
Hari-hari Mita disibukkan dengan ketiga anaknya.Dari pagi hingga sore dunia nya lah hanya anaknya.Hingga malam tiba pun dia harus membereskan mainan yang berserakan.Mengumpulkan semua dan di masukan ke dalam kontainer.
Lalu Mbak Sri yang menyapu dan mengepel.Membagi tugas dengan dua art nya.Mita sudah tidak berani membangunkan dan mengganggu mbak Ti dan Mbak Rus,mereka bagian dapur dan laundry.
Hafi hingga pukul sepuluh malam belum pulang karena sedang ada pertemuan di luar daerah,bersama Ricko dan menempuh perjalanan tiga jam.
"Sudah Bund,naik saja dan istirahat!" Saran mbak Sri ketika membawa pel.
Menengadahkan kepalanya di pinggiran sofa,Mita merentangkan tangan.Deru nafas nya pun terdengar jelas.
"Mbak,apa aku perlu asisten rumah tangga satu lagi?"
Mbak Sri tidak berani menjawab,tangan nya terus bergerak mengepel.
"Aku sekarang sering keluar mengurusi administrasi mall,karena semakin maju pesat, lama-lama aku terjun langsung!"
Berliana city mall, satu-satunya mall yang menyediakan pasar tradisional dan supermarket grosir.
Ruko yang disewakan semakin hari bertambah hingga lahan sebelah nya pun dibeli dan dibangun untuk memperbesar area.
"Maaf sebelumnya jika lancang, sebenarnya jika Nesha dan Razka sudah tidur lebih awal,saya tidak masalah.Lagi pula dibantu bunda"
Mita langsung menoleh pada Mbak Sri.Bukan pilih kasih,namun pekerjaan Mbak Sri sejak ada baby twin jadi bertambah.Mbak Sri juga menerima upah gaji yang lumayan dibanding dua orang yang lain.
Mina yang sudah cukup mengerti pun sering kali mengalah, Mbak Sri hanya menyiapkan seragam dan bekal nya saja, sekolah hanya diantar dan dijemput.
"Terus menurut mbak bagaimana?"
"Coba Bunda bicarakan lagi dengan Ayah Nesha,siapa tahu nanti ketemu jalannya" Mita pun mengangguk.
Seiring selesai nya Mbak Sri merapihkan dan mengepel lantai.Mita pun naik ke atas dan membuka kamar menghampiri Nesha dan Razka terlebih lalu melangkah ke ranjang Mina.
"Maafin Bunda yang sering marah kepada Mina ya, Bunda hanya ingin Mina menjadi kakak yang baik dan menjadi contoh adik-adik"
Mata Mita terpana ketika Mina mengangguk,padahal dia tidur dan terpejam namun bisa mengangguk, seolah mengerti dan mendengar apa yang Mita katakan.
Disusul dengan mbak Sri masuk kamar.Lalu Mita pun keluar dari sana dan ke kamar nya sendiri.Menyalakan lampu dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Mandi air hangat dan sedikit tetesan aroma terapi,berendam untuk menghilangkan lelah,Mita dikejutkan dengan pintu yang diketok dari luar.
"Sayang...." dari luar Hafi memanggil dan mencoba membuka pintunya.
Mita pun segera membilas dan meraih Badrobe,lalu membuka pintu.
"Baru pulang ayah nya Nesha?"
__ADS_1
Begitulah sebutan untuk Hafi,terlalu menyayangi Nesha hingga semua dirumah menyebutnya Ayah Nesha,padahal anaknya bukan cuma Nesha.
Hafi mengangguk,dan sekilas melihat Mita yang memasuki walk in closet.
"Aku bersih-bersih dulu ya?"
"Ya..."
Mita pun tahu jika suaminya masuk ke kamar mandi.Bergegas turun kembali dan ke dapur,Mita membuat teh hangat dengan sedikit jahe dan gula batu.Karena Hafi tidak terlalu suka manis.
