
Ara menutup mulut melihat penampilan Mita,memang mini dress tanpa lengan dengan panjang selutut.Tapi tidak biasa menantu nya pergi tidak membawa cardigan.
Sempat berfikiran lain atau pengaruh dari jebang bayi,namun kembali lagi jika Mita dahulu adalah kekasih sewaan dan mungkin itu akan kembali lagi ke masa lalu.
Dengan mata yang sinis Ara melihat menantu nya di gandeng memasuki rumah.
"Mita,bukan kah tadi keluar dengan Pak Sup?"
Mita mengangguk "Maaf Mah,Pak Sup Mita tinggal di hotel.Mungkin sebentar lagi pulang.Hafi sudah menelfon nya!"
Ara pun mengangguk "Hafi,bawa masuk istrimu nanti masuk angin!" ucapan nya sambil jalan dan berlalu dari hadapan Anak dan menantu nya.
Mendengar itu melihat dirinya sendiri "Hafi, mamah seperti nya menyindir ku!" Raut wajahnya menjadi lesu dan di tekuk.
Hafi belum menjawab,namun membawa istrinya ke atas dan masuk kamar.
"Lain kali jangan membuka cardigan,bolero atau sweater mu jika berpergian sendiri ataupun bersama ku.Mamah saja tidak suka melihat mu terbuka seperti ini.Bagaimana aku yang suami mu?"
"Seperti nya aku lupa,jika mas Vito bukan saudara kandung ku dan itu tidak boleh kan? Aku minta maaf!"
"Bukan maaf,tapi jangan lagi di ulangi!"
Hafi memeluk istrinya, sangat-sangat lah sensi akhir-akhir ini.
Beberapa jam lalu dokter mengatakan,jika Mita tidak bisa tertekan atau terkena tekanan yang terlalu dalam,yang bisa menimbulkan cara berfikir nya terlalu berat.Perutnya akan sering sakit dan efek yang paling fatal adalah ke guguran.
"Tidak usah menangis,Mamah nanti aku yang bilang kepada nya dan pasti beliau akan mengerti.Sudah aku bilang,mamah adalah orang yang baik!"
Hafi mengusap buliran air di pipi Mita,yang semakin deras di sana.
"Bersih-bersih,ganti baju mu lalu istirahat lah"
"Kau akan kembali lagi ke kantor?" Mita menatap lekat suaminya.Dan Hafi menggeleng.
"Aku akan di sini bersama mu,kita makan bersama Nanti mbak Sri aku minta tolong untuk membawakan makanan ke kamar"
"Mina bagaimana?"
"Mina,mungkin jam segini sedang tidur! Dan kau tahu sendiri dia gadis cilik yang pintar.Pasti tidurnya lama"
Mita pun mengangguk mendengar nya,ucapan Hafi memang benar.Sejak kecil sudah dekat dengan Mita membuat Mina selalu menurutti Mita dan patuh dengan ucapan dan keinginan Mita.
.
.
.
Beberapa lauk sudah ada di meja dan satu piring nasi.Tidak lupa jus buah untuk Mita.Meski hanya memakan sedikit nasi dan di iringi oleh jus buah,hingga hampir setengah habis,Hafi dengan telaten menyuapi istrinya.
Pintu di ketok dari luar.Terdengar Ara yang ingin masuk.
"Buka saja Mah!"
Membawa cardigan berwarna dusty ungu.Mita melihat itu.Dan Ara melihat tangan Mita yang memegang ujung samping kaos Hafi,duduk bersebelahan.Tangan Hafi yang menyuapi istrinya.Mita yang bersandar di sofa pun segera menegakkan badan melihat mamah mertua nya.
__ADS_1
"Mita sudah bisa makan nasi Fi?"
Hafi mengangguk "Sedikit Mah,tapi harus di iringi dengan jus buah,dan terus seperti itu!"
Tangan nya memegang sendok yang sudah berisi penuh nasi dan lauk,menyodorkan nya di depan mulut Mita.
"Duduk mah!" Mita mempersilahkan mertua nya.
"Mamah hanya ingin mengantar ini,tadi Pak Sup membawa nya.Tertinggal di mobil"
Mita menerima dan tak lupa mengucapkan terimakasih.
