
Menempuh perjalanan di udara selama dua jam lebih,Mita bahkan tidur selama penerbangan.Hafi yang tahu istrinya sedang sedikit tak enak badan hanya bisa membiarkan itu,melihat Mita tidur dengan Nyaman saja dia sudah sangat bahagia.
Berjalan keluar dari Bandara,mereka sudah di jemput oleh pihak dari perhotelan.Siapa lagi jika bukan Ricko yang mengatur semua itu.
.
.
"Kamar saya mungkin sedikit jauh dengan Bapak,katakan saja jika membutuhkan bantuan!" Ricko membungkukkan badan nya.
"Pak Ricko! Hafi tidak membutuhkan mu.Yang dia butuhkan hanya saya!". Seru mita
Ssstttt!! Hafi meletakkan jari di bibir Mita.
"Iya Rick,silahkan.Nanti akan aku hubungi kembali!" Ricko pun mengangguk dan pergi dari sana.
Giliran Hafi dan Mita memasuki kamar mereka.
"Sudah Tuan,semoga nyaman dan selamat beristirahat!" Pelayan hotel pun memohon ijin untuk keluar.Hafi hanya mengangguk saja,setelah itu menutup pintu nya.
Membuka kaos dan meletakkan di keranjang kotor yang ada di sana.Masuk kamar mandi,dia pun membersihkan diri kembali setelah merasa berkeringat.
Membiarkan Mita menikmati pemandangan di atas sana.Gorden pun di buka lebar dan sangat terlihat pemandangan jantung kota yang sangat indah di ketinggian gedung.
Memesan kamar deluxe queen demi istrinya,fasilitas nomor satu dengan ranjang king size,ada sofa bed, televisi dengan sistem terkini,ruang kerja yang ada di sebelah ranjang,dan kamar mandi dilengkapi dengan bathtub yang sangat besar.
Menarik koper dan membuka nya,Mita tak lupa menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Pintu kamar mandi di geser,Hafi keluar dari sana.Melihat baju nya sudah tertata rapih dan Mita pun menyiapkan baju untuk dirinya sendiri.
Giliran Mita yang hendak masuk kamar mandi di cegah oleh Hafi.
"Jangan lama-lama mandi nya,badan mu masih sakit!" Mita hanya mengangguk dan kembali ke dalam.
Hafi yang akan berganti pun memencet tombol untuk menutup tirai.Televisi di nyalakan.
"Fi..."
Hafi terperanjat karena Mita hanya menonjolkan kepala nya saja.
"Kenapa?"
Mita tertawa hambar "Bisa minta tolong,aku mohon!" Hafi tak menjawab apapun,namun tatapan nya masih menoleh ke Mita.
"Aku halangan,bisa tolong belikan pembalut?"
Hafi menghela nafas dan bangkit dari ranjang,membuka salah satu laci di sana dan menemukan beberapa benda yang sangat tipis dan empuk itu.Hal itu pun tak terelakan dari pandangan Mita.Diri nya sedikit merasa heran dengan Hafi yang tahu di sana ada pembalut.
"Pakai dulu,nanti ke mini market setelah kamu selesai!"
Bukan menjawab,Mita menerima.Namun mata nya memicing melihat suaminya.Hafi yang tahu itu pun melihat nya juga.
"Kenapa?!" Alisnya terangkat.
__ADS_1
Mata Mita masih memicing dan menutup pintu dengan keras.
Hafi melihat nya pun sedikit aneh "Kenapa dia,sensi sekali!"
.
.
.
Di sisi lain,Ricko yang sudah membersihkan diri dan rapih.Kini sedang di restauran untuk makan siang.Dia sengaja tidak mengabari atau menawarkan untuk bersama pada bos nya.Tidak mau mengganggu Hafi selagi bukan pekerjaan.Dan juga lagi,ada Mita di sana,sudah tentu jika ada Ricko, Mita pasti akan sedikit risih.
Menikmati makanan yang sangat sederhana,Nasi putih dan beberapa lauk.Tak lupa lemon hangat dan juga ada segelas air putih di sana.
Mata nya memicing setelah melihat seseorang yang mungkin dia mengenali nya.Namun Ricko mengabaikan itu,karena mungkin orang yang dia lihat tidak melihat nya.
.
.
.
"Kenapa sih sayang?!"
Setelah keluar dari kamar mandi Mita menekuk wajah nya.Selalu melihat Hafi dengan sinis, menggunakan ekor mata nya.
"Gak!..."