Mengambil satu Tumbler berisi air dan gelas juga untuk di bawa ke kamar.
Ceklek!!
Hafi mendekati istrinya yang sulit membuka pintu.Membantu membuka lalu mereka duduk di sofa bersama.
"Diminum dulu biar hangat perutnya!"
Meraih secangkir teh dan meminum nya.Terlihat sangat capek namun setelah mandi dan melihat istrinya,rasa itu menguap begitu saja.
"Bagaimana hari ini?"
"Aku belum lama baru selesai membersihkan mainan mereka.Bagaimana kalau kita menambah Art saja?" tanya Mita dengan wajah sendu.
"Maksud mu baby sitter untuk Nesha dan Razka?"
"Dulu mamah membesar kan ku dan Riza sendiri"
"Itu dibantu Oma bukan?!" Mita menjeda ucapan nya
"Mamah baru punya anak kamu dan Riza,sedangkan aku ada Mina.Jika kamu tidak mau menambah art tidak apa-apa,aku tetap akan menambah dan aku yang akan meng gaji nya"
Hafi menoleh seketika "Bukan masalah siapa yang menggaji nya,Aku sudah menawarkan mu untuk menambah art,dan kamu tidak mau.Lalu sekarang merasa tidak mampu.Bagaimana?"
Mita memicingkan mata melihat Hafi yang sedikit emosi.
Harusnya aku yang emosi sudah membandingkan ku dengan mamah nya.
"Ya sudah..." Mita beranjak dari sofa dan menuju ranjang,merebahkan tubuhnya karena sudah seharian bekerja mengurus rumah dan laporan usaha nya.
Melihat istrinya beranjak begitu saja dan berlalu sama sekali tidak menengok,hati kecil Hafi merasa tercubit.Merasa dirinya sedikit berbicara keras,dan Mita seperasaan itu.
Maksudku bukan begini.Ini sudah malam dan aku ingin istirahat.Jika ingin membicarakan nya,besok.Aku capek Paramita.
Hafi bicara di dalam hati,matanya terus melihat Mita yang mematikan lampu utama bagian ranjang,lampu tidur pun belum dia nyalakan,karena masih ada satu lampu.
__ADS_1
.
.
.
Pagi-pagi sekali Mita sudah bangun,dan mandi tak lupa menyiapkan pakaian untuk Hafi.Alarm di meja nakas dia stel sesuai dengan jam membangunkan suaminya.
Mita bersiap dengan pakaian casual nya,dan menenteng laptop dan beberapa berkas.Lalu keluar dan masuk kamar anak-anak.
"Mbak mereka belum bangun ya?"
Mbak Sri saja baru menunaikan kewajiban nya dan merapikan pakaian yang akan digunakan Min,Razka dan Nesha.
Mereka masih bergelung di selimut.Dan seketika Mina membuka mata saat tahu Mita di sana.
"Mina bangun nak,mandilah dan bersiap"
"Mau kemana bund?"
"Sekolah,Mina hari ini sekolah kan?"
Gadis kecil itu pun melihat jendela yang masih tertutup rapat,dan fentilasi yang masih gelap.
"Jam berapa,masih gelap bundaaa..."
Mengusak ke dua anaknya dan membuat mereka bangun.Mita sedang membersihkan wajahnya sendiri.
"Nanti Mina berangkat dari kantor Bunda,Bunda yang antar!"
"Hhmmm... Kami mau dibawa bunda kerja?"
Mita pun mengangguk.
"Bukankah biasanya bunda bekerja setelah aku sekolah?"
"Hari ini tidak sayang,bangun ambil air minum dan segeralah mandi!" Mita bicara dan menatap Mina lekat.
Seketika Gadis kecil itu mengangguk dan menuruti ucapan bunda nya,menuruni ranjang.
.
.
.
__ADS_1
To be continue