
Pendengaran Inggira sangat lah tajam,maksud hati ingin mengantar minum untuk kakak tercinta.Telinga nya mendengar bahwa Mita sedang mengandung.Gadis itu pun terlonjak dengan kaki yang belum sinkron kanan dan kiri.
"Kak,aku tidak salah dengar kan?"
"Dengar apa?" Hafi merasa bingung dengan pertanyaan adik nya.
"Kak Mita,ada calon bayi di perutnya.Iya kan Dok?"
"Hah?!" Hafi pun terkejut.
Ara yang beberapa menit lalu di panggil Inggira pun mendekat.
"Ada apa ini,Inggira kenapa memanggil mamah?"
"Mamah akan punya cucu?!"
"Hust,memang iya?" Hafi bertanya pada Inggira,Gadis itu pun menepuk jidat nya.
"Dokter,aku minta jelaskan lagi bagaimana keadaan Kak Mita?"
Dokter pun tersenyum "sebelumnya jika ingin menjenguk satu atau dua orang terlebih dahulu!"
"Eheekmmm.. benar kata Nak inggira dia tidak salah dengar.Nona sedang mengandung!"
"Beruntung kandungan nya kuat,begitu juga dengan Ibunya,meski wajah nya pucat dan baru stabil karena ada infus yang masuk.Nona mengalami dehidrasi,dan dia baru bisa tidur beberapa menit yang lalu.Mengenai kandungan nya,jika sudah stabil bawalah ke dokter obgyn,kita tidak bisa menebak sudah beberapa Minggu,karena Nona masih susah untuk di ajak bicara!"
Dokter menerangkan dengan bergantian.
Ara merasa sangat senang begitu juga dengan yang lain,menyusul ke lantai dua dan mereka semua mendengar kan penuturan dokter.
"Sebaiknya,cukup suami nya saja dulu yang masuk!" Mereka pun mengangguk.
"Kami pamit"
Opa Alex, Fandi,dan juga Riza menunduk kepada Dokter dan tim,lalu mempersilahkan keluar.
.
.
.
Hafi menekan handle pintu lalu membuka nya,terlihat Mita yang berbaring dengan infus di punggung tangan kanan nya.Beberapa plaster di wajah dan leher.
Luka-luka kecil di tubuhnya mungkin tertutup,tapi di bagian tangan dan leher sangat terlihat.Mata nya terpejam,nafas nya lirih dan teratur.Hafi tersenyum dan menghela nafas.Lega rasanya menemukan Mita dan menangkap Dito beserta anak buahnya.Termasuk Sharena yang sudah pasti di penjara.
Mengusap kening dan membelai rambut istrinya dengan lembut,mengembangkan senyum di bibir Hafi.
__ADS_1
Mita mengerjapkan mata,menyadari ada yang menyentuhnya.
"Tidurlah lagi!"
Mita sesekali membuka mata "Kepala ku pusing,rasanya masih sakit semua!"
Tangan Hafi berpindah di perut Mita.
"Apa yang kamu rasakan disini?"
Matanya membuka lebar "Aku tidak ingin makan,infus disana sepertinya membuat ku kenyang!"
Hafi tertawa mendengar bualan istrinya.
"Seseorang memberiku air,namun aku tidak tahu dia siapa.Aku meminum nya dan tersadar sudah di gudang tua di tengah hutan,di sana tidak terang,mereka mabuk"
Menjeda kalimat nya,Mita menghirup nafas dalam.
"Rasanya hari ini,hari ku sangat panjang.Jam berapa sekarang?"
Hafi tersenyum "Masih gelap,tidur lah lagi!"
Hanya deheman Mita membalas nya.
"Singkirkan tangan mu dari perut ku Hafidan!"
"Kamu istriku,aku berhak melakukan apapun!!"
"Bagaimana mungkin kamu lupa???sementara di sini ada benih ku yang sedang tumbuh!"
Namun sayang,Mita sudah terpejam dan mulai tertidur dengan nyenyak.Menyadari hal itu Hafi tersenyum dan membenarkan selimut.Tidak lupa mencium kening istrinya.
Semua keluarga sudah kembali ketempat nya masing-masing.Mendadak ada penghuni baru.Opa Alex,yang beberapa jam lalu dihubungi oleh Riza dan sangat gesit melakukan perjalanan ke Indonesia demi cucu kesayangan.
