TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 34 Teror


__ADS_3

Menjelang subuh,Ibu Dalilah terbangun.Melihat jam yang ada di dinding,jarum panjang menunjukkan pukul tempat kurang lima belas menit.


Membenarkan tidur Mina yang tak karuan,anak balita itu sangat berantakan tidurnya.


Merenggangkan tangan dan tubuh,ibu Dalilah turun dari ranjang.Rambut nya yang hampir memutih semua tergerai panjang sebahu.


Membuka pintu kamar,dan tanpa menoleh ibu Dalilah berlalu ke kamar mandi.Ritual pagi nya mengambil air wudhu untuk menghadap sang khalik bermunajat.


"Astaghfirullah!!"


Terkejut saat akan kembali lagi ke kamar,melihat seorang laki-laki tidur di depan televisi.Bu Dalilah memegang dada nya.Kening wanita itu berkerut,merasa tidak asing dengan wajah nya.


Tangan kiri nya menyibak gorden kamar Mita yang ternyata pintunya tak ditutup.


"Mita..Nak!! Bangun Mita!!"


Wajah nya masih nongol-nongol mengintip orang di depan kamar Mita.


"Mita!!! Bangun Mita!!"


Yang tadinya hanya panggilan berubah menjadi goncangan di bahu Mita.


Mita mengerjapkan mata, menetralkan pandangan.Dan menoleh.


"Hemm... kenapa Bu?"


"Itu siapa?" Ibu Dalilah mengacungkan jarinya ke luar sana.


"Itu? Itu apa Bu??"


Mita yang baru bangun, kesadaran nya belum seratus persen terkumpul.


"Itu,di depan televisi.Siapa yang tidur sana? Ibu seperti mengenal tapi lupa!"


Mita membalikan tubuh,matanya beralih ke gorden.


Membuka gorden,mata Mita mengerjap!


"Astaga!" Berjongkok di sebelah Hafi dan menangkup wajahnya pelan.


"Hafi! Fii..kenapa tidur di sini? aduh nanti kalau keluarga mu ada yang tahu aku harus bicara apa, pewaris Brahmana tidur di lantai.Fii bangun ayo pindah!"


Hafi yang sudah membuka mata nya masih bersandar di bantal.


"Fii,pindah kamar ku cepat.Aku saja yang di sini!"


Tangan Mita menarik lengan baju Hafi.Namun Hafi hanya mengerjap dan tidur lagi.


"Hafi!!!" Mita berbisik di telinga Hafi,tangan Mita ditarik,hingga tubuhnya terjatuh di atas Hafi.


Mata Mita membulat, terkejut dengan aksi Hafi.


"Ada Ibu!!" suaranya lirih namun menekan di setiap kalimat.


Hafi menoleh,bibir nya langsung tersenyum getirr.Bangun dengan susah payah.


"Pelan-pelan!" Mita membantu.


"Sebentar,Ibu sudah wudhu.Kalian tunggu di sini,ibu ingin bertanya banyak hal"


Hafi yang mendengar itu, tatapan nya berpindah ke Mita yang sedang mengangguki ucapan Ibu.

__ADS_1


.


.


"Nak Hafi tidur di sini? Kapan datang nya?"


Hafi mengangguk "Maaf sebelum nya Bu,Saya tadi malam mengantar Mita pulang.Karena sudah lewat tengah malam,jadi menginap di sini"


"Kenapa wajah nya seperti itu?"


Sebenarnya Ibu Dalilah penasaran dengan wajah Hafi dari tadi,tapi beliau tahan karena menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.


"Ini.Tadi malam berkelahi Bu.Seseorang mengganggu Mita saat dia akan pulang"


"Astaga!" Ibu Dalilah memejamkan mata.


Mita yang baru keluar dari toilet memejamkan mata juga karena mendengar ucapan Hafi.Dari arah belakang Mita muncul dan memberi kode dengan meletakkan jari telunjuk di depan bibir kepada Hafi.


Namun hal itu diketahui oleh ibu nya yang langsung menoleh.


"Ibu sudah bilang,jangan sering ambil lembur Mita.Apa bos mu tidak berfikir itu adalah hal yang sangat membahayakan?"


"Mita tidak lembur,dia bekerja di lain tempat setelah usai pekerjaan yang pagi Bu"


Hafi yang tidak tahu jika Mita menyembunyikan itu semua dari ibu nya,berbicara saja seolah membenarkan ucapan Bu Dalilah.


"Mita?"


"Bu!"


"Jelaskan pada Ibu,apa yang nak Hafi katakan barusan!"


Hafi merasa bingung dengan situasi di depan nya.


"Maaf Bu,Mita tidak bilang jika Mita bekerja di lain tempat setelah usai jam kantor"


"Untuk apa?"


