
Sudah hampir tengah malam,tapi tawa Hafi hampir terdengar sampai ke lantai dasar.Dirinya yang sedang menghabiskan secangkir kopi di temani sebatang nikotin yang di gamit di jarinya.
Usai menutup telfon yang di duga dari Mita oleh Mamah nya.Wanita yang sudah tidak muda lagi,menghampiri dan menjewer telinga Hafi.
Ara tak sengaja melintas di dekat nya saat Hafi dan Mita sedang berbicara lewat sambungan ponsel.
"Aww..Awww..." Hafi belum tahu siapa yang menjewer telinga.Mata nya melirik ternyata sang bos besar.
"Ahhh mah! sakit mah! Awww!..."
Jeweran Ara semakin kencang di telinga nya.
"Anak orang jangan di rusak! Tadi barusan kamu bilang apa?!"
"Apasih mah??" kening Hafi mengerut.
"Semalam bersama ku,menghabiskan waktu dengan ku" Ara mengikuti Hafi berbicara.
"Maksud nya apa Hafi?Mamah pernah muda seperti mu.Mamah tau rayuan-rayuan seperti itu"
"Cuma becanda aku mah!"
"Kalau serius dengan Mita nikahi dia,jangan cuma buat main-main!!"
"Kalaupun aku tidak serius,aku tidak akan melakukan nya mah.Cuma Becanda! Percayalah Mah!!"
"Ingat!! Jangan pernah bermain dengan perasaan wanita.Kamu mempunyai adik wanita Hafi!"
Ara mewanti-wanti sekali terhadap anaknya.Tidak mau kejadian yang lalu atau yang terjadi pada dirinya terjadi pada anaknya.
"Iya Mah,aku tahu!"
Ara menggelengkan kepala.Melihat itu Hafi mengerutkan kening. "Kenapa mah?!"
"Mamah tidak menyangka jika kau yang akan seagresif itu dengan wanita.Padahal prediksi mamah Riza bukan kau!"
"Jangan terburu-buru menganggap seperti itu mah"
"Nyatanya seperti itu,sudah sana masuk kamar dan tidur! Mamah akan kembali ke kamar.Papah sudah menunggu!"
Mendengar nya Hafi memutar bola mata jengah.Papah dan Mamah sudah tua tapi hingga saat ini mereka masih terlihat bucin satu dengan yang lain.
.
.
Pagi hari, setelah menyelesaikan sarapan.Mita bergegas merapikan baju dan menunggu tukang gojek yang biasa di tumpangi ke halte depan.
Padahal Jam baru menunjukan pukul nol enam tiga puluh,tapi Mita harus hadir tepat waktu.Karena ada beberapa pekerjaan yang belum dia selesaikan di kantor.
"Bu,nanti uang yang mba Yati bicarakan tadi malam,aku titipkan dengan pak Sugeng tukang ojek ya?"
"Ibu nya pun mengangguk.Hati-hati ya nak.Jangan lupa sarapan setelah sampai di kantor"
Tergesa-gesa memakai sepatu hak nya dan membenarkan rambut,tak lupa Mita membawa blazer dengan warna merah maroon.
Pak Sugeng yang biasa nya menunggu di depan rumah kali ini beliau menunggu di pertigaan depan gang rumah Terpaksa Mita berjalan kaki melewati gang dulu.
"Selamat Pagi mba Mita?!"
"Pagi Pak,Mampir ke ATM dulu ya Pak?"
"Siap Mba!"
__ADS_1
Mita pun menunggangi motor yang di kemudikan Pak Sugeng.Menyusuri jalanan yang terjal dan berkelok karena masih tanah dan batu.
Sesampainya di perempatan jalan besar,mampir di ATM dan mengambil sejumlah uang.
"Pak,saya nitip nanti dikasihkan ke Ibu.Dan ini untuk Bapak.Saya sampai sini saja,halte sudah terlihat,nanti saya jalan kaki"
Pak Sugeng pun mengangguk dan menerima sejumlah uang yang Mita berikan.Lalu pergi dari sana.
.
.
Bragk!!!
"Aww!!.. copet!!! tolong copet!!!!"
Semata-mata Mita melihat orang yang sengaja menabrak,menarik tas dan membawa lari.Jalanan sudah cukup ramai,namun teriakan Mita kalah dengan bisingnya kenalpot dan klakson di pinggir jalan itu.
"Duh mba mana copet nya?"
"Itu kesana,tolong kejar!!" Seorang anak muda pun mengejar pencopet.
Mita tinggal sendiri masih di pinggir jalan,kaki nya terluka,untuk berdiri saja dia susah.Tiba-tiba dekapan seseorang dari belakang.Membantu nya berdiri.
"Kau tidak apa-apa Mita?"
Mita menoleh,ternyata Dion.Pria itu mungkin pas kebetulan lewat di sana.
