TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 92 Nasi rebus


__ADS_3

Keinginan Hafi untuk menahan Mamah nya tetap di Appartemen ternyata kalah dengan perintah Fandi.Ara lebih menuruti suami nya di banding anak dan calon cucu.


Tak di sangka Fandi menyusul ke Kota itu dan beberapa hari menginap lalu membawa Ara pulang ke ibu kota.Mita terlihat sangat sedih terlebih lagi dengan Hafi yang harus melakukan semua nya sendiri termasuk hari ini.


Mita menginginkan makanan yang sedikit aneh,Nasi rebus dengan bumbu rendang tapi bukan daging melainkan ayam kampung.


"Itu pasti sangat enak sayang!" Bibirnya beberapa kali mengecap,dan menelan air liur.


Jantung Hafi sudah berdebar,keringat mulai muncul di keningnya.Kehamilan kali ini Mita banyak meminta sesuatu dan semua berbau daging, entah ayam,kambing,domba,atau pun sapi.


Padahal Hafi sangat meyakini jika istrinya tidak terlalu suka makanan perdagingan.


"Memang ada makanan seperti itu?"


Mita dengan percaya diri nya menggeleng.Hafi pun menghela nafas nya.


"Jika kamu saja tidak tahu lalu aku bagaimana?"


"Dicari! .."


Sudah bisa terlihat dengan jelas sebenarnya.Wajah Hafi sudah berubah dengan drastis.Orang yang dekat dengan nya selama ini di kota ini hanyalah Pak Raksasa.


"Pak Raksasa ya yang mencarinya?..." Hafi mencoba membujuk Mita.


"Mana bisa begitu,Ini anak mu mas!.." Suara Mita di buat seolah-olah tokoh pada film horor.


"Jangan begitu,aku tidak suka ya!!"


Mita terkekeh,karena dia tahu suaminya paling tidak suka dengan tokoh utama pada film horor itu.


"Ya sudah dicari!!.."


"Apa nama makanan nya tadi?"


"Tidak tahu!"


"Kita buat saja ya?.."


"Memang bisa?"


Hafi melingkarkan tangan nya di bahu Mita.


"Kita coba,aku selalu mengusahakan semua nya buat mu dan anak kita!"

__ADS_1


.


.


.


Hanya berbekal dengan apa yang Mita ucapkan,Hafi mencatat itu semua pada draft di ponsel.


Menitipkan Appartemen pada security dan tentu saja Pak Raksasa yang sekarang bekerja menjadi bodyguard.Hafi keluar seorang diri mencari bahan-bahan yang Mita sebut.


Tak sengaja saat di supermarket dia bertemu dengan Ibu Sora,beliau yang membantu memilih ayam kampung,bumbu rendang instan,dan mencatat bumbu beserta cara membuat makanan apa yang Mita inginkan.


"Terimakasih banyak sebelumnya Bu.." Punggung Hafi menunduk pada Ibu Sora.


"Sama-sama,sayang sekali tidak bisa bertemu dengan Mita langsung.Mungkin lain waktu jika saya tidak sibuk.Semoga apa yang saya catat benar apa yang Mita inginkan!"


Hafi tersenyum dan mengangguk,harapan nya pun sama dengan Ibu Sora.


"Hati-hati di jalan ya nak Hafi dan salam untuk Mita!"


Mereka berpisah setelah sama-sama selesai pembayaran di kasir.


.


.


.


Memegang perutnya yang mulai membesar,karena ada dua bayi di dalam perutnya.Mita sedikit kesusahan berjalan.


"Tidak usah di buka kan,aku hafal pascode nya sayang!" Mencium kening Mita,Hafi pun berlalu melewati istrinya.


"Perut kamu sudah mulai membesar,jangan jalan-jalan terus aku tidak tega melihatnya!"


Tangan nya bergerak mengeluarkan belanjaan di dalam kantong kresek.Menarik kursi karena dia tahu Mita akan menghampiri nya dan duduk di sebelah.


"Tadi aku bertemu dengan Ibu Sora di supermarket.Dan dia memberi ini!"


Mita mengerutkan kening dan memicing kan mata.Sebuah kertas bertuliskan resep apa yang Mita inginkan.Jika di fikir-fikir makanan yang Mita inginkan tidak mempunyai nama,namun Ibu Sora tetap menuliskan untuk Hafi mencoba nya.


Membaca nya satu persatu,dan beruntung di dalam lemari pendingin bahan pelengkapnya ada.Selain Hafi hanya membeli daging ayam dan bumbu rendang,beberapa sayuran di lemari pendingin sudah ada,berkat Ara saat akan pulang menyediakan itu semua,termasuk susu hamil Mita yang beraneka rasa.


"Kamu yang memasak kan sayang?"

__ADS_1


"Iyaa..." Hafi sudah berganti baju,hanya kaos tipis berwarna abu dan celana pendek rumahan.


.


.


.


Yang dilakukan Mita hanya lah melihat suaminya bergulat dengan alat tempur di dapur.Mulai memotong daging,merebus air,hingga mengupas wortel dan sayuran yang lain.


Tak lama nasi rebus yang Mita inginkan sudah siap di cicipi.Meski bentukannya sedikit berantakan,namun Mita senang melihat nya.


"Jangan berisik ya kalau tidak enak,ini tidak pedas dan hanya gurih!" Hafi sudah berkecil hati sebelum Mita mencicipi.


Meraih sendok yang ada di dekatnya.Mita mulai menyicipi kuah yang berwarna merah kehitaman.


Ssrrrluuuupp!


Bibirnya mengecap,Mita mulai merasakan itu.Tidak berbicara sepatah kata pun,Hafi yang penasaran dengan ekspresi Mita dibuat penasaran.Mengambil sendok yang lain dan mengikuti cara Mita menyicip.


Satu kecapan,hingga kuah di sendok itu tandas.Mata Hafi melebar begitu pula dengan bibirnya.


"Enak kan?..."


Hafi mengangguk "Iyaa,ternyata enak!"


Menghela nafasnya kasar,lalu melepas Apron dan meletakkan kasar di kursi sebelahnya.Hafi memukul dada nya sombong.Merasa masakan nya ternyata enak dan Mita suka.


"Siapa dulu yang masak?!"


Melihat itu,Mita menutup mulutnya yang hampir tersedak.Menertawakan Hafi yang tiba-tiba sombong dengan pencapaian yang tak seberapa itu.


Alhasil,satu piring berhasil dihabiskan oleh Mita,dan sisa nya tentu Mita yang meminta Hafi yang menghabiskan karena di piring lain masih ada dan cukup banyak.


Menolak karena kebanyakan,Hafi membungkusnya di thin wall untuk diberikan kepada security di bawah.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2