
"Permisi..."
"Permisi....."
Daffin di depan pintu,dari kejauhan melihat seorang wanita mengucap salam.
"Pak Security!!! Di luar gerbang ada orang!"
Panggilan Daffin langsung membuat security nya menoleh ke gerbang.
"Oh iya Den,sebentar" Pak Security berlari ke depan pintu gerbang.
"Selamat pagi menjelang siang.Ada yang bisa saya bantu?"
"Benarkah ini rumah Hafidan?"
Mata security itu melihat dari atas sampai ke bawah,rasanya pernah melihat,tapi lupa dimana.
"Benar ini rumah Den Hafi,ada yang bisa saya bantu?"
"Hafi meminta saya datang ke rumah nya Pak,boleh saya masuk?"
"Tunggu Sebentar disini!"
Mita pun mengangguk.Mina di gendongan nya sudah mulai kepanasan dan gerah.Bocah kecil itu merengek meminta turun dan bermain.
.
.
"Mamah!! Mah,di luar ada perempuan nyari kak Hafi!" Daffin yang mendengar obrolan satpam segera masuk dan memberitahu pada Mamah nya Ara.
"Daffin lihat di mana?"
"Pintu gerbang mah." Telunjuk nya mengarah ke luar.
Ara pun segera melangkah kan kaki ke luar melihat siapa yang datang.
"Aduh!!!"
"Astaga!!"
Pak Security dan Ara berbenturan di depan pintu.
"Maaf Nyonya,ada seorang perempuan mencari Den Hafi"
Ara melihat ke luar,bibir nya tersenyum tipis.Ternyata dugaan nya benar, jika dilihat dari belakang,sama persis perempuan yang kala itu di genggam tangan nya oleh Hafi.
"Suruh dia masuk,dan langsung saja ke ruang tengah.Saya menunggu nya di sana!"
"Baik nyonya!"
Pak Security pun berlalu dari sana dan mengijinkan Mita masuk.Mengantarkan hingga ruang tengah.
Mita memberi salam saat melewati pintu utama,namun di jawab oleh Ara sangat lirih.Hingga sampai di ruang tengah.
Tatapan kedua wanita beda usia itu bertemu.Dan saling tersenyum.Mina yang melihat Daffin mendekat mengencangkan tangan nya yang mengalung di leher Mita.
__ADS_1
"Unda!" Akan takut jika melihat orang asing.
"Selamat siang Nyonya?" Mita meng anggukan kepala nya,memberi hormat.Tangan nya masih menggendong Mina di dada nya.
Ara tersenyum "Duduk sini!" tangan nya menepuk sofa yang berada di sebelahnya.
Mita pun duduk di sebelah Ara.
Melihat penampilan Mita lebih dekat,hati Ara mencleos ternyata wanita yang Hafi sukai adalah single parents beranak satu.Sedikit kecewa sebenarnya.Tapi melihat masa lalu diri sendiri sama seperti wanita di depan nya.
Hanya saja saat itu Ara belum mempunyai anak dari suami sebelumnya.
"Hallo gadis kecil,siapa namanya?"
"Namanya Mina nyonya" Mita menjawab.
Didepan Ara ada Daffin yang terus menempel karena melihat bocah balita menggemaskan,dengan rambut kriting,mata lebar dan pipi cabi.Daffin di buat gemash oleh wajah lucu Mina.
Tangan nya terus mencoba menyentuh Mina,tapi balita itu menyembunyikan wajah nya di balik tengkuk Mita.
"Mina cantik.Ada kakak Daffin di sini,ayo kenalan dulu pintar"
Ara mencoba membujuk Mina untuk terlepas dari Mita.Ara ingin Mita menyusul Hafi ke atas.
"Sebelum nya,perkenalkan saya Mamah Ara,mamah nya Hafi dan ini adik paling kecil Daffin namanya"
Mita tersenyum "Saya Mita nyonya,senang bisa berkenalan dengan Anda"
Ara terkekeh "Panggil saja saya Mamah,Panggilan nyonya hanyalah untuk para asisten disini"
"Hafi tahu,Mita akan kemari?"
"Tahu Nyo.. Ah maksud ku, mamah" Suara nya terbata.
"Dasar memang dia anak nakal,tidak menjemput mu malah dia masih tidur!"
"Tidak apa-apa,saya kesini menggunakan taxi online"
Ara mengangguk "Susul dia di kamar,setiap kamar sudah ada nama di pintu.Bangun kan lah,pasti akan langsung terbangun jika kau yang membangunkan"
"Tapii??..."
