TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 22 Pulang


__ADS_3

Klakson berbunyi berkali-kali,Mita tetap saja berjalan mengacuhkan Hafi yang mengekor di belakangnya.


"Mita!! masuk aku bilang!"


Tidak menoleh, seolah-olah menulikan telinga nya.Hingga Hafi membanting setir dan Mita hendak menabrak mobil Hafi.


Pria itu keluar dari sana dan membanting pintu.Mendekat Mita,tubuh yang kecil itu di angkat di bahu Hafi.Terus mencoba menolak,tapi Hafi tak perduli.


"uwaa!!! lepaskan aku brengsek!!"


Giliran Hafi yang tidak mendengar,tubuh Mita di letakan di kursi belakang,Hafi langsung melajukan mobil nya kembali!


Mita bangun dari jog belakang,tangan nya terus bergerak menghalangi kemudi Hafi.


"Mita,aku mohon diam.Bahaya Mita!"


"Biarkan,biar kita mati bersama!"


"Tidak!!! Ada Mina yang harus kau perjuangkan masa depan nya.Mita,diam!!!!"


Mita langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi.Benar ada Mina yang harus sukses dan bahagia.Jangan seperti dirinya.


.


.


"Kenapa ke sini?"


"Ibu dan Mina di rumah ku"


"Kenapa bisa?"


"Turunlah! Biar nanti aku jelaskan!"


Mita turun,tangan nya di genggam oleh Hafi.Mita yang tahu itu hanya melihat pria di sebelahnya sekilas.


Memasuki dan membuka pintu yang menjulang tinggi.Hari sudah mulai gelap.


"Den Hafi?" Assisten rumah tangga di sana hendak ke dapur namun mendapati Hafi masuk.


"Bik,orang rumah dimana?"


"Ada di kamar masing-masing,Den"


Hafi mengangguk. "Naik lah ke kamar ku.Pakailah kemeja yang muat dengan mu!"


"Aku tidak mau!"


"Jangan membuat aku emosi Mita!"


"Kita bukan siapa-siapa!"


"Naik!" Mati Hafi melebar.


"Kamar Ibu dimana,aku ke sana saja!"


"Nanti aku Carikan,ibu memakai kamar yang mana! Sekarang naik lah!"


Mita mendengus kesal,dan melepas jemari Hafi.Mau tidak mau wanita itu menurut saja pada Hafi.


Apa sebenarnya status mereka saja Mita bingung.Berkali-kali di lecehkan oleh Hafi.


Kaki Mita melangkah untuk kesekian kali nya memasuki kamar Hafi.Sebelum nya bersama Mina,hingga bocah balita itu tidur di sana.

__ADS_1


Mita tak langsung mengganti pakaian,namun duduk di pinggir ranjang.Berfikir sejenak,drama yang dia jalani sudah terlalu jauh.Bagaimana jika Orang tua Hafi mengetahui nya.


Bahkan Ibu dan Mina saja menginap di sini.Menunggu Hafi yang sudah berpuluh menit tidak juga masuk kamar,akhirnya Mita memutuskan untuk mandi saja sebentar.


Menyalakan shower,menyiram tubuh nya dari atas kepala hingga ujung kaki.Merasakan kesegaran karena beberapa hari hanya mengganti baju nya saja.


.


.


Ceklek!!!


Hafi masuk kamar nya,tapi tidak mendapati Mita di sana,namun mendengar suara gemricik dari toilet,dan di pastikan itu suara air yang Mita gunakan atau Mita sedang mandi.


Melabuhkan bobot tubuhnya di sofa single yang ada di ujung walk in closed,Hafi menunggu Mita menyelesaikan mandi nya.


Tak berselang lama,Gadis itu keluar dari sana dan langsung masuk ke walk in closed memilah milih kemeja Hafi yang jelas kebesaran.Tali badrobe di tarik,dan terjatuh di lantai.Tanpa Mita sadari ada sepasang mata yang mengamati di ujung ruangan.


Hafi terus mengamati,hingga sesuatu yang tidur bangun tiba-tiba, ketika melihat Mita hanya menggunakan dalaman.


Langkah panjangnya menghampiri Mita,dan gadis itu langsung menoleh.


"Aaaa........"


Hafi membekap bibir Mita dengan bibir nya,menangkup kedua rahang Mita dengan kedua telapak tangan nya.Mita menolak meronta,tapi tenaga Mita kalah jauh dengan Hafi.


Mendorong Mita dan terjatuh di sofa panjang tanpa sandaran.


