
Kali ini Hafi membuat permainan dengan Mita.Duduk saling berhadapan di meja yang hanya berukuran lebar enam puluh senti.
Menghabiskan waktu dengan cara seperti ini adalah jalan keluar yang Hafi fikirkan setelah makan dan pekerjaan nya selesai.
Menggunakan botol sirup bekas untuk memutar giliran.
"Jika bagian ujung menunjuk ke arah mu,maka harus menjawab pertanyaan!"
"Ok!" Tanpa mengerti jelas dia menjawab asal.
Botol pun diputar oleh Ara.Wajahnya mendadak masam karena ujung botol berhenti di dirinya sendiri.Melihat itu pun Hafi terbahak.
Jari telunjuk nya mengetuk ke meja,berfikir sejenak untuk mendapat pertanyaan yang pas untuk Mita.
"Apa yang membuat kau bertahan hingga sekarang?"
"Ah,pertanyaan gampang! Ibu dan Mina!"
Hafi tersenyum,Mita memutar kembali botol sirup itu.Untuk kedua kalinya berhenti di dirinya.
Merasa seperti buah simalakama,Mita mengerucutkan bibir nya kesal.Hafi masih terus tersenyum dengan Mita yang selalu terjebak dengan putaran nya sendiri.
"Aku atau Ibu?"
"Ibu!!" Langsung terjawab tanpa berfikir.
"Pertanyaan mu aneh,mau dibandingkan dengan seluruh dunia,aku tetap memilih ibu!"
Mita tertawa terbahak,Hafi senang melihat wanita di depan nya tertawa bahagia.
"Sekarang kamu saja yang memutar nya!"
Hafi mengedikan bahunya,dan mulai memutar.Ujung botol berhenti,Hafi mengulum senyum.Lagi-lagi Mita yang mendapatkan nya.
"Ahsss!!!... kenapa selalu aku yang dapat?"
Mita menghela nafas panjang.Memegang botol,membolak balikkan,dan mengocok nya.
"Maksud nya apa,diseperti itu kan?"
"Aku takut kau curang!Bisa saja kan ini botol kau madukki magnet di dalam nya.Hanya aku yang di sini memakai benda logam!"
Hafi berdecak "Menuduh tanpa bukti itu juga kriminal!"
"Kecurangan yang terbukti juga kriminal!" Mita tidak mau kalah dengan Hafi!
Hafi tersenyum "Cari saja!!! Kalau ada aku siap di penjarakan... Dipenjarakan di hatimu!" Hafi tergelak tertawa terbahak dengan ucapan nya sendiri.
"Dih...!" Mita menyebikkan bibir.Ucapan Hafi barusan seperti gombalan ABG pada umum nya.
"Berlebihan!"
"Biarkan saja!"
Hafi merebut botol kembali,dan meletakkan nya di meja.
"Ok,anggap saja yang tadi aku baik hati tidak memberi pertanyaan!Kita ulang lagi,aku yang memutar nya!"
Tangan Hafi memutar botol dan berhenti.
"Kenapa aku lagi sih? Bener-bener nih botol gak bisa diajak bestie an!"
Mita menyelentik botol di depan nya.Kelakuan nya di perhatikan oleh Hafi.
"Memang sudah takdir mu!"
"Ini bukan takdir,tapi emang apes!" Menaruh wajah nya di meja,Mita sudah pasrah dengan permainan itu.
"Ok.. dua kali,berikan aku pertanyaan dengan cepat!"
Mita,secara tidak langsung menantang Hafi.Lelaki itu pun menyeringai mendengar ucapan Mita.
"Ehekmmm...." Hafi berdehem untuk mulai bicara.
__ADS_1
"Cinta atau sahabat?"
"Sahabat!"
"Aku atau Dion?"
"Aku!"
Hafi mengerutkan keningnya
"Maksud mu?... Kau menganggap ku sahabat?"
"Hah?? Bukan kau bicara "aku atau Dion?" aku jawab aku,aku yang berarti diriku sendiri maksud ku!"
Hafi lesu mendengar nya "Apa aku harus memberi pertanyaan 'Hafi atau Dion?'.Lalu jika itu pertanyaan nya,apa kau akan menjawab Hafi sebagai kata ganti aku?"
"Tergantung" Mita menjawab enteng.
"Tergantung bagaimana?"
"Aku memilih mu dalam hal apa dulu?"
"Ok.. ulangi saja.Cinta atau sahabat?"
"Sahabat!"
"Hafi atau Dion?"
"Dion!"
Hening.. kedua nya saling menatap,Hingga Mita tersadar dan melebar kan mata nya.
Hafi menyeringai tipis.
"Kau menganggap Dion sahabat dan Aku cinta mu kan?"
"Mana bisa begitu?!"
"Buktinya kau memilih Dion,jika cinta atau sahabat kau memilih sahabat,berarti antara hafi dan Dion kau memilih Dion sahabat mu,dan aku cinta mu!"
