TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 103 Resah


__ADS_3

"Mereka saudara mana bisa begitu?"


Kedua nya sedang berdebat di kamar,sementara Mina yang sudah dijemput Opa dan Daffin.Baby twin sedang ada di kamar nya bersama Mbak Sri.


"Mereka Om dan keponakan,kamu lupa?" Mita masih tetap saja berargumen dengan suaminya.


"Mina bukan anak kandung kita,biarkan mereka dekat.Seiring jalannya waktu mereka pasti akan sibuk masing-masing sayang!"


Wajah Mita sudah ditekuk dari mulai mertua nya membawa Mina ke kediaman utama.Saat itu bisa terlihat jelas jika Daffin yang sudah remaja dan menginjak bangku sekolah menengah pertama menggandeng Mina dengan erat.Kekhawatiran Mita berlebihan menurut Hafi.


Tidak ingin jika Daffin memiliki rasa kepada keponakan nya sendiri meski itu bukan terlahir dari rahim Mita.


"Aku tidak ingin kelak Daffin dan Mina sedekat itu hingga dewasa.Cukup pernah melihat Enzo dan Inggi saja,dan itu bahkan mereka bisa di pisahkan karena Enzo menikah dengan gadis pilihan Om Allan"


Hafi merasa istrinya sangat cerewet,dia pun melepas kaca matanya dan beralih menoleh Mita yang ada di sampingnya.


"Tidak,aku berjanji padamu!"


.


.


.


Membangun rumah tangga dan mandiri,Mita sering kali di tinggal ke luar kota oleh Hafi.Mall milik Mita yang berada tak jauh dari kota nya mengalami kemajuan pesat,berbagai investor menanam saham di sana.


Ruko ruko yang tersedia sudah penuh dengan berbagai macam penjual dari berbagai macam dagangan.


Fandi dan Ara sampai saat ini terkesima dengan pola fikir kedua anak dan menantu nya.Mereka sama persis seperti saat Fandi dan Ara dulu.Ara yang memiliki berbagai macam outlet busana dan Fandi yang mendukung segalanya melalui dari warisan Opa Brahmana dan juga kerja kerasnya.


"Jangan lupa kewajiban mu sayang!"


Hafi mengingatkan pada Mita sebelum berangkat ke kantor.


Menyisihkan sebagian harta nya untuk yang membutuhkan.Mita sudah menyiapkan keperluan sekolah,dapur,dan operasional yang lain untuk di bagikan di pondok,begitu juga yayasan,dan panti yang lain.


Mita mengangguk faham "Sudah aku siapkan semua,tinggal menunggu mobil untuk mengambil di pasar dan barang-barang yang lain"


Merapihkan jaz dan membenarkan dasi,lalu Mita mengancing nya.

__ADS_1


Kecupan singkat di kening Mita lalu bibir nya.


"Aku berangkat,jaga anak-anak,jangan pergi sendiri,dan telfon lah jika ada masalah apapun!".


Mita mengerti,itu ucapan yang Hafi katakan setiap hari sebelum ke kantor.


"Iya baik-baik ya di kantor,jangan nakal..Kapan liburannya?"


Hafi terkekeh,Mita selalu mengingatkan tentang liburan.Sudah penat dan sangat bosan.Sejak twin lahir mereka tidak pernah pergi kemana pun kecuali taman komplek.


"Aku sedang mengusahakan!"


"Iyaa...."


Tidak marah,karena Mita tahu bagaimana sibuknya Hafi,terlebih Riza sudah dua bulan ke luar negri menyusul Galina.Pekerjaan semua ada di tangan nya.Inggira sedikit membantu.


Fandi sudah lama tidak bekerja karena pernah hampir saja jatuh karena tensi nya yang tinggi.


.


.


.


Sebenarnya sangat tidak masuk akal,namun dia berhasil mengelabui keluarga karena keinginan nya sendiri.


"Inggiraa...!!!"


Seseorang bertengger duduk di ruang tunggu kedatangan.Inggira pun melambai dan berlari kecil menarik koper nya lalu mendekati seorang yang sudah dia rindukan.


"Nunggu lama kak?"


Lelaki itu pun meraih koper Inggira,dan membawanya.Tidak bertemu lama Inggira menjadi canggung.Selama ini hanya berhubungan di ponsel.Karena mereka takut ketahuan oleh Hafi,Riza dan terutama Mita.


Berawal dari kebencian dan berakhir cinta.Inggira tidak pernah mengira ini akan terjadi.


"Sudah aku pesan kan hotel.Kamu bisa beristirahat terlebih dulu jika terlalu capek!"


Inggira menggeleng "Aku ingin mengelilingi Bali dulu kak"

__ADS_1


Lelaki itu pun terkekeh "Umurmu sudah tidak muda Nggi,tapi kenapa aku segemas ini dengan mu.Wajahmu tidak berubah dari dulu!"


Ingin rasanya melakukan sesuatu namun dia tahan karena tidak ingin merusak.Yang paling jauh hingga saat ini adalah mencium kening atau pipi.Di bandara saja lelaki itu tidak berani memeluk Inggi karena kemungkinan bisa saja orang-orang dari Papah Fandi menguntit dan Inggi tidak tahu.


Bisa di hajar mati matian oleh kedua kakak nya dan Papah nya kalau mereka tahu! Sabar!!


Mengusap dada nya dan selalu memandangi Inggira,gadis yang sudah mampu mencuri dan mengalihkan hati nya.


Sepanjang perjalanan Inggi hanya melihat sekitar kanan dan kiri kota Bali.


"Di pantai sini boleh pakai bikini kan kak?!"


"Memang punya?"


"Ada,dan aku bawa!"


"Tapi aku tidak mengijinkan mu memakainya Nggi?!"


Seketika Inggi menoleh "Kenapa?"


"Jika dirumah mu atau di rumah kita nanti aku mengijinkan,atau di hotel misalnya.Tapi tidak untuk di tempat umum!"


"Lalu bagaimana aku nanti jika ingin berenang?"


"Nanti kakak belikan lagi yang tertutup!"


Inggira mendekat dan memeluk lengan pria itu.Tidak tahu jika pria di sebelahnya sedang mati matian tidak menyentuh nya,namun Inggira memancing dan secara tidak langsung lengan nya menyentuh dua benda kenyal milik Inggira.


Gadis itu tidak mengerti jika berhubungan dengan pria yang sudah cukup umur dan pantas untuk menikah harus lebih berhati-hati.


"Weitsss...Jangan deket-deket Nggi,iman kakak tidak sekuat itu!"


Inggira hanya mengulas senyum,dia tahu sejak awal jika pria di sampingnya selalu menjaga dirinya untuk berbuat yang lebih dari ini.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2