TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 62 Perubahan mood


__ADS_3

Hafi terkejut dengan perubahan Mita yang sangat agresif,menerjang dan mendominasi permainan.Dirinya malah memikirkan calon bayi yang ada di perut istrinya.


Selalu berpesan untuk pelan,tapi diri sendiri menggebu melakukan nya.Berbagai gaya Mita coba demi memuaskan suami nya.


"Kamu minum jamu ?"


Mita hanya menggeleng,masih berada di atas Hafi.Hingga suaminya memaksa membalikkan keadaan karena tidak tega dengan Mita.


Tak berselang lama,kedua nya mencapai puncak bersama,Hafi tersungkur di sebelah Mita.


Memeluk erat dada suami nya yang bidang,mengusap rambutnya.Hafi mencium leher Mita.Bau wangi yang selalu menyeruak,dan sangat Hafi kenali dimanapun istrinya berada.


"Aku sangat menyukai wangi mu sayang!"


Mita mengangguk mendengar nya! Hafi menghentakkan sekali lagi miliknya,hingga Mita mendongak.


"Sakit?"


"Tidak..Kenapa? Mau lagi?"


Alis Hafi terangkat,istrinya di luar nalar.Biasanya tidak begini,namun ini sangat jarang terjadi.


"Boleh?.."


"Mita mengangguk"


Hafi tersenyum dan melanjutkan aksinya.


.


.


.


Sebelum subuh,Mita lebih dulu bangun.Merasakan perutnya yang sangat tidak enak, beberapa kali mengeluarkan isi di dalam nya.Lain dengan hari kemarin-kemarin yang tidak merasakan apapun,hanya nafsu makan nya saja yang meningkat.


Jam dinding menunjukkan pukul empat dua puluh lima subuh.Setelah membasuh wajah dan berkumur,Mita berniat untuk turun ke lantai satu.


Namun langkah nya terhenti ketika mendengar suara pintu gerbang dan mobil yang menderu keras.Berbalik dan melangkah ke balkon,Mita menggeser gorden lalu membuka nya sedikit mengintip siapa di bawah sana.


Dahi nya berkerut,ternyata Riza dan Oma Maria baru sampai,tidak tahu berangkat nya kapan.Dan Riza tiba-tiba datang dengan Oma.


"Oma kemariii?" Wajah Mita sedikit berubah.Tidak jadi kebawah dan menjatuhkan pantat nya kembali di ranjang.


"Sabar yaa,kita tunggu Ayah mu bangun.Bunda masih terlalu sungkan jika pagi-pagi begini ke bawah dan mencari sesuatu di kulkas!"


Meraba perutnya yang masih rata,dia bergumam sendiri.Berbicara pada calon bayi di dalam perut nya.Mengepreskan piyama dan tersenyum sendiri,membayangkan jika beberapa bulan lagi perut nya akan terlihat,dan lama kelamaan akan buncit.


Mita tergelak,matanya melirik tangan Hafi yang tiba-tiba melingkar di perut nya.Memeluk istri dari belakang,menyembunyikan wajah di pinggang Mita.


"Jangan kencang-kencang,nanti dedek nya ke jempit!" Hafi tergelak, menggigit pinggang Mita.


"Sakit!!" Mencubit tangan Hafi dan mencoba melepasnya,namun tangan Hafi semakin menjadi menyelusup ke dalam piyama,dan mengusap beberapa kali perut Mita, hingga menangkup benda kesukaan nya.Mita di tarik paksa dan jatuh terlentang di atas dada Hafi.


Tangan sebelah nya bergerilya di bawah sana.Menyelusup celana Mita yang hanya panjang sejengkal.

__ADS_1


"Apa tadi malam kurang?"


Hafi berbisik "Hari ini untuk sarapan!"


"Lalu aku,anak mu saja lapar dari subuh"


Kedua tangan Hafi berhenti.


"Kamu lapar atau anak ku yang lapar?"


Mita menitikkan air di ujung matanya.


"Aku bahkan bangun pagi sekali,semua yang aku makan tadi malam sudah keluar?"


"Apa perut mu sakit?"


Masih dengan posisi yang sama,Hafi bertanya pada Mita.


"Aku mual! Dan itu sangat tidak enak sekali!"


Semakin mengalir air di ujung matanya.Hafi pun beranjak dan membenarkan posisi nya.Berhadapan dengan Mita,tangan nya menangkup wajah istrinya.