Menjatuhkan pantat nya di sofa bed yang cukup luas,Mita hanya memakai kaos oblong berwarna pink yang kebesaran dan legging berwarna abu.Memulas sedikit wajahnya dan menggunakan lipstik tipis.
"Ke mini market?"
Mita hanya berdehem saja.
"Mau ke sana dengan ku atau bersama?"
Mita hanya melirik,tangan nya masih memegang cermin dan cream di jari nya.
"Sendiri?"
Mita diam tak menjawab.
Hafi merasa ada sesuatu yang aneh pada Mita,menarik pinggang istrinya mendekatkan ke dada.Tubuh Mita di kunci oleh kedua lengan Hafi.
"Ishhh apa sih??!" Mita memukul tangan Hafi yang berada di perut nya.
"Harusnya aku yang bertanya kamu kenapa? Sejak keluar dari kamar mandi wajah mu terus saja di tekuk,melihat ku seperti itu.Memang ada yang salah dengan ku?"
Mita menyikut perut Hafi.Seketika tangan Hafi terlepas,dia pun kesakitan.
"Kalau tidak mau bicara juga,nanti aku tinggal sendiri disini ya? Sebenarnya kenapa sih?!!" Sabar nya mulai berkurang.
Mita semakin marah,beranjak dari sana dan mendekati,membuka laci dimana tadi Hafi mengambil pembalut.
__ADS_1
"Itu pembalut? Iya,kita beli nanti!"
Dengan kesal Mita menghentakan kaki nya
"Bukan itu! Kenapa kamu tahu di sini ada pembalut? Udah pernah kesini atau udah cek in di sini sebelum nya,ini punya siapa??!"
"Astaga!!!" Hafi menepuk keningnya sendiri.
Istrinya ternyata berfikiran negatif tentang pembalut siapa,karena Hafi tahu di sana ada pembalut.
"Di semua kamar di hotel ini pasti ada sayang,itu salah satu fasilitas.Mereka memberikan tiga pad di dalam laci,dan itu bisa di laci mana saja."
Mita, lagi-lagi membulatkan mata.
"Tapi kamu dengan percaya diri nya langsung membuka laci ini,Di sini bukan hanya ini saja laci.Masih banyak! Jika kamu bilang mana saja tapi kenapa kamu tahu ini di sini?!"
Hafi menghela nafas dan berdecak sedikit kesal.
Wanita dan datang bulan.Cobaan apalagi ini Tuhan???!
"Aku hanya menebak,dan itu benar.Itu saja.Aku tidak pernah kesini kecuali dulu sekali dengan Ricko,itu pun memakai kamar dengan dua ranjang.Tidak seperti ini!"
"Bohong!!"
Mita masih saja tidak percaya dengan penuturan suaminya.Hafi sudah mulai dibuat kebingungan.
"Sayang.." Hafi meraih lengan Mita namun belum sampai Mita sudah menghindar.
"Mita,dengar aku ya.Aku bersumpah tidak pernah sekali pun menggunakan Kamar yang seperti ini kecuali dengan mu!!"
"Aku tidak tahu!"
Hafi menarik nafas nya dalam,dia pun mendekati istrinya lagi.
"Kamu tahu,jika kamu seperti ini berarti kamu menuduhku selingkuh.Tuduhan adalah doa,mau suami mu ini tergoda dengan perempuan lain sampai cek in segala? Untuk apa,aku tanya coba? Aku sudah memiliki segalanya,keluarga,mamah papah yang baik,saudara yang perhatian,dan kamu yang segala nya untuk ku.Kamu tahu sendiri jika dengan mu aku tidak bisa berhenti,mana mungkin aku tertarik dengan yang lain!"
Panjang lebar Hafi merayu Mita,mendekap erat tubuh istrinya.
"Jangan marah! kamu hanya menuduh tanpa bukti, menduga-duga tidak jelas!"
Mita mulai luluh dengan jurus maut ucapan Hafi.Menyandarkan punggung di dada Hafi,lalu mendongak.
"Jika itu terjadi aku tidak lama-lama dan tidak akan memohon pada mu.Aku akan langsung pergi,dan semoga saja saat aku pergi ,aku juga sedang hamil,lalu kita pergi bersama.Kamu tidak akan aku ijinkan melihat dan tahu tentang anakmu!"
"Ya Tuhan,Ibu yang jahat!"
Cubitan di paha Hafi pun di berikan oleh Mita.Kedua nya mulai tersenyum kembali.
.
.
.
__ADS_1
To be continue