
Mandi malam hari memang tidak dibenarkan,namun akan menjadi tidak baik pula jika tidak mandi.
Selesai mandi,Mita keluar menggunakan Badrobe,dengan rambut yang basah,dan handuk di tangan nya untuk mengeringkan rambut.
Mata nya mengelilingi ruangan kamar,dan tak ada siapapun di sana,hordeng melambai seperti terkena angin.Tanpa ada suara kaki nya melangkah ke luar.Tersenyum melihat Hafi di ujung sana.
Riza yang tahu Mita mendekat,langsung memalingkan wajahnya.
"Istrimu di belakang Fi!".
Hafi langsung menoleh kebelakang,melihat Mita yang menggunakan Badrobe tanpa dalaman,ujung gundukan nya terlihat menonjol.
Menangkup tubuh Mita "Ngapain keluar? Ada Riza disana,kau tidak pake dalaman,nanti terlihat!"
Menyadari itu Mita menangkup dada nya dengan kedua tangan nya.
Mita dituntun Hafi masuk kamar kembali.
"Kamar ini dan kamar Riza berdekatan?"
Hafi mengangguk "Jadi, aktifitas kita dia bisa mendengar nya?"
"Entah!" Hafi mengedikan bahunya.
Mita berfikir jika kamar Riza setelah kamar Hafi,dan disebelah hanya ruangan kerja.Nyata nya semua itu hanyalah dugaan Mita saja.
.
.
Hafi yang sudah mendengkur dan bermimpi.Sementar Mita masih terjaga,sudah membolak balikan posisi tetap saja tidak bisa tidur dan nemejam kan mata.
Alih-alih matanya yang tidak bisa kompromi,perutnya berbunyi.Melewati makan malam membuat dirinya merasa sesuatu di dalam sana meminta untuk di isi.
Berhati-hati turun dari ranjang,memakai bolero untuk menutup pi lengan yg terbuka,Mita membuka pintu kamar dan keluar dari sana.
Turun dengan menggunakan tangga.ingin memakai lift tapi takut jika suatu waktu mati.Dapur adalah tujuan nya.
Membuka lemari es dan lemari stok persediaan makanan.Nasi saja sudah habis,tidak ada yang tersisa.
Ada satu kotak kecil susu putih,dengan terpaksa Mita menuang di gelas,dan perlahan dia meminum nya.Baru beberapa tegukkan,susu nya kembali lagi tak bisa tertelan.
Tidak hanya itu, berkali-kali mengeluarkan di wastafel.
"Mita?!"
Mita hanya melirik dan langsung memeluk nya. "Aku laper,jadi aku coba meminum susu hasilnya gak bisa masuk karena aku tidak suka susu putih"
"I-Iy..."
"Maaf tidak membangunkan..."
"Mitaa??!!!" suaranya sangat lantang seperti memergoki seseorang.
Mita mengurai pelukan,dan menoleh ke orang yang memanggil nya.Pegangan jemarinya di kaos Riza terlepas berganti menutupi mulut nya.
"Fi... Aku ingin menjelaskan tapi tidak sempat,Mita terus bicara!"
Mita menghampiri Hafi yang sudah sampai di tangga undakan terakhir.
"Maaf,aku benar-benar tidak tahu.Lampunya kurang terang!!"
__ADS_1
Hafi masih diam memandang istrinya.
"Mita mual dan muntah beberapa kali Fi" Riza memberitahukan pada Hafi.Namun tetap saja mata elangnya menatap Mita tajam.
"Kalian janjian?!"
"Tidak!" Riza dan Mita bersama menjawab.
"Lalu kenapa bisa bersama disini?!"
"Tidak tahu!" lagi-lagi mereka menjawab bersama.
Riza mendekati Hafi untuk menjelaskan apa yang mereka lakukan.
"Stop Za!! aku ingin dengar dari Mita sendiri!"
Mita,matanya sudah mengembun tatkala melihat Hafi yang sudah menatap nya tajam,rahangnya mengeras.
"Lampunya tidak terang,aku kira kamu.Aku minta maaf!"
Dada Mita sudah naik turun,takut jika Hafi tidak percaya dengan nya.
Hafi pun berbalik badan "Lain kali bisa bangun kan aku dulu bukan?!".
Kakinya menaikki tangga demi tangga meninggalkan Mita.Air mata yang ditahan pun akhirnya menetes.
