TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 45 Perdebatan


__ADS_3

Masuk ke dalam kamar Ibu nya,wajah Mita dibuat sebiasa mungkin.Biasa seolah tidak terjadi apapun.


Tersenyum kepada Ibunya,menyiapkan makan di meja,membersihkan kamar nya.Baju-baju yang dari laundry Mita masukan ke dalam lemari.


Sudah menjadi hal yang biasa bagi Mita untuk membantu ibunya.Meski Ibunya semakin lama semakin rapuh dan renta.


"Nanti jangan lupa mbak sus mengeluarkan tempat makan ya Bu?"


"Lusa ibu ada cek kontrol dokter.Semoga ibu mengalami kemajuan ya?"


Ibu Dalilah tersenyum mendengar doa anaknya.


"Aku ke kamar ku dulu ya Bu,Mina biarkan bersama mbak sus" Ibu pun mengangguk.


Mita keluar dari kamar ibu nya dan naik menggunakan lift ke kamar nya sendiri.Sengaja menggunakan lift untuk menghindari semua keluarga di meja makan.


Menyibukkan diri membereskan kamar,lemari, buku yang ada di meja,dan terakhir masuk toilet dan keluar sudah menggunakan baju piyama.Menaikki ranjang untuk tidur.


Padahal mata nya belum mengantuk sama sekali.Tapi kecewa nya sudah sangat besar dan itu berefek malas untuk mengurusi yang lain,selain tidur.


Kali ini Mita tak membelakangi posisi Hafi tidur,sengaja menghadap ke tempat dimana Hafi tidur.Mata nya dia paksa untuk terpejam.


.


.


"Mita kenapa mah?"


"Dion tadi kemari membelikan seblak cireng untuk Mita,karena Mita mengirim pesan kepada Dion untuk membelikan nya"


"Ohh,Hafi cemburu!!" Riza tergelak dengan itu.


"Ya mungkin!"


Suami mana yang tidak cemburu melihat istrinya di perhatikan oleh orang lain,terlebih lagi istrinya sendiri yang meminta sesuatu kepada orang lain,entah itu teman,sahabat,atau pun saudara.


Selesai makan,Hafi tidak langsung masuk kamar.Menyelesaikan pekerjaan nya terlebih dahulu,di ruangan nya.


Alangkah banyak ruangan kerja pribadi untuk mereka,dari Fandi, Riza, Hafi,dan Inggira.Padahal yang di urusi satu perusahaan yang sama.Brahmana groub.


"Ricko,tolong kirimkan berkas-berkas mengenai perusahaan Candra Corpuration"


Panggilan telfon dilakukan oleh Hafi.Ricko di sebrang sana hanya mengangguki ucapan bos nya.


Menjadi asisten untuk Riza dan Hafi memang sangat lah extra sabar,selain yang satu emosian dan yang satu tengil.Kedua nya selalu membuat keributan yang tak terduga.


Memijit pangkal hidung nya,Hafi melihat layar laptop,yang menampilkan cctv seluruh ruangan rumah kecuali masing-masing kamar.


Mendetail di depan pintu gerbang saat Dion sore tadi memberikan pesanan Mita.Mata Hafi memicing melihat ekspresi kedua nya.


Apa mereka sempat terlibat masalah hati dan perasaan?Tatapan Dion lain kepada Mita,lalu Mita?Biasa saja,tapi dia jago menguasai diri.


Hingga sebuah pesan masuk,dan menampilkan apa yang di inginkan Hafi.Mengutak Atik sendiri lalu bibir nya tersenyum tipis.


.


.


Melihat jam di tangan nya,sudah lewat pukul sepuluh.Hafi kembali ke kamar nya.

__ADS_1


Mita yang sudah berganti posisi.AC nya di nyalakan paling dingin oleh Mita.


Hafi mendekati istrinya yang sudah tidur pulas karena di paksa.Mengecup kening nya.


"Maaf kan aku!"


Walau terpejam tetap masih saja terasa samar-samar.


Setelah dari toilet Hafi naik ke ranjang.Menyibakkan selimut nya,dan terjatuh.


Mita pun memaksa membuka mata walau malas.Melihat suami di sebelah nya,tubuh ya hendak membelakangi,namun di tahan oleh Hafi.


"Maaf..." Mita hanya melihat sekilas.


"Maafkan aku,Nanti aku belikan yang banyak apa yang kamu inginkan itu! Pakai uang ku sendiri jangan orang lain!" Hafi menyodorkan ponsel milik Mita.


Istrinya pun meraih nya dan segera membuka.


Tanpa bicara banyak,Hafi bersandar di bahu Mita,tangan nya memeluk melingkar di perut istrinya.


Beberapa notif chat masuk beruntun.Mita tersenyum membaca satu persatu.


