TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 44 Perkara Seblak Cireng


__ADS_3

Cepat atau lambat pasti semua nya akan tahu.Mita dan Hafi tergolong menikah cepat,tidak ada sebulan kedua nya sudah di satukan dalam ikatan suci.


Tentang perasaan dan cinta,Mita tidak akan berfikir sejauh itu.Biarkan mengalir adanya seperti yang sedang di jalani.


Hanya saja Mita masih meragukan Hafi meski dia sering mengungkapkan cinta nya.Bukan ragu tentang cinta nya tapi kesungguhan nya.Menganggap diri sendiri merebut kekasih orang hingga sampai pada pernikahan bukan kah membuat orang sakit hati dan itu tidak dibenarkan?


Beribu fikiran berkecamuk di kepala nya.Hafi yang suatu saat bisa meninggalkan nya dalam keadaan apapun juga tidak bisa dipungkiri.


Menghembuskan nafas kasar,Mita baru saja selesai memandikan Mina dan membantu ibu nya beberes kamar.


"Kau kenapa nak,terlihat lesu?"


Mita terperanjat dengan ucapan ibu nya.


"Tidak apa Bu,hanya kurang tidur saja!"


"Kenapa,tidak bisa tidur? Atau sebentar lagi ada teman Mina di perut mu?"


Mita langsung menoleh ke ibu nya "Mungkin Bu" mereka tersenyum.


"Jangan menunda nya,jika sudah ada tanda-tanda cepat bilang ke suami mu!"


Mita mengangguk.


"Iya Bu"


.


.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, sebentar lagi matahari akan kembali ke peraduan.


Ketiga anak nya belum juga pulang.Ara sudah menelfon Inggira,gadis itu bicara sedang terjadi kegaduhan di kantor.Beberapa aset perusahaan ada yang hilang tanpa jejak.


Ara melihat Mita yang melintas di lantai bawah.


"Mitaa...berjalan menuju pintu depan,mau kemana dia?" Ara bergumam sendiri.


Langkah kaki Ara cepat,dan mengikuti nya.Melihat dari balik jendela,seseorang di sebelah kantor security menunggu nya.Di dampingi security juga disana.


Ara tau siapa pria itu,pria yang selalu ada jika Mita pergi untuk perusahaan nya.Ara pun menghampiri nya.


Dion yang tahu itu membungkukkan badan "Sore nyonya!"


Ara tersenyum "Sore juga,kita bertemu lagi"


Dion mengangguk.


"Maaf saya hanya mengantarkan pesanan Mita saja tidak ada keperluan yang lain"


Ara mengangguk "Apa itu Mita?"


Ara melihat kantong kresek putih yang di tenteng oleh Mita,pemberian dari Dion.


"Aku kangen seblak cireng depan kantor mah,meski besok sudah mulai bekerja,tapi pengin nya sekarang!" Mita tersenyum pada mertua nya.


"Oh..Kalau begitu terimakasih ya Dion sudah mau direpotkan"


"Sama-sama,tidak apa-apa.Mita saya mengenal dekat nyonya.Kalau begitu saya ijin undur diri"


Mita dan Ara mengangguk.Mobil masuk dari arah luar dan langsung terparkir,Hafi yang pulang sudah melihat dari jauh Mamah nya,Mita dan juga Dion.Membuka pintu mobil.Mata Hafi memicing melihat Dion.

__ADS_1


Dion pun akhirnya memasuki mobil,Mita melambaikan tangan nya.Di ikuti Ara yang tersenyum.


Hafi yang menyaksikan tiba-tiba merasa kesal.Terlebih lagi sesuatu yang di tenteng oleh Mita.


"Apa itu?"


Ara melirik ke kantong plastik yang di bawa menantu nya juga.


"Ohh,ini seblak cireng.Aku tadi mengirim pesan pada Dion,baru saja dia membelikan nya"


"Kenapa tidak mengirim pesan pada ku?"


"Kantor kamu di sana,dan Dion di sana! bertolak,kalau kamu ke sana dulu nanti kejauhan."


"Mamah masuk dulu ya?" Ara yang sudah filling akan terjadi perdebatan memilih tidak ikut campur.


Mita menganggukki.Di susul Hafi yang berlalu begitu saja,mengekor mamah nya.


Mita yang sendiri di sana mengerucutkan bibir nya "Kenapa aku di tinggal sendiri?" Akhirnya ikut masuk ke rumah karena hari semakin gelap.


