
Sudah satu Minggu berlalu,seperti biasa.Di awali dengan sarapan pagi keluarga Brahmana.Kali ini sangat ramai di meja makan.Bertambah keluarga Allan yang sudah beberapa hari menginap tidur di sana.
Dua hari lagi ulang tahun Daffin,semua keluarga berkumpul.Berencana ingin merayakan dan mengundang anak panti asuhan.
Inggira di buat sibuk oleh adik kecil nya,karena meminta tema tema Marvel,segala upaya dia lakukan,menyewa kostum hingga puluhan juta.Tidak keberatan karena sudah terbagi sendiri-sendiri.
"Mah,beberapa hari ini kak Hafi tidak sarapan?!" Meski masih kecil tapi Daffin mengamati perubahan kakak nya.
Ara yang mendapat pertanyaan,bingung hendak menjawab apa.Beberapa hari yang lalu Hafi pulang hampir subuh dan dengan bau alkohol yang menyengat,hingga Ara melempar nya untuk tinggal di Appartemen sementara waktu.
Ara melirik kearah suaminya Fandi.
"Kak Hafi lagi di tugaskan kerja pagi hari sekali,jadi harus berangkat pagi-pagi" akhirnya Fandi lah yang menjawab.
"Tapi semalam Daffin ke kamar kakak juga belum pulang"
"Mungkin kerjaan nya banyak Fin,Kalau Daffin ingin di antar sekolah.Nanti kak Riza antar ya?"
Mengerti adik nya kehilangan Hafi yang sudah tiga hari tidak kelihatan di rumah,Riza pun mengalah dan membuka suara.
"Tapi masuk sampai kelas ya kak? Kak Hafi jika mengantar ku sampai depan kelas"
Riza sudah menduga itu,Hafi selalu menuruti keinginan Daffin.
"Iyaa,nanti kak Riza antar sampai depan kelas!"
Daffin pun tersenyum mendengar nya.
"Habiskan sarapan nya dulu nak,nanti baru ngobrol lagi!"
Ara selalu ingat dengan peraturan keluarga Brahmana saat dia menjadi menantu,tidak ada yang mengobrol saat makan.Tapi semenjak ada Daffin hal itu sering di langgar.
Tidak mungkin Daffin di marahin atau kena teguran oleh yang lain.
.
.
"Ayo angkat telfon nya Hafi!"
Ara bergumam,tapi She dan kedua anak nya mendengar dengan jelas.
Mereka sedang berkumpul di ruang tengah depan televisi.
"Sabar kak, mungkin dia masih tidur!"
"Tapi ini sudah siang She,sudah jam sepuluh.Dia juga harus bekerja,bukan begini cara nya jika patah hati!"
"Hah,kak Hafi patah hati?" Enzo yang sengaja pulang liburan karena tahu adik sepupu nya ulang tahun.
"Yang benar saja mah?Tidak mungkin kan dengan kak Sharena?"
Ara yang mendengar ,mengerut kan kening.
"Sharena?? Sharena siapa?"
"Mamah tidak tahu?Pacar kak Hafi sejak sekolah,dia adik kelas kak Hafi.Kakak tingkat ku di kampus,tahun ini menyelesaikan semester akhir dan sebentar lagi wisuda"
Sharena?lalu Mita? apa dia bermain-main dengan beberapa wanita sekaligus?
"Sudah lama Hafi berpacaran dengan nya Zo?"
"Sebelum aku sekolah di sana kak Hafi sudah menjalin hubungan jarak jauh dengan nya satu tahu nan.Kalau tidak salah!"
"Jangan sok tahu Enzo! Nanti kamu di serang kak Hafi jika salah!" Kali ini Yilmaz yang selalu mengingat kan kebobrokan mulut adiknya,tidak bisa menyimpan rahasia.
__ADS_1
Enzo pun mengedikan bahu kepada Yilmaz.Menandakan terserah jika tidak percaya.
"Enzo, Yilmaz Mommy dan Mamah ingin membicarakan sesuatu.Bisa tidak kalian jangan di sini?!"
Enzo menghela nafas kasar,sudah biasa di usir tiba-tiba.Yilmaz yang sudah berdiri menarik tangan Enzo untuk pergi dari sana.
"Ada apa sebenarnya kak?"
"Ceritanya panjang She,Hafi berubah sangat signifikan semenjak Mita pergi dari hidupnya beberapa hari yang lalu.Aku bingung!"
Ara menopang keningnya di tangan.
"Daffin ulang tahun dua hari lagi,jika kakak nya yang paling di sayang tidak hadir pasti dia kecewa!"
"Bagaimana jika kita ke Appartemen saja kak,kemungkinan Hafi belum bangun"
Ara mendongak dan memandang She lekat,wanita itu pun mengangguk setuju.
.
.
Hafi yang masih tidur tengkurap dan selimut yang masih menutupi tubuhnya.Tidur hanya menggunakan celana boxer saja,sudah menjadi kebiasaan nya.
