
Yang Mita takutkan menjadi kenyataan.Sudah melewati pukul sebelas malam tapi suaminya belum juga pulang, padahal dirinya sudah tertidur dan terbangun karena Hafi belum juga kembali.
Mita terus melihat cctv yang ada di depan kamar nya.Itu pun dia tahu karena beberapa jam lalu Hafi memberitahu lewat pesan nya.
Kini ponsel nya saja tidak bisa di hubungi.Mondar mandir di kamar,dengan menggenggam ponsel.Wajahnya sangat khawatir.Karena tidak ada tanda-tanda Hafi pulang.
Mengganti pakaian nya dengan dress yang panjang sampai betis,tak lupa memakai coach.Mita memaksa pergi dan keluar dari kamar.Memohon pada pengawal untuk mengantar nya ke restauran yang di maksud.
Keluar dari mobil dan melangkah tergesa-gesa.Hafi yang baru saja keluar dari sana pun melihat Mita.
"Sayang.." meraih tubuh istrinya dan memeluk erat.Begitu pun dengan Mita langsung mendekap Hafi.
"Kenapa kemari?"
"Ini sudah jam berapa? Kamu terlalu lama meninggalkan ku sendiri di kamar!".
Tidak menjawab apapun,sebelum seseorang atau siapapun melihat Mita.Hafi membawa istrinya kembali masuk ke dalam mobil.Melaju membawa ke hotel,lalu di ikuti oleh mobil Ricko dan Pengawal.
Hanya beberapa menit,sudah sampai di kamar dan Hafi melepas coach yang Mita gunakan.
"Kamu ke sana benar untuk menemui ku?"
Mita mengangguk.
"Mana ponsel mu?"
"Di charger,ponsel ku kehabisan baterai!" Mita menunjuk meja bawah televisi.
Hafi pun mengangguk,Mita tidak mungkin berbohong dan firasat dia salah.Yang awalnya mempunyai fikiran bahwa Dion berkirim pesan dengan nya,namun nyata nya mungkin tidak.Karena Hafi belum membuka ponsel Mita.
.
.
.
Hari terus di lalui oleh Hafi dan Mita, awal nya Mita sering mengeluh perkara waktu.Karena hanya di hotel dan tak boleh kemana pun tanpa Hafi.Pengawal penjaga masih terus di depan kamar.
Sudah satu Bulan Mita berada di sana.Menjalani hari hanya dengan menonton televisi,membuka laptop,dan ponsel.
Hari ini Hafi libur,ingin sekali rasanya pulang ke ibu kota,tapi melihat Mita yang masih berbaring di balik selimut,ia urungkan.Lelah dengan permintaan Hafi tadi malam dan menginginkan lagi pada pagi nya.
"Bangun sayang,sudah siang!!" Selalu saja begitu saat membangunkan Mita yang sudah lelah.
Mita mengerjap,wajahnya sungguh pucat.
"Kau selalu saja seperti ini jika aku mengerjakan nya sampai pagi!" Hafi meraba wajah Mita dan mencium nya, menempelkan bibir di bibir istrinya.
Mita yang tahu itu,membalas kecupan dan belitan pun saling membalas.
"Kenapa lama-lama wajahmu memerah?!"
"Itu karena semangat ku di up oleh mu!"
"Tapi kamu masih pucat,aku takut kenapa-kenapa!"
__ADS_1
Mita merenggangkan tubuhnya,melihat itu Hafi menerjang nya kembali.Menciumi dari bibir hingga berhenti di lipatan bawah.
"Ahh..Ahhs..shhhh" menekan ,dan meremas kepala Hafi untuk lebih dalam lagi di sana.
Entah sudah yang ke berapa kalinya,Hafi mulai menancapkan milik nya ke dalam milik Mita,terus menekan hingga milik Hafi masuk sangat dalam,terbenam sempurna.Mita pun bisa merasakan itu.
Menahan nya sejenak di sana,Mita bisa merasakan milik Hafi yang melesak dan membesar di dalam miliknya.
"Aku ingin kamu nyaman terlebih dahulu"
"Tapi aku tidak sabar kamu menggerakkannya!"
