TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 84 Pengawal di depan kamar.


__ADS_3

Terperangah dengan resi pembayaran yang sudah Ricko lakukan sebelum nya.Langsung membayar di muka hingga dua bulan atau enam puluh hari kedepan.


Mita mengambil kertas yang ada di laci,lalu mulai membaca.Benar apa kata suaminya,semua fasilitas di sana sangat memadai.Dengan nominal tujuh angka hanya satu hari menginap,bagaimana jika enam puluh hari.


"Kenapa tidak menyewa rumah saja?"


"Apa?" Hafi mendekat dan duduk di belakang Mita.Melihat selembar kertas yang istrinya pegang,lalu merebut nya.


Diapun membaca sekilas lalu di letakkan kembali di nakas,tangan nya merogoh ponsel di saku depan celana jeans.


"Ini yang kami bayar sebenarnya sayang,itu harga sebelum di diskon!"


Mita melihat itu "Tapi kenapa di faktur berbeda,lalu untuk di laporkan ke perusahaan bukan kah yang faktur?"


Hafi mengangguk "Yang dilaporkan hanyalah milik Ricko,milik kita tidak karena pribadi"


Mita menghela nafas "Syukurlah!"


Hafi terkekeh mendengar gumaman Mita.


"Itu sama saja, Brahmana yang membayar nya sayang!"


"Paling tidak,tidak membebankan istrimu ini ke perusahaan papah!" Mita mulai merebahkan tubuhnya di ranjang,dengan bersandar bantal yang di tumpuk.


"Kamu kan bekerja di sana,jika kamu banyak uang itu karena bekerja,bukan ambil fasilitas karena kamu anak Papah!"


Hafi ikut merebahkan tubuhnya "Ya terserah lah!"


"Jangan ikut di sini!!! Sebentar lagi kamu berangkat,pasti tidak lama Ricko menelfon dan kemari sayang!!" Mita mendorong lengan Hafi untuk tidak ikut merebahkan tubuhnya.


"Bilang apa tadi,aku ingin mendengar nya lagi!"


"Apa?..." Alis mata Mita terangkat sebelah.


"Ulangi tadi!"


"Jangan seperti ini, sebentar lagi Ricko kemari menjemputmu!"


Hafi menggeleng "Selain itu,yang terakhir tadi kamu memanggil ku apa?"


Mita tersenyum tipis, berpura-pura lupa dan tidak tahu.


"Tidak ada,terserah lah mau bangun atau tidak!" Mita menyerah dan melempar kembali tubuhnya di ranjang.


Hafi mengganti posisi dan berbalik ke belakang.Lengan nya melingkar di perut Mita.


"Kenapa harus ada tamu bulanan sih?" dirinya bertanya pada Mita.


"Ya perempuan memang begitu kan..?"


"Untung di sini lama,dan aku masih sabar untuk tujuh hari lagi!"


Mita mendengar itu,dan masih di peluk Hafi hanya melihat sekilas wajah suami nya lalu menyalakan televisi.


"Sayang!"


"Hemmm,," hanya deheman saja Mita menjawab.


"Boleh tidak aku meminta?..."


Mita mengerutkan keningnya,dia tahu.Hanya saja pura-pura tidak mengerti.


"meminta apa?"


Hafi berdehem dan meletakkan tangan nya di salah satu gundukkan milik Mita.


"Aku sedang halangan,dan juga sebentar lagi kamu menghadiri undangan!"

__ADS_1


"Sebentar saja!"


Mita beranjak,berdiri di sebelah ranjang dan berkacak pinggang.


"Tidak ada sebentar-sebentar,meski aku sedang berhalangan.Aku tahu kamu akan menggunakan cara lain dan memaksa,tidak mungkin sebentar! Sekarang sebelum menjadi sangat tinggi,bangun dan bersihkan diri lalu bersiap!"


Tangan Mita meraih pergelangan tangan Hafi,dan sekuat tenaga menarik tubuh suami nya yang besar dan tinggi.


Mendorong hingga masuk ke dalam kamar mandi,Mita menutup pintu dan menghela nafas.


"Anak Bapak Fandi Brahmana berat juga!" Dia pun tertawa terbahak sendiri.


.


.


.


Outfit nya sesuai dengan Istri yang menyiapkan 🤭



Selesai bersiap,Hafi sudah di lantai dasar dan tak lupa, Ricko yang selalu bersama nya.


"Oia Ricko, terimakasih untuk penjaga nya.Kau dapat darimana orang itu?"


