
Melewati hari tanpa Ibu tercinta,tujuh hari sudah di lalui oleh Mita.Mencoba untuk kuat dan terbiasa tanpa Ibu nyatanya tidak semudah yang orang lain fikirkan.
Mengalami sakit demam hingga di rawat,karena tak nafsu makan.Kali ini Mita masih berbaring di atas ranjang dengan kompres yang menempel di kening nya.
Hafi mencoba membujuk berkali-kali pun,Mita tetap tidak ingin kembali ke rumah sakit dengan alasan karena takut di suntik.
Ara yang pernah mengalami itu hanya tersenyum,menantu nya sama persis dengan dirinya.Takut di rawat dan takut jarum suntik.
"Jika tidak di isi bagaimana akan sembuh? Kompress hanya menurunkan demam beberapa detik,tidak ada obat yang masuk ke tubuh mu,kau akan seperti ini terus!"
"Tolonglah Mita,aku tidak bisa melihat mu seperti ini.Aku tidak bisa kemana-mana"
"Kau akan merepotkan semua orang"
"Tidak kah kau merasa kasian dengan Mina yang ingin bersama mu tapi kau takut demam mu menular pada nya?!"
"Atau aku harus memaksa mu,membawa orang-orang untuk memegang kedua tangan mu dan mengapit pipi mu untuk meminum obat?"
Hafi sudah seperti ibu tiri yang marah kepada anak tiri nya.Entah sudah keberapa dirinya membujuk dan menakuti Mita untuk minum obat.
"Keluarlah jika aku menyusahkan mu!!! Aku bisa melakukan sendiri,aku tidak lapar,aku tidak butuh obat,nanti aku akan melakukan sendiri jika aku mau!! Sekarang keluarlah!!!"
Suara nya meninggi,sepertinya Mita mulai jengah dengan omelan Hafi yang tak henti-henti nya selalu menakuti.
Bukan takut Mita malah berganti posisi dan melempar kain kompres ke nakas di sebelahnya.Membelakangi Hafi dan menarik selimut hingga dada nya.
Melihat istrinya sulit di atur namun enggan menyakitinya,Hafi membuka kantong yang berisi obat Mita,tiga tablet dengan bentuk dan warna yang berbeda dia masukan ke dalam mulut nya sendiri.
Mendekati Mita,menyentuh bahunya.Mita di paksa menghadap suaminya.Hafi yang sudah tak sabar memegang dagu dan mencium bibir Mita,memaksa membuka bibir istrinya.Melakukan hal aneh namun berhasil memindahkan obat di dalam mulut nya ke dalam mulut Mita.Mita yang terkejut dan tersedak karena tablet sudah ada di kerongkongan terpaksa menelan.
Wajah Mita berubah,merasakan tidak enak.Hafi meraih cepat gelas di atas nakas dan memberikan nya pada Mita.
"Pelan-pelan..."
Mita meminumnya dengan mata yang menatap tajam suami di depan nya.
Menutup mulutnya sendiri,Mita merasa obat yang baru saja tertelan ingin kembali lagi.
"Eits!! Jangan di keluarkan lagi!"
Hafi mencium kembali bibir istrinya,menahan nya beberapa detik.Hingga Mita mendorong dada Hafi.
"Keluar lah,kau sangat menyebalkan sekali Hafidan!!!"
"Ini kamar ku!"
Mita melirik ke segala arah.
Benar juga ini kamar nya.Tapi aku tidak boleh kalah.
__ADS_1
"Ya sudah,tidurlah di sofa.Aku membencimu!!!"
Satu bantal guling terlempar dan Hafi menangkap nya.
"Sakit,tapi tenaga nya masih kuat!"
"Aku mendengar nya Fi !!!"
Mita menarik selimut dan mematikan lampu utama,mengganti dengan lampu tidur.Mungkin hanya mereka yang masih berseteru malam-malam begini.Beruntung kamar yang kedap suara sejak Hafi menikah,apapun yang mereka lakukan tidak akan terdengar orang lain.
.
.
.
Menjelang pagi,Hafi melihat Mita yang masih tertidur.Mungkin efek obat yang dia minum semalam.Beberapa kali Hafi membangunkan nya,Mita tetap tak bergeming.Hanya sahutan deheman saja lalu hilang,dan begitu terus.
