TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 67 Anti Nasi


__ADS_3

Mita baik-baik saja?.Oh tentu tidak.Sampai di rumah dia turun dari mobil dengan tergesa-gesa,membuka dan menutup pintu mobil dengan membantingnya.


Berjalan cepat dan masuk ke dalam rumah.Berpapasan dengan Mbak Sri yang menggendong Mina saja dia tidak menyapa nya.Mita menunduk dan menyembunyikan wajahnya.


Melewati ruang tengah,di sana ada Ara dan juga adik ipar nya,atau Aunty She yang sedang berkunjung.


Mita dengan langkah cepat,menapaki tangga demi tangga.Sesekali jemarinya menyeka pipi nya yang basah,dan itu terlihat oleh She dan Ara.


"Kak...?" She mencoba memberitahu Ara.


"Iya aku tahu,kita tunggu sebentar lagi"


Hafi menyusul di belakangnya jauh,berjalan dengan santai nya.Namum tetaplah menatap langkah Mita.Dia tahu istrinya meski terlihat kuat dia pasti sakit hatinya.Ucapan Sharena terlalu mentah dan membuat Mita berfikir tentang itu.


"Hafi..."


Hafi menoleh,kaki nya yang sudah menapaki tangga tak jadi di teruskan,dan berbalik mendekati mamah dan aunty nya.


"Aunty?.." Hafi menyalami dan mencium pipi aunty nya.


"Istrimu kenapa?" She pun menggerakkan dagu nya sebagai penunjuk arah Mita.


"Biasa aunty,perubahan hormon.Kata mamah semua calon ibu seperti itu."


Ara tersenyum mendengar nya,begitu pula dengan She.Wanita itu pun mengusap lengan Hafi.


"Jaga baik-baik ya calon cucu keponakan ku.Sudah sana,dekati lagi istrimu.Sepertinya tadi aunty lihat dia mengusap pipi nya,dia pasti menangis Fi."


Hafi terkekeh,mengangguk dan melangkah menaikki tangga.


.


.


.


"sayang.. Mita sayang!"


Beberapa kali Hafi mengetuk pintu kamar mandi,Mita tak menjawab apapun.Hanya gemercik suara kran terbuka yang terdengar sampai luar.


Kunci pintu pun terbuka,dan diiringi Mita yang terlihat di sebalik papan kayu itu.Mata Mita dan Hafi bertemu bertatap,namun secepat nya Mita lempar pandangan nya ke lain arah.


"Sayang?.." Hafi menyentuh lengan istrinya,namun mita mengibaskan nya.Hingga tangan suaminya terpelanting menyenggol tembok.


Mendekati istrinya yang duduk di tepian ranjang,namun Mita beranjak dari sana dan berpindah ke kursi yang ada di meja rias.


Hafi berdecak "Sa.."


"Aku capek,ingin istirahat sebentar" Mita beralih ke ranjang sisi sebelah nya dan masuk ke dalam selimut.Mata nya terpejam,entah tidur atau hanya ingin menghindari suaminya saja.


Hafi yang tahu itu menghela nafas nya kasar.Dia tahu istrinya sedang tidak baik mood nya dan akan menjadi lebih tidak baik lagi jika Hafi memaksa untuk berbicara.


Dia pun beranjak dan masuk ke dalam toilet.Tak lama terdengar suara air gemericik mulai terdengar.Sudah bisa di pastikan Hafi sedang mandi membersihkan dirinya karena hari menjelang petang.


.


.

__ADS_1


.


Hafi yang sudah selesai mandi dan menyelesaikan pekerjaan nya,duduk di sofa.Menggunakan kaca mata,menatap laptop di depan.


Menoleh ketika Mita beranjak dari ranjang,mengibaskan selimut dan berlari ke wastafel.


Hoek..


hoekk..


Hoeekkk...


Mendengar itu Hafi mendekati dan memijat tengkuk Mita.Masih mengeluarkan cairan putih yang kekuningan.Hafi mengikat rambut Mita,dan mengusap punggung istrinya.


Meski beberapa kali Mita mengedikan bahu dan lengan nya,tapi tangan Hafi tetap tidak mau menyingkir dari sana.


Mita berkumur,mengusap bibir nya.Hafi meraih tissue di sana dan memberikan pada Mita,yang di terima kasar oleh tangan istrinya.


