
Hafi terus terdiam sepanjang perjalanan pulang.Mengendarai mobil dengan serius menatap ke depan.Sedikit aneh dengan keakraban yang tiba-tiba pada mereka.Tanpa sadar pun Hafi juga demikian dengan Ibu Sora dan anaknya Harse.
Mita memilih diam bersandar di sandaran jog mobil.Mengangkat kaki dan bersila,mengusap perut nya yang sangat kekenyangan.
"Aku pengin pipis Yank!"
Tidak menghiraukan atau tidak mendengar,entahlah! Hafi hanya diam dengan tangan kanan yang bersandar pada pintu dan terus mengusap dagunya yang sudah mulai tumbuh rambut.
"Yank?!!..." Kening Mita berkerut.
Dia pura-pura tidak mendengar ku atau sok serius?
Menegakkan badan nya,Mita mencondongkan wajahnya dan bicara di telinga Hafi.
"Hafidan jelek!! Aku pengin pipis!"
Suaminya terperanjat,telinganya seperti tersapu angin semilir dari suara merdu Mita.Seketika itu juga Hafi menoleh.
"Aku pengin pipis!!"
Wajah Mita sudah terlihat menahan sesuatu akan keluar di bawah sana.
"Tunggu,tahan sebentar! Aku carikan pom bensin!"
Sedikit mengebut,tak jauh dari Mita mengeluh ada pom mini yang fasilitas nya cukup memadai.
"Tunggu!!"
Belum sampai membuka pintu untuk Mita,Mita sudah dulu membuka nya.Hafi mencekal pergelangan nya ketika Mita akan lari sendiri.
Dia tahu itu akan dilakukan istrinya.Kebiasaan seperti hamil terdahulu, tak menyadari di dalam perut nya sedang ada nyawa lain yang harus di jaga.
"Pelan!"
"Hisssh.. Aku sudah tidak tahan!"
Hafi ditarik oleh Mita hingga pintu kamar mandi.
"Jangan di tutup rapat! Ada aku di sini.Aku yang akan menjaga mu!"
Tidak berfikir panjang lagi,Mita membiarkan pintu tidak di tutup rapat.Dan Hafi bisa melihat pergerakan Mita dengan beberapa Senti celah di pintu.
Menurunkan celana nya lalu dalaman nya,wajah lega Mita bisa dilihat dengan jelas oleh Hafi dan dia pun tersenyum.
"Hati-hati licin sayang!"
Tanpa bersuara menjawab,Mita menganggukki ucapan suaminya.Setelah dirasa Mita sudah memakai celana nya kembali dan rapih,Hafi membuka pintu dan menjulurkan tangan,Mita pun meraih dan menggenggam erat karena memang di sana sedikit licin.
Menepuk pelan bagian pinggang belakang dan melingkarkan tangan di pinggang Mita,Hafi membawa kembali istrinya ke dalam mobil.
Tidak peduli menjadi bahan tatapan mata orang-orang di sana.Yang terpenting hanyalah dunia nya Paramita Berliana.
.
.
.
"Hah!...." Membuka ikat rambutnya dan menghela nafas panjang.
Padahal cuma perjalanan sebentar,kembali ke hotel pukul sepuluh lebih lima belas.Dan beruntung saja di lift tidak seramai pada saat berangkat tadi,jadi tidak membuat Hafi kesal.
Di parkiran saja sudah menggerutu,menguncir kuda rambut Mita dan memakai kan masker,bukan cuma itu.Hafi bahkan memaksa Mita memakai kaca mata hitam.Benar-benar sangat posesif.
__ADS_1
"Sudah!... Kalau cara nya seperti ini.Aku tidak akan keluar kamar lagi.Sesak nafas ku memakai masker setiap hari jika keluar kamar setiap hari"
Hafi tertawa,merasa istrinya sangat lucu dengan kemauan nya yang harus di turuti karena pencemburu.
Mendapatkan Mita adalah suatu anugerah yang sangat luar biasa baginya.Selain bisa mengabulkan harapan Mamah dan Papah untuk tidak bersama Sharena,pilihan Hafi adalah tepat.Paramita Berliana,secemerlang nama nya dan secantik parasnya.
"Karena aku tidak mau istriku dilihat orang lain! Besok kita kembali pakai Helly milik Papah saja ya,aku tidak mau berdesakan dengan penumpang lain,dan mereka menikmati wajahmu.Karena istriku sejak hamil kecantikan nya bertambah!"
Kecupan beberapa kali di bibir,lalu Hafi menyelonong ke kamar mandi untuk membersihkan diri kembali.
.
.
.
Beberapa jam berlalu,dilain tempat.Mina yang sedang tidur terbangun dan menangis.Ditemani Daffin dan Mbak Sri di kamar Daffin.
Beberapa hari ini pemilik rumah dan si sulung Riza sedang ada keperluan diluar kota.Sehingga Mina terpaksa tidur bersama Daffin dan Mbak Sri.Tidak di ijinkan masuk ke kamar Hafi jika bukan bagian dari keluarga,mengingat kejadian sebelumnya Mbak sus pernah menjadi bagian penculikan Mita yang di dalangi oleh Dito dan Sharena.
