TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 64 Pikun


__ADS_3

Memperhatikan seorang nenek dan duduk sendiri di depan toilet, tersenyum mengembangkan bibir nya.


"Nenek sendirian?"


Maria pun menoleh pada seorang lelaki di sebelahnya, "Ada cucu saya di dalam"


Lelaki itu pun mengangguk.


"Ayo Om,aku ingin pulang saja.Permainan disini membosankan!"


"Manis sekali anak mu?!"


Randi terkekeh "Dia anak majikan saya nek,Pak Bos dan Ibu bos sedang ada keperluan di luar dan saya bertugas menjaga nya!"


"Oh,kamu baby sister?"


"Yaaa begitulah nek" Randi tertawa mendengar nya.


Naura,anak kecil berusia delapan tahun,yang sudah mulai bosan bermain di wahana menarik-narik tangan Randi untuk pulang.Dia sudah tahu jika orang tua nya menitipkan dirinya karena ada keperluan.


"Harus nya om bilang saja jika Bunda dan Ayah ada pekerjaan,tidak usah membawa ku disini.Aku bosan bermain seperti ini!"


Maria dan Randi memperhatikan anak itu.


"Ternyata pemikirannya lebih dewasa dari umur nya!" Kata Maria.


"Nenek aku pulang dulu ya?Ini tiket terusan untuk nenek dan cucu nenek saja! Selamat bersenang-senang nenek!" Randi beranjak dari sana dan melambaikan tangan.


Maria yang diberi itu pun tersenyum merekah.Merasa mendapat undian yang sama sekali tak terduga.


.


.


.


"Mamah...."


Ara mendengar suara mobil masuk,dan dirinya segera berlari kecil ke depan.


"Inggi, bagaimana?..."


"kunci mobil kak!" Inggira menodongkan tangan meminta kunci mobil Riza,lelaki itu pun bingung dengan tingkah adik dan mamah nya.


Kunci sudah di tangan Inggira.


"Mamah di rumah saja,aku akan ke sana!"


"Sudah?" Tanya Ara dan Inggi memegang ponsel nya.


Melihat itu Riza sedikit penasaran.


"Ada apa sih mah?"


"Oma dan Mita, seperti nya mereka berdua pergi bersama.Mamah takut jika Mita kenapa-kenapa di jalan.Mereka pergi kemana juga Mamah tidak tahu!"


"Hafi tau ini mah?"


Ara menggeleng "Hanya Inggira yang mamah beritahu"


"Kenapa hanya Inggira mah?"


"Mamah takut Hafi marah,marena tidak bisa menjaga Mita."


Riza merogoh saku dan mengambil ponsel dari sana.Menelfon dan mengabari Hafi secepatnya.


"Lain kali segeralah hubungi Hafi mah,ponsel Mita dan Hafi terhubung,dia akan lebih cepat menemukan istrinya!"


"Maaf mamah tidak tahu!"

__ADS_1


Panggilan berdering,tapi tidak juga di jawab oleh Hafi.


"Bodoh jawab cepat!!" Riza mencoba lagi menghubungi Hafi.


Hafi yang sedang menyetir dan menuju rumah mampir di banana cake karena ingin membeli sesuatu untuk Mita.


Kembali ke mobil melihat ponsel nya berdering.


"Hallo?.."


"Kenapa baru di jawab?!"


"ponsel ku di mobil,ada apa?!"


"Mita,,cari Mita,dia pergi bersama Oma beberapa jam yang lalu.Dan Mamah panik, Inggira sedang menuju ke sana,cepat lah Fi!"


Tanpa menjawab apapun,Hafi mematikan panggilan Riza dan mencari letak posisi Mita di ponsel nya.


Hafi mengerutkan kening nya,melihat layar ponsel nya.Hanya beberapa meter saja dari dirinya.Diapun menoleh ke seberang,berfikir sejenak.


Jika aku membawa mobil,pasti putar balik dan akan lebih lama.


Menutup kembali pintu mobil.Hafi berlari ke ujung jalan dan mencari penyebrangan jalan.Sampai di depan mall,dia melihat mobil sport milik nya.


Astagah!!!


Berlari cepat ke dalam,mencari ke segala arah.Lantai satu hingga lantai tiga,dan swalayan sudah Hafi masuki semua.Hasilnya tidak ada Oma dan Istrinya.


"kak!!.." Inggira melambaikan tangan.Dan mendekati Hafi.


