TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 52 Kapan


__ADS_3

"Apa yang kau inginkan lagi setelah aku menikahi Sharena? Apa kau juga menginginkan istriku Za?"


Riza terkekeh mendengar nya


"Mau sampai kapan pun aku tidak akan memberikan,Jika yang kau inginkan adalah Mita!"


"Memang aku menyukai nya,tapi aku juga tahu diri.Dia istri adikku,secara tidak langsung dia adikku.Aku dan Papah punya rencana,tapi kau harus mengikuti usulan ku.Menikah lah dengan Sharena,semua akan terungkap Fi."


"Tidak!!!" Hafi langsung menolak dengan tegas.


"Aku tidak akan lagi melukai hati siapa pun setelah Sharena,terlebih itu Mita.Aku akan mencari tau sendiri, jika kau dan Papah tidak ingin membantu ku terserah!"


Hafi melangkah menuju jalur keluar dari rumah sakit,di sana sudah ada suster dan juga Riza yang menemani Ibu Dalilah.


Demi apapun Hafi ingin menemani ibu mertua nya di sana,tetapi situasi sulit jika nanti Mita yang menyadari nya bahwa Ibu nya sedang di rumah sakit.


Mengendarai mobil,tangan satunya sibuk menghubungi pengawal opa uyut Brahmana.Mereka di bolehkan memerintah pengawal siapapun itu,jika memang memerlukan.


"Om,aku minta beberapa orang kepercayaan mu untuk berkumpul sekarang,aku segera pulang!!"


Singkat dan jelas Hafi bicara.Panggilan pun di akhiri.


Flashback off


.


.


.


Setelah membujuk Mita beberapa kali, akhirnya istrinya tidur dengan cara yang amazing.Meneliti kontak ponsel Hafi satu persatu,dan menghapus nya jika itu di rasa sudah tidak aktif atau tak pernah menghubungi nya.


Hafi fikir Mita akan marah jika dia menyimpan banyak nomor dengan nama perempuan.Tapi filling nya salah,Mita bahkan ingin mendengar cerita masa Hafi sekolah dulu.


Melihat Mita yang tertidur saat menjelang subuh,Hafi menggelengkan kepala nya.Entah apa yang harus dikatakan esok hari tentang ibunya yang mengalami kecelakaan.Hingga saat ini saja belum sadar.


Hafi sudah menyerahkan semua nya kepada Om Abas,untuk mencari tahu bagaimana dan siapa di balik kecelakaan yang di alami ibu Dalilah.


Mengusap pipi Mita yang sedikit terlihat cabi,padahal belum lama menikah dengan nya.Tapi perubahan Mita terlihat karena selalu terjaga makanan nya.


"Kali ini aku ingin kau tidur lebih lama, Karena aku saja bingung harus berkata apa jika kau bertanya macam-macam esok hari!"


Suara Hafi sangat lirih nyaris tak terdengar.Mengecup seluruh wajah istrinya,memeluk,mendekap dengan sangat erat,hingga Mita merasa sesak.Suara ******* nafas nya sampai terdengar.


"Jangan seperti itu,aku susah payah menahan nya,karena kau masih sakit.Tidurlah lagi.Aku tidak akan kemana-mana!"


Padahal mata Mita saja terpejam,tapi Hafi yakin istrinya mendengar gumaman Hafi.


.


.


.


Merasakan seperti Dejavu, lagi-lagi Ara mendatangi kamar Hafi dan menanyakan Mita masih tidur atau sudah bangun.


Wanita yang sudah tak muda lagi itu selalu khawatir tentang menantu satu-satunya untuk saat ini.Berharap memiliki cucu adalah harapan yang terlalu cepat.Tapi Ara selalu menantikannya.


Mustahil bukan baru saja kemarin menikah sudah hamil?


"Kalau mamah liat,Mita tidur terus Fi.Apa tidak ada keanehan pada nya?"

__ADS_1


Dahi Hafi mengerut mencerna kata-kata mamah nya.


"Semalam dia tidak tidur mah.Hampir subuh baru bisa memejamkan mata,itu juga dengan cara yang aneh"


"Aneh?" Ara penasaran dengan keanehan Mita.


"Dia meminjam ponsel ku,aku fikir akan sidak.Tapi malah menghitung kontak yang ganda dan menghapusnya!" Hafi menggeleng.


Ara menutup mulutnya,tidak percaya dengan cerita Hafi.


"Benarkah?"


"Hemm.." Hafi mengangguk.


"Kau kerja?"


"Tidak mah,aku sementara kerja dari rumah saja.Untuk semua persoalan sudah aku serahkan om Abas" Hafi menunduk seketika.


"Kenapa?"


"Mah,apa Riza pernah bercerita tentang dirinya jika menyukai Mita?"


Ara terperangah dengan ucapan Hafi.


"Apa dia bicara dengan mu jika menyukai Mita!?"