"Dari badan intelijen pemerintahan Pak.Mereka sudah biasa di tugaskan untuk pengawalan jika ada tamu negara"


Hafi pun mengangguk.Sudah memasuki mobil kedua nya langsung menuju Restauran berbintang lima di kota itu.Tidak lama dan hanya membutuhkan waktu lima belas menit karena harus putar jalan.


.


.


.


Mita yang sedang di kamar sendiri.Merasa lapar dan ingin memakan makanan yang berat.Membuka pintu kamar tubuhnya terperanjat.


"Maaf Nona,saya ditugaskan Pak Ricko untuk menjaga anda dan diperintah Pak Hafi untuk melarang anda keluar dari kamar!"


"Tapi saya Lapar! Hanya ingin kebawah memesan sesuatu.Sebentar!!"


Pengawal itu tetap bersikap dingin dan tidak bisa ditawar.


"Pesan lah menggunakan telfon wairless yang ada di dalam.Maaf!" Menundukkan sebagian tubuhnya.


Mita pun mengalah dan akhirnya masuk lagi.


Menaikki ranjang dan mengirim pesan pada suami nya.


Kenapa tidak bilang di depan ada pengawal? Aku lapar ingin makan!!!


Ponselnya di letakkan di lipatan tangan,wajahnya sudah berubah mendadak lesu.


Triing,pesan masuk.


Pesan lah dengan telfon di dalam kamar,disana ada kode semua fasilitas!


Ternyata jawaban Hafi sama dengan pengawal di depan.


"Pasti tuh orang raksasa ngadu ke Hafi!" gumaman Mita yang hanya terdengar oleh dia sendiri.


Dengan terpaksa Mita memesan dengan menggunakan wairless di dalam.


"Maaf nyonya,di restauran kami tidak ada makanan yang anda maksud"


"Lalu ada nya apa?"

__ADS_1


Seseorang disana pun menjelaskan.


"Ya sudah nasi dan ayam bakar saja,jangan lupa sambal nya!"


Wairless pun di tutup oleh Mita.Tak menunggu lama, pintu di ketok.Mita pun membuka nya.


"Sebentar,saya cicipi dulu demi keamanan!"


Lagi-lagi pengawal di depan membuat Mita terkejut.Mengambil sendok dan menyicippi makanan Mita dengan mengambil satu cubit daging ayam menggunakan sendok.


Bukan hanya ayam,nasi nya pun dia cicip.


"Letakkan di sini,biar bos saya yang membawa ke dalam.Anda tidak boleh masuk!"


Mita menghela nafas,dan memutar bola mata nya.Kelakuan pengawal yang suami nya pesan benar-benar membuat dirinya terkesima.


"Awas saja kamu nanti kalau pulang Hafi!!"


Kebanyakan perempuan merasa di ratukan jika diperhatikan seperti itu,lain dengan Mita.Dia merasa risih dengan pengawal di depan kamar nya.


.


.


.


Pilihan nya tepat.Tidak membawa Mita di pertemuan para Pengusaha muda adalah pilihan paling benar bagi Hafi.


Dunia ini tidak sekecil daun kelor nyata nya hampir mirip.Ameer - Dion,mata Hafi melihat itu.Tidak bisa dibayangkan lagi jika tadi istrinya ikut.


Aku bisa panas terus di dalam sini.


Dan lagi,Hafi mengenali seseorang di sana.Marvin dan Papah nya.


Benar saja,dia pasti akan menggunjing istriku.


Bukan hanya mereka berdua,yang terkini dan sangat fresh Vito dan beberapa anak buahnya.


Pilihan ku meletakkan Mita di kamar adalah sangat benar,karena aku tidak mau dia terluka sedikit pun di sini!!!.


Menundukkan kepala Dion bertemu dan bertatap muka dengan Hafi.


"Selamat malam Pak,Senang bisa bertemu dengan mu kembali!"


Hafi tersenyum "Senang bertemu dengan Anda kembali!"


Dion melirik dan seperti mencari sesuatu,namun yang dia temukan hanya Ricko di sebelah Hafi.


"Maaf,kabar Mita?.."


"Istriku baik-baik saja" Masih dengan mode waspada


"Syukurlah,Tapi kenapa tidak ikut kemari?"


Hafi mendengar nya,seketika fikiran nya mengarah kemana-mana.


"Iya.Saya rasa itu bukan urusan mu" Hafi menjawab seenaknya.


"Oh maaf jika pertanyaan ku membuat anda tidak nyaman!"


Dion pun melangkah pergi dari hadapan Hafi.Undangan semakin malam semakin ramai.Dinner pun sudah di lakukan oleh mereka.


Semua memang kebetulan,Hafi dan Dion duduk dalam satu meja yang sama.Mata Hafi memicing saat Dion bermain ponsel dan terus tersenyum.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2