"Tidak apa-apa,naik lah.Biar Mina bersama mamah dan Daffin"
Dengan berat hati,perlahan Mita menaikki tangga,Ara melihat dari bawah.
Langkah kaki Mita menyusuri lantai yang begitu amadt besar,Rumah yang besar,Setiap ruangan ada pintu dan ada tulisan di sana.Benar-benar rumah yang rapih dan bersih.
Dari kejauhan terlihat Inggira keluar dari kamar, melihat Mita yang sudah berdiri di depan pintu kamar Hafi.Inggi menutup mulut nya,dugaan Inggi salah tentang pemberitaan media sosial.Benar adanya kak Hafi mempunyai hubungan dengan seorang wanita.
Kali ini Inggi melihat nya sendiri,bahwa wanita itu datang kemari dan masuk ke dalam kamar kakak.
Inggi turun ke lantai dasar menggunakan lift,kebetulan lift sangat dekat dengan kamar nya.
"Mamah!!...Mamah!..." Tubuhnya di jatuhkan di sebelah Ara,dan mengguncang lengan Ara.
"Isshhh apa sih Nggi?"
__ADS_1
Belum juga selesai dari keterkejutan nya melihat Mita,mata Inggi membulat ketika menatap ada gadis balita bermain dengan Daffin.
"Mah,ini siapa mah?"
"Namanya Mina kak.Adik Daffin kata mamah.Iya kan mah?!"
Ara tersenyum dan mengangguk.Melihat Mina yang asik bermain bola warna bersama Daffin mengingat kan dia ketika memilik anak yang masih kecil-kecil.Bibirnya terus tersenyum.Mina balita yang tidak rewel,dan sangat periang.
Beberapa kali tertawa ketika Daffin mengajak bermain,dan menggelitikk.
"Mah,Mina siapa sih mah?..Mah,di atas ada wanita yang bersama kak Hafi mah!"
"Mina anak Mita,calon keponakan mu.Wanita yang kau maksud,itu calon kakak mu!"
"Hah,apa mah?! maksud mamah,wanita itu sudah punya anak?_"
"Jadi??..."
Ara segera menoleh ke Inggi. menunggu anak gadis nya mengucapkan sesuatu.
"kenapa?? Kak Hafi menyukai janda? Papah mu dulu juga mencintai Janda,mamah sudah pernah bercerita dengan mu bukan?"
Melihat raut wajah mamah nya yang berubah Inggi salah tingkah karena sudah menyindir mamah nya sendiri.
"Bukan begitu mah,tapi kan Kakak masih..."
"Sudah lah, biarkan Kakak mu menentukan pilihan nya sendiri. Jika mamah menjodohkan anak-anak mamah termasuk kamu.Nanti Oma mu yang marah.Mamah juga tidak menginginkan itu!"
Inggi yang mendengar ucapan mamah nya hanya menghembuskan nafas pelan.Ibu dan anak itu kembali melihat Daffin dan Mina bermain.
.
.
Terlihat selimut masih menutupi tubuh yang terlelap di ranjang yang berukuran king size.Hanya menyembulkan kaki nya saja yang terlihat.Mita mendekati ranjang dengan langkah perlahan.
Jangan bilang dia biasa saja.Jantungnya berdetak sepuluh kali lipat lebih cepat dari biasanya.Selama ini hanya berkencan saja dengan para lelaki,itu pun hanya untuk jalan bersama,ke pesta,atau acara ulang tahun.Bukan seperti ini yang langsung datang ke rumah, memperkenalkan diri ,dan membangun kan.
Tarif ku harus nya sangat mahal jika seperti ini!
Mita bergumam lirih tak terdengar sama sekali.
Mencoba membangun kan dan menyentuh kaki Hafi yang menyembul,tapi tidak ada pergerakan.
Hingga langkah kaki Mita kian mendekat di sebelah ranjang.Menusuk kan jari telunjuk ke selimut yang sangat tebal.Jelas saja mana mungkin Hafi akan bangun.
Hingga Mita lelah dengan cara yang dia lakukan.Akhirnya jiwa bar-bar nya pun muncul.Duduk di pinggiran ranjang,dan menyentuh dan mengguncang apapun,dia tidak tahu di bawah selimut apa.
Grep!!! tangan Hafi langsung menarik tangan Mita,hingga wajah Mita mendekat persis di depan wajah Hafi.Kedua nya saling menatap,Mita terkejut dan menelan Saliva nya melihat Hafi sedekat ini.
.
.
.
to be continue
__ADS_1