
Pada dasar nya Mita hanya mengelabui Hafi,yang mengabarkan Mamah Ara datang untuk menjemput.Wanita itu tau,suaminya sangat menyayangi Mamah nya dan tidak akan mungkin membuat kecewa.
Dengan berbekal ilmu yang didapat dari mertua nya.Mita mempraktekan nya langsung, tanpa curiga Hafi pun percaya.Padahal waktu sudah menjelang malam tapi kedatangan Mamah nya yang dikabarkan tadi pagi belum juga ada tanda-tanda.
"Mamah sudah sampai mana?"
"Baru naik mungkin!"
Mita yang sedang bersandar di dada sang suami,dan bermain jari jemari Hafi.Tangan Hafi yang satunya mengusap perut yang masih rata.
"Nanti kalau Mamah datang.Kita ke dokter bersama.Pasti Mamah sangat senang mendengar kabar ini!"
Dengan mengulum senyum Mita mendongak,lalu menganggukkan kepala.
"Aku tidak menyangka secepat ini hamil lagi! Apa tidak apa-apa?"
"Nanti kita tanyakan ke dokter ya?"
Mita suka jika dirinya hamil.Hafi yang otomatis menjadi penyabar yang sangat luar biasa sabar,setipis tissue kena air.Dan akan bertahan dengan mood Mita yang sangat tidak menentu.
Yang di tunggu-tunggu hingga jam delapan malam tidak datang juga.Terpaksa Hafi yang sangat jarang berkomunikasi dengan Mamah nya sejak ada Mita.Kini meraih ponsel Mita yang ada di nakas.
Mencari kontak Mamah nya yang di beri nama Mamah Ara.Panggilan tersambung namun tidak segera di jawab oleh Ara.
Hafi pun melakukan panggilan sekali lagi.Mita yang sedang di kamar mandi tidak tahu jika suaminya sedang menghubungi mamah nya.
Panggilan terjawab!
"Ha...." Suara Hafi terputus karena ucapan Ara di seberang sana sangat lembut,cepat,dan tegas.
"Hallo sayang,maaf Mamah sedang sibuk.Nanti mamah telfon lagi ya! Selamat bersenang-senang,semoga harimu bahagia!" Tak lupa kecupan sayang diberikan oleh Ara.
Panggilan pun dimatikan oleh Ara.Hafi melihat layar ponsel.
"Apa-apaan sih ini Mamah! Aku belum selesai hallo udah nyerocos duluan!" Mata Hafi membulat seketika,dia baru sadar jika Mita mengerjai nya.
Krekkkk!!! Pintu kamar mandi terbuka.
"Yuk...Aku sudah lega,sudah buang air!" Kembali menutup pintu dan membenarkan celananya.Mita bersikap seolah-olah biasa saja.Padahal mata Hafi sedang menyipit melihat istrinya yang sukses berbohong!.
"Paramita!! Kamu sudah mulai pintar ya??"
"Hemmm?...." Mita sontak mendongak dan menatap suaminya di ujung sofa bed.
"Apa?..."
"Kata mu Mamah baru naik? Naik kemana maksud nya?"
Mita pun mengulum bibirnya menahan senyum.Ternyata kepura-puraan dia akan pergi,kembali ke kotanya di jemput oleh Ara terendus oleh Hafi.
Memutar bola mata mencari alasan,Hafi pun beranjak dari sofa dan mendekati Mita.Menatap istrinya yang sudah berdiri mentok di dinding.Wajah Hafi semakin dekat dengan wajah nya.
Dugh!..
Hafi mendesis,dan menghindar seketika.Keningnya sedikit sakit karena terbentur kening Mita yang di sengaja.Padahal Mita memakai sedikit aksesoris rambut untuk menjepit poni nya yang sudah mulai memanjang.
Dengan reflek Mita bergeser ke pinggiran ranjang.
"Maaf,aku tidak bermaksud membohongi.Itu Mamah yang menyuruhku,katanya jurus itu sangat ampuh ketika Mamah dan Papah marahan dulu!"
Hafi berbalik,tangan nya masih memegang kening.
__ADS_1
"Tentang Mamah yang akan menyusul dan sedang naik,maksud ku naik ke kamar mamah nyusul Papah di kamar"
Terlalu aneh bukan penjelasan Mita?Tapi itulah dia,sedikit random jika berbicara.
"Maaf ya maaf!" kedua telapak tangan nya menangkup di depan dada.
Hap! Sekali terjangan,Hafi menangkap Mita yang duduk di sana.
"Obati ini dulu!" kening berwarna kemerahan,dan sedikit menonjol,ada sedikit sobekan kecil di sana.Sudah jelas pasti terasa sakit.
Ponsel berbunyi.