Tangisan malam ini sangat kencang.Mina tidak bisa dikendalikan selain dengan Mita, Hafi,dan Ayah gadungan nya Riza.Merengek mencari Riza hingga Mbak Sri kalang kabut harus melakukan apa untuk meredam tangisnya.
"Adek Mina jangan menangis,nanti dimarahin tetangga karena berisik!" Itulah kerjaan Riza yang mengajarkan kepada Daffin jika Mina menangis.
Ingin rasanya Mbak Sri tertawa,tapi apalah daya.Tubuhnya harus terus digoyangkan untuk meredam suara tangisan.
"Mbak...."
Mbak Sri pun menoleh dan berjingkat.
"Astaghfirullah non,mbak sampai kaget!"
Inggira dengan rambut yang berantakan,dan muka bantalnya membuka pintu dengan pelan sampai mbak Sri tak mendengar.
"Lampunya nyalakan de'!"
Dengan sekali tekan tombol yang ada di sebelah ranjang,lampu menyala.Seketika mata Mina membuka lebar,tangisan nya kembali terdengar.
"Mina...Ayo Mina gendong onty yuk!!"
Mina menggeleng,botol dot hanya dia pegang tidak mau meminum.
"Badan nya tidak panas kan mbak? Atau dia minta apa? Kenapa bisa menangis selama ini?"
"Mina mencari Tuan Riza Non!" jawab mbak Sri dengan wajah yang cemas.
"Astaga,dia benar-benar anak Kak Mita,yang maunya dengan Hafi.Dan Mina yang maunya dengan Riza!"
"Kak,telfon kak Mita saja!"
Inggira pun berfikir sejenak,saran Daffin ada benarnya.
"Apa tidak mengganggu kak Mita yang sedang istirahat de'?"
"Coba dulu kak..Kalau tidak kak Hafi,dia pasti akan menjawab jika yang menelfon adiknya!"
Inggira pun mengangguk,melangkah ke luar kamar Daffin,tak lupa mematikan lampu utama terlebih dahulu agar Mina sedikit tenang.
Kembali dengan ponsel di tangan nya.Sudah dua kali mencoba menelfon Hafi namun tidak ada jawaban.
"De' coba kamu yang menelfon kak Mita,kak Hafi tidak menjawab!"
Daffin pun membuka laci nakas dan mengambil ponsel nya,mencoba menelfon ponsel Mita hingga bunyi nada tunggu yang cukup lama akhirnya terjawab.
__ADS_1
Hafi yang sedang tertidur dan memeluk Mita.Beberapa jam lalu istrinya mengeluh pinggang nya sakit karena pengaruh hormon kehamilan.
Dia pun terbangun karena mendengar ponsel Mita berdering,dan menegakkan badannya.Ponsel Mita ada di atas nakas.
Hemm...Daffin?
"Hallo kak Mitaa....?"
"Ini kak Hafi Fin...Ad?" Belum selesai berbicara suara Mina menangis terdengar.
"Mina menangis malam-malam?"
"Iya .. Ini ada kak Inggi di sini!"
Ponsel berganti ke tangan Inggira,dan mengalihkan ke panggilan video.
"Kak pindah Video!"
Tanpa menjawab Hafi langsung mengerti,dan menyalakan lampu.
"Mina menangis dari tadi mencari Kak Riza"
"Riza dimana?" tanya Hafi
"Kak Riza..." Inggira seketika ingat ucapan Mamah nya.
"Kak Riza ke luar kota!"
"Cckk! Main terus kerjaan nya! .. Mana coba Mina,aku ingin bicara dengan nya!"
Inggi pun memegang ponsel tepat di depan Mina.Balita itu melihat Hafi dan seketika matanya membola.
"Undaa..." Hafi pun mengalihkan layar pada Mita.
"Unda sedang tidur,istirahat sayang"
Meski hanya terlihat bagian belakang,karena Mita tidur menghadap ke kiri.Namun Mina tahu itu Bunda nya.
"Inggi,sampaikan pada Mamah.Mungkin kakak akan pulang dua bulan kedepan.Dan sementara kerja dari sini.Kak Mita sedang mengandung lagi,dan semoga kembar karena tadi sore baru di periksakan.Kak Mita belum bisa mengudara,meski pun lewat jalur darat juga resiko nya tinggi!"
Bukan hanya Inggira, Daffin dan Mbak Sri pun mendengar nya.Mereka pun tersenyum bahagia mendengar kabar itu.
"Kakak Minaa,pintar yaa .. Tidur sudah malam.Besok bunda menelfon yaa! Diminum cucu nya yaa sayang!"
Bagai terhipnotis,Mina mengangguk dan meminum botol dot nya,seketika anak balita itu memeluk leher Mbak Sri dan mulai memejamkan mata.
"Kak selamat ya,di jaga baik-baik kak Mita nya.Salam buat kak Mita"
"Dari Daffin juga kak!!"
Hafi disana mendengar dengan jelas.
"Maaf ya merepotkan kalian.Doa kan kak Mita dan calon keponakan kalian sehat! Maaf kak Mita tidak bisa diganggu,kalian tahu kak Mita tidak bisa stres dan capek kalau sedang hamil!"
Inggira dan Daffin mengacungkan jempolnya.Panggilan video pun di akhiri.
.
.
.
To be continue
__ADS_1