TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 65 Obrolan Kantin


__ADS_3

Menghirup udara dalam-dalam, beruntung cuaca sangat indah dan belum terkena polusi.Pagi sekali Hafi dan Mita sudah mengantri di apotek terdekat dengan rumah sakit.


Keadaan Mita membaik setelah di tangani oleh dokter.Kandungan nya tidak terjadi apapun karena hanya pendarahan biasa karena terlalu capek.


Hanya darah dan tidak ada apapun selain itu yang keluar.Dan hanya kram,suhu tubuhnya normal,dan tidak nyeri.Dokter memberikan infus yang sudah di suntik cairan obat sebagai penguat.


Mita di bolehkan pulang setelah beberapa jam istirahat dan tertidur di IGD.


Meletakkan kepalanya di bahu Hafi,jemari mereka saling menggenggam erat.


"Aku lapar.." Mita bergumam dan Hafi mendengar itu.


"Mau sarapan apa?"


"Bubur ayam Jawa..."


Hafi menoleh "Memang ada yang begitu?"


Mita mengangguk "Ada banyak,nanti ya kalau kita pulang beli di pinggir jalan!"


"Tapi makan di rumah ya?"


Mita pun mengangguk,dia sadar diri dan tahu.Hafi tidak akan mau di paksa makan di pinggir jalan,terlebih pagi-pagi sekali.


Sudah mendapatkan obat yang di resepkan oleh dokter,dan sudah mendapat bubur ayam Jawa dengan kecap dan semua isian nya di pisah.Membuat Hafi hampir emosi di kios bubur itu.


Alhasil Mita yang merengek meminta nya pun tertidur di mobil dan tidak bangun padahal sudah beberapa kali suaminya memanggil.


Memasuki pintu gerbang rumah, asisten rumah tangga yang membantu Ara memasak di buat terkejut dengan bunyi mobil.


Ara pun keluar dari dapur dan melihat ke depan.Bukan hanya Ara.Fandi,Daffin dan Riza yang baru selesai jalan-jalan di komplek menatap mobil Hafi.


"Hafi?.." Riza dan Fandi bersamaan memanggil.


Ara yang di ambang pintu menajamkan mata melihat jika dia tidak salah lihat.


Keluar dan berjalan ke pintu sebelah nya,Hafi membuka lalu menggendong Mita yang sudah tidur.Daffin pun mendekat.


"Fin,tolong kakak.Tutupkan pintunya!" Daffin pun menurut ti ucapan kakak nya dan menutup pintu mobil.


Melangkah dan diiringi Riza dan Fandi di belakangnya,bibir Hafi mengerucut mengisyaratkan untuk tidak berisik.Ara memberi jalan,Hafi pun masuk melewati Mamah nya.


"Fii?.."


"Nanti Mah,Hafi jelaskan!"


Meletakkan Mita di kamar,Hafi turun kembali mengambil kantong kresek di mobil nya dan menyerahkan pada mbak Sri.


"Itu obat Mita dan bubur ayam nya,nanti kuah nya di panaskan lagi,namun jangan diberikan ke Mita dalam keadaan panas,jangan di mix dulu karena takut Mita marah.Dan Tolong mbak Sri tetap di depan Mita saat dia meminum obat nya!"


Mbak Sri pun mengangguk mengerti dengan ucapan bos nya.


"Kamu darimana?"


Hafi berjalan dan dibuntuti oleh Mamah dan Papah nya.


"Rumah sakit!"

__ADS_1


"Siapa yang sakit?"


Mereka bagaikan sudah di briefing,bertanya bergantian.


"Mita Mah Pah.."


Hafi membuka lemari es dan mengambil satu tangkai dengan beberapa butir anggur.


"Mita kenapa dan kapan kalian ke rumah sakit?"


"Mita kram dan pendarahan,kami tadi malam ke rumah sakit,aku ingin membangunkan Mamah,tapi di cegah oleh Mita "


"Lalu sekarang bagaimana?"


"Alhamdulillah,sudah baikan dan tidak harus di rawat inap.Dokter membolehkan kami pulang!"


Mengambil air di tangan Riza.Mereka sudah biasa seperti itu.Duduk di sebelah Daffin.


"Bersiap dek,sebentar lagi jam enam.Kamu sekolah bukan?"


Daffin hanya mengangguk kan kepala.


"Kak,aku akan mempunyai adik lagi ya?"