"Kenapa tidak bilang jika kamu mual?"


Bukan nya menjawab,Mita mendekat dan melingkarkan kedua lengan nya di leher Hafi.Memeluk suaminya dengan erat,dan sesekali menyusut hidungnya karena menangis.


Hafi mengusap punggung dan mencoba menenangkan Mita.


"Sudahlah,sabarr! Proses ibu hamil memang seperti itu.Nanti aku bilang ke mamah ya.Kamu bisa sharing itu dengan nya!"


"Sabar yaa,demi dia..." Hafi memegang perut Mita dan mengusap nya lembut.Kembalj memeluk istrinya,hingga suara tangisan Mita tak terdengar lagi.


.


.


.


"Sebentar galak,sebentar agresif, sebentar-sebentar melow nya gak ketulungan." Hafi menghembuskan nafas kasar.


Duduk bersama di samping rumah bersama Oma dan Mamah nya.Siang ini Hafi pulang saat istirahat siang.Karena Mita yang menelfon ingin ditemani makan.


Hafi makan,Mita tertidur.Benar-benar membuat kesabarannya harus full.


"Baru sehari, bagaimana jika sembilan bulan seperti itu?" Nenyugar rambutnya dan mengibaskan.


"Tidak akan selama itu,tenang saja!"


"Mamah mu dulu,juga sama.Sangat manja pada Papah mu, cemburuan.Sama seperti Mita" Maria yang ada di sana melirik pada Ara,yang hanya tersenyum.


"Kembar atau tidak Fi?"


"Seperti nya satu Oma"


"Sudah cek kandungan kan kemarin?"

__ADS_1


Hafi mengangguk "Masih sangat kecil Oma,sebiji jagung!" Hafi tertawa membayangkan nya.


"Oiya,kau jadi ke Lapas menemui Sharena?"


Hafi baru teringat akan hal itu jika Mamah nya tidak bertanya.


"Sebenarnya tadi pagi,tapi Mita membuat drama melow nya,dan aku tidak jadi kesana"


Ara berfikir tentang cerita Hafi.Mendadak Mita yang agresif dan strong.Tidak mengeluh saat berhubungan dan bahkan menawari Hafi lagi jika masih menginginkan.Tentunya hanya bercerita kepada mamah nya saja,tidak yang lain termasuk Oma.


"Ajak lah Mita,bisa jadi dia tidak menginginkan kan mu menemui Sharena.Dia cemburu padanya Fi!"


Hafi menoleh pada Mamah nya.Sempat berfikir Mita tidak cemburuan karena beberapa hal sudah pernah dia lakukan.


"Sebelum nya Mita tidak pernah cemburuan mah!"


Satu bungkus coklat dilempar oleh Ara dan mengenai dada Hafi.


"Kamu sendiri yang cerita mood Mita berubah-ubah,itu faktor kehamilan jika dia cemburu!"


Hafi mengangguk.Benar apa kata Mamah nya.Hafu merasakan di cintai begitu dalam oleh Mita,manja dan keagresifan nya tidak seperti biasanya.Bahkan hingga saat ini saja dia tidak pernah mendengar jika istrinya mencintai diri nya.


Melihat jam di tangan nya,Hafi berpamitan pada Mamah dan Oma Maria.


Melangkah dari hadapan kedua wanita beda generasi,dan tak lupa mencium kening Oma dan Mamah Ara.


.


.


.


"Ricko,buatkan aku jadwal besok.Berikan beberapa pengawal untuk menemani ku dan Mita.Kami akan ke Lapas.Sharena ingin bertemu dengan ku!"


Ricko mencerna ucapan Hafi terlebih dahulu,setelah itu mengambil ponsel di dalam saku nya dan mengirim chat pada sekretarisnya.


"Pak,bukan kah Sharena ingin kau sendiri!"


Hafi menghentikan tangan nya yang sedang membubuhi tanda tangan di beberapa dokumen.


"Awalnya begitu,tapi seperti nya Mita keberatan jika aku sendiri menemui Sharena."


Ricko mengangguk.


Apa Mita sudah mulai cemburu pada suaminya?Syukurlah jika Mita sudah mulai mencintai.


Ricko tersenyum tipis.Beberapa hari belakangan ini memang perubahan sangat terlihat oleh bos nya.Emosinya sudah mulai bisa dikendalikan dan sedikit penyabar.


.


.


.


To be continue

__ADS_1


__ADS_2