Kedua mata mereka saling bertemu,menatap dalam perasaan masing-masing.Hafi membalikan Mita,hingga gadis itu memunggungi Hafi.
Memeluk erat Mita,kedua tangan Hafi melingkar di pinggang,dagu Hafi diletakkan di bahu Mita.
Pelukan Hafi semakin erat,mata nya terpejam.
"Mita..."
"Iya..."
"Boleh kah aku meminta sesuatu dari mu?"
"Apa?Jangan uang atau harta,karena aku tidak punya semua itu!"
Hafi terkekeh dengan pernyataan wanita di pelukannya.
"Tetap di sini,menikah lah dengan ku besok.Tidak usah ke kota asal mu.Setelah ini aku janji akan membawa mu ke sana!Aku mohon Mita?"
Mita bergerak menoleh,Hafi yang merasakan gerakan Mita mengangkat dagu dari bahu Mita.
"Apa benar kau mencintaiku,Hafidan Brahmana?"
Hafi mengangguk cepat.
"Bukan anggukan yang aku butuh darimu!"
Ucapan Mita terjeda.
"Semua yang kau rasakan untuk ku,aku ingin kau membuktikan itu.Bagaimana kau mencintaiku, bagaimana kau memperlakukan ku.Aku takut hanya sesaat,sedangkan kau memiliki kekasih."
Ucapan Mita terhenti,mata nya bergerak melihat mata Hafi bergantian.
"Kekasih mu, bagaimana dengan kekasih mu.Aku pasti di sangka pelakor,bukan hanya dengan dia,tapi keluarganya,dan juga para orang diluar sana!"
__ADS_1
"pelakor jika aku sudah menikah,aku belum ada ikatan apapun dengan nya,Kau percaya kan Mita?"
Mita tersenyum sinis "Belum ada ikatan apanya?Dia saja mengakui,jika kau kekasih nya.Bagaimana bisa tidak ada ikatan apapun?"
"Iya tapi hanya itu"
"Benar,tidak ada yang lain? Atau kau pernah berjanji sesuatu dengan nya? Jika tidak mana mungkin dia pulang untuk menemui mu? rada panas di pipi ku bahkan masih terasa!"
Mita melirik Hafi dengan ekor mata nya.
"Aku sempat,berjanji untuk melamar nya.Namun bukan di tunggu,tapi dia pergi untuk sekolah ke luar negri"
Mita reflek melepaskan pelukan Hafi di perut nya dan berdiri.
"Kau berarti memberikan dia harapan lebih Hafi.Perempuan mana yang tidak suka diberi janji seperti itu sementara yang memberi janji mengingkari!"
Hafi berdiri "Itu hanya sebatas janji Mita!"
"Lelaki itu yang di pegang ucapan nya,jika kau mengingkari dengan nya.Besar kemungkinan kau juga akan mengingkari janjimu dengan ku!"
"Aku janji,tidak dengan mu!"
Jari Mita langsung menunjuk Hafi "Kau baru saja ber janji,itu janji padaku Fi.Akan kah bisa kau menepatinya?"
Hafi hanya mengangguk,menatap wanita di depan nya.
"Jika...."
Suara bel berbunyi panjang,membuat ucapan Mita terpotong.Keduanya sama-sama menoleh ke arah pintu.Hafi melihat jam di dinding,waktu menunjukkan hampir jam sepuluh malam.Mana mungkin ada tamu jam segini.
Tidak merasa memesan apapun,dan tidak membuat janji temu dengan siapa pun.
Hafi mengambil ponsel nya,tidak ada pesan dan telfon masuk.
"Coba,kamu lihat ponsel mu Mita"
Mita mencari ponsel nya yang berada di meja makan tadi.
Mita menggeleng dan mengedikan bahu.Membuka layar ponsel.
"Ada pesan atau panggilan tak terjawab?" tanya Hafi.
Mita menggeleng dan memberitahu Hafi layar ponselnya.
"Siapa malam-malam seperti ini bertamu?Bel panjang?"
Mita akan melangkah melihat,namun tangan nya ditarik oleh Hafi.
"Kita lihat di monitor dulu"
Gelap.Monitor terlihat gelap,bukan tidak ada gambar atau rusak.Memang seperti tertutup oleh sesuatu.
"Kenapa tidak terlihat?"
Ssstttt!!! Hafi meletakan jari telunjuk di bibir Mita.
"Tetap dibelakang ku,dan jangan jauh dariku!"
"Takut Fi!"
Hafi memeluk Mita,mengusap punggung nya memberikan ketenangan.
"Yakin,tidak apa-apa.Mungkin hanya anak-anak dari penghuni lain yang iseng!"
Keduanya berjalan mengendap,membuka pintu dengan perlahan.
Ada sebuah kotak yang cukup besar di depan pintu.Hafi melihat sekitar,tak ada seorang pun.
.
.
.
__ADS_1
to be continue