Hafi tersenyum dan mengangguk kan kepala pada Daffin "Mina dan yang di perut kak Mita"


"Maafkan Mamah yang tidak bisa menjaga Mita ya Fi?" Tiba-tiba Ara mendekati anak lelaki nya dan memeluk lengan Hafi,drama permelow'an nya di mulai.


"Tidak apa-apa mah,harus nya aku yang lebih intens menjaga nya.Bukan kerja terus! Iya kan Za?!"


"Terserah!!! Aku atau kamu yang kerja itu sama saja.Kamu kerja untuk semua,tidak ada yang membedakan,tidak ada kerja ku untuk ku,dan kerja mu untuk mu.Semua sama!"


Ara dan Fandi merasa bangga mempunyai anak yang tidak pernah egois,dan saling melengkapi.


.


.


.


Hari ini Hafi sengaja hanya berkunjung ke kantor,di sana sudah ada Inggira dan Riza.Inggira pagi-pagi sekali karena ingin mengecek beberapa proyek pekerjaan baru.


Menyerahkan sementara pekerjaan nya,Hafi merasa beruntung mempunyai saudara seperti mereka.


"Kak ..." Inggira memeluk Mita dan mencium pipi kakak ipar nya.


"Kakak jadi ikut kak Hafi ke lapas?"


Dan hanya di jawab anggukan oleh Mita.


"Adek bayi sudah tidak apa-apa?" Inggira mengusap lembut perut Mita,begitu juga dengan Mita.


"Sudah tidak sakit,mungkin karena kemarin aku terlalu capek dan juga terkejut yang berlebihan.Lagipula aku senang bisa melihat Oma sebahagia itu!"


Mereka sedang di lobby,kebetulan Inggira yang ingin keluar memesan sesuatu di kantin lantai dasar.


Serombongan orang datang,dan Hafi tahu siapa itu.

__ADS_1


"Nggi,ajak kak Mita ke kantin dulu!" Inggira pun mengangguk.


"Sayang,ke kantin bersama Inggira dulu nanti aku menyusul!" Mita mengikuti ucapan suaminya.


Bergandengan dengan Inggira,dan berpapasan melewati serombongan orang yang masuk ,sementara dirinya akan keluar.


Sepasang mata melihat Mita dengan tatapan yang teduh dan menyunggingkan senyum.Hingga pria itu menoleh kan kepala sampai Mita dan Inggira tak terlihat lagi.


"Selamat siang Tuan?" Mereka pun berjabat tangan.Saling menyapa dan bertanya kabar karena lama tidak berjumpa.


.


.


.


Memesan salad non mayo dan jus buah naga,sedangkan Inggira memesan bakso dan es jeruk kesukaan nya.


Mereka berdua sudah menghabiskan banyak gorengan yang ada di meja.


"Kak Mita,coba ceritakan pada ku kenapa awal mula kak Hafi menganggap kak Mita itu janda?"


"Karena Mina memanggil ku Unda,dan Kakak mu tidak tahu jika Mina itu keponakan ku!"


Mita meraih gelas di depan nya dan meminum beberapa tegukkan.


"Oiya Inggi,aku ingin bertanya sedikit sensitif boleh?"


"Apa..?" Inggira mengerutkan keningnya.


"Selain Sharena,apa sebelumnya kak Hafi memiliki kekasih?"


Inggira menutup mulutnya,hampir saja tersedak kuah bakso.


"Kak Hafi dan Kak Riza selalu menyukai orang yang sama,dari dulu! Dan itu membuat kak Hafi mengalah terus karena kak Riza adalah kakak pertama."


Mita masih memperhatikan adik ipar nya bercerita,mendengarkan cerita suami dan saudara kembar nya.


"Tapi setelah mereka bekerja,mereka sadar itu sia-sia dan tidak ada yang jadi satupun.Lalu datanglah kak Mita.Mereka sempat merebutkan kak Mita juga!"


"Aku??..."


Inggira mengangguk "Kak Mita tidak tahu?"


Mita menggelengkan kepala "Jangan bilang kak Riza menyukai ku Nggi?"


"Tapi itu benar kak,hanya saja kak Riza menahan nya karena kakak istri kak Hafi!"


"Ya Tuhan.. " Wajah Mita berubah.


"Tenang saja kak,kakak ku tidak akan membuat masalah hanya karena soal perasaan.Tapi menurut ku itu sangat menyenangkan.Kak Riza juga bisa membantu kak Hafi menjaga mu!"


Mita speechless dengan ucapan Inggira,pantas saja beberapa kali Mita melihat Riza yang mencoba mencuri menatap dirinya.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2