
Terbangun pukul sebelas siang,Mita dikagetkan dengan panggilan 'Istriku sayang' dari suara bibir Hafi.
Beberapa kali menepuk pipi dan mencubit tangan nya sendiri.Kenyataan nya sakit,dan memang dia tidak bermimpi.
Pendengaran nya masih normal dan tidak eror.
Hafi yang tersenyum dan dengan posisi telungkep tepat di sebelahnya berpangku tangan dan tersenyum lebar.Memandangi beberapa saat lalu ketika Mita masih tertidur pulas.
Bola mata Mita membulat seketika saat mendapati Hafi tepat di depan wajah nya.Fikiran nya melayang jauh,membuka selimut di dada nya dan mengintip,pakaian nya masih lengkap.
Mita takut sesuatu terjadi padanya.Sempat berfikiran jelek pada Hafi karena sebelumnya memang lelaki itu sangat lah berani menyentuh area terlarang.
Hafi tergelak "Tenang saja,itu akan terjadi tapi bukan sekarang!" mengerlingkan sebelah mata nya.Hingga membuat Mita bergidig ngeri.
"Geseran,aku tidak bisa bergerak!"
Hafi tersenyum miring,bukan menggeser tubuhnya, memberikan celah untuk Mita bergerak,dirinya mengulur kan tangan di perut Mita.Memeluk Mita,dan menenggelamkan wajah nya di bahu Mita.
"Aysshh...Apa sih Fi! Berat!"
"Kalau aku di atas mu berat tidak?"
"Di atas maksud nya bagaimana?"
Ucapan Hafi sangat lah ambigu.
Ceklek!!! Pintu dibuka tiba-tiba.Hafi yang tahu siapa itu hanya diam saja, sedangkan Mita terperanjat.
"Astaga Hafi!!! kau benar-benar keterlaluan." Satu tabokan tangan mendarat di paha nya.Ara yang menyuruh Hafi untuk membangunkan Mita nyatanya dia menunggu sudah hampir satu jam.
Hafi masih terdiam dengan posisi nya.Sudah biasa mamah nya ribut seperti itu.
Tangan Ara sudah siap meremat kain yang menyelimuti Mita,namun seketika dia enggan untuk menarik.
"Apa kalian telah...?"
Ucapan Ara berhenti,tatkala Hafi menoleh.
"Mah,Mita baru saja bangun.Kenapa mamah menyusul kesini.Dan lagi,ketok dulu mah! Aku dan Mita sudah.."
Sama dengan Ara yang ucapan nya berhenti karena di potong Hafi.Hafi pun berhenti bicara ketika Ara berjalan kesamping sisi ranjang Mita.
"Menantu ku sayang!"
"Menantu?" Gumaman Mita terdengar oleh Hafi dan Ara.
"Iya.. kau sudah menjadi menantu ku Mita!"
Mita masih kebingungan dengan situasi ini.Melihat Hafi dan Ara mamah nya bergantian.Hafi yang tahu ekspresi Mita kebingungan hanya tersenyum dan mengibaskan rambutnya.
__ADS_1
"Undaaa!" Seorang bocah balita masuk dari pintu berlari kecil,melewati Hafi.Berusaha menaikki ranjang tapi tidak bisa,Hafi mendekat dan membantu nya.
Mina menerjang dada Mita.Suara nya menyebut berkali-kali Mita dari bibir nya.Padahal hanya tidak bertemu sehari tp Mina seperti tidak bertemu berbulan-bulan.
"Aduh Mina,Badan Unda sedang sakit" Mita mencoba menyingkirkan Mina dari atas tubuhnya,namun kedua tangan anak itu melingkar kencang di leher Mita.
Ara yang melihat itu melirik ke Hafi untuk mengangkat gadis balita itu.
"Mina sayang,yukk sama ayah yuk!" Hafi meraih Mita dari sana dan menggendongnya.
Ara yang mendengar Hafi menyebut dirinya sendiri Ayah,menutup bibirnya dan mengulum senyum.
Mita yang diliputi rasa penasaran dari tadi pun membuka suara.
"Nanti dulu.Maaf jika saya lancang bertanya.Kenapa Mamah menyebutku menantu dan Hafi menyebut dirinya sendiri ayah pada Mina? Ada apa sebenarnya?"
Ara bertatapan dengan Hafi,Mengurus pernikahan diam-diam adalah misi nya tadi malam bersama Riza.
Pagi tadi sekitar pukul delapan pagi,Hafi mengikrarkan janji suci pernikahan.Akad nikah terjadi ketika Mita tidur.Disaksikan oleh Ibu Dalilah dan Kedua orang tua Hafi,bukan hanya itu,di sana ada wali hakim karena Mita seorang Yatim.
