TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN

TERJEBAK CINTA KEKASIH BAYARAN
BAB. 51 Berseteru


__ADS_3

Mita benar-benar sangat di cintai oleh Hafi.Berawal menjadi kekasih bayaran dan berakhir menjadi nyonya Hafidan.Sakit di kaki nya yang mungkin sedikit terkilir dan sudah mendapat pertolongan dari pengawal yang sedikit tau tentang sakit nya.


Tidur saat suami nya pulang,Mita terbangun saat penghuni yang lain akan tidur.Matanya mengerjap,membuka perlahan.Tidak menemukan seorang pun di ruangan itu selain dirinya.


Mencoba bangkit dan turun dari ranjang, perlahan Mita masuk toilet membasuh muka.


"Astaga,kenapa Hafi tidak membangunkan ku?"


Matanya terkejut ketika melihat jam di dinding pukul sembilan lebih dua puluh lima menit.Membuka pintu kamar,Mita menyembulkan kepala nya.


Keningnya mengerut ketika lampu lantai bawah masih menyala semua.


Suara pintu di ujung sana terbuka, keluar lah seseorang.Mita menunggu nya berjalan ke arah dirinya.


"Non..."


"Mina sudah tidur Mbak?"


Tidak langsung menjawab,mbak sus hanya menatap Mita.


"mbak sus? Mina sudah tidur?"


Mita menanyakan sekali lagi keponakan nya.


Mbak sus pun mengangguk "Su-sudah Non!"


"Mbak,kenapa lantai bawah masih menyala ya?" Mita menunjuk lantai.


Mbak sus melirik ke arah telunjuk Mita.


"I-ituu...Aaa"


"Sayang!"


Bukan hanya Mita yang menoleh tapi Mbak sus pun juga.


Hafi melihat sekilas mbak sus,kemudian menatap istrinya dan memeluk dari samping.


"Kenapa keluar?"


"Kenapa tidak membangunkan ku?"


Hafi membulatkan mata.


"Kebiasaan! Ditanya bukan menjawab tapi balik bertanya?!"


"Aku ingin keluar,bosan dikamar terus.Oya.. Kenapa lantai bawah masih te...heh!"


Mita terkejut,lantai bawah sudah gelap saat melihat nya kembali.


Hafi melihat mbak sus dan memberikan isyarat untuk pergi dari hadapan mereka.Mbak sus pun pergi dari sana tanpa berucap apapun karena dirinya bingung harus berkata apa pada Bunda nya Mina.


"Kenapa sudah mati? Apa kau yang dari bawah?"


Hafi mengangguk "Tadi ada tamu, sekarang kembali lah ke kamar!"


"antar kan aku ke kamar Ibu,aku ingin bertemu Mina!"


"Hah?!"


"Antarkan aku ke kamar Ibu!!" Mita mengulang nya sekali lagi.


"Besok saja!Mina baru saja tidur,kau akan mengganggu jika melihat nya.Aku jamin kau akan menciumi dan gemas pada nya!"


"Tapi aku kangen dengan nya,hanya di sini satu rumah tapi jarang bertemu.Biasanya jika aku di rumah tiap hari aku bertemu dengan nya!" Wajah Mita cemberut.


Dari bayi hingga hari ini hanya Mita dan Ibu nya saja yang selalu bersama Mina,wajar saja jika ikatan batin Mita dan Mina bagai anak dan Ibu nya.


Mita terus membujuk Hafi untuk mengantar kan nya ke kamar Mina,selain melihat keponakan nya.Mita juga ingin bertemu ibu Dalilah.

__ADS_1


"Besok saja,mereka sudah tidur sayang!"


"Tapi sebentar saja! Hanya dari pintu!!"


"Ini sudah hampir jam sepuluh,kau akan mengganggu nya!"


"Ta...Aaa!"


Akhirnya Hafi mengangkat istrinya,membawa masuk ke kamar.Dan mengunci menggunakan password yang lain.


