
Sesampainya di rumah Hafi benar-benar menarik Mita dari mobil hingga ke kamarnya.Tidak menghiraukan sekeliling dan tidak peduli panggilan anaknya.Dirinya terus berjalan hingga sampai di kamar.
Mbak Sri terpaku melihat adegan itu, tak hanya mbak Sri,ke dua art nya yang lain bisa melihat itu dari pintu dapur.
Mita masuk kamar,pintu di kunci oleh Hafi.
"Aku sudah bilang,aku tidak suka kau bekerja bertemu banyak orang,sekalipun itu Riza!!" Suaranya tinggi dan Mita mulai menahan air matanya.
"Aku juga tidak suka jika kau membandingkan aku dengan Mamah,kami berbeda!!!"
Hafi melihat istrinya seketika dan menangkup pipinya.
"Kamu cemburu dengan mamah?"
"Tidak!"
"Kamu marah gara-gara aku bilang jika mamah mengurus kami sendiri?"
Mita menggeleng "Tidak!".
Hafi tersenyum miring,ternyata istrinya marah gara-gara di bandingkan oleh nya.
Mita menghempaskan tangan Hafi.Berusaha membuka kunci pintu dan berhasil.Dia pun memanggil Mbak Sri,dan meminta Baby twin memasuki kamar mereka.
Hafi tak mengejar sedikit pun.Mita tertidur di sana tangan nya terulur menangkup keduanya.Lelah hanya itu yang dia rasa.Beberapa menit berlalu suaminya pun melihat nya dan mencium satu persatu dari mereka,berakhir di pipi Mita.
.
.
.
Berhari-hari Hafi dan Mita tak berbicara,ucapan Hafi seakan tidak pernah di dengar oleh Mita.Terlalu sibuk dengan usaha yang didirikan suaminya namun dari modal milik Mita.
Bukan ingin mengambil alih,Mita hanya ingin melihat dan merasakan mereka yang bekerja di sana.
Mereka masih saling melengkapi hanya saja bicara seperlunya.Mamah Ara pernah bilang kepada Hafi untuk mengikuti saja apa mau Mita,dan tetap menjaga dan memperhatikan.
Sore ini mereka pulang dan sampai bersama,Mita yang tahu mobil Hafi baru saja memasuki halaman,segera keluar dan mulai melangkah masuk.Setiap hari begitu,mencoba menghindari.
Hingga Hafi tetap dibelakang Mita menaikki tangga.Tiba-tiba Mita merasakan kepala nya berdenyut,dia pun berhenti di tengah tangga.Memejamkan mata dan memegang keningnya.Mencoba meredam sakitnya.
"Sa...." Hafi sudah ingin bicara,namun dia ingat jika istri nya sedang tidak mau bicara dengan nya.
Menggelengkan kepalanya mencoba kuat,Mita berharap rasa pusing nya sedikit menghilang.Namun hingga dia mulai perlahan naik dan memasuki kamar nya,rasa pusing itu semakin terasa.
Brugk!
Menghempaskan tubuh di ranjang,Mita pun memejamkan mata.Masih menggunakan pakaian kantor nya.
Diikuti Hafi,dia pun melihat Mita terpejam dan sedikit aneh.
Tok..
Tok...
Tok...
__ADS_1
Mita membuka mata.
"Siapa?" Hafi yang bertanya karena dia masih tak jauh dari pintu.
"Mina..Bund,aku ingin bicara."
Hafi membukanya,Mita melihat Mina di ambang pintu dan akan masuk namun tiba-tiba dirinya merasa sesuatu yang sangat tidak enak mengusik di perut nya.Seketika ia pun beranjak ke kamar mandi.
Hafi dan Mina melihat tak berkedip.Melihat Mita yang berjalan sedikit lari dan masuk kamar mandi.
"Mina tunggu di kamar saja ya,nanti Ayah dan Bunda ke kamar!"
"Baik ayah" Gadis itu pun kembali ke kamar dan menutup pintu kembali.
Hafi segera mendekat ke kamar mandi,dan membukanya.
Mita sedang mengeluarkan isi dalam perutnya,dari tadi suara nya tak berhenti hingga membuat wajahnya pucat.Berjongkok dan memegang pinggiran wastafel.Dia mencoba bertahan meski tubuhnya merasa sudah lelah.
"Mita.."
Belum juga mendekati,Mita menengadahkan tangannya mengisyaratkan pada Hafi untuk tidak masuk.
