TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 98 Kepergian Oma


__ADS_3

Langit sore ini tak secerah langit kemarin dan sebelumnya.Bendera putih berkibar di depan gerbang.Kabar duka yang sangat mendadak dari keluarga Brahmana.


Menjadi hal yang paling menyakitkan,meniadakan yang biasanya ada.Maria telah berpulang di usia nya yang menginjak delapan puluh empat.Sebuah pencapaian yang luar biasa tentunya.


Hampir memiliki cicit dari Hafi,namun tubuhnya tidak kuat untuk menahan penyakitnya.


Kediaman Brahmana sore ini ramai dengan para pelayat.Karangan bunga dari berbagai kolega dan rekan bisnis memenuhi halaman.


Ara yang menangis dan tak bisa dihentikan.Pasalnya beberapa hari yang lalu mereka mengobrol berdua dan Maria menyampaikan keinginan nya untuk bisa melihat cucu menantu nya melahirkan.Namun Tuhan berkehendak lain.


"Mah,tidak bisakah beberapa hari lagi?"


"Hussttt!" Fandi memeluk dan terus mengusap bahunya.Mencoba menenangkan istrinya.


Tak berapa lama Hafi datang dan mendekati Mamah nya dan juga Papahnya.Hafi baru saja tiba karena dia harus di luar kota beberapa hari.


"Mas,maaf aku kesini tidak mengabari mu dulu" Sebuah tangan bertengger di lengan Hafi.


Hafi pun tersenyum "Maaf Galina,saya Hafi bukan Riza!"


Tangan Galina seketika langsung terangkat dan menarik nya dari lengan Hafi.


Hafi kembali ke Ara dan memeluknya erat.Tak lama Ara pun pingsan dan Hafi menggendong di bawa ke kamar yang ada di bawah bersama dengan Mita dan Mina,di sana juga ada Mbak Sri.


Riza yang baru datang pun mencari Ara,dia bahkan mengabaikan Galina yang duduk bersama Inggira dan Daffin.


Ceklek!!!


"Mah!..."


Mita yang tahu kedatangan Riza mendekati Mamah nya langsung minggir,karena Hafi menarik lengan nya.


"Sudah aku berikan minyak angin di hidung dan keningnya.Sebentar lagi Mamah sadar Za!"


Riza menoleh pada Mita,diapun melihat satu persatu orang di dalam sana.


"Galina belum kemari?" tanya Riza pada Hafi.


"Ada,di depan bersama Inggi dan Daffin".


"Aku panggilkan!" Mita yang hendak melangkah keluar kamar di halangi oleh Hafi.


"Kenapa?" Mita mengangkat kedua alisnya.


"Di sini saja,kau tidak akan tahu Galina meski dia duduk di sebelah Inggira dan Daffin!"


Mita baru sadar jika dirinya belum pernah bertemu sekali pun dan tegur sapa dengan Galina.


.


.


.

__ADS_1


Di luar beberapa orang memicingkan mata melihat ke arah Galina yang terkadang memeluk Inggira, beberapa orang lagi yang berada di dekatnya pun tak sengaja mendengar Inggira menyebut nya Kakak.


Padahal yang mereka tahu,dia keturunan dari anak sulung.Sekali pun Yilmaz dan Enzo,mereka berdua adalah anak dari adik Papah nya.


"Sabar Inggi..Doakan Oma saja, Oma sudah tenang dan tidak sakit lagi!"


Begitulah kira-kira yang Galina ucapkan kepada Inggira,ucapan yang sering di dengar oleh orang-orang ketika saudara nya berpulang ke pangkuan ilahi.


.


.


.


Ceklek!!!


Pintu di buka,Hafi melebarkan daun pintu dan tak lama Galina masuk.


"Masuklah, Mamah di dalam!"


Sebelum melangkah lebih dalam,Galina melihat Hafi.


"Aku Hafi Galina!" Sekali lagi Hafi menegaskan karena Galina tidak juga bisa membedakan.


Dengan langkah perlahan Galina pun masuk,berjabat tangan dengan Mita.Pertemuan pertama bahkan membuat Mita melongo,karena Galina masih sangat muda.


Senggolan Hafi di bahunya menyadarkan Mita,dan dia pun tersenyum.


"Na,kamu disini saja bersama Mita menjaga Mamah!"


Galina pun mendekatti suaminya.Memijit kecil tangan mertua nya dan terus mengusap kan minyak angin di kening,dada,dan kaki nya.


Hafi dan Riza keluar dari kamar meninggalkan para istri.Mina dan Mbak Sri yang sedang berada di balkon,Mina terus menangis dan hanya bisa tenang jika di luar.


.


.


.


Keesokan harinya setelah pemakaman,rumah kembali seperti semula.Hanya karangan bunga yang masih banyak memenuhi halaman.


Para Art pun membersihkan rumah seusai itu.


Hafi menekuk lengan kemejanya lalu menaikki tangga dan membuka pintu kamar.Terlihat Mita di sana menunggu di atas ranjang sambil mengusap perut nya yang sudah membesar.


Keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaian nya,Hafi segera naik ke ranjang.Melingkarkan tangan nya di perut Mita.


"Tangan ku tak sampai sayang!"


"Di bawah sudah tidak ada orang?" Tanya Mita penasaran pada suaminya.


Hafi pun menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Mamah di kamar dengan Papah,Begitu juga Inggi dan Daffin".


"Galina?"


Hafi mengerutkan kening saat Mita berbicara itu.


"Dia di kamar tamu,dan Riza ada di kamar nya!"


"Mereka?..."


"Kau percaya jika Riza belum menyentuhnya?"


Mita tidak menjawab hanya mengedikan bahunya.


"Galina masih sekolah"


"Berapa umur nya?" tanya Mita penasaran.


"Belum genap tujuh belas tahun!"


Mita tercengang dan menutup mulut,melihat wajah suaminya.


"Biasa saja!" Hafi mengetuk kening Mita.


Merebahkan diri di ranjang,Hafi yang baru pulang dan di sambut dengan kepergian Oma satu-satunya sangat terpukul meski bisa menutupi.


Bermanja dengan Mita,tidur di pangkuan istrinya.Air mata Hafi pun menetes ketika ingat Oma Maria.Oma yang selalu cerewet.Dan dia juga ingat ketika Oma nya beberapa waktu lalu masuk ke kamar Mita setelah selesai syukuran.


Mita membiarkan suaminya menitikkan air mata.


"Aku rindu Oma,sayang!" tangan nya terus mengusap perut Mita.


"Jika rindu,doakan Oma.Boleh menangis tapi jangan berlarut - larut!"


"Oma pergi ketika aku juga sedang di luar kota,kenapa tidak menunggu sehari saja,tunggu aku pulang dulu!"


Mita tersenyum,dirinya juga sangat sedih.Namun jika semuanya bersedih lalu siapa yang akan menguatkan yang lain.


"Itu kehendak Tuhan.Oma juga pasti sangat sayang dengan keluarga ini.Buktinya Oma bertahun-tahun di kampung halaman tapi memilih menghembuskan nafas terakhir di sini!"


Hafi mengangguk "Aku cape Paramita Berliana"


"Tidurlah,Aku akan melakukan ini hingga kamu terpejam!"


Tangan Mita terus bergerak di kepala Hafi,mengusap nya dan menyisir dengan jari jemarinya.Hafi yang menelungkup kan badan,kepalanya berada di pangkuan Mita menghadap ke perut.Tangan kiri Hafi melingkar di pinggang Mita,dan tangan kanan nya terus bersandar di perut besar istrinya.


Seolah tidur bersama si kembar dan memeluk mereka.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2