Mita menoleh ke Riza,namun hanya dibalas dengan isyarat dagu untuk mengejar Hafi.
.
.
Hingga pagi menjelang,Mita terbangun tanpa tangan Hafi yang biasa nya melingkar di perut nya,hembusan nafas Hafi yang biasa dia rasakan di belakang leher.
Bukan bangun dan melakukan kegiatan yang lain,Mita menarik selimut kembali dan memejam kan mata dengan posisi saling membelakangi.
.
.
"Mah nanti tolong bilang ke Mita,tidak usah berangkat kerja.Pengajuan Resign sudah di email kan oleh Ricko!"
Pagi-pagi sekali Hafi sudah rapih,menuruni tangga,menenteng tas nya.
Ara yang tahu anak nya sangat lah rapih di pagi hari,dibuat heran.Padahal waktu masih menunjukan pukul enam lima belas.Tapi Hafi sudah bersiap ke kantor.
"Gak salah?Ini jam berapa Fi?!"
Tangan nya membenarkan kancing di lengan.
"Gak mah,titip jagain Mita ya mah.Dia masih tidur!"
"Kamu tidak pamit ke Mita atau sarapan dulu?"
Hafi menggeleng "Aku buru-buru mah! Ricko sudah menunggu di depan!"
Ara terkejut dengan ucapan anak nya,dari tadi tidak mendengar suara mobil masuk pintu gerbang.Langkahnya berjalan ke depan.
Ricko yang di sebrang sana membungkuk,tahu bos besar nya melihat dari depan pintu.
Hafi berlalu begitu saja,melewati Ara.
__ADS_1
Tumben sekali tidak turun dengan istrinya.Kenapa dia?
.
.
Mita terbangun saat matahari sudah tinggi, ruang kamar nya masih terlihat sedikit gelap karena Hafi tidak membuka jendela.
Merasa kehilangan seseorang di sebelah nya,Mita mencari ponsel.Dia lupa jika ponsel nya belum di ganti oleh Hafi.Mencari Hafi ke toilet dan ke lantai bawah.Padahal masih memakai piyama dan sama sekali belum mencuci muka.
"Mbak, Hafi dimana ya?"
Art yang sedang bersih-bersih di sana menengok pada Mita.
"Oh,sudah pergi pagi-pagi sekali Non!"
"Ya sudah mbak terimakasih"
"Sama-sama Non!"
Dada nya sesak,suami nya masih marah perkara Mita yang salah peluk.
Akhirnya Mita kembali lagi ke kamar,mood nya sedang tidak baik.Melihat jam sudah menunjukkan jam delapan lewat.Untuk kerja pun dia sudah telat.
Memutuskan untuk membersihkan diri lalu akan ke perusahaan.Menghadap bos nya untuk meminta maaf karena terlambat.
Beberapa puluh menit berlalu,Mita sudah siap.Memesan ojek online untuk pergi ke perusahaan.
Entah kenapa pengawal dan security di rumah itu sama sekali tidak ada di pintu gerbang, Ara yang di titipin pesan oleh Hafi pun sedang keluar sebentar.
"Awww!!!..." Berhasil menghindar dari pemotor yang akan menabrak nya.Mita terjatuh di depan pintu gerbang.
Menunggu Ojek online yang tak kunjung datang,beruntung mobil Ara tepat waktu datang,Wanita yang sudah tidak muda itu tersadar jika meninggalkan Mita sendiri di rumah sementara diri nya mengantarkan Ibu Dalilah ke rumah sakit untuk kontrol.
Ara menekan klakson panjang dan turun dari mobil,para pengawal berhamburan datang.
"Tidak papa Mita?"
"Kaki ku sakit mah!"
Ara memeriksa kaki menantu nya.Tidak ada luka yang berarti.
"Coba di gerakkan!"
"Sakit mah!"
"Astaga, seperti nya terkilir.Biar seseorang mengangkat mu!"
Mita menggeleng "Tidak mah!! Mamah saja yang membantu ku berdiri!"
Ara mengerutkan keningnya "Mita takut Hafi mengetahui dan dia akan lebih marah dengan ku!"
Ara pun membulat kan mata nya "Jadi kalian sedang?.."
"Itu salah ku mah,nanti aku ceritakan!"
Tangan Mita terulur, Ara dengan pelan memapah menantu nya.
.
.
__ADS_1
.
to be continue