"Ahh Dion,kaki ku sakit perih sekali"
"Kita ke dokter ya,bagian betis sebelah kanan robek dan darah mengucur.Biar aku gendong,kau diam lah saja!"
Mita pun mengangguk menuruti kata Dion dan mengalungkan tangan nya di leher pria itu.
Tanpa mereka sadari di sudut bagian lain seseorang di dalam mobil melihat itu dan tersenyum miring.
"Siall!!" Hafi memukul setir kemudinya keras,hingga klakson berbunyi.
Ya Hafi lah orang yang melihat Mita di angkat dan di gendong oleh Dion,tanpa tahu kejadian sebenarnya.
.
.
Membalut luka dengan tissue,wajah Mita menahan sakit dan perih.
"Sabarr Mit, sebentar lagi kita sampai rumah sakit"
Tak berapa lama mobil Dion memasuki parkir khusus IGD.
"Tunggu sebentar disini,aku akan mengambil kursi roda untuk mu!"
Dion keluar dan berlari ke dalam mencari kursi roda.Menopang tubuh Mita dan menduduk kan nya di kursi roda.
Mendorong kursi dan menggendong kembali untuk di tempatkan di ranjang rumah sakit.
Dokter dan beberapa perawat segera menangani luka Mita.
"Robekan nya panjang,harus di jahit!" dokter berbicara pada perawat,namun Mita mendengar jelas.
"Hah?!!" Wajah Mita pias seketika.Jarum suntik saja dia takut, bagaimana jika di jahit.
"Kalau tidak akan berbahaya,luka nya bisa terinfeksi kuman dan kotoran lain nya"
__ADS_1
Mita memejamkan mata nya.
"Nurut saja Mit,aku temani" Dion setia menunggu Mita dan mensuport.
Terpaksa Mita mau saja untuk di jahit.Sudah di bius namun Mita masih merasakan jarum itu menusuk kulit nya.
"Sshhh..ahh!" Tangan nya menggenggam lengan Dion.
Mita terus merintih merasakan tusuk demi tusuk jarum menikam kulit nya.Hingga air mata nya menetes.Jari jemarinya sudah mencengkram kemeja Dion,dan tangan satunya memeluk pinggang Dion yang sedang duduk menutupi wajah Mita di antara kaki nya.
Dion tersenyum tipis nyaris tak terlihat,dia merasa seperti menunggui istrinya yang akan lahiran.
"Jangan senyum-senyum Dion!!"
Suara Mita mengejutkan nya.Ternyata Mita tahu dirinya menertawai kehaluan nya sendiri.
"Kau seperti anak kecil Mit,begitu saja teriak merintih-rintih!"
"Ini sakit..Aww..aww..." Jemarinya kembali mencengkram kemeja Dion hingga kulit nya sedikit terkena kuku Mita.
"Astaga Mita sakit!! kuku mu mencakar perut ku!"
Hingga dokter menggeleng melihat kelakukan dua manusia yang saling beradu mulut di sebelah nya.
"Kalian sepasang kekasih?" Mita bingung dengan ucapan Dokter.
"Oh bukan dok,dia teman saya sekaligus sekretaris di kantor saya!"
Mita tersenyum.
"Apa jahitan nya si selesai dok?"
"Oh.. sudah,tujuh jahitan.Terasa lama karena anda terus bergerak"
"hehehe maaf dok?"
"Biasa nya jika bius pertama tidak mempan,atau tidak bekerja.Itu karena beberapa faktor sering meminum kopi dan minuman keras juga bisa,tapi syukurlah ini berjalan dengan baik.Mungkin karena dosis nya rendah,jadi tidak mempan jika hanya sekali" Dokter pun tersenyum.
"Oiya dok,apa saya boleh pulang?"
Dion menoleh pada Mita.
"Silahkan,jika bius sudah reda atau hilang boleh pulang.Sebelumnya selesaikan administrasi nya dulu.Saya permisi?!"
Dion dan Mita mengangguk kepada Dokter itu.
Wajah Mita kembali menunduk,mata nya sedikit berkaca-kaca dan buliran air menetes dari sana.
"Kau nangis Mit?kenapa menangis?"
"Apa aku boleh hutang dulu Ion? kamu tahu kan tas ku di jambret,dompet dan ponsel ku,semua nya ada disana!Tolong lah aku!"
"Nanti aku yang akan menyelesaikan nya,kau istirahat dulu saja.Aku ke depan dulu!"
Mita mengerjapkan mata sebagai tanda meng iya kan ucapan Dion.
Lelaki itu pun keluar,Mita mencoba merebahkan tubuhnya kembali di ranjang itu,matanya menerawang entah kemana.
Uang ku habis,tas ku ke jambret dan ponsel juga ada di sana.Bagaimana nanti?
.
.
__ADS_1
.
to be continue