"Kau sengaja menggoda ku kan?"


Mata Mita membulat,tanpa menunggu Mita menjawab Hafi memaksa mencium bibir gadis itu kembali.Tubuhnya setengah menindih Mita.Awal nya menolak dan terus mendorong bahu Hafi. Tapi Hafi terus menyerang menyentuh kemolekan tubuh Mita,handuk yang membalut rambut Mita pun terlepas.Semakin sexy Hafi memandang Mita.


Suara yang tidak di harapkan pun keluar dari bibir ,Mita membohongi diri karena dia menikmatinya.


Tangan Hafi turun ke bawah,menyelinap di kain segitiga Mita berwarna navy.Gadis itu menggeleng kuat,ingin menghalangi tidak bisa karena kedua tangan nya di genggam Hafi dan di letakkan di atas kepala.


Mata Mita meredup memohon kepada Hafi untuk tidak melakukan itu.


"Aku sudah membayar,dan mentransfer sejumlah uang yang sangat banyak di kartu yang aku berikan!"


Mita terus menggeleng,hingga merasakan sebuah benda masuk di sana,tubuhnya bereaksi,mata nya terpejam.Sedangkan Hafi yang merasakan sedikit sempit membola menatap Mita.


Padahal hanya dua kenapa sesempit ini?


"Mita?" Hafi melihat Mita.


Mita menangis memalingkan wajahnya.Harta yang dia jaga sudah tersentuh oleh orang lain.


Hafi menarik dan melihat jari nya.


Darah?


"Mita??"


"Jangan Fi,aku mohon!"


Bukan nya berhenti,Hafi memasukan jari nya kembali dan melanjutkan.Menyentuh setiap tubuh Mita.


Hingga suara lenguhan lolos dari bibir Mita.Gadis itu menikmati rangsangan yang Hafi berikan.


Suara ketukan pintu terdengar sangat keras dari luar kamar Hafi.Kedua nya menegakkan kepala,Hafi melihat monitor di atas sana.


"Mamah!"

__ADS_1


Merasa Hafi lengah,Mita pun mendorong dada Hafi dan menyambar selimut yang ada di bawah kaki.Membalut tubuhnya dengan Selimut.


Hafi berdecak kesal karena hampir jatuh,meraih kemeja dan memakai nya cepat.Karena gedoran pintu semakin keras.


"Pakai, pakaian mu cepat!" Hafi mengambilkan kemeja berwarna broken white yang jelas kebesaran di Mita,lalu dengan cepat mengambil bra yang tadi sempat dia lempar.


"Aku bantu!"


"Tidak!!! keluar lah!" Mita memalingkan wajah nya dan dengan cepat memakai pakaian.


.


.


Ceklek!!


Mata Ara memicing melihat Hafi dari atas sampai bawah,dan mengulangi lagi.Melirik ke dalam,ranjang nya masih rapih.Hafi pun mengikuti arah mata mamahnya.


"Lama sekali!.. Mana Mita?"


"Di dalam!"


Ara pun menyelonong masuk,meneliti setiap benda di ruangan itu.


Rapih semua,tapi aku tidak yakin mereka tidak melakukan hal apapun.


"Mah?.."


Mita keluar menggunakan kemeja kebesaran,dan tanpa bawahan.


"Apa yang kamu pakai Nak?"


"Hafi yang memilih ini mah!"


"Astaga kenapa tidak kau ambilkan baju Inggi,Fi??!" Ara menoleh ke Hafi yang masih berdiri di ambang pintu.


"Ya sudah,ayo mamah tunjukan kamar Inggira,biar kamu memilih bajunya!"


Tangan Ara sudah menggenggam pergelangan tangan Mita dan menarik nya,namun di halangi oleh Hafi.


"Memang cukup mah?"


"Pasti ada yang cukup, tubuh mereka hampir sama.Hanya berbeda di ..." Mamah melirik di kedua gundukan Mita.


Hafi yang tahu itu pura-pura tidak mengerti dan hanya berdehem.


"Sudah ayo!" Wajah Ara berbalik,mata nya melirik pada sofa di dalam walk in closed.


Mita yang berjalan duluan di depan,Ara mengikutinya dan berhenti di depan Hafi.


"Tolong,selimut dan handuk di dalam sana di cuci kalau tidak di rapihkan saja agar tidak berantakan! Ehekmmm...."


Matanya melirik sinis pada Hafi,menandakan sesuatu telah terjadi.Deheman Ara pun menyindir dirinya.


Hafi yang tahu itu,wajahnya langsung berubah dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2