Tak lama Hafi pun bergerak.Pergulatan antara mereka terjadi kembali.Padahal Mita sudah terlihat lelah tapi masih saja meladeni suami nya.
.
.
.
Di kediaman Brahmana
Mina terus rewel dan menangis,tak biasa bocah balita itu seperti ini.Meraung menangis dan selalu diam di saat masuk ke kamar Mita.Mbak Sri jadi tidak enak dengan Riza yang selalu menjaga Mina ketika di kamar Mita.
Hampir seminggu Mina selalu bersama Riza.Hingga dia tak bisa kemana-mana karena menganggap dia Ayah Hafi.
"Yah Zaa,Mina cucu"
Riza yang sedang membuka ponsel nya menoleh mendengar itu.Dia pun beranjak dari ranjang dan keluar kamar meminta tolong pada Sri untuk membuatkan susu Mina.
Kembali lagi di sebelah Mina,Riza mencoba melakukan panggilan pada saudara kembar nya.
Bocah balita itu di angkat dari karpet dan diletakkan di samping Riza.
"Sini Min,nanti kita video call Yah Fi dan Unda mu ya?"
Mina dengan dot di bibirnya mengangguk,melihat Riza.
"Yah Za gak tau mereka sedang apa.Kita coba lagi telfon Yah Fi ya?!"
Riza mulai menelfon Hafi,beberapa saat masih memanggil.
Dan ketiga kali nya di jawab oleh Hafi.
"Fi..anak lu nangis terus,gua seminggu tinggal dikamar lu!"
Menoleh ke layar,ternyata layar nya putih.
"Eh bego! Lu adepin kemana tuh kamera?"
Riza mendengar suara aneh di sebrang sana.Suara erangan Mita dan suara milik Hafi yang bergerak.
"Brengsek,sialan!! Bego emang lu ini!"
Telfon dimatikan kasar oleh Riza.Mina yang ada disana hanya melihat Riza dan bibirnya menggigit ****** botol.
__ADS_1
.
.
.
Hafi yang telah selesai dengan ritual nya, memeluk Mita,kepala istrinya menempel di dada nya.Mereka berdekatan dengan kulit yang saling menempel.
Menarik selimut hingga ke leher.Dan mengusap punggung Mita.Hafi melakukan sambungan video call pada Riza.
Terlihat Mina yang sedang tiduran dan bermain sesuatu di tangannya.
"Minaaa...." Mina pun melihat layar ponsel dan mengambil nya dari tangan Riza.
Tidak menjawab apapun,hanya tersenyum dan terlihat senang.
"Ndaaa..."
"Ada.. Ini Unda!"
Mita mendongak,sangat terlihat jelas di layar.
"Bundanya habis di garap!" Riza yang iseng pun asal ceplos, tapi sangat terdengar oleh Mita dan Keduanya tersenyum.
"Anak lu nangis Mulu Mita! Dia maunya tidur di kamar kalian.Gua mendadak jadi baby sitter nya!"
"Makasih Za,maaf sudah merepotkan!"
Riza hanya berdehem saja.
"Mina kenapa menangis?Tidak pintar itu nama nya.Besok jangan nakal dan jangan menangis ya?"
Mina mengangguk,seakan tahu maksud ucapan Mita.
"Bilang Min,buruan pulang bawa adik buat Mina"
Ucapan Riza tidak di hiraukan oleh Mina.Dia hanya asik melihat layar saja karena Mita terus bercanda pada nya.
"Iya nanti gua bawain adik!" Hafi pun membalas dengan asal.
"Fi,bini lu minimal pakein dulu kek baju.Ditutup begituan kalau kena Angin ke buka nanti gua liat bahaya!"
"Tidak akan!!" Hafi menarik kembali selimut hingga leher.
Menoleh melihat Mina yang lama-kelamaan memejamkan mata.
"Dah ahh,Mina ngantuk seperti nya!"
"Ya sudah! Dahh Mina!!" Suara Hafi sudah tidak di hiraukan lagi oleh balita itu.
Mita pun melambaikan tangan nya pada Mina,dan tak di balas karena balita itu sudah memejamkan mata.Hingga sampai Riza mengakhiri panggilan.
.
.
__ADS_1
.
To be continue