"Masih mual?.."


"Nggak!" Mita keluar dari toilet,diikuti Hafi di belakang nya.


Memandang punggung istrinya,yang berjalan sedikit tak seimbang.


"Apa pusing?.."


"Nggak!.."


Ya Tuhan,apa serumit ini wanita marah?Tadi saja dia pura-pura tegar dan kuat.


Hafi menghela nafas kasar,dan menggaruk alisnya yang tidak gatal.Membuka kaca mata nya dan meletakkan di laci nakas.


"Ya..."


Istrinya menjawab dengan sesuka hatinya.Tidak ada basa basi atau apapun di sana.


Tidak mau di samai langkahnya dengan Hafi,Mita berjalan cepat di belakangnya.


"Pelan-pelan!.."


Mita diam tidak menjawab.


.


.


.


"Selamat malam semua, selamat malam aunty She,om Allan?" Mita menyalimi She dan Allan.


Duduk bersebelahan dengan Hafi,suami nya mengambilkan beberapa lauk untuk nya.


"Loh,kenapa tidak pakai nasi?" Yilmaz dan Enzo mengamati kakak nya yang sangat perhatian dengan istrinya.


Mita dan Hafi menoleh bersamaan.


"Selama dia tahu jika sedang mengandung,dia tidak makan nasi." Hafi menjelaskan itu,dan melihat Mita.

__ADS_1


"Apa nasinya di tolak?"


Mita mengangguk.


"Obrolkan itu dengan dokternya, bagaimana punya energi jika nasi tidak bisa masuk? Apa makan makanan seperti itu bisa membuat daya tahan tubuhnya akan baik-baik saja?"


She menatap tajam anaknya.Wanita itu sudah melihat Mita yang berubah wajah nya saat mendengar Yilmaz bicara.


"Yilmaz!! Kak Mita sedang mengandung,dan itu tidak semua orang merasakan.Jika kau hanya memegang prinsip apa yang kau tahu,kau sama saja menyakiti nya.Biarkan kak Hafi yang melayani nya karena dia tahu apa yang baik untuk kak Mita!"


"Tapi mom,meski di tolak tetap harus makan walau hanya sedikit!"


Hafi dan Mita terdiam melihat kedua manusia yang berstatus mamah dan anak itu beradu argumen.


"Aunty sudah aunty,baik.Aku akan makan nasi walau sedikit!"


Hafi yang mendengar itu terkejut,melihat wajah Mita.


"Sayang??..."


"Sedikit saja,mungkin tidak akan apa-apa!"


Suami nya pun mengangguk,dan mengambilkan seujung sendok dan diletakkan di piring.


Melihat itu Mita sudah menutup mulut nya,menahan gejolak di dalam perut yang ingin sekali di keluarkan.


Hafi mencoba menyendokkan nasi beserta lauk.Halnitu tak luput dari penglihatan Mita.


"Bismillah dulu!.."


Mita menggeleng,dan memejamkan mata.Menggeser kursi,beranjak dari sana dan berjalan cepat ke toilet yang ada di sudut dapur.Hafi pun beranjak dari duduknya.


"Diteruskan saja dulu Pah,aku kebelakang menyusul Mita"


Semua mata tau itu,dan She lagi-lagi menyorot tajam pada Yilmaz.Lelaki itu pun hanya mengedikan bahu nya.


.


.


.


Lagi-lagi Hafi memijat tengkuk Mita.Istrinya mengambil air dan mengusap bibir dari sisa cairan bening kekuningan.Membalikkan badan dan posisi mereka berhadapan.


"Sudah? Tidak apa-apa?..."


Mita mengangguk,lalu tubuhnya di tarik oleh Hafi ke dalam pelukan nya.


"Maafkan aku,maafkan aku sudah membuat mu seperti ini!" Hafi mengusap Surai indah istrinya,mengusap perlahan punggung Mita.


Tangan Mita pun melingkar di pinggang suaminya,memeluk erat.Hamil membuat semuanya berubah.Mita yang dulu garang dan tomboy.Mita yang kebal dengan ucapan siapapun dan apapun.Mita yang tidak mencintai Hafi dan sekarang menjadi ketergantungan.Dan Mita yang sangat sensitif,mudah menangis dan sangat perasaan..


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2