TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 35 Gengster


__ADS_3

Ucapan Ibu Dalilah sangat bersarang di fikiran Mita.Teror,entah apa yang ibu nya maksud,yang jelas Mita tidak pernah mempunyai masalah dengan orang lain.


Selalu mengakhiri kontrak kerja dengan cara baik-baik saat bekerja sebagai kekasih sewaan.


Mita di bantu Hafi membersihkan pecahan kaca yang berserakan,dan sangat berhamburan.


Memunguti satu persatu,dan mengumpulkan.


"Aaaaw!.."


Hafi menoleh,ujung jari Mita mengeluarkan darah karena goresan kaca.Tangan nya meraih tissue yang ada di atas meja,lalu membalut luka Mita.


"Hati-hati makanya!"


Tatapan Mita terus melihat Hafi yang ada di depan nya.


Apa gara-gara semalam?


Semenjak dia datang di hidup ku, masalah terus saja datang.Tapi aku tidak pernah menyalahkan nya.Jika sudah begini bagaimana?


"Jangan memandangi ku seperti itu!"


Hafi menoleh "Apa yang kau fikirkan?"


Mita mengerjap dan menggeleng.Orang di depan nya ternyata tahu jika sedang diperhatikan.


"Jangan khawatir,nanti ada orang yang membantu memperbaiki.Aku sudah menelfon Ricko Sebastian untuk mengurus nya"


"Pak Ricko?"


"Kau tahu?"


Mita mengangguk.


Hafi menghela nafas "Papah ku kau tahu,Riza juga kau tahu, sekarang Ricko kau tahu.Hanya aku yang tidak tahu kau!"


"Tuan Allan juga aku tahu!"


Hafi membulatkan mata,tidak percaya dengan ucapan Mita.


"Aku bekerja pada Pak Ameer,beberapa berkas sering aku serahkan kepada mereka.Dan satu hal lagi yang aku tahu,Riza mempunyai kembaran,namun aku tidak yakin karena dia manusia paling dingin dan jarang tersenyum"


Hafi menegakkan kepala,memandang wanita di depan nya. "Tapi kenapa aku tidak pernah tahu kau saat, terkadang aku ikut meeting?"


"Dion,dia yang selalu melindungi identitas ku.Karena..."


"Karena apa?"


"Karena pro..."


"Mita sarapan dulu!" Tiba-tiba Ibu Dalilah memanggil dari dalam.


"Ajak Hafi untuk sarapan bersama!".


"Iya Bu!!"


Mita pun beranjak dari sana.


"Kau masih punya hutang penjelasan pada ku Mita!"


Mita mengerutkan dahi nya dan mendekat,berjinjit,bibir nya pas di telinga Hafi.


"Dion melindungi ku karena profesi ku dulu,kekasih bayaran.Termasuk kau penyewanya!"


Mata Hafi membulat,Mita yang hendak beranjak dari hadapan Hafi meraih jemari lentiknya.


"Tidak akan ada Mita kekasih bayaran lagi.Aku akan menikahi mu!"

__ADS_1


Mendengar nya Mita menoleh dan terkekeh.


"Jangan Percaya diri dulu,belum tentu aku mau.Kita tidak saling cinta!"


"Tidak harus bersusah payah untuk mencintai ku Mita.Biar itu menjadi tugas ku saja!"


Mita menggeleng "Perbedaan kita jauh.Dekat dengan ku akan mempersulit mu,kau akan selalu terkena masalah nantinya!"


"Apapun masalah nya akan aku hadapi asal bersama dengan mu!"


"Hafi,aku mohon ja..."


"Nak Hafi,Mita ayo sarapan dulu!" Ucapan Mita terpotong,ibu nya tiba-tiba muncul dari pintu.


Mita dan Hafi saling memandang.


"Mita ayo,jangan diam saja!" tangan nya di tarik oleh Ibu Dalilah.


Kedua nya mengikuti langkah ibunya kedalam,duduk bertiga di meja yang cukup besar, jika hanya untuk keluarga kecil.


Melihat hidangan di meja,yang sangat sederhana.Mina duduk di kursi khusus untuk nya.


"Mita ambilkan nasi untuk Hafi!"


"I-iya Bu.." Mita mengambilkan nasi beserta lauk nya.Mata Hafi tidak beralih dari fokus nya pada Mita.