"Maaf mah, merepotkan.Harus nya aku yang ke bawah!"
Mita berdiri dan membawa cardigan ke tempat penyimpanan pakaian kotor di ujung kamar mandi,yang berada di walk in closed.
.
.
"Mamah tidak salah lihat kan Fi?"
"Apa mah?"
"Kamu membelikan berapa lingerie ke Mita?"
Hafi tersedak "Apasih mah!"
Ara mendesah dan berdiri dari duduk nya.
Suara mereka lirih dan di pastikan Mita tidak mendengar itu.
Keluar dari kamar Mita,dan menutup pintu dengan pelan.Ara terus menggeleng kan kepala nya di sepanjang jalan menuju kamar.
Inggira yang baru saja naik pun merasa heran melihat mamah nya.
"Kenapa mah? Kepala nya sakit,atau leher nya salah bantal?"
Ara menatap anak gadis nya "Mamah doa kan nanti kamu dapet jodoh ustadz!"
"Hah,apa??!!!" Inggira pun tidak mengerti dengan ucapan mamah nya.Tapi telinga nya mendengar mamah meng aamiin ni doa nya sendiri.
"Iishhhh mamah tidak jelas!!!" Inggira bergumam dan berlalu dari sana dan masuk ke dalam kamar nya.
.
.
.
"Mamah mana Fi?"
"Sudah keluar,sini dan lanjutkan makan nya lagi!"
Mita menggeleng "Sudah,aku tidak sanggup jika harus menghabiskan semuanya.Itu terlalu banyak!"
__ADS_1
Hafi menghela nafas "Ya sudah!"
Mita meraih remote dan menyalakan televisi,bukan telenovela atau sinetron yang dia tonton,melainkan acara anak-anak.
Merebahkan punggungnya di sofa bed,mengusap perut jari nya bermain di atas pusar uang mulai menonjol.Hafi pun melihat itu dan tersenyum.Meletakkan piring dan sendok di nampan lalu membawa nya ke bawah.
.
.
.
Inggira yang sedang mengeluarkan makanan dari microwave mendekati Hafi yang sedang mencuci gelas dan piring nya.
"Kak,masa mamah tadi bilang begini 'Mamah doakan nanti kamu dinikahi ustadz!' maksud nya apa ya?"
Hafi mendengar itu pun langsung tertawa.
"Tapi mamah,aku lihat dari kamar kakak Memang teman kakak ada yang ustadz?"
Kepala nya segera mengangguk,Hafi tahu apa maksud mamah nya.
"Dari pondok pesantren kak? Memang ada,bukan nya kakak tidak pernah sekolah di pondok? Aku tidak percaya kakak mempunyai teman di sana!" tangan Inggira di lipat di depan dada dan bersandar di meja mini bar yang ada di dapur.
"Sok tahu! Tidak mesti sekolah di sana lalu punya teman di sana.Teman kakak banyak,yang di bui juga ada.Mau punya calon suami mantan napi?"
Inggira melengkungkan bibir nya "Tidak masalah,jika memang dia mantan napi yang menjadi baik dan Soleh!"
Hafi mengangkat alisnya,terkejut dengan jawaban Inggira.
"Serius jawaban mu Nggi?"
"Hemm..." Inggira mengangguk.
"Aku ingin belajar agama lebih dalam,mengaji di setiap selesai sholat magrib.Bergandengan tangan dan berjalan bersama di kota Mekkah.Bulan madu ke jepang,dan bukan dia yang bangga membawa ku ke gunung Fuji,tapi dia yang bangga mempunyai ku yang cantik dan memperkenalkan nya ke gunung Fuji yang indah"
Menahan tawa mendengar ucapan Inggira,setelah meminum segelas air Hafi pun tertawa terbahak.
"Sakit kak!" Tangan Hafi mencubit hidung dan mentoel pipi Inggira.
"Kalau tidur jangan di dapur,ketinggian lu ngayalnya!"
Inggira mendadak menekuk wajah nya.Padahal beberapa detik lalu tersenyum lebar dan berangan jauh memangku tangan.
"Minimal di aamiin nin lah kak!"
Hafi pun mulai pergi dari sana,melangkah keluar dapur.
"aamiin!"
.
.
.
__ADS_1
To be continue