TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 43 Tanda merah


__ADS_3

Pliz bocil Minggir dulu 🙏😘


Hafi benar-benar melakukan nya dengan sekali hentakan,dan berhasil masuk seluruhnya ke dalam milik Mita.


Mata Hafi terbelalak ketika merasakan hal yang aneh,sangat sempit dan pasti robek.Melirik ke sana,darah menetes cukup banyak.


Mita terpejam menahan rasa sakit nya, menggigit bibir bawah nya,dan mencengkram seprei dengan kencang.


"Maaf,apa dua tahun menjanda membuat mu virgin lagi"


"Aku bukan janda!"


Hafi yang terkejut,mencoba menarik pelan miliknya.


Mulut Mita terbuka merasakan itu.Mendesah,mata nya masih terpejam.


"Aakhhh sakit Fi!" mata nya menitikkan air mata.


"Jika bukan janda,lalu Mina?"


"Mina keponakan ku,dia anak Fadila kakak perempuanku satu-satunya"


Hafi menuntun Mita,tangan nya dilingkarkan kembali ke bahu Hafi.


"Maaf jika begitu.Aku akan melakukan nya dengan pelan!" Kecupan mendarat di kening Mita.


Milik Hafi kembali di dorong,Mita yang masih merasakan sakit dan sedikit berubah menjadi nikmat,mencengkram bahu Hafi.Beberapa cakaran kuku nya menempel di sana.


Hingga Hafi mulai memaju mundurkan miliknya,ritme nya semakin naik seiring dengan waktu,Mita menikmati nya.


Bergelayut di leher Hafi,perempuan itu menengadahkan wajahnya ketika Hafi semakin cepat.


"Kau di atas ya?!"


Mita menggeleng "Aku tidak bis.. Ahkkk ahh"


Mita merasakan semangat Hafi benar-benar membara,hasrat nya menggebu-gebu.


Suara Mita sangat merdu ditelinga Hafi.Pria itu semakin semangat memompa milik istrinya.


menggulingkan dirinya dan berhasil membuat Mita memimpin permainan.


"Lakukan sebisa mu,aku akan menuntun nya!"


Hafi menghentakan milik nya hingga Mita menengadah.


"Ahh.. Kau saja yang memimpin" Mita hendak berdiri,namun di tahan oleh Hafi.


Akhirnya kembali dengan posisi semula.Jago mengunci dan menjepit hingga Hafi ingin melakukan nya lagi dan mengulangi nya terus.


Sampai menjelang pagi,dan adzan subuh berkumandang tubuh Mita di angkat ke toilet,mandi plus-plus bersama lebih tepat nya.


Selesai,dan berjamaah subuh.Mita menyandarkan dirinya di kaki sofa yang ada di sana,menyalimi tangan Hafi dan mencium punggung tangan nya.


Hafi memegang dagu Mita melihat wajah istrinya,mengecup kening dan turun ke bibir.Membantu Mita membuka mukena nya,dan mengangkat tubuh menaikki ranjang,Hafi meminta nya sekali lagi.Padahal Mita sudah cukup lelah meladeni nya.


.


.


.


Pagi-pagi Hafi terbangun karena ketukan pintu.Melihat jam pukul enam tiga puluh.Pasti Mamah nya yang mengetuk pintu,karena sebentar lagi biasa nya sarapan pagi di bawah.

__ADS_1


Menggeser tubuh Mita di pelukan nya.Suhu tubuh Mita sedikit naik,Hafi bisa merasakan nya.


"Mita,sayang bangun! Kamu demam?"


Mita merenggangkan tubuhnya,menarik selimut menutupi dada nya.Tubuhnya masih polos seperti bayi yang baru lahir.Belum memakai pakaian sehelai pun.


Karena terlalu capek meladeni Hafi semalaman,ditambah pagi tadi.Membuat Mita lupa memakai baju nya kembali.


"Ke dokter ya?"


Mita menggeleng.


"Kamu sakit,badan mu demam!"


"Tidak,nanti juga sembuh sendiri!" Membalikan tubuhnya membelakangi Hafi.Beberapa tanda merah terlihat jelas di bahu Mita.Hafi tersenyum.


"Bagaimana sembuh sendiri?"


"Sudah diam,ini gara-gara kau.Nanti juga sembuh Hafi! Sudah sana bersiap lah ke kantor!"


Bukan nya bangun dan beranjak ke toilet,Hafi mendekat kan dirinya ke Mita.Menempelkan dada nya di bahu belakang Mita.Tangan nya melingkar di perut l.


"Aku lelah Fi.Kau keterlaluan tidak cape-cape.Aku mohon ijin kan aku istirahat?!"


