa berjalan cepat,namun apa daya tangan nya tak mungkin menyentuh sedikitpun kulit istri bos nya.Dia hanya mampu mengikuti langkah Mita yang cepat.


"Sayang stop!! Jangan lari!!" Hafi seketika berlari,dan harus memastikan dia yang meraih Mita.


Grep!!!


"Astaga sayang! Aku bilang jangan lari!" Hafi memeluk Mita erat,menenggelamkan kepala istrinya di dada bidangnya.


"Aku tidak lari,aku hanya berjalan cepat!!"


"Iya..iyaaa.. Kamu benar!"


Dari kejauhan Ara yang melihat itu menggeleng.Betapa kedua nya saling mencintai.Hingga sudah di depan mata pun Mita tak sabar,sampai dia berjalan cepat untuk meraih suaminya.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali?!!"


Hafi meringis menahan perih,jari Mita mencubit lengan Hafi.Seperti tidak terlihat namun Hafi sangat merasakan.


"Maaf,aku tidak tahu akan selama ini.Harusnya aku sudah di sini pagi tadi.Tapi Mina merengek tadi malam ingin ditemani tidur!" Mata Hafi melihat Mamah nya.Dengan sigap langsung mencium punggung tangan Ara.


"Bagaimana Mina? Aku sangat merindukan nya!"


"Mina baik!.. Duduklah! Biar aku yang mendorong kursinya!"


Pak Raksasa pun mengangguk dan langsung bergegas menuju mobil.


.


.


.


"Mamah rasa,mamah langsung pulang saja ya Fi?"


Keduanya sedang di depan televisi menikmati segelas kopi dan teh.Sementara Mita yang sudah berhasil ditidurkan oleh Hafi di kamar.


"Tidak besok saja mah?"


"Apa mamah tidak mengganggu mu?"


Hafi tersenyum simpul.


"Tidaklah mah,aku bahkan senang Mamah berlama-lama disini"


Appartemen dengan dua kamar,satu kamar utama dan satu kamar tamu yang masing-masing terdapat kamar mandi dalam.Ada mini kitchen,ruang santai,dan ruang tamu.Semua fasilitas memadai hanya saja tidak ada kolam renang.


Menerima semua itu dari Papah nya karena sangat mementingkan kenyamanan calon cucu nya.


"Papah bahkan menyewa ini untuk Mita, kenapa aku harus tidak suka jika Mamah disini lama-lama?"


"Tapi bisa-bisa Papah mu yang ke sini karena Mamah terlalu lama!"


Hafi tertawa terbahak,dia tahu bagaimana bucinnya Fandi kepada istrinya.


"Tidak usah tertawa, Mamah pastikan nanti kamu akan melebihi Papah mu itu!"


Seketika Hafi terdiam.Dia sangat menyadari betapa besar cinta nya pada Mita.Dan itu bisa terlihat oleh orang lain dengan cara nya memperlakukan Mita.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2