"Ketemu Nggi?" adik nya menggeleng.Menghirup nafas banyak-banyak.Nafasnya memburu.


"Aku sudah berkeliling mall ini dan tidak menemukan Oma dan kakak."


"Apa kau yakin? titik ponsel nya di mobil!"


Hafi menyugar rambut dan menariknya.


"Aggrrhhh..."


"Kak .."


Hafi menoleh "Kolam renang dan wahana!" kedua nya bersamaan berteriak.


"Kau kolam renang dan kakak wahana!"


Inggira mengacungkan jempol,dan mereka berpencar.Menuruni tangga bersamaan.Satu tujuan hanya saja kanan dan kiri.


Sudah tiga kali Hafi memegang bahu wanita yang mirip Mita dari belakang namun semuanya salah.


Hingga telinga nya mendengar suara yang sangat dikenal.


"Mita!..."


.


.


.


Mereka berempat,duduk di sebuah kafe.Mita tersenyum melihat Oma Maria sedang memakan es krim.Dirinya duduk bersandar kan bantal sofa.


Hafi terus mengusap pinggang bagian belakang istrinya.


"Masih sakit sayang?"


"Bukan sakit,pegal dan kram!"


Inggira yang menyandarkan kepalanya di meja langsung menegak.

__ADS_1


"Lain kali jangan seperti ini ya Oma? Di dalam perut Kak Mita ada bayi yang masih sangat kecil,nanti jika terjadi sesuatu bagaimana?"


Maria melihat perut Mita dan mengusap lembut.


"Oma baru tahu jika disini sudah ada Hafi junior!"


Inggira menepuk kening mendengar itu.Padahal beliau ingin datang kesini juga karena di kabari oleh Mamah jika cucu menantu nya sedang mengandung.


"Maklum Nggi!" Hafi bergumam sangat lirih.


Beruntung Hafi datang tepat waktu,beberapa puluh menit yang lalu.Miga yang sudah berlari kecil dan segera dihentikan oleh Hafi.Oma nya sudah mengantri dan akan masuk di wahana bianglala yang sedari tadi beliau inginkan.


Akhirnya Inggi lah yang menemani Oma menaikki wahana itu,dan Hafi membawa istrinya ke restoran terdekat dari sana.Memesan ruang VVIP untuk Mita bisa bersandar di sofa yang empuk.


"Makan sayang!" Mita hanya melihat Oma menikmati es krim saja sudah sangat senang.Dia pun menggeleng.


"Di rumah sudah makan,atau tadi makan sesuatu bersama nenek?"


"Perut ku tidak mau makan nasi,tadi sudah mencoba nya dengan Oma"


"Lalu mau makan apa?"


"Tidak mau!!"


"Bagaimana anakku bisa tumbuh jika kamu tidak makan?"


Hafi mulai cerewet dan Mita tidak suka.


"Jangan bawel,nanti kalau aku ingin.Aku akan meminta nya!"


Inggira beranjak dari sofa,menarik tas di sebelahnya.


"Kak,biar aku pulang dengan nenek saja.Kakak jangan pulang dulu,diluar masih Maghrib,nanti aja setelah Maghrib!"


Mita dan Hafi mengangguk.Melihat Inggi yang menuntun Oma nya,mulai keluar dari restoran.


.


.


.


Setelah Maghrib Mita dan Hafi pulang,Mita yang masih mengeluh kram dan sedikit pegal di pinggang nya tidak bisa duduk dengan tenang.


Malam hari,dia terbangun karena merasa sesuatu keluar dari intinya.Mita pun mencengkram tangan Hafi karena tiba-tiba perut nya sangat sakit.


Hafi mengerjap dan menyalakan lampu,melihat wajah istrinya yang sudah berkeringat dan pucat.


"Kenapa?"


"Perut ku sakit,sakit sekali!" Nafas nya tidak teratur dan terlihat menahan sakit.


Mengibaskan selimut nya,dan benar saja.Ada bercak darah di dalaman Mita.


"Darah?..ya Tuhan"


Hafi beranjak dan ingin membangun kan mamah nya namun Mita mencegah.melambaikan tangan.


"Ke rumah sakit sekarang dan jangan bangunkan yang lain!"


Hafi pun menuruti saran istrinya,dan segera membawa ke rumah sakit.


.


.


.


To be continue

__ADS_1


__ADS_2