TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 53 Jangan Mimpi


__ADS_3

Ponsel Hafi terjatuh dari genggam man tangan Mita,tidak sengaja membaca pesan singkat dari Om Abas yang berisi Ibu Dalilah semakin kritis.


Awal nya Mita hanya melihat sekilas ponsel Hafi yang menyala di kasur,merasa penasaran dengan isinya,Mita membuka ponsel dan chat dari Om Abas.


Seketika ponsel terjatuh di ranjang dan Mita langsung berlari ke kamar yang ada di ujung sana.Hafi yang sedang berganti baju terkejut dengan langkah cepat Mita dan suara pintu yang terbuka kasar.


Tanpa sadar berlari,Mita sempat kehilangan keseimbangan namun bisa menguasai dirinya lagi.


Hafi mengejar nya.


Menutup mulut nya dengan telapak tangan.Mita baru tersadar jika kamar ibunya gelap sejak kemarin malam.Padahal Ibu nya tidak bisa tidur dengan lampu yang padam.


Mita menoleh ke belakang,suami nya sudah ada di ambang pintu.


"Kamu bohong,dimana Ibu ku?" Mita mendekati Hafi dan menggoncang lengan Hafi.


"Ibu dimana Fi?!!"


"Sabar dulu,biar aku jelaskan!" Hafi mencoba meraih bahu,dan memeluk Mita.Namun istrinya terus saja berontak dan mengibaskan tangan Hafi.


Menyingkirkan Hafi dan melangkah keluar,mendadak kaki Mita sembuh dan tak terasa apapun,padahal dirinya sedikit berlari.


Menekan tombol pintu lift terbuka.Tidak sabar dan ingin segera keluar rumah mencari nya.


Hafi menyusul dan mencoba mencegah nya.Namun sayang pintu sudah terbuka dan langsung menutup.Mengetahui bahwa dirinya terlambat dan lebih cepat Mita.Hafi berlari turun menggunakan tangga.


Ara yang berada di lantai dasar melihat Mita yang keluar dari lift dan berjalan cepat keluar rumah,matanya sudah basah dengan air mata.Rambut yang terurai dan anak rambut di depan nya sudah basah.


"Mita!.." Ara memanggil nya namun Mita tak menoleh,meneruskan langkah nya keluar dari rumah.


Suara langkah kaki cepat dari belakang.


"Fi!..."


"Mita mana mah?" Nafas Hafi sudah memburu,panik sekaligus bingung.


Ara menunjuk ke arah menantu nya yang hampir sampai gerbang.Secepat mungkin Hafi mengejar nya.


"Pak Security!!!! Jangan buka gerbangnya!!" Teriakan Hafi membuat semua yang ada di halaman menoleh.Bukan hanya security, asisten rumah tangga,dan pengawal.Di sana juga ada mbak sus dan Mina yang sedang bermain.


Mita terus memaksa,berebut handel gerbang dengan security.


Dengan sigap Hafi memeluk istrinya dari belakang.Tubuh Mita sedikit terangkat.


"Mita..Mita,dengar kan aku dulu!"


"Lepas!! aku mau ke Ibu.Dia membutuhkan ku,kau bohong Hafi!" Tangan nya mencoba melepaskan jeratan jemari Hafi di perut nya.


"Ibu ku kritis dan kau menyembunyikan nya dari ku,aku anak nya.Hanya aku yang ibu punya! Kau keterlaluan Hafi!!"

__ADS_1


Mendengar itu Ara merasa sedih,menghampiri Mita dan Hafi.


"Lepaskan tangan mu dari pinggang Mita,Hafi!!"


Hafi menggeleng "Tidak mah,aku takut Mita keluar rumah! Aku tidak mau sesuatu terjadi pada nya!"


Merasa prihatin dengan keadaan anak dan menantu nya.Ara memeluk Mita dari depan,mencoba menenangkan menantu nya.Mereka menangis bersama.Pelukan Mita sangat kencang di pinggang Ara.Begitupula jeratan tangan Hafi yang sedikit mengendor di pinggang Mita.


Mengusap Surai indah milik Mita,air mata Ara tak bisa terbendung.


"Ibu.."


Ara menganggu "Menangis lah,maaf kan kami karena menyembunyikan dari mu" Ara mencium kening Mita,seperti diri nya yang menyayangi Inggira,seperti itu pula Ara menyayangi Mita.


"Kita masuk,nanti mamah jelaskan di dalam"


Mita mengangguk karena bujukan Mamah mertua nya.Namun salah satu asisten dari dalam rumah berlari menghampiri ke tiga nya dengan membawa telfon.


"Maaf Den Hafi,pak Abas menelfon.Den Hafi diminta telfon balik karena Ibu Dalilah semakin menurun kesadaran nya!"


Hafi menoleh ke Mita, "Kita kesan Fi!! "


Suami nya mengangguk "Kita bersiap dulu dan ganti pakaian mu!"