"Angkat dulu telfonnya!" Hafi pun menoleh kebelakang,ponsel nya ada di meja.
"Hemm..."
...
"Sampai kapan?"
...
"Oh ya silahkan! Kabari jika ada sesuatu!"
...
"Segera kembali jika sudah selesai!"
...
"Ya!.."
Mita yang sudah memegang kapas,dan alkohol.Tak lupa di sebelahnya ada plester yang sangat kecil bergambar binatang.Tangan nya bergerak mulai mengobati luka suaminya.
"Siapa Yank?" Hafi diam.
Mita yang tahu Hafi tidak menjawab,sedikit menekan keningnya.
"Aww! Pelan.."
"Siapa tadi yang menelfon?"
"Tanya seperti tadi tidak bisa?"
Mita menggeleng "Tidak ada siaran ulang jika pura-pura tuli,aku bukan playlist yang bisa memutar ulang music!"
Hafi tersenyum tipis "Ricko meminta ijin kembali untuk beberapa hari!"
"Lalu??..." keduanya saling menatap.
"Aku ijinkan,katanya ada sedikit urusan yang urgent.Tapi dengan syarat segera kembali jika sudah selesai!"
Menempelkan plester nya,Mita mencium kening Hafi yang terdapat plester di sana.
"Cepat sembuh sayang!"
Dengan gerakan cepat Hafi menangkup pinggang Mita dan mengerat kencang.
"Kali ini aku tidak akan pura-pura tuli jika kamu memanggil ku seperti itu terus!" Hafi menciumi leher dan dagu Mita.
"Geli!! Sudah ahh,nanti bukan nya kita pergi periksa malahan kamu meminta jatah!"
__ADS_1
"Memang boleh?"
"Gak! Sebelum tahu berapa usia nya dulu!"
Menghela nafasnya,Hafi mengurai pelukan nya pelan.Membenarkan pakaian Mita yang sedikit lusuh,dan mengusap perut.Wajahnya tepat di depan perut Mita.
"Anak Ayah,kita akan melihat mu! Sehat-sehat ya pintar!" Kecupan bertubi-tubi diberikan oleh Hafi.
.
.
.
Bergandengan erat memasuki lift untuk turun.Wajah Mita kali ini benar-benar sangat ayu.Tubuh yang proporsional,rambut ikal bergelombang panjang,hanya jepitan di atas samping kanan untuk menahan poni agar tidak menutupi mata.
Memakai pakaian casual dengan celana panjang berbahan lentur.Pas sekali di pakai ibu muda yang sedang hamil.
Berdiri memegang hand bag yang seharga motor matic (masih murah lah ya 🤣).Lelaki di dalam lift bukan hanya Hafi saja.Jangan kan lelaki,wanita di sana juga melihat nya tak berkedip.
"Bule Jawa ini kayanya!" sangat lirih dua perempuan itu berbisik,tapi Mita mendengar dan melirik.
Lain dengan Hafi,bersandar dan terus menggenggam tangan Mita.Matanya terus melihat beberapa pria di sana yang mencoba mencuri pandang Mita di pantulan kubikel lift.
"Ehkmm... Kira-kira berapa bulan ya sayang,adek bayik di sini!"
Mereka seketika menengok!
Mita terkejut dengan pertanyaan Hafi yang tiba-tiba.Pasalnya dia akan menjawab apa, sedangkan dia saja baru akan memeriksakan nya.Namun Mita tahu itu hanya lah basa basi Hafi saja untuk memberitahukan dirinya adalah suami istri.
.
.
.
"Aku tidak mau ini terulang ya sayang!"
Mita menoleh,kini keduanya sudah di dalam mobil.Hafi sudah melaju,dan berbekal map yang diberikan oleh manager hotel, rekomendasi alamat dokter obgyn di kota ini.
"Lain kali biar dokter nya saja yang ke hotel!Aku tidak ingin kejadian tadi terulang!"
Mita melengos melihat kaca.Sudah menduga itu sejak tadi.Suami nya cemburu.
"Masa,tidak perempuan tidak laki-laki.Semua nya terpaku melihat mu!"
"Oh,ada yang iri tidak menjadi sorotan?"
"Bukan seperti itu.Bayangkan jika kaum hawa saja iri melihat mu,lalu lelaki yang di sana bagaimana?Aku tidak mau wajah mu di bawa mimpi oleh tiga lelaki tadi!"
"Besok akan aku belikan daster ibu hamil yang banyak,biar kalau pergi-pergi pakai itu saja Dan tidak usah berdandan seperti ini!"
Mendengar itu Mita memutar bola matanya.Sudah sering terjadi jika pergi bersama dan Hafi akan seperti ini.
.
.
.
To be continue
__ADS_1