Hafi mengangguk "Bukankah itu tidak boleh mah!?"


Ara mengelus dada Hafi untuk menenangkan anaknya


"Mamah yakin,Riza hanya menyayangi sekedar adik tidak lebih!! Mungkin Riza yang lebih dulu bertemu dengan Mita,namun dia baru menyadari akhir-akhir ini.Tenang lah,kakak mu tidak selicik itu.Bukan kah kau senang Hafi jika Mita banyak yang menyayangi di rumah ini? Mamah yakin,cinta Mita hanya untuk mu.Dan tidak untuk yang lain.Mau seperti apapun Riza mendekati nya,Mita tidak akan goyah!"


Hafi hening sejenak


"Bukan tidak pernah,dia hanya malu.Wanita ingin dirinya dicintai dengan sangat dalam,dan tugas mu mencintai nya.Bukan menuntut cinta nya."


Hafi mengangguk


"Kapan Mamah dan Papah akan di berikan cucu?"


Mendengar nya dada Hafi menegak.


"Terlalu cepat mah,kita baru hitungan hari!"


"Jangan terlalu sering membuat nya kelelahan,jika mereka sudah ada di sana.Itu akan membahayakan mereka!"


Hafi bingung dengan ucapan Mamah nya


"Mereka?!"


Ara mengangguk "mereka,seperti kamu dan Riza!"


Hafi tergelak "Maksud mamah kembar?"


Ara mengangguk dengan cepat dan menutup mulut nya,menahan tawa dengan ekspresi Hafi.


.


.


.

__ADS_1


Obrolan Hafi dengan Mamah Ara berakhir ketika suara handel pintu terbuka.


Hafi yang tahu istrinya bangun,langsung menoleh dan memapah tubuh nya.


Mita tersenyum pada Mamah mertua nya.


"Maaf Mah beberapa hari ini Mita bangun siang"


Ara tersenyum "tidak apa-apa Mamah mengerti.Kalau begitu Mamah tinggal dulu ya? Sebentar lagi Daffin pasti menelfon minta bekal nya di antar"


Mita dan Hafi mengangguk.Ara pun pergi dari hadapan mereka berdua.


Menoleh istrinya dan mencium ujung rambut nya,Hafi tersenyum pada wanita di sebelahnya.


"Sudah mandi?"


"Sudah!"


"Kenapa masih di rumah?Tidak bekerja?"


"Aku kerja dari rumah saja,menjaga mu bagi ku lebih penting.Uang ku cukup untuk menganggur berpuluh-puluh tahun!"


Mita tersenyum miring "Sombong amadt!"


Mendengar nya Hafi tertawa hambar.


Mita melepaskan pegangan tangan Hafi di lengan nya.Sakit di kaki nya sudah sedikit sembuh.Berjalan sendiri pun sebenarnya sudah bisa.Hanya kekhawatiran Hafi yang berlebih membuat dirinya seolah tak bisa apa-apa.


"Mau kemana?"


"Ke ibu!"


Secepat kilat,Hafi menarik kembali lengan Mita.Hingga istrinya mendesis karena kaki nya bergerak cepat.


"Mandi dan bersihkan dulu dirimu,lalu baru kita sama-sama ke ibu"


Mita tertawa "Kita masih satu rumah,untuk apa sama-sama.Hanya beda kamar bukan beda kota!"


Andai saja jika kau tahu Ibu tidak di sini.Apa yang akan terjadi?


Hafi memandangi istrinya yang membuka pintu kamar.


"Aku bantu mandi!"


"Gak! Aku bisa mandi sendiri!"


"Aku hanya membantu,sayang?"


"Tapi aku tidak mau,aku bisa sendiri.Lagi pula kaki ku sudah sembuh,hanya terkadang sakit itu pun tidak seberapa!"


Hafi menghembuskan nafas kasar,Istrinya sangat lah bandel.Tanpa aba-aba Hafi mengangkat Mita,menutup pintu dan membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Kali ini Hafi tidak bisa menahan nya,beberapa hari tidak menyentuh istrinya,membuat sesuatu yang di bawah sana berdenyut ketika melihat tempat nya bersarang.Melakukan dengan sangat pelan dan lembut karena Hafi tidak mau Mita merasa tidak nyaman dan sakit.


Memeluk dan menyatukan miliknya dengan milik Mita,menekan dengan hentakan yang kuat.Berharap beberapa hari lagi berita baik ada di rumah tangga nya.


Lengan Mita melingkar di leher suaminya.Kepalanya mendongak merasakan kenikmatan yang Hafi berikan.Begitu pula dengan Hafi bergerak di bawah sana,bibir nya mengulum bergantian dua benda kesayangan nya.


"Sudah berapa kali sayang?"


Mita hanya terdiam masih mendongak menikmati segala sentuhan Hafi yang sangat memabukkan.

__ADS_1


"Pindah ranjang ya?"


Mita hanya mengangguk.


__ADS_2