"Siapa?"


"Teman kantor!"


Panggilan masuk,ponsel berbunyi tepat di depan wajah Hafi.Buru-buru merebut ponsel Mita dan menjawab telfon nya.


"Mita..Seblak nya aku pesan kan yang spesial seperti kamu,dan be..."


"Saya suaminya,Kebetulan Mita sudah tidur"


"Fi?..."


"Mulai besok risagn, keluar dari perusahaan Ameer,aku sudah membeli saham tiga puluh persen disana hanya untuk mu dan atas nama mu,kamu tidak usah bekerja lagi!"


"Fi,aku tidak mau!"


"Suami mu kaya,kau kurang apa jika masih bekerja? Kurang atau ingin bertemu Dion?"


Mita menatap lekat Hafi tanpa berkedip,suami nya sedang mode cemburu.


"Sebenar nya apa mau mu? titipan ku kau buang,ponsel ku kau hancurkan,lalu kau meminta ku risagn dari perusahaan!"


Kali ini Mita menyalak,emosi nya keluar dan tak bisa sabar lagi.


"Sebentar bentar marah,dan semau nya sendiri!" Mita beranjak dari ranjang nya.


"Mita..Mau kemana ?!!"


Mita masuk ke dalam toilet dan menutup,membanting pintunya kencang.Hafi membulatkan matanya.


.


.


"Aku tidur dengan Ibu!" Keluar dari toilet dan melenggang melewati Hafi.Mengambil ponsel yang pecah.


Hafi membulatkan mata ketika mendengar ucapan Mita,beranjak dari ranjang nya,meraih Mita yang belum sampai pintu,tangan nya memeluk tubuh istrinya erat dari belakang.

__ADS_1


"Disini saja!"


Mita terdiam memaku di pelukan Hafi.


"Jangan kemana-mana,jangan tidur dengan Ibu! Aku bagaimana jika tidak ada kau?"


Mita menghembuskan nafas panjang,meladeni Hafi yang sering seperti ini sebelum nya tidak lah apa-apa karena belum ada ikatan suci.Kali ini Mita benar-benar di buat tak sabar dengan kecemburuan suaminya.


"Sayang!" kata-kata manis mulai keluar dari bibir Hafi.


"Bukan kah kau sedang marah dengan ku,tidak usah dekat-dekat dengan ku kalau begitu!" Mencoba melepas erat tangan Hafi tapi hasilnya nihil.


Hafi semakin erat dan menyembunyikan wajah di pucuk kepala Mita.


"Iya..iya maaf,aku yang terlalu cemas sayang!"


"Mencemaskan apa?"


"kau berdekatan dengan Dion!"


"Kami bekerja bersama.Aku juga tidak tahu kau berdekatan dengan siapa saja di kantor!"


"Iya iyaaa iyaaa,It's ok aku yang berlebihan.Sekarang kembali tidur!"


Hafi menarik tangan Mita dan mulai merebahkan di ranjang,kepala nya bersandar di atas dua buah gundukan Mita.


Tangan nya mulai tidak bisa di kondisikan.


Sepuluh menit berlalu,Mita sudah tidak memakai apapun,tidak ada sehelai benang pun di tubuhnya.


Berkali-kali tubuhnya menggelinjang karena Hafi bermain dengan lidah di bawah sana. Mencengkram rambut Hafi,dan menekan nya.


Merasa milik istrinya sudah siap,Hafi berdiri dan melepas kain yang tersisa di dirinya.Kembali ******* bibir Mita,hingga dia tidak terasa sesuatu sudah memasuki nya dan mulai bergerak maju mundur di bawah sana.


"Hmpftt...Sshhh ahh Hafi!!!" Suara itu mulai terdengar dari bibir Mita,dan Hafi sangat suka mendengar nya.


"Terus sebut nama ku Paramita Berliana!"


"Ahhh pelan saja!"


Hafi lagi-lagi tidak bisa di kondisikan,efek hobi berolah raga membuat dirinya bugar dan bersemangat.


"Kita pindah di sofa!" Mengangkat tubuh istrinya berpindah ke sofa tanpa melepaskan yang di sana.


Memupuk cinta dan memadu kasih,kedua nya saling memberi dan menerima.Hafi yang terus menuntun Mita,hingga lewat tengah malam kedua nya baru terlelap.


Ingin memakai piyama nya kembali,namun Hafi melempar nya entah kemana.Terpaksa Mita tidur tidak menggunakan apapun karena malas beranjak dari ranjang.Tubuhnya sudah remuk,karena Hafi menghantam nya berkali-kali tanpa sedikitpun puas atau lelah.


"Tidur sudah malam sayang,atau ingin aku .."


Mita buru-buru menggeleng,dia tahu arah pembicaraan suaminya.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2