
Usia kandungan Mita sudah dua puluh lima Minggu.Gerak nya sangat terbatas,mengandung dua anak sekaligus memang tidak mudah.Beruntung mamah mertua nya sangat sabar menghadapi Mita yang kadang berubah mood.
Hari ini berencana akan memeriksakan kandungan nya ke dokter,namun hingga jam selesai istirahat Hafi tak juga pulang dari kantor menjemputnya.Di telfon tidak ada jawaban satu pun.
Duduk bersama Mina dan Mbak Sri di ruang santai lantai dua,wajah Mita sudah berubah.
"Mbak,tolong panggil Daffin untuk menemani Mina,aku akan ke kantor Hafi saja!"
"Tapi nda,apa tidak bahaya.Alangkah baik nya menunggu Tuan dulu!"
"Sudah aku telfon tapi tak di jawab satu pun!" Mata Mita mengembun.Dia pun mencoba nya sekali lagi menelfon Hafi,tetap saja tidak ada jawaban.
Dengan terpaksa Mbak Sri dan Mina berpindah ke kamar Daffin.Anak kecil itu pun tak keberatan jika Mina berada di kamar nya meski dia sedang mengerjakan tugas sekolah.
"Kak Mita ke kantor mbak?"
"Iya Fin.." Mbak Sri mengangguk.Jangan di tanya jika hanya mereka saja yang berada di sana, Mbak Sri selalu memanggil Daffin sama seperti yang lain.Karena Daffin tidak mau Mbak Sri terlalu formal jika dengan nya.
"Aku tidak bisa membayangkan jika Adik-adik Mina keluar.Penghuni rumah ini akan semakin banyak bukan Mbak?"
"Hah?.." Mbak Sri yang sedang tidak fokus dan Daffin meminta pendapatnya.
"Apa tadi?"
"Penghuni rumah ini akan semakin banyak jika kak Mita melahirkan!"
"Kok bisa?.."
"Iya,karena Mina dengan mbak Sri dan dua keponakan ku yang di perut kak Mita juga pasti butuh baby sitter dua kan mbak?"
"Tapi bukan nya Nona dan Tuan akan berpindah rumah.Daffin memang tidak tahu?"
Daffin pun mengerutkan kening.Anak itu baru mendengar berita itu.
"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu?"
"Mungkin memang Kakak Hafi belum mengumumkan nya Fin!"
Daffin pun menatap nanar jauh.
Meski aku sudah hampir dua belas tahun,mereka masih menganggap ku anak kecil terus.
Daffin pun menghela nafas kasar dan melanjutkan mengerjakan tugas nya lagi.
.
.
.
Menaikki mobil pribadi dan di sopir oleh Pak sup,Mita menerjang jalanan yang super ramai dan udara hari ini sangat panas.Memakai dress dengan panjang di bawah lutut.Berlengan pendek,rambutnya tergerai indah berwarna dark brown.Tak lupa flat shoes yang selalu menemani nya dari mulai awal kehamilan.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di gedung yang menjulang tinggi dan sangat megah milik Papah mertua nya.Mita turun di depan pintu lobby dan security di sana pun tahu jika itu keluarga Brahmana.
Kedatangan Mita membuat perhatian oleh para karyawan yang masih asing dengan wajahnya,namun tidak dengan receptionis di sana.Wanita cantik itu pun berdiri melihat Mita masuk.Senyum nya pun mengembang.
__ADS_1
"Selamat siang Ibu Mita Hafidan,bisa saya bantu?"
"Selamat siang mbak.Maaf,suami saya apa sedang sibuk?"
"Sebentar..." wanita cantik itu pun menghubungi sekretaris Hafi.
"Maaf Ibu Mita,Pak Hafi sedang meeting kira-kira dua puluh menit yang lalu.Bagaimana jika menunggu di ruangan nya saja?"
Mita mengangguk "Boleh..Apa saya langsung ke atas saja?"
"Oh sebentar Bu,biar saya antar saja.Tapi maaf,jika tidak merepotkan tunggu sebentar duduk di sofa tidak apa-apa? Saya akan memanggil partner saya terlebih dulu."
"Ok..saya tunggu.Terimakasih"
"Sama-sama Bu" Wanita itu pun menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Mita akhirnya menunggu di sofa sebentar,mata nya melihat seseorang masuk juga dan membawa tas berisi bekal dan di titipkan di receptionis.
Tas bekal itu pun di bawa dan wanita itu mendekati Mita.