"Terimakasih om,kau selalu ada jika kami membutuhkan!"
Alex pun tertawa,tubuhnya sudah tak seperti dulu lagi.Kulitnya mulai mengeriput,sudah tidak tegak seperti dulu lagi.Tapi ada satu yang tak berubah dari nya,suara nya masih lantang seperti saat dia muda.
"Dititipi keluarga seperti kalian adalah anugrah bagi ku.Brahmana,meski beliau sudah wafat,kebaikan nya akan aku ingat selalu hingga kapanpu.Jika anak mu terjerat dengan dunia Dito,cepatlah keluar dari sana.Dunia seperti itu akan membahayakan seluruh keturunan mu.Tapi aku rasa di sini ada yang otak nya sedikit licin.Tak tik dan siasat nya perlu di akui,Riza anak mu lebih dari yang kau duga!"
Fandi pun mengangguki menanggapi perkataan Alex yang memang benar adanya.
.
.
.
__ADS_1
Mengusut tuntas kasus teror dan penculikan Dito kepada Mita,dengan dalih dendam.Mbak sus memberikan penjelasan nya termasuk dengan cerita membela diri sendiri yang memberikan belati kepada Mita untuk mencoba melarikan diri .
Penyesalan yang terlambat untuk di sesali.Mengetahui bahwa Dito cs akan membunuh dan membuang Mita.Mbak sus ketakutan jika nama nya ikut terseret karena kasus itu.Dan hal itu pasti membuat dia di penjara jauh dari saudara.Bukan hanya itu saja,kebutuhan keluarga yang dia topang selama ini pasti akan semakin hancur dan berantakan ketika tidak ada dirinya.
Anaknya pun masih membutuhkan biaya sekolah yang sangat banyak,bukan hanya satu melainkan tiga.
"Aku mohon Tuan,jangan menjebloskan ku ke penjara!Aku terlalu gelap mata dan khilaf.Bukan kah aku sudah memberikan belati kepada Nona untuk kabur?"
Tangan Hafi menggebrak meja di depannya,seketika semua yang di depan nya terperanjat.
"Kau hampir membunuh dan memberikan istriku kepada mafia?! Tidak kah kau fikir jika istriku terbunuh anak ku akan terbunuh juga?"
Mbak sus mendongak! "Apa nona sedang mengandung?!"
"Ya!! Istriku sendang mengandung! Ada keturunan Brahmana di sana!"
Mengangkat bobot tubuhnya dari kursi,Hafi mulai membuang muka dari hadapan Mbak sus.
"Pak tolong urus semuanya sesuai undang-undang yang berlaku.Hubungi papah dan juga Riza jika ingin membuat penyaksian! Dan hubungi Ricko secepatnya untuk mengurus!"
"Tuan!.." Mendengar Hafi bicara,mbak sus terperanjat.Hukum tetap berjalan apapun itu tanpa pengecualian,sudah bisa dibayangkan bagaimana nasibnya ke depan.
Tidak menghiraukan Mantan asisten rumah tangga yang menjaga Mina dan ibunya,Hafi terus saja melenggang pergi dari sana.Kancing jas nya sudah terbuka karena merasa sesak dengan masalah itu semua.
Memasuki mobil dan meraih ponsel nya.
"Hallo Ricko! Aku sudah menyampaikan semuanya kepada pengacara.Sebentar lagi mungkin beliau akan menghubungi mu! Urus lah semua,dan pastikan mereka mendapatkan fasilitas yang layak!"
Ricko di seberang sana mengerutkan kening nya,bukan nya sudah jahat dan harus di balas dengan yang setimpal.Tapi Tuan nya menyekolahkan dan memberi fasilitas kepada anak-anak dan Ibu mbak sus dengan fasilitas yang cukup memadai.
"Tapi Pak?"
"Jangan tapi-tapian.Jika aku bercerita dengan Mita,dia pasti juga akan melakukan hal yang sama.Karena dia pernah merasakan itu! Buatlah serapih mungkin!"
Ricko mengangguk,dan mengerti maksud bos nya.Panggilan di akhiri oleh keduanya.
Mengangkat alis, mengingat ucapan bos nya beberapa detik lalu.Ricko tidak percaya Hafi bisa sebaik dan sebijak itu hanya karena perempuan yang ada di sampingnya.
"nona merubah segalanya!"
Gumaman itu hanya di dalam hati,dan Ricko tersenyum sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue