
"Kalau sakit bilang!"
"Aaww!!"
"Baru juga berhenti ngomongnya!"
"Ya emang sakit Mita!"
Mita yang telaten membersihkan luka Hafi,ujung bibir nya pecah akibat tonjokan Dito kakak Sharena.
"Bisa gak sih kalian tuh pergi dari hidupku?!"
"Kenapa?"
"Ya,jika kalian seperti ini terus.Bukan hanya ini saja masalah yang akan datang!"
Mita terisak,hatinya tidak tenang.Merasa diri nya lah penyebab Hafi terluka dan sekarang semua media sosial memberitakan hubungan nya dengan Hafi,Mita yang jadi simpanan karena ternyata Hafi sudah mempunyai kekasih.
Mita yang menggoda kekasih orang,masih banyak lagi kata-kata yang tidak enak di dengar.
"Bagaimana aku bisa menjauh,jika hati ku terpaut dengan mu!"
"Stop Fi! Kita sudah tidak ada hubungan apapun!"
"Akan, bukan tidak ada!" Hafi menarik siku Mita untuk mendekatkan jarak.
Mita bingung dengan ucapan pria di depan nya.Pandangan mereka saling bertemu.
"Bukan sandiwara dan apapun itu.Aku ingin kamu Mita!"
Mita hanya terdiam saat mendengar nya.
"Sharena,ada Sharena.Aku tidak mau menjadi orang ketiga di antara kalian."
Mita hendak beranjak, lagi-lagi Hafi menarik nya hingga jatuh terduduk di paha Hafi.Tangan nya melingkar di perut menahan pergerakan Mita.
"Aku sudah memutuskan Sharena.Dan sejak kejadian itu,aku terus memikirkan mu!"
"Kejadian apa?" Ingin menoleh,namun tangan Hafi menempel di pipi Mita.
"Jangan menoleh!"
"Kejadian apa?! Aku tidak ingat!"
"Harus aku jelas kan satu persatu? Aku bahkan sempat hampir menyentuh mu!"
Mita menutup mulut, Mita baru tersadar dari ingatan nya.Kejadian yang tak terduga dan lelaki di sebelah nya sudah pernah menjamah dirinya.
Segala tentang Mita sudah diketahui oleh Hafi.
"Ingat tidak? Jika tidak,akan aku ulangi di sini!"
Mita mencoba bergerak.
"Jangan banyak gerak.Aku normal,nanti di sana ada yang bereaksi juga!"
"Apa'an sih Fi?!!"
Bahasa Hafi sangat ambigu bila di dengar dengan benar.Entah kenapa menjadi gesrek dan liar tutur kata nya.
Setelah selesai mengobati Hafi,keduanya duduk bersebelahan.Tangan Hafi tidak mau terlepas dari pinggang Mita.
Baru kerja satu hari namun insiden ini membuat Mita tidak enak hati dengan Galih.
Waktu terus berjalan dan berlalu,hingga mereka berdua pulang dengan motor matic milik Galuh saudara Galih.Beberapa saat lalu Hafi menceritakan semua yang terjadi di kafe.Beruntung Galih kenal baik dengan keluarga Brahmana.
Riza yang sudah pulang sedari tadi,karena selain Daffin yang tidak boleh pulang larut malam,dia juga memberikan waktu pada Hafi dan Mita untuk menyelesaikan masalah nya.
__ADS_1
.
.
"Ibu sudah tidur?" Mita mengangguk.
"Mina?" Mita mengangguk lagi.
Hafi terkekeh melihat Mita,mata nya sudah sangat mengantuk.
"Aku tidur dengan mu kan?" Mita mengangguk. Hafi yang sedang mengerjai nya pun mengulum senyum.
"Eh.. mana bisa begitu?"
"Aku tidur dimana?"
"Disini!" Mita menunjuk ranjangnya yang tidak terlalu luas.
"Dan kau?"
"Di depan televisi.."
Hafi mengangguk.
"Bersih-bersih dulu baru mandi" Tutur Mita kepada Hafi.
Setelah selesai berganti baju dan mencuci muka.Mita mengambil bantal dan selimut.Merebahkan tubuhnya di lantai yang hanya beralas kan tikar plastik lipat.
Tak lama mata nya terpejam.dan mengarungi mimpi.Hafi yang baru keluar dari kamar mandi melihat Mita sudah menutup mata dan terdengar dengkuran halus.
Hafi berjongkok dan mengangkat Mita untuk di pindah ke kamar.Ternyata gadis di gendongan nya sudah sangat terlelap dan tidak terasa jika Hafi memindahkan nya.
.
.
Mendengar Riza sedang mengobrol dengan seseorang,Ara melangkah ke halaman samping.
"Sudah malam Za!"
"Selamat malam Bu Bos?" Tomo,salah satu pengawal keluarga Brahmana ,menundukkan wajahnya menyapa Ara.
Ara pun mengangguk dan menjawab.
"Sudah malam!" Sekali lagi Ara mentoel lengan Riza.
"Iya Mah sebentar!"
Udara di luar sangat dingin,Riza yang hanya memakai celana pendek bahan dan kaos oblong.
Sudah siap naik ke atas dan tidur,tapi dia ingat beberapa hal.
"Pokoknya Paman harus berjaga,dan Hafi.Jaga mereka dari jarak jauh,karena adikku yang satu itu tidak mau di awasi.Dan ada satu lagi yang harus di awasi."
Riza mengeluarkan ponsel nya dan memberitahu kan foto Mita.
"Ini calon nyonyah Hafidan,aamiin nin dulu paman,biar doa kita ke'ijabah!"
"Aamiin!!" Reflek Tomo.
"Jaga dia dengan baik,jika ada yang menyakiti nya.Bukan cuma Hafi yang terluka aku juga!"
Ara yang mendengar nya mengerutkan kening.
Riza yang sangat tahu mamah nya masih disana di sebelahnya pun berdecak.
"Sementara itu dulu.Ok Paman?"
__ADS_1
"Ok Za!"
Riza melihat mamah nya,berbalik dan masuk ke dalam rumah.Sudah tahu banyak pertanyaan di fikiran Mamah nya pasti.
Ara terus mengekor di belakang Riza.
"Duh mah,apasih? Udah malem mah!" Pintu kamar nya di tahan oleh Ara.
"Hafi dimana?"
"Ada.."
"Dimana? Bukan kah tadi kalian berangkat bertiga?"
"Besok juga dia pulang mah.Tenang saja!"
Pintu segera di tutup oleh Riza.Ara yang masih di depan pintu menggeleng dengan tingkah laku anaknya.
.
.
"Coba buka media sosial mu sayang!"
Ara yang baru masuk kamar di todong pertanyaan Fandi.
"Kenapa Mas?"
"Nikah kan saja Hafi,jangan lama-lama jika seperti ini terus!"
Penasaran dengan ucapan suaminya, Ara membuka ponsel pintar nya,dan melihat postingan dari berbagai orang dengan angel posisi yang berbeda.
Wanita tua itu menutup mulut.Tidak menyangka anak lelaki nya akan berbuat seperti itu.
Dan ini bukan hal yang pertama!
"Mas?.."
"Seminggu,aku berikan waktu untuk mu untuk mengurus pernikahan Hafi.Tidak usah mewah karena Mita pasti tidak akan mau!"
"Tapi itu terlalu cepat mas?"
Fandi menggeleng "Hafi sudah cukup umur.Aku takut dia akan membuat hamil anak orang!"
"Tapi,Mita dia.."
"Aku tahu.Urus saja besok!"
"Kau tidak keberatan?"
Lagi-lagi Fandi menggeleng "Jangan lupa satu hal.Aku juga menerima mu apa adanya"
"Tapi mas,Mita sudah mempunyai anak.kau tidak keberatan?"
"Tidak.Bukan kah seharusnya kita senang.Bisa mengurus anak yatim.Seumurun kita harus nya sudah menimang cucu sayang!"
Seperti yang mereka sadari,Ara mungkin menikah di usia muda.Namun ia tak mendapatkan keturunan dari pernikahan sebelum nya.
Dan di saat bertemu Fandi,Fandi saja berumur tiga puluh lebih.Saat itu dirinya masih menyendiri, beberapa kali menjalin hubungan tapi tetap saja gagal karena selalu mengharapkan Ara yang saat itu masih menjadi istri Reno.
"Dito seorang kaki tangan mafia,aku khawatir terjadi sesuatu dengan keluarga Mita jika kita tak segera menikah kan dengan Hafi"
Mendengar itu, Ara mengangguk paham.
.
.
__ADS_1
to be continue