.


.


Melihat ponsel Mita yang tergeletak di meja,Hafi meraih dan membuka nya.Kebetulan Mita sedang di toilet menyiapkan air untuk mandi Hafi.


Hafi memicingkan mata melihat chat Mita dan juga Dion,hanya chat bahwa dirinya pengin jajanan di depan kantor saja tidak ada yang lain.


"Kau menghapus obrolan mu dengan Dion?"


Mita yang baru saja keluar dari toilet terperanjat dengan suara Hafi.


"Kau membuka ponsel ku?Jangan dong Fi! itu privasi ku!"


"Ada foto-foto mu bersama Dion,aku tidak suka.Nanti di hapus!"


"Itu foto saat kita bekerja,disana bukan hanya kami saja"


"Tetap saja,aku tidak suka!"


"Iya nanti aku hapus,kembalikan dulu ponsel nya!"


Hafi masih saja menggenggam ponsel Mita,tidak ingin mengembalikan kepada Mita.


Mita pun menghembuskan nafas kasar,malas untuk berdebat dengan Hafi akhirnya mengalah dan duduk di sofa,meraih mangkuk yang di bawa dari dapur.Mata nya mencari bungkusan plastik putih yang tadi di bawa nya.


Membuka bantal sofa,dan mencarinya di meja.


"Perasaan aku taruh di meja kenapa tidak ada juga?!" Bergumam sambil terus mencari,jika kelupaan meletakan.


Mata Hafi terus memperhatikan Mita yang mencari kantong plastik nya.


"Cari apa?"


"Seblak cireng ku! Perasaan aku taruh di sini!" Tangan nya menepuk meja berkali-kali.


"Sudah aku kasih ke penjaga di depan!"


Bragk!!!


Hafi bicara seiring pintu toilet yang di tutup oleh nya.

__ADS_1


Mendengar dengan jelas, Mita terdiam sesaat lalu berbalik keluar kamar,berlari kecil dan menuruni tangga.Berpapasan dengan Inggira dan Riza saja dia abaikan.


Langkahnya benar-benar cepat dan menuju kedepan.


"Kak Mita kenapa kak?" Inggira yang tahu itu terheran melihat ipar nya berlalu begitu saja.


Riza pun mengedikan bahu nya dan menyusul Mita ke depan.Namun tidak dengan Inggira yang tak tertarik dengan itu.


.


.


"Pak, Cireng ku mana?"


Seorang pengawal baru saja beranjak dari duduk nya,perut nya baru terisi makanan dan terasa kenyang.Mendengar nona muda nya bertanya ia melihat mangkuk yang sudah tandas.


"Habis non,sudah masuk kesini semua" Menepuk perut nya.


"Hah?!" wajah Mita berubah menjadi lesu,mata nya mengembun.


"Ya sudah Pak!"


Mita kembali ke rumah.Hal itu dilihat oleh Riza dari depan pintu.


Berjalan dengan muka yang sedih dan tubuh yang lesu.Riza berdiri di depan nya saja Mita tidak tahu,hingga menabrak nya.


"Maaf Za!" Riza mengangguk.


"Jadi dia seperti itu gara-gara cireng? Astaga!"


Riza menepuk jidat nya sendiri.


.


.


Hafi bener-bener keterlaluan,perkara seblak cireng saja di kasihkan ke orang!Tidak tahu apa,aku tidak bekerja seminggu dan sangat merindukan nya.


"Mita.. bantu mamah menyiapkan makan malam!"


Mita terkejut dengan suara mamah nya,dan segera mengangguki lalu masuk dapur beserta mertua nya.


Hingga jam makan malam dimulai,Mita masih terdiam.Perkara Hafi turun makan adalah karena Riza yang memanggil nya.


Sebagai istri,Mita tetap mengambil kan makanan untuk suaminya.Namun di sana hening tak ada yang bersuara.


"Aku selesai,permisi!"


Mita masuk ke dapur dan mengambil nampan makanan milik Ibunya.Untuk diantar ke kamar.


Semua melihat nya kecuali Hafi.Dia paham jika Mita sedang marah dengan nya.


"Kalian jadi marahan nya?!"


"Hah?!!" Riza,Inggira dan Fandi papah nya bersama terkejut mendengar ucapan nyonya besar di rumah ini.


.


.


.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2