Tanpa ada suara jawaban dari Hafi,Mita berusaha ingin menoleh ke belakang.


"Aakhhh!"


"Tuh kan kamu mancing-mancing aku!" Hafi tergelak dengan pertanyaan nya sendiri kepada Mita.


"Kau menggigit ku Hafi!"


"Tapi kau suka kan?" Hafi meremat gundukan Mita.


Akhirnya Hafi menuruti ucapan Mita karena istrinya sudah mengeluarkan taringnya.


Selesai mandi,mata Hafi membulat ketika melihat seprei dan noda merah,bukan hanya di sana,di bantal dan beberapa percikan di sekitar sana.Sudah bisa di bayangkan betapa semangat nya dia tadi malam.


Melangkah mendekati Mita yang sudah kembali tertidur,Hafi menyibakkan selimut yang di pakai oleh Mita.Merenggangkan kaki Mita perlahan,Bisa dilihat.Robek yang sangat kacau di sana.


Menutup nya kembali,Hafi berinisiatif menyiapkan air panas untuk Mita mandi.


"Aku berangkat dulu sayang,Air panas sudah aku siapkan di bathup.Mandi lah dan berendam supaya luka nya sedikit teratasi,dan kau nyaman! Nanti aku suruh mbak sus mengantar sarapan ke atas!"


Dengan mata yang terpejam Mita menganggukki ucapan suaminya.


Hafi meninggalkan kecupan di kening dan di bibir Mita,turun dari lantai dua, keluarga nya masih lengkap Hanya Daffin saja yang sudah berangkat pergi sekolah.


"Mbak sus,nanti antar sarapan ke kamar.Mita sebentar lagi bangun ,dan mandi!"


Ara yang mendengar itu mendekati anaknya.


"Mita sakit Fi?"


"Sedikit mah,hanya demam.Nanti juga sembuh sendiri katanya!"


"Kenapa tidak di bawa ke dokter saja?"


"Tidak mau, malu mah Mita!"


"Kenapa malu?"


Kan mamah nya sangat kritis jika bertanya sesuatu.Tidak henti-hentinya dan tidak ada ujungnya!

__ADS_1


Hafi pun mendekati mamah nya.Berbisik sesuatu.


"Habis begadang,lembur tadi malem!"


Mendengar nya Ara menutup mulut nya sendiri.Satu tabokan mendarat di bahu Hafi.


"Selesai jam berapa Fi?"


"Terakhir habis subuh mah!"


Fandi yang mengerti dengan obrolan anak dan istrinya mengulum senyum dan menggelengkan kepala.


Hafi terus tersenyum tidak jelas.Hingga akan pergi keluar rumah dan membawa mobil sendiri ke kantor.


Riza dan Inggira sempat terpanah dengan tingkah Hafi pagi ini.


"Kenapa aku di tinggal kak?" Inggira menunjuk dirinya sendiri.


"Berangkat dengan kak Riza aja Nggi!"


"Ya sudahlah!" Inggira pun mengekor Riza dan masuk ke dalam mobilnya.


.


.


Setelah anak-anaknya pergi giliran Ara yang penasaran dengan ucapan Hafi.


"Mbak sus,saya saja yang mengantar sarapan Mita"


"Tapi nyonya?"


"Tidak apa-apa.Saya juga ingin tahu keadaan nya!"


Mbak sus pun mengangguk.Apa boleh buat majikan nya ingin mengantar nya sendiri.


Menaikki tangga dan memasukan pascode kamar Hafi.Masuk dan menghampiri ranjang,ternyata Mita masih tertidur dengan selimut yang menutup semua tubuhnya.


Lagi-lagi bukan hanya Hafi,Ara terperanjat melihat noda merah di seprei.Anaknya tidak di ragukan lagi keturunan Papah nya.


Ara kembali di sebelah ranjang Mita.Mengusap kening menantu nya.Sakit yang di ucapkan oleh Hafi ternyata benar,menantu nya dibuat demam seperti ini.


"Mita..Mita sayang!Bangun nak,minum obat dulu.Kata Hafi kau sakit!"


Mita mengerjap kan mata perlahan.Menoleh di sampingnya ternyata mamah mertua.


"Bangun nak,bersandar di sini" Ara menepuk dua tumpuk bantal yang dia susun di belakang Mita.


Tangan nya kencang memegang selimut di dada nya,dan mencoba bangun.Ara melihat bahu Mita yang penuh dengan tanda yang Hafi buat.


"Astaghfirullah Hafi tidak kira-kira!"


Mendengar itu Mita terkejut,sudah di duga pasti mertua nya tahu tentang ini.


"Mah,aku malu!"


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2