Bragk!!!


Baru beberapa langkah Mita pingsan dan terjatuh.


"Astaga!! Fi,angkat dan bawa ke kamar Mamah."


Dengan sigap Hafi mengangkat istrinya membawa masuk ke dalam kamar Mamah nya.


Sisi sebelah kanan Hafi yang memegang jemari tangan Mita,sedangkan kiri ada Ara yang terus mengusap rambut dan sesekali memberikan minyak kayu putih di hidungnya.


Tak butuh waktu lama,Mita mengerjapkan mata.Orang yang pertama di lihat adalah Mamah mertua.Mita menitikkan air mata.


Ara mengusap dengan lembut kepala menantunya.


"Hafi,ajak Mita ke ibu nya.Ceritakan semua yang terjadi"


Ara menatap Mita "Maafkan mamah,coba saja kalau mamah yang menjemput Ibu mu,pasti tidak akan seperti ini!"


Hafi pun menatap Mita dan membantu nya menyandar.


"Makan dulu, setelah ini aku antar ke Ibu"


Mita menggeleng "Aku ingin sekarang,ibu pasti membutuhkan ku!"


"Jika kau tak makan,tidak ada tenaga untuk merawat Ibu.Bagaimana jika ibu tahu kalau kau juga sakit,pasti ia akan bersedih!"

__ADS_1


Menghela nafas,Mita berusaha turun dari ranjang "Kita makan di mobil saja!"


Hafi terpaksa menuruti istrinya.Membawa bekal yang di siapkan oleh Mamah,mereka menuju ke rumah sakit menggunakan pengawalan.


Baru saja mobil berhenti Mita sudah membuka pintu dan berlari.Hafi keluar dan mengejar nya.


Sepanjang menuju ICU ada dua pengawal bersama nya.Dibuat kalang kabut oleh Mita karena situasi apapun bisa terjadi jika lepas kendali.


Riza yang berada di halaman atau taman,tak jauh dari ICU menoleh ketika mendengar suara langkah kaki cepat.Mita pun tahu di sana ada Riza,tanpa berfikir panjang mendekat dan menggenggam lengan Riza.


"Dimana Ibu dirawat? Riza katakan padaku!!"


Hafi yang melihat tangan istrinya sudah bertengger di lengan Riza saudara nya,menarik nafas dalam dan mengeluarkan panjang.Meredam emosi karena lagi-lagi melihat kontak fisik istrinya dengan Riza.


Riza menatap bola mata Mita yang sudah basah dan bengkak.Jari nya menunjuk sebuah ruangan.


ICU ada di dalam sana, tengoklah Ibu mu.Dia pasti menunggu mu dari kemarin.Mita mengangguk dan segera berjalan cepat.Hafi yang masih cukup dengan nya mengekor dan ikut masuk ke dalam sana bersama Mita.


Lagi-lagi Mita terperangah melihat ibu nya.Hanya mampu melihat dari jendela.Seorang suster keluar dari pintu,Mita langsung mendekatinya.


"Sus,saya anak dari Ibu yang ada di sana.Apa saya boleh masuk?Siapa tahu saya bisa membuat ibu saya sadar.Hanya saya dan anak saya keluarga Ibu.Saya mohon sus?!"


Suster di depan Mita menunduk lesu "Maaf,kami hanya menyediakan sebuah alat bantu dengar yang terhubung ke dalam,itu saja tidak keras.Silahkan jika ingin memberitahu jika anda di sini."


Suster mempersilahkan benda yang terhubung itu untuk di pakai.Namun Mita tak bergeming,hanya melihat sekilas saja lalu matanya menatap Hafi.


"Tidak bisa kah kau memohon pada atasan di sini? Aku ingin masuk dan memeluk Ibu.Aku mohon Hafi! Papah punya sebagian besar aset di sini bukan?"


Hafi hanya menatap istrinya.


"Aku mohon Hafi!"


Memeluk istrinya,dan mencoba menekan perasaan.Hafi yang belum lama terjun di perusahaan Brahmana Group merasa kalah dengan Riza.Kakak nya hanya dengan waktu hitungan menit saja mampu membuat Mita bisa masuk dan memeluk Ibunya.


Mita mengurai pelukan Hafi, "Aku sudah tidak sabar,ada di dekat Ibu"


"Masuklah,aku akan selalu menunggu mu disini"


Mita pun mengangguk dan masuk ke dalam.


Riza menjajarkan diri dengan adik kembar nya.


"Aku bahkan bisa menuruti kemauan nya!"


Hafi menoleh "Jangan mimpi Za! Dia adik ipar mu.Aku ingat kan jika kau lupa!!"


Menghindar dari Riza adalah jalan satu-satunya, jika berada di dekatnya akan membuat emosi Hafi tidak ke kontrol.


To be continue

__ADS_1


__ADS_2