Berencana ingin pergi ke kantor dan mengecek beberapa pekerjaan nya.Namun sedikit ragu karena Mita bisa bangun jam berapa pun dan tak ada dia di sampingnya.
Istrinya akan merajuk,tapi jika ada pasti Mita berulah dan membuat Hafi marah.
Kali ini Hafi harus bertemu seseorang di luar jam kantor.Bukan Klain atau rekan bisnis.Yang dia tahu seseorang yang cukup terlatih dalam menghadapi masalah dunia per mafiaan.
Melajukan mobil,tak jauh dari rumah nya,mata Hafi melihat Mbak sus dengan seseorang yang tak di kenali.Memakai jaket dan topi hitam.Duduk bersebelahan,tak jauh dari sana ada seorang anak kecil yang bermain dengan Mina.
Membelokan mobil nya,mata lelaki itu tak sengaja melihat Hafi,dan secepat kilat membenarkan topi lalu pergi dari sana.
"Mbak sus, seperti nya tadi aku melihat seseorang di sebelah mu?"
Mbak sus yang duduk di sana mendengar suara Hafi dibelakangnya membulatkan mata.Dia pun menoleh.
"Den Hafi,maaf saya kira siapa!"
"Mbak,tadi bukan nya ada seseorang di sampingmu?"
Mata mbak sus mengerjap,dan melihat ke sekeliling mencari alasan untuk apa yang Hafi bicarakan.
"Ii-itu.. Itu hanya tukang sampah yang sedang istirahat disini,ya dia duduk di sebelah sini"
"Kemana dia sekarang mbak,kenapa cepat sekali pergi.Bukan kah sampah di sini juga masih banyak?"
"Ee..eee..." Mbak sus kesulitan menanggapi pertanyaan Hafi.
"Yaaah..."
Hafi menoleh mendengar suara itu,ternyata Mina mengetahui dirinya yang sedang mengobrol dengan mbak Sus.Gadis balita itu pun berjalan menghampiri Hafi,dan Hafi pun menggendongnya.
Kali ini aku selamat karena Mina.Bagaimanapun juga,Mina sering menyelamatkan ku dari kecurigaan keluarga Brahmana.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian pulang saja.Ayo mbak masuk ke mobil,akan aku antarkan sampai depan rumah!"
Mbak sus pun hanya mengangguk,dan menuruti Hafi.Mina masih berada di gendongan Hafi hingga depan pintu gerbang.
Mobil melaju kembali,Hafi yang masih saja diliputi penasaran akan siapa yang duduk bersama pengasuh Mina,dan terlihat seperti sangat dekat dengan mbak sus.Namun keanehan juga terlihat kala mata nya melihat mata Hafi.
"Siapa sebenarnya orang tadi?" merasa penasaran,Hafi mengelilingi taman sekali lagi dan mencari cctv yang ada di sana.
Ternyata hanya ada tiga titik di sana,dan satu titik mengarah ke bangku yang mbak sus duduki bersama orang tadi.
Hafi langsung mengarahkan kemudinya ke luar taman,dan di sana ada satu lagi.
Meraih ponsel dan menghubungi om Abas adalah cara yang paling tepat.
Beberapa panggilan tidak di jawab, akhirnya Hafi melanjutkan perjalanan ke perusahaan.
Sesampainya di ruangan,meletakkan tas dan mengendurkan dasinya.
"Ricko ke ruangan sekarang!!" panggilan dari wairless.
.
.
.
Riza dan Ricko menoleh bersamaan ketika wairless di ruangan Ricko berbunyi,dan segera menerima pesan dari Hafi.
Riza yang tahu itu mengangkat sebelah alisnya.
"Dia sudah ngantor ternyata!"
Dan hanya di senyumin saja oleh Ricko.Sama-sama mendengarkan pesan singkat dari Hafi.
"Maaf Pak,ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Kau cepat sekali,baru juga Hafi mengirim pesan.Sudah mau mengusir ku?!"
Ricko tertawa hambar "Bu.."
"Sudah lah,ayo ke sana! Aku ikut!"
Ricko segera mengangguk,melangkah bersama bos nya menuju ruang Hafi bersamaan.
.
.
.
__ADS_1
To be continue