"Mari Bu saya antar!" Mita mengangguk dan,berdiri.Mita mulai melangkah mengikuti karyawan di depannya.
Mata Mita terus melihat tas berisi bekal itu,secarik kertas ada di sana.
Sepertinya ditulis dengan tulisan tangan.
.
.
.
Karyawati itu menoleh pada tas yang tadi dia bawa.
"Oh itu,setiap hari seseorang mengirimkan nya.Dan saya atau Felly meletakkan nya di sana"
Deg! Jantung Mita berdebar tiba-tiba.Saat di lobby tadi Mita tau dengan mata kepala nya sendiri jika yang mengirim dan meletakkan tas kotak bekal itu adalah seorang perempuan yang masih sangat muda.
Fikiran nya langsung menduga-duga yang belum benar kenyataan nya.
"Maaf,saya permisi dulu Bu"
Mita pun mengangguk,mata nya masih terus melihat tas yang ada di atas meja Hafi.Debaran jantungnya membuat tubuh Mita terpaku di sofa ruangan suaminya.
Ingin sekali rasanya mendekat dan melihat apa di dalam nya.Bukan itu saja,nama pengirim yang ditulis di secarik kertas.
Siapa dia?
Mita pun memberanikan diri melangkah,mendekat ke meja kerja Hafi.Meraih secarik kertas yang menempel disana.
GALINA AYU
Tiba-tiba dada Mita sesak,nafas nya tercekat.Dia menduga itu nama seorang perempuan,dan bisa di pastikan yang Mita lihat itulah yang memiliki nama.
Siapa Galina Ayu? Kenapa aku baru mendengar nama itu?.
__ADS_1
Hanya dugaan saja tubuh Mita sudah lemas.Meraih kursi di sebelah,tangan nya memegang perut yang semakin besar.Mita duduk untuk menenangkan perasaan dan ketakutan nya.
Apa Hafi selingkuh? Dia memang tidak pernah meminta dibuatkan bekal sejak aku hamil dan setelah pulang dari Aceh.Tapi apa ini? Hafi mengkhianati ku?
Mata Mita mulai mengembun,memegang dada nya yang sedikit nyeri.
Ceklek!!!
Mita langsung menoleh dan melihat suami nya.
"Sayang?!!" Hafi pun masuk,tak berjarak jauh dengan nya Riza pun masuk.
"Stop!!" Mita merentangkan jemarinya,seketika Hafi dan Riza berhenti.
"Za,bisa keluar aku ingin bicara dengan Hafi saja!"
Penuh dengan kejutan,Riza dan Hafi saling menatap.Riza pun mengangguk lalu berbalik keluar dan menutup pintu.
.
.
.
"Ceraikan aku!"
Duar!!!
Mita langsung berkata seperti itu ketika Hafi mendekati nya lagi.Mengerutkan keningnya,Hafi sangat bingung dengan ucapan istrinya.
"Apa sayang,kamu berbicara apa.Ada apa sebenarnya?" Hafi mencoba memegang bahu,namun Mita tepis.
Mita menoleh,matanya sudah menggenang menahan air mata dan Hafi bisa melihat air mulai menitik di pipi nya.
"Kenapa?" Hafi mencoba mendekat lagi dan bertanya namun Mita menghempaskan tangan Hafi yang hendak menghapus air mata di pipi.
"Gak usah tanya kenapa,ada apa! Ini apa?!"
Mita menarik kertas yang menempel di tas bekal di sampingnya.
"Siapa Galina Ayu? Ini bekal kan? Dia mengirimi mu bekal.Dan lagi kata karyawati bagian receptionis dia meletakkan ini setiap hari di meja mu!"
"Husttt!.." Hafi mencoba memeluk Mita namun Mita menepis nya.
"Kamu mengkhianati ku! Aku sedang mengandung anak mu,kau enak-enak kan menikmati bekal pemberian gadis lain! Aku tahu aku jelek semenjak hamil,gendut,kusam,dan tidak enak dilihat.Tapi bukan berarti seperti ini caramu.Jika sudah tidak mencintai ku,lebih baik kita berce...."
"Hussttt!!!!" Hafi meletakkan jari telunjuk di bibir Mita.Meraih bahu dan memaksa mendekap nya erat.Mita terisak dan terus memukul dada suaminya.
"Itu milik Riza,Galina Ayu adalah istri Riza.."
.
.
.
__ADS_1
to be continue