
Kedua nya tidak menduga akan bertemu di sana.Sama-sama dengan lawan jenis.
Hafi menengok kebelakang saat sudah di ambang pintu.
Menoleh lah Mita,aku mohon!
Beberapa detik berlalu Mita tak menoleh,Hafi pun membalikan posisi nya.Tak di sangka giliran Mita yang menoleh ke Hafi.
Ucapan Riza benar,dia mempunyai kekasih Ternyata.
Hati nya sedikit tercubit,terbesit sesuatu rasa yang aneh di sana.Sedikit sakit namun tidak pantas jika memang itu terjadi.Pernah menjalin hubungan yang hanya sekedar perjanjian dan sandiwara.
Tiba-tiba Mita ingat sesuatu,dan merogoh tas nya.Menemukan benda yang tipis.Mita berbalik dan berlari.
"Hafi...Hafi....!!"
Sayang mobil Hafi sudah berjalan cukup jauh,dan tidak mungkin dia mendengar nya.Sekalipun Mita melambaikan tangan.
.
.
Hafi yang di dalam mobil sempat melihat spion,,
Mita?..Ngapain dia melambaikan tangan?Apa itu padaku?.
Melirik Sharen di sebelah nya lalu Hafi tetap fokus mengemudi.
.
.
"Kenapa Mit?"
Dion menghampiri Mita di tepian jalan.Gadis itu meraih nafas dalam-dalam.Dan mengacungkan kartu ATM.
"Ini milik Hafi,aku baru sadar itu masih ada padaku kemarin.Tapi seketika malahan aku lupa memberikan nya!"
"Kau mencinta nya Mita?"
"Hah!? Apa??" Mita yang pura-pura tak mendengar,berlalu melewati Dion dan masuk kembali ke kafe.
Menyadari dengan perubahan Mita saat bertemu Hafi tadi,Dion sadar masih ada sesuatu yang belum selesai antara mereka.
Perasaan nya langsung menciut.Sudah di pastikan Mita semakin sulit untuk diperjuangkan.Selain menganggap nya hanya sahabat,Mita tidak bisa di ajak serius jika mengobrol tentang pasangan dengan Dion.
Harapan ku semakin pupus.
Dion menarik dan menghela nafas nya panjang.Menyusul Mita yang sudah berjalan duluan.
.
.
__ADS_1
Memulai pekerjaan baru dari awal, Mita memutuskan untuk bekerja paruh waktu di Kafe MANGGA milik dua saudara kembar Galih dan Galuh.Kedua nya berteman dekat dengan Dion.
Sedikit khawatir sebenarnya Mita bekerja di sana,selain profesi nya yang selalu bersinggungan dengan para pria.Pun tidak satu dua orang yang berakhir karena cek com termasuk Marvin anak konglomerat baru yang beberapa saat lalu bermasalah dengan Hafi, berujung terjadi kesepakatan antara Mita.
"Di sini banyak pengunjung,Kau sudah siap menerima resiko?" Dion berbisik pada Mita,dan di saksikan Galih yang tersenyum tepat di depan mereka.
Mita hanya mengangguk "Hati-hati banyak yang naksir nanti!"
Dugk!!
"Aww!!.." Dion mengaduh,karena Mita mengikut dada nya.
Pria di sebelahnya ini sangat lah berisik.Membuat pemikiran Mita goyah dan seakan tidak menyemangati.
"Pakai masker saja dulu Mit"
"Bengek,tiap kerja pakai masker mulu!" Bukan Mita yang menyahuti tapi Dion.
"Aku sudah mengetahui banyak hal tentang mu dari Dion.Tempo hari dia sering membicarakan mu!" Dagu Galih mengisyaratkan pada Dion.
"Aku?.. bicara apa Dion tentang aku padamu Bang?"
Galih tertawa terbahak.Berapa orang saja,yang sudah memanggil dia bang.Mungkin logat bahasa dia yang beda pada umum nya.Tapi Galih tidak mempermasalahkan itu.Selain orang tua nya yang Jawa-Batak,dia juga fasih bahasa kedua nya.
"Panggil aku Galih saja Mita!"
Mita menggeleng "Gak ahh,aku tidak enak.Kau kan seumuran Dion.Kalau aku masih dibawah kalian"
"Apanya?"