Gorden masih tertutup rapat,tangan nya berulang kali meraba meja di sebelah ranjang nya untuk mematikan alarm di ponsel.
Beberapa panggilan telepon di abaikan,Hingga bel berbunyi berkali-kali baru dia pelan-pelan membuka mata.
"ahysss!! Siapa pagi-pagi sekali mengganggu!"
Terpaksa menyingkirkan selimut dan kaki nya turun dari ranjang.Tanpa melihat monitor Hafi membuka pintu.
"Maa..."
"Kakak!!" Tubuh kecil Daffin menerjang,Hafi pun dibuat terkejut oleh nya.
Hafi mengucek mata nya.
"Daffin!ke sini dengan siapa.Dan siapa yang memberitahu mu kakak disini?"
Hafi melihat orang di depan nya.
"Oh,maaf Pak bukan saya.Saya hanya akan mengantar dan mengambil kembali laundry.Tapi anak kecil ini meminta bantuan untuk menemaninya di sini!"
Seorang lelaki muda yang bertugas mengantar dan mengambil pakaian kotor.
"Sebentar ya!"
Hafi menggandeng tangan Daffin untuk masuk,dan dia keluar menenteng tas berisi pakaian kotor untuk diberikan kepada pemuda di depan sana.
"Terimakasih Pak"
Hafi hanya membalas dengan anggukan saja.
.
.
"Daffin, Daffin dengarkan kakak dulu!"
Bocah kecil itu sedang meloncat-loncat di ranjang karena sangat senang bertemu dengan kakak kesayangan.
Mendengar kakak nya memanggil Daffin pun diam menghentikan aksinya.
"Daffin ijin dengan Mamah kalau ke sini?"
__ADS_1
Daffin hanya diam tak menjawab,bola matanya terus bergerak melihat Hafi.
"Kamu tidak bilang kan? Nanti kakak yang kena marah mamah Fin,jika kamu seperti ini!"
Hafi mendudukkan pantat nya di sebelah Daffin.
"Daffin sudah lama tidak bertemu kak Hafi,kata mamah kakak bangun siang tidur malam.Tapi semalam Daffin ke kamar, tidak ada kakak disana"
"Lalu,Daffin tahu kakak di sini dari siapa?"
"Pak sopir! Katanya kakak pergi ke sini memakai motor karena tidak mau membawa mobil!"
Hafi yang sudah pusing sejak beberapa hari lalu semakin di buat pusing lagi oleh kedatangan Daffin.
"Ke sini dengan Pak Sopir?"
Daffin menggeleng
"Dengan siapa?"
"Taxi sendiri,di kotak pensil ku ada alamat rumah,alat Appartemen,kantor papah dan juga nomor telpon kakak-kakak"
"Astaga Daffin!!! Taxi nya sudah dibayar?"
"Sudah,Daffin punya uang" Anak itu turun dari ranjang,Hafi hanya melihat gerak geriknya saja.Daffin meraih tas yang ada di sofa.
Membuka resleting di sisi samping,kemudian melihat kan kepada Hafi.
"Uang Daffin banyak,kalau hanya untuk naik taxi Daffin bisa membayar sendiri"
Hafi yang melihat itu,membuka lebar resleting dan mengambil uang dari sana.Banyak pecahan uang kertas berwarna hijau dan biru.
Setau Hafi, Daffin tidak pernah diberi uang jika sekolah,hanya bekal dan cemilan yang selalu Inggira atau art nya siapkan.
"Uang dari mana ini Daffin?"
"Dari kak Yilmaz,dan kak Enzo.Ada juga dari hadiah karena aku rajin menjawab pertanyaan Ibu Guru"
Mendengar ucapan adik nya,Hafi terkejut.Pria itu sampai tertawa di buat nya.
Tidak menyangka guru Daffin juga menggunakan metode seperti itu.
"Kak,sebentar lagi aku ulang tahun,kakak pulang ya.Kak Inggira sudah menyiapkan semua nya"
"Oiya,maaf kakak lupa.Ingin hadiah apa dari kakak?"
Mulutnya bicara pada Daffin,tapi tangan nya mengutak atik benda pipih berlayar sentuh milik nya.
Mengabari dan mengirim pesan untuk mamah nya bahwa Daffin di Appartemen bersama nya.
"Aku tidak ingin sesuatu"
"Terus apa?"
"Daffin ingin, kak Hafi membawa kak Mita dan adik Mina datang ke ulang tahun besok!"
Dada Hafi bergemuruh mendengar nama yang beberapa hari ini sulit dia hilangkan dari fikiran nya.Nama yang selalu menghantui nya.Hingga Hafi tidak mengontrol diri.
Setiap hari club bersama teman,kerjaan semua dia tinggalkan.Hanya ke kantor pada saat jam sudah mulai usai dan keluar saat malam tiba,bukan langsung istirahat tapi menghabiskan waktu di club' malam.
.
.
.
__ADS_1
to be countinue