Mereka melakukan pernikahan yang sah secara hukum dan agama.Semua itu di urus dan diusahakan oleh Riza yang diam-diam hanya berpura-pura merebutkan Mita.Beberapa waktu lalu,Riza hanya ingin tahu seberapa besar rasa yang Hafi miliki untuk Mita.
"Hah,aku sudah menikah?!"
Ucapan itu di utarakan tepat di hadapan Ara.
"Apa kamu tidak senang dan bahagia Mita? menjadi istri Hafi dan menantu ku?" Raut wajah Ara nampak sedih, Mita yang melihat itu merasa iba.
"Di luar ada Ibu mu dan Papah Hafi.Beberapa saksi dari kantor kepengurusan agama juga ada di sana.Apa rasa sakit mu masih?"
Mita hening sejenak lalu mengangguk.
"Setelah ini, Mamah ingin memboyong mu ke kediaman utama.Di sini tidak aman.Keributan tempo hari membuat dirimu menjadi banyak masalah.Maaf kan mamah karena kejadian itu."
Mita masih terdiam mendengar Ara berbicara.
"Mamah takut,jika kau tidak secepatnya menikah dengan Hafi setelah ini akan semakin banyak masalah lagi.Sadar atau tidak kau sedang menjadi incaran Dito kakak Sharena, Sharena dan Hafi menjalin hubungan tanpa sepengetahuan kami.Hanya Riza dan Inggi yang tahu"
Ara bercerita panjang lebar,Hafi yang sudah keluar dari sana memberikan Mina pada pengasuh baru yang dipekerjakan oleh Ara karena ibu Dalilah sudah tua.
Kembali masuk ke dalam kamar,Hafi menaikki ranjang dan duduk di sebelah Mita yang bersandar di ujung sandaran ranjang.
Mengusap beberapa kali Surai indah milik Mita.
"Maaf terlalu buru-buru.Aku tidak bisa melihat mu seperti kemarin.Jika di rumah ku banyak penjagaan di sana.Yang mereka incar bukan aku tapi kamu" Mita memukul dada Hafi karena mencuri cium di kening,padahal di depan nya ada Ara.
"Aku harus bekerja,sementara jika kau sendirian di sini.Entah akan menjadi apa nanti nya!"
Ara dan Mita menyimak dan mendengar kan Hafi bicara.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita ke rumah,di depan ada pengawal pribadi keluarga Brahmana,jangan takut.Mereka sudah terlatih dan akan melindungi kita.Ada Papah juga di luar"
Mita terpaku mendengar Hafi berbicara.Baru kali ini tutur kata nya sangat lembut dan manis.Seperti bukan Hafi yang dia kenal.
"Kau mendengar ku kan Mita?"
Mita hanya mengangguk.
"Ganti baju,mamah membelikan baju untuk mu.Semoga cukup dan suka meski tidak kekinian" Ara tersenyum pada Mita dan dibalas senyum juga oleh menantu nya.
"Terimakasih!"
"Waktu kalian hanya mengganti baju,tidak yang lain.Setelah itu keluar dan turun.Kami akan menunggu di basemant.Ibu dan Mina bersama kami" Ara mengusap bahu menantu nya,dan melangkah pergi dari sana.
.
.
"Mau aku gantikan atau ganti sendiri?"
Mita mengerucutkan bibir nya "Secepat inikah aku jadi istri orang?"
Meski hanya bergumam Hafi mendengar nya karena dia berdekatan.
"Aku sudah bilang,aku serius dengan mu Mita! Paramita Berliana!"
"Tapi aku perebut kekasih orang jadinya!"
Hafi menggeleng mendengar nya "Tidak ada yang direbutkan,itu kemauan ku sendiri!"
Mita mendesah dan membuang nafas kasar.Wajahnya mendadak sendu.
"Bawa aku ke toilet,aku akan mengganti baju ku!"
Hafi hanya menuruti permintaan istrinya,tidak terjadi apapun seperti yang Ara ucapkan kepada mereka.
Setelah kedua nya berganti pakaian,Hafi membawa Mita.Menggendongnya melalu lorong dan turun menggunakan lift.
Bukan hanya satu dua orang yang mengawal mereka,Mita sempat menghitung dan jumlah nya lebih dari tujuh orang.Berpakaian jas serba hitam,kaca mata hitam.Dua perempuan dengan sigap.Tubuhnya menjulang tinggi.
Mita melingkarkan tangan di leher Hafi.Dan bersandar di dada suami nya.
Seketika mendadak jadi istri.
Batin Mita bicara,dan hanya dia yang bisa mendengar nya.
.
.
__ADS_1
.
to be continue