Ketiga nya tertawa lepas.Menjadi hal yang pertama,Mita di beri waktu untuk mengamati pelayan yang lain bekerja.Sambil mengobrol santai dengan pemilik kafe dan Dion,Mita melihat mereka yang sudah lebih dulu bekerja.
Mungkin besok aku akan mengubah beberapa penampilan ku,rambut mungkin.
Mita bergumam dan tersenyum sendiri.Galih yang mencuri curi melihat nya tersenyum tipis.
"Kedip!!.. Dia lain dari yang lain,susah ditaklukkan.Saingan besar mu Keturunan Brahmana jika ingin mendekatinya"
Dion yang duduk berdekatan dengan Galih membisikan sesuatu,dan itu membuat Galih membulatkan mata,terkejut dengan pernyataan teman dekat nya.
"Aku serius! termasuk aku,jika kau ingin tahu!" Dion melirik Galih dengan ekor mata nya.Sedangkan Galih hanya mengulum bibir menahan senyum.
"Kalau mau menertawakan ku,sangat dipersilahkan!"
Galih sebenarnya sudah tak tahan lagi ingin tertawa,namun objek di depan nya lebih menarik.
Mita yang sudah menggunakan apron,yang kedua sisi talinya di ikat ke belakang, semakin menampakkan lekuk tubuhnya.Rambutnya ia ikat tinggi dan di cepol,leher jenjang nya terlihat sempurna.
Mendekati Galih dengan membawa alat tulis dan buku menu.
"Aku mulai kerja ya Bang?"
Galih mengangguk "Oh tentu,silahkan!"
__ADS_1
Mita pun mulai melayani setiap pengunjung yang baru masuk kafe,bukan hanya satu dua orang, berkelompok juga banyak.
Apapun yang menjadi pekerjaan nya dia akan selalu menjalani dan bersyukur,berjuang untuk Ibu dan Mina.
"Aku pulang dulu,nanti kalau butuh bantuan ku.Telfon saja!" Tiba-tiba Dion berbisik lirih di belakang telinga nya.Mita langsung menoleh dan menyingkir.
"Iyaa, terimakasih ya Dion?!"
Dion mengangguk dan melenggang pergi setelah melambaikan tangan ke Mita.
.
.
"Bukan kah lusa adik mu ulang tahun?"
Hafi yang sedang fokus menyetir menoleh ketika Sharen berkata.
"iya.."
"Jadi?..." Mencoba memancing dengan menanyakan sesuatu,tapi Hafi justru bingung dengan ucapan gadis di sebelah nya.Dia pun mengedikan bahu nya.
"Apasih?!!"
"Jadi kapan aku dikenalkan dengan keluarga mu?Kita sudah lama berhubungan.Apa akan seperti ini terus!?"
Sharena sedikit kesal dengan Hafi yang tidak peka sedikit pun.
"Aku pulang untuk itu,dan bukan kah ini saat yang tepat?Ulang tahun adik mu pasti akan banyak wartawan,rekan dan kerabat Papah mu.Kamu serius kan dengan ku Hafi?!"
Mendengar saja terdengar aneh.
"Maksud apa sih Sharen?Kau ingin dikenal kan pada keluarga ku atau kau ingin di kenal banyak orang jika kau kekasih ku?"
"I-Iyaa maksud ku,bukan kah keluarga Brahmana keluarga terpandang?Jika kau mengenal kan ku otomatis berita mu dengan gadis itu akan redup!"
Sharena mencoba mencari alasan.Misinya pulang adalah menagih janji Hafi untuk dikenalkan kepada keluarga Brahmana.
Dan memberitahu pada seluruh dunia dia adalah calon nyonya Hafidan, padahal belum tentu juga.
"Tidak kah kau berfikir,wanita yang paling berharga adalah wanita yang tidak terlihat oleh lelaki lain dan hanya terlihat oleh suami nya?"
"Untuk apa,memperlihatkan sesuatu yang berharga kepada orang lain, bagaimana jika bukan cuma aku yang menginginkan mu,tapi lelaki di luar sana juga??!"
Mendengar ucapan Hafi,Sharena menelan ludah dengan susah.Perkataan Hafi membuat Sharena bungkam,tak bisa membalas.
Gadis itu langsung terdiam dan membenarkan duduk nya memandang lurus kedepan.
Obsesi menjadi nyonya Hafidan membuat dia lupa akan satu hal,bahwa lelaki disebelah paling pantang untuk dipaksa.
.
.
__ADS_1
.
to be continue