Mita tidak menjawab,bukan berarti dia tidak ingin menjawab.Hanya saja dia tidak mau ibu nya merasa bersalah karena untuk membiayai pengobatan nya lah hingga Mita bekerja keras.


"Apa karena Ibu?Karena membiayai Ibu jadi kau seperti ini,bekerja tak kenal waktu?"


Mita hanya menggeleng.


"Jika karena Ibu, Pengobatan Ibu di hentikan saja.Ibu bisa mengkonsumsi obat yang seadanya"


Mita masih terdiam,mata nya sudah mulai mengembun.Hafi yang berada tidak jauh dari sana bersandar pada dinding yang lembab dan dingin hanya mendengar dan menyaksikan,bahwa ternyata Mita yang dia kenal mempunyai segudang masalah dan tanggung jawab.


"Atau kaa..."


"Tidak Bu,tidak semuanya.Aku hanya ingin kalian hidup seperti orang lain.Aku ingin membahagiakan Ibu dan Mina.Itu saja!"


"Keluar dari pekerjaan mu yang satu Mita,Ibu akan mengurangi cek kontrol pengobatan.Jangan membebani dirimu sendiri hanya untuk orang lain"


"Ibu bukan orang lain!Ibu sangat berharga untuk ku!Aku tidak apa-apa bekerja pagi sore,siang malam asal kalian bahagia dan terus bersama ku!"


Mita mendekati Ibu,dan memeluk.Air mata nya sudah tidak bisa ditahan lagi.Menggenang di pelupuk mata hingga terurai jatuh di pipi.


"Maaf Bu?" Ibu nya mengangguk dan mengusap Surai indah Mita.


Prang!

__ADS_1


Tiba-tiba suara seperti benda pecah terdengar dari ruangan depan.Hafi yang juga mendengar nya langsung beranjak dan melihat ke depan.


Sebongkah batu besar tergeletak di lantai sebelah kaki meja,dan pecahan kaca berhamburan.


"Hafi itu suara apa?"


Mendadak panik hingga suara Mita yang terlalu kencang membangun kan Mina,bocah balita itu terbangun menangis.


"Ibu, Mina bangun Bu.Ibu ke kamar saja,Mina pasti kaget mendengar nya"


Tak berselang lama, Hafi yang ingin membuka gorden dan melihat orang di luar sana,terkejut ketika batu dilempar dan suara kaca pecah tepat di depan nya.


"Ahh!"


"Hafi!"


Hafi menoleh,Mita yang akan menghampiri.


"Stop!!!! Jangan mendekat Mita,disini banyak pecahan kaca!"


Mita tidak mendekat namun dia membuka kunci pintu untuk melihat siapa di luar.


Suara motor bising bolak balik di depan rumah Mita,sepertinya mereka lah yang sengaja melempar batu.


"Mita!"


Beruntung Hafi menarik Mita dan memeluk nya,pintu yang terbuka hampir setengah tertutup kembali oleh dorongan tangan kiri Hafi. Karena terdengar mereka melempar batu ke daun pintu.


Suara lemparan itu terus dilakukan oleh mereka,hingga pecahan kaca berserakan.Tak ada yang tersisa satu pun kaca yang utuh di jendela.


Mita yang berada di pelukan,terus menyembunyikan wajah nya di dada bidang Hafi.Menarik nafas berat,dan memburu.


"Tetap disini dan diam.Mereka tidak akan mendobrak pintu!"


"Siapa mereka Hafi?"


Hafi menggeleng.Dirinya tidak tahu tapi kemungkinan besar dugaan nya benar.


Padahal waktu masih sangat pagi,langit masih gelap.Orang-orang yang lain saja belum terbangun mungkin.


Beberapa saat kemudian suara bising motor itu tak terdengar,hilang menjauh.


Hafi menghembuskan nafas panjang,begitu pun dengan Mita.


Ibu yang menggendong Mina keluar,namun langkahnya terhenti saat tahu di bawah banyak pecahan kaca yang berserakan.


"Ibu disitu saja,Ini bahaya Bu!" Hafi menahan Ibu Dalilah.


Mita melepas pelukan Hafi dan meraih sapu yang ada di ujung belakang pintu.Menggeser pecahan itu,mendekati Ibu Dalilah dan meraih Mina dari gendongan.


"Tunggu di dalam saja Bu,aku akan membersihkan pecahan kaca nya dulu" Mita membawa Mina ke belakang di ikuti oleh Ibunya.


"Apa kamu punya masalah dengan seseorang Mita,hingga kita di teror seperti di sinetron?"


"Teror?" Mita mengangkat alis nya mendengar ucapan Ibu.


.


.


.

__ADS_1


.


to be continue


__ADS_2