Tangan kiri Mita menutup mulutnya yang mulai terasa mual,seketika cairan kuning keluar.Hingga Hafi tak menuruti Mita dan masuk saja,meraih pinggang dan membalikan Mita.
Hafi memeluk dan mengangkat Mita untuk duduk di wastafel.Tangan Mita memegang bahu Hafi.
"Ini yang aku tidak suka jika kamu bekerja!"
Mita meletakkan kedua tangan nya di bahu Hafi,sesekali menahan mulut nya untuk tidak mengeluarkan isi dalam perut.
Hoek..
"Kamu telat makan pasti! Sudah aku bilang,dirumah dan jangan bekerja!! Suami mu ini kurang apa sampai ikut bekerja?!!"
Jengah mendengar Hafi yang sangat cerewet,Mita pun berusaha turun.Namun Hafi menghalangi dan mengangkat mita,tubuhnya terasa sangat lemas.
"Diam saja,aku ambilkan obat!"
Mita hanya diam saja,matanya terpejam untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.
Setelah memberikan obat,dan Mita meminum nya,Hafi berusaha duduk dipinggiran ranjang untuk bicara pada istrinya lebih serius lagi.
"Berhentilah bekerja,aku tidak ingin melihat mu sakit"
Mita masih terdiam,namun tetap mendengarkan.
"Cari seseorang yang menurutmu bisa di andalkan dan jujur,kamu boleh ke sana setiap hari,tapi hanya untuk berkunjung.Selebihnya dirumah mengurus anak dan tunggu aku pulang!"
Hafi mendekat ingin mengecup kening Mita,namun istrinya menghindar.
"Sebenarnya apa mau mu sayang? Lalu bagaimana aku tahu jika kamu diam saja?"
"Aku ingin tidur!" hanya ucapan itu yang keluar dari bibir Mita.Hafi pun menghela nafas,berdiri dari sana dan masuk dalam kamar mandi.
Akan mengurusi anak-anak dan Mina yang sudah pasti menunggu di kamarnya.
.
__ADS_1
.
.
Ceklek!!
Mina menoleh dan mendekat "Ayah,,Bunda mana?"
Menggendong Mina dan meletakkan kembali di sofa.Pintu masih tetap terbuka karena ada Mbak Sri dan juga si kembar di dalam sana.
"Bunda sedang tidak enak badan.Mina,apa yang Mina ingin bicarakan,bicaralah pada Ayah!"
Mina berfikir sejenak.
"Tapi ini masalah wanita Ayah!"
Hafi mengerutkan kening,ucapan anaknya terlalu dewasa untuk anak seumurannya.
"Ayah,ayah mu.Ceritalah! Semoga ayah bisa membantu memberikan solusi!"
"Ini tentang Omfin.."
"Kenapa?" Hafi penasaran dengan ucapan Mina menyangkut tentang adik lelaki bungsu.
"Omfin marah padaku jika dia melihat ku bermain dengan teman lelaki.Dia pun seakan melarang ku untuk tidak bermain dengan mereka kecuali Sisilia,dan teman perempuan yang lain.Sedangkan Miss membuat kelompok belajar acak Ayah"
"Lalu Mina bicara tidak dengan Omfin?"
"Sudah,Omfin tidak mau mendengar ku!"
"Omfin masih marah dengan Mina?"
Mina mengangguk,anak gadisnya duduk di pangkuan Hafi dan mengalungkan lengan di leher Ayah.
"Bunda sakit?"
Hafi mengangguk "Ya ... ".
"Apaa...Kalian sedang bertengkar?"
Mina tentu tahu mereka sedang ada masalah.Anak balita yang mulai menanjak remaja itu bahkan cara berdirinya lebih dari anak se usianya..
"Sedikit Mina,dan kami pasti akan menyelesaikan nya!".
"Aku tidak suka jika Bunda bekerja di kantor Ayah,buatlah Bunda tidak kesana dan terlalu cape! Mereka,aku tidak suka mereka melihat bunda ku terus menerus dan tak berkedip "
"Ayah juga sama seperti mu,tapi ayah bingung harus melakukan apa.Siapa mereka Mina?".
"Para owner penyewa ruko!"
Mendengar itu Hafi semakin tidak rela jika Istri nya menjadi pandangan mata lelaki lain.
Mereka berdua pun saling berfikir untuk sama-sama mencari jalan keluar persoalan masing-masing.
.
.
__ADS_1
.
To be continue