Menikmati sarapan dengan hening,sesekali Hafi mencuri pandang Mita yang dari tadi tak menoleh sekalipun pada nya.


Aku tidak percaya dengan mu,jika kau tak mencintai ku! Paramita Berliana.


.


.


TIGA PULUH MENIT YANG LALU


Ara memaksa Riza anaknya untuk mengatakan dimana Hafi,semalam tidak pulang.Di Appartemen juga tidak ada.Sedangkan Papah dan Mamah nya tahu jika tadi malam terjadi sesuatu dengan mereka.


Mengkhawatirkan anak nya yang bahkan sudah berumur dua puluh lima tahun lebih adalah hal yang wajar sebagai seorang Ibu.


Tidak memberi kabar apapun,bahkan ponsel Hafi dimatikan sejak tadi malam.


Berita di sosial media terus bergulir dengan asumsi banyak orang yang menambahi.


"Za.. Dimana Hafi Za?"


"Aku tidak tahu mah! Biarkan saja,dia sudah besar,nanti juga pulang sendiri!"


Ara terus menarik selimut yang Riza gunakan.Kedua nya saling tarik menarik.


"Ok.. jika kau tidak mau bicara pada Mamah, Mamah akan cari tahu sendiri.Tapi dengar kan dulu cucapan Mamah"


Riza hanya menjawab "Hemm..."


"Papah meminta Mamah untuk melamar Mita untuk Hafi,Tadi malam kau berkelahi dengan Dito bukan?Papah khawatir dengan kehidupan Mita jika masalah ini dibiarkan saja!"


Riza terkejut mendengar,tangan nya menyibak selimut dan langsung bangun terduduk.Ara menoleh.


"Kenapa,terkejut? kau juga menyukai Mita?"


"Bukan itu mah.Kalau tentang menyukai, silahkan saja,Hafi lebih berhak akan Mita.Aku tidak terfikir dengan pendapat Papah.Papah benar"


Dering ponsel Riza berbunyi.Dia menggapai,dan bicara dengan orang di seberang sana.


...


...

__ADS_1


...


...


"Bukan kah ponsel nya tidak aktif?"


...


"Ya kau urus saja!"


panggilan di akhiri oleh Riza.


"Siapa Za?"


"Ricko,katanya Hafi sempat menelefon.Dia bicara rumah Mita di serang oleh beberapa gengster bermotor,memecahkan kaca menggunakan batu"


"Lalu?" Ara semakin penasaran.


"Hafi meminta bantuan orang-orang Papah untuk menyelidiki dan membetulkan rumah Mita."


"Antarkan Mamah ke rumah Mita sekarang Za.Cepat bangunlah!! Tidak usah mandi,kita langsung ke sana!!" Ara menarik lengan anaknya.


Dengan terpaksa Riza menuruti,dan bangun menuju toilet untuk cuci muka dan bersiap.Sementara Ara juga melangkah keluar kamar dengan tergesa-gesa.


.


.


Tok


Tok


Tok


Terdengar suara pintu di ketuk,suara yang beruntut dan cukup keras.


Mereka yang sedang sarapan terkejut.


"Aku liat siapa di luar" Mita beranjak dari duduk nya dan melihat ke depan.


Membuka pintu tak ada siapapun,namun ada satu kotak kardus merah yang cukup besar.Mita menoleh ke semua arah untuk memastikan tidak ada seorang pun di sana.


Kotak kardus merah dia ambil,dengan pelan Mita membuka pita nya.


Tanpa bersuara tangan nya reflek melempar kardus itu.Hal itu terdengar oleh Hafi,dan dia pun mendekati Mita.


"Kenapa Mit?" Mita yang memalingkan wajah,jari nya menunjuk kardus yang dia lempar.


Hafi melihat dan membuka nya.Bola mata Hafi membulat.Terdengar suara motor kencang melewati rumah.Kaki Hafi segera melangkah membuka pintu,namun sayang motor itu sudah jauh.


"Sudah,kita letakkan saja di sini.Nanti akan aku urus.Lanjutkan sarapan nya,jangan bicara pada Ibu dulu" Mita mengangguk, Hafi menuntut nya ke dalam.


Tok


Tok


Belum sampai di meja makan,langkah ke dua nya terhenti dan saling menatap.Ketukan pintu terdengar kembali.


"Aku saja yang membuka nya!" Hafi berbisik lirih,hanya mereka yang berdua lah yang mendengar.Mita pun mengangguk.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2