TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 19 Sangat Dekat


__ADS_3

Lelaki mana yang tidak berdebar berdekatan dengan seorang wanita yang berganti baju di sebelah nya,hanya gorden yang sangat tipis membatasi mereka.


Setelah melakukan ct scan saat pagi hari,Mita meminta untuk mandi,badan nya terasa gerah dan lengket.Hafi yang kebingungan bagaimana cara nya sedangkan mereka tidak pernah se intens itu.


Akhirnya Hafi memutuskan memanggil perawat untuk membantu Mita mandi.


"Aku sudah selesai!"


Hafi menyibak gorden dan bernafas lega.


"Aku bantu menyisir rambut mu!" tubuh Mita diangkat dan diletakkan di kursi roda,Hafi mulai menyisir.


"Hafi,aku boleh meminta sesuatu?"


Hafi terkejut mendengar nya "Apa itu?"


"Infus nya boleh gak sih di lepas?Aku sudah merasa baik.Bosan jika terus disini.Sedangkan aku merasa tidak ada yang sakit"


Mita melihat Hafi dari pantulan cermin.Sama dengan Hafi,dia juga melihat Mita di pantulan cermin.


"Nanti aku tanya dokter dulu ya?!"


Mita pun mengangguk dan tersenyum, mereka saling menatap dalam pantulan cermin.


Seketika dada Hafi berdetak lebih cepat.Wanita yang beberapa hari ini di samping nya ternyata memang benar cantik,selain itu ternyata dia juga lembut.Tidak seperti yang dia lihat, perempuan yang pembangkang,susah di atur dan semau nya sendiri.


"Terimakasih"


"Sama-sama"


Hafi tersenyum tipis.


.


.


"Mita sedang apa?"


Ara berusaha melihat kedalam,namun di halangi oleh tubuh Hafi yang tinggi dan berdada bidang.


Beberapa jam lalu Yilmaz mengirim pesan untuk mengobrol dengan nya mengenai hasil ct scan Mita.Ini lah waktu nya,karena Mita tidur setelah perawat memberikan obat di infusnya.


"Mita sedang tidur mah,tadi dia menangis karena merasa sakit di kepalanya.Padahal aku hanya bercerita sedikit tentang kami"


kali ini yang Hafi bicarakan tidak lah bohong,Hafi berusaha bercerita tentang dirinya dan Mita.


"Yilmaz sudah menunggu mu di ruangan Daffin,cepatlah ke sana.Biar mamah yang menjaga Mita,Daffin juga ingin keluar,katanya bosan!"


"Iya kak!" Daffin yang di depan Hafi pun mengangguk,dirinya sudah pulih,hanya saja ingin berlama lama di sana karena ingin tahu perkembangan Mita.


Hafi berjongkok mensejajar kan wajah dengan Daffin.


"Kalau sudah sehat pulang! dirumah ada adik Mina,tidak baik jika di sini terus Daffin!"


Bukan nya menjawab,anak kecil itu menoleh ke mamah nya "Apa benar yang dikatakan kakak mah?"


Ara pun mengangguk.Daffin belum di beri tahu jika Mina di rumah karena kemarin dirinya tertidur.


"Ya sudah nanti aku pulang ya mah?"


Ara tergelak mendengar nya.Daffin memang suka anak bayi,Mina selain cantik dia juga menggemaskan.


.


.

__ADS_1


"Jika dilihat dari hasilnya,Benturan Mita tidak parah,amnesia yang dia derita hanya beberapa hari,bulan,atau tahun.Tergantung rasa ingin tahu nya."


"Maksud mu?"


"Ajak terus Mita melalui kenangan yang kalian lakukan dan lewati,Dia hanya bisa mengingat kakak karena di otak nya tersimpan memori yang mungkin akan selalu dikenang oleh nya,entah itu ingatan yang baik atau tidak aku tidak tahu juga kak!"


Mungkin karena aku pria yang terakhir bersama nya pada saat ini dan aku juga yang sedang menyulitkan hidup nya.


"Kak?"


"Kakk?!"


"Kak Hafi!!!"


Hafi tersadar dari lamunan,menatap Yilmaz dengan muka yang cemberut.


"Iya kenapa?"


"Hanya itu yang aku sampaikan.Teruslah membuat Mita bereaksi,walaupun reaksi nya sakit pada kepalanya.Tapi coba saja dulu kak!"


"Biasanya orang yang amnesia lebih sering tidur karena mereka menghindari berfikir yang terlalu berat!"


Hafi mengangguk dan mengerti dengan perkataan adik nya.


.


.


Tangan Hafi terhenti di handle pintu ketika ingin membuka dan akan masuk ke ruangan Mita,telinga nya mendengar suara seorang pria yang dia tak mengenali sama sekali.


Dan bukan cuma itu,tangisan Mita.Hafi sangat paham jika itu tangisan Mita.


Menoleh ke segala arah,tak ada Mamah dan Daffin di dekat sana.Tubuhnya bergeser sedikit,ada kaca di sebalh sisi pintu.


Hafi menyipitkan mata,benar adanya seorang pria.Dan Mita sedang bersandar di dada pria itu.


Pintu di buka dan Hafi menepuk tangan keras.


"Bagus.. Bagus sekali drama kalian! Drama yang sempurna!"


Mita menegakkan kepala,mata nya memicing melihat Hafi.


"Drama apa? bukan kah kau yang drama?Kau tidak bercerita tentang kebenaran jika aku amnesia!"


Hafi terkejut mendengar ucapan Mita,bukan dia yang memergoki Mita dengan pria lain, tapi diri nya lah yang sedang di hakimi oleh Mita.


"Kau bohong kan?Aku bukan kekasih mu,kita hanya sandiwara,tapi kau meng iya kan kepada semua jika kita kekasih!" Tangan Mita mencengkram kaos yang Hafi kenakan.


"Hafi! Ayo katakan yang sebenarnya!"


Hafi hanya menatap Mita dengan teduh, gara-gara dirinya lah wanita di depan nya menjadi seperti ini.


"Aku sudah tau semua cerita kita dari Dion!" Mita menunjuk Dion.


Mata Hafi berpindah pada Dion,lelaki yang beberapa menit lalu ada di ruang minta dan dengan sengaja menjenguk sekretaris bos nya itu.


Dengan sekali tarikan Mita mencabut jarum infus yang ada di tangan nya.


"Dion,aku percaya dengan mu.Bawa aku pergi dari sini!"


"Mita,tangan mu berdarah." Hafi meraih pergelangan mita,namun di hempaskan.


Tiba-tiba keseimbangan Mita goyah dan jatuh di antara Hafi dan Dion.


"Astaga Mita!"

__ADS_1


"Lepaskan tangan mu, Mita kekasih ku!"


Dion hanya menoleh sebentar kepada Hafi dan terus mencoba membangun kan Mita.Mengusap dan menepuk pipi Mita.


"Aku bilang lepaskan tangan mu Dion!!!!"


"Panggil dokter..aku mohon!"


Hafi tidak bergerak dari sana,dia menyaksikan sendiri Dion yang sangat cemas dan mengangkat Mita ke ranjang.


.


.


"Hafi,ada apa ini?" mendengar suara yang keras dari kamar Mita.Ara yang baru saja dari toilet segera membuka pintu.Suara nya tidak ada yang menyahut.Mata nya melihat selang infus yang tergeletak di lantai.


"Astaga Hafi ada apa ini?"


Bukan Hafi yang menyahuti tapi Dion.


"Nyonya tolong panggilan dokter.Mita pingsan" Ara mengangguk dan segera berjalan cepat mencari dokter.


"Stop!!!" Hafi melempar tangan Dion yang hendak membuka kancing baju Mita bagian atas.Karena kancingnya terlalu ketat.


Suara langkah kaki cepat berurutan.Yilmaz masuk.


"Ada apa ini kak?"


"Dia menangis, marah-marah lalu pingsan" mata Hafi melirik pada Dion yang berada beberapa meter saja.


Yilmaz mendekat,mengecek Mita.


"ini hanya reaksi biasa, kemungkinan sedikit demi sedikit ingatan nya akan kembali.Tenang saja tidak apa-apa"


Merasa situasi sedang tidak enak, Yilmaz pergi dari sana.


.


.


"kamu,bukan nya pria yang waktu itu di pesta?"


Dion mengangguk.Bibirnya mengembangkan senyum "Nama saya Dion nyonya.Asisten Pak Ameer,dari Candra Corpuration"


"Oh,Mita sekertaris kalian?"


"Betul nyonya,saya kesini setelah mendengar surat perijinan Mita tidak bekerja, yang langsung di antar oleh Tuan Allan"


"Kalian dekat?"


Beberapa kali Dion kembali mengangguk "Sangat dekat nyonya!"


Mata Ara melirik pada Hafi,raut wajah anak nya berubah setelah mendengar penuturan Dion.


"Semoga Mita lekas pulih ya Dion,dia bisa bekerja lagi bersama mu dan Ameer"


"Semoga nyo..."


"Tidak! Mita akan resaign dari sana!" Hafi membuang muka,dan melihat wajah Mita di sampingnya.


Ara yang sengaja memanasi Hafi nyata nya terpancing juga anaknya.


.


.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2