
"Ternyata yang aku kandung bukan anak ku tapi saingan ku"
Begitulah kata Mita beberapa menit yang lalu.
Mengetahui Hafi yang terus menempel di kedua anak nya, hingga Mita dibiarkan sendiri di atas ranjang rumah sakit yang tak seberapa luas itu.
Setelah memakan makanan yang di beri pihak rumah sakit,Mita tertidur pulas.Hanya sesekali terbangun untuk membuang air kecil.Hafi menjaga di sana,dan hanya dia.Karena semua sudah pulang.
Pagi hari,Mita sudah duduk dibantu oleh perawat.Mencoba mengasihi langsung,dan ternyata sudah bisa meski belum keluar banyak.Hafi masih tidur di ranjang sebelahnya.
Memangku baby girl terlebih dulu,Mita di buat terkesima akan ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa.Bulu mata yang sangat lentik,hidung mancung,bibir merah,rambut tebal,dan kulit yang putih.Memilin lembut telinga baby nya yang sangat mungil.Mita tersenyum sendiri saat bibir bayi nya bergerak meminum asi.
Sudah cukup,dan tertidur sekarang giliran mengasihi baby boy yang dari tadi sudah bergerak terus.Menggendong dan memangku nya,Mita menepuk kecil pantat mungil.
"Bunda menyayangi kalian!"
Mencium gemas kedua nya yang sudah tertidur,lalu Mita membangunkan Hafi yang sedang tidur.Membuka mata dan beranjak dari ranjang,Hafi tidak langsung ke kamar mandi melainkan mendekati dua anaknya.
"Minimal cuci muka dulu,kalau mandi saja kamu malas!" Hafi melirik menggunakan ekor matanya.
Perempuan di sampingnya dari setelah melahirkan hingga kini lagi di mode sensi.
"Aku hanya ingin melihat putra putri ku"
"Kita...".
"Iyaa...Kita!" Lalu kaki nya melangkah masuk ke dalam kamar mandi.Sebelum itu meraih handuk dan kaos yang sudah di siapkan oleh Mita.
.
.
.
Menjelang siang,ruangan Mita sangat ramai.Fandi,Ara,Inggira,dan Daffin berada di sana untuk melihat cucu dan keponakan.Sempat berebut dan tak mau kalah,Bahkan Fandi memangku ke duanya di tangan.
Ara sangat khawatir akan itu,takut sedikit saja tak diperhatikan jatuh.
"Hati-hati mas!"
"Aku sudah hati-hati,mana mungkin jatuh.Mereka tahu Opa nya bertubuh sixpack!"
Ara yang mendengar itu memutar bola matanya jengah.Kenarsisan nya tidak bisa dihilangkan sampai tua.
"Itu dulu,tiga puluh tahun yang lalu!"
__ADS_1
Mita hanya bisa menutup bibir nya menahan tawa.Lain dengan Daffin,dia bahkan terus memeluk Mita dan menyaingi Hafi di sebelahnya.
"Kenapa Daffin di situ terus?" tanya Ara.
"Daffin,takut Kak Mita tidak menyayangi ku dan Mina lagi karena sudah mempunyai baby twin!"
Seketika semua tertawa,Anak yang sudah mulai menginjak remaja itu dari awal jumpa sangat menyukai Mita,wajar jika dia merasa tersisih.
Inggira hanya senyum-senyum dan melihat semua nya bahagia.
"Aku kenapa terharu ya?"
"Kenapa?" Tanya Hafi yang menjatuhkan tubuh di samping adiknya.
"Kepergian Oma bahkan belum ada tiga bulan,tapi sudah digantikan malaikat kecil yang membawa bahagia.Apa aku nanti bisa seperti kak Mita? Mempunyai anak dan mereka masih sehat?"
Air mata menetes di pipinya.Obrolan mereka hanya bisa di dengar oleh mereka berdua.
Hafi meraih bahu adik perempuan nya lalu memeluk sayang.
"Doa kan saja Mamah dan Papah selalu di beri kesehatan.Dan yang lebih pentingnya lagi!"
Inggira menoleh ke kakak nya,yang menjeda ucapan.
"Apa?.." Wajahnya sudah masam dan mempunyai filling yang tidak enak.
Hafi menarik turunkan alisnya,tidak afdol jika tidak mengerjai adik perempuan satu-satunya.
"Apasih kak!" Inggira pun menyikut Hafi untuk menyingkir,bukan nya menyingkir tangan Hafi malah memeluk pinggang Inggi.
"Sudah ada belum? Mau aku carikan tidak? Ada tuh lelaki lumayan lah,tiap hari lewat depan rumah.Kerja nya ok sih wirausaha!"
"Siapa?"
"Penjual telor gulung kesukaan Daffin!" Hafi pun tertawa.
Plak!!
Seketika lima jari menempel di paha Hafi yang hanya tertutup kain celana pendeknya.
"Jangan begitu kak,penjual telur gulung juga menjanjikan"
"Iya makanya aku bilang,kau dengan nya saja.Nanti buka outlet telur gulung!"
"Iya nanti aku bicarakan dengan nya.Puas??!"
__ADS_1
Inggira pun berdiri menyingkir dari kakak nya yang suka meledek.
.
.
.
Hingga sore kamar rawat Mita masih ramai dengan keluarga,tak hanya itu.Datang nya beberapa rekan kerja Hafi juga membuat suasana makin riuh.
Beberapa kado juga memenuhi meja.Kabar Mita melahirkan menjadi ramai di kantor Brahmana,keturunan ke tiga keluarga Brahmana telah lahir.
"Sudah memiliki nama Fi?" Tanya Fandi pada Hafi.
"Sudah Pah!" Seketika Mita menoleh pada suaminya,dia tidak tahu jika Hafi sudah memiliki nama untuk anak-anak nya.Karena selama ini Hafi tidak pernah berbicara apapun.
"Siapa?"
"Nanti ya,jika kami sudah diperbolehkan pulang dan akan mengadakan syukuran!"
Fandi pun mengangguk,mengerti dengan keadaan Hafi.
Hingga mulai larut dan menjelang malam,semua nya pulang.Hanya Hafi dan Mita saja yang ada di sana.
"Mas,kamu kenapa gak bilang jika sudah mempunyai nama?"
Tangan Mita menarik lengan suaminya.Mendengar panggilan Mita yang baru,bibirnya tertawa.
"Jangan ikut-ikutan Galina,aku geli mendengar nya sayang!"
Mata Mita pun memicing melihat Hafi.
"Ya sudah Fi...Hafii..Hafi, Hafi..." Berulang kali Mita memanggil Hafi.
"Tidak seperti itu juga!" Hafi pun mendekati Mita yang setengah duduk di ranjang.
Memberikan secarik kertas yang berisi nama baby twin.Mita pun membacanya.
"Bagaimana,kau suka kan sayang?"
Mita mengangguk.Tidak menyangka dengan suaminya yang terkesan cuek namun menyiapkan segala nya untuk anak-anak.
.
.
__ADS_1
.
To be continue