"Fi.. Aku ingin ke ibu sebentar saja!"


Mita sangat keras kepala,padahal sudah di atas ranjang.Tapi memaksa ingin turun sendiri.


"Eh..eh..stopp Mita!!!"


Hafi menahan nya,mengembalikan kaki istrinya ke atas ranjang.


"Besok !! Mereka sedang istirahat,kau istirahat lah!!" Nada suaranya sedikit keras dan lantang.


Mita tersentak,karena terlalu keras Hafi bicara pada nya! Melihat perubahan wajah istrinya Hafi segera mendekat dan memeluk,namun Mita menolak.


"Maaf,aku hanya ingin kamu istirahat,mereka juga pasti sedang beristirahat di kamar nya.Ingat kaki mu belum sembuh, bagaimana jika nanti bengkak ketika kamu bergerak terus menerus!"


Hafi menatap Mita yang ada di depannya.


"Tolong,jangan membuat aku marah sayang!"


Mita pun akhirnya diam,dan menuruti perkataan Hafi.Membersihkan diri di toilet dan kemudian mengganti baju.Hafi sudah menyiapkan makan untuk Mita di meja.Dengan susah payah merayu kini Hafi pun harus sabar ketika istrinya meminta makanan yang ada di meja menepikan sayuran,dan hanya ada beberapa lauk seperti telor dadar.Hingga Hafi menghembuskan nafas kasar.


Sudah beberapa jam Mita menonton televisi karena tidak bisa tertidur,Hafi pun terpaksa menemani.


"Mau sampai jam berapa,ini sudah jam dua?!"


Mita hanya berdecak mendengar Hafi.Dikurung di dalam kamar,tidak boleh bertemu dengan ibu dan keponakan nya.


.


.


.


*Sore menjelang malam


Hafi yang setelah mandi.Pandangan nya mengamati Mita yang sedang tidur di kagetkan oleh dering telfon.Om Abas,begitulah nama yang tertera di layar ponsel nya.


Sedikit membuka notifikasi di ujung atas layar,malas sebenarnya membuka pesan dari pengawal papah nya yang satu itu.Karena Abas pengawal yang tidak bisa dikelabui oleh anak-anak Fandi.


Tak sabar dengan pesan yang tak kunjung di buka Abas pun melakukan panggilan.


"Ckk.. Ada keperluan apa sih Om Abas!?"


Dengan malas Hafi menjawab.


"Ha..."


"Dimana?"


Selalu begitu memang Om Abas,tidak basa basi langsung ke pokok pembicaraan.


"Dirumah om!"


"Bisa bicara sebentar?"


"Tentang apa?"


"Menjauh lah dari istrimu,ini tentang ibu nya!"


Hafi terkejut,melihat Mita yang masih betah memejamkan mata.Perlahan kaki nya melangkah masuk walk in closed,dan berdiri di ujung.Mata nya melihat ke luar jendela.

__ADS_1


"Aku sudah menjauh,apa yang ingin om katakan?"


"Ibu mertua mu di tabrak lari oleh seseorang pada saat keluar dari rumah sakit.Tadi siang Ibu bos yang mengantar beliau,namun karena ada sesuatu kendala di jalan pada mobil pak Sur,beliau telat menjemput nya.Hingga Mertua mu mencoba untuk pulang sendiri.Namun sayang kejadian naas menimpanya"


Sudah bisa dibayangkan bagaimana reaksi Mita jika dia mengetahui nya.Orang tua satu-satunya yang sangat di cintai dan di sayangi harus mengalami kecelakaan,sementara dahulu Mita sangat menjaga kesehatan beliau.


"Lalu bagaimana sekarang Om?"


"Masih kritis, kesadaran nya turun naik,tidak stabil.Pergelangan kaki nya patah,dan untuk saat ini masih koma karena benturan di kepala yang cukup keras!"


"Siapa saja yang sudah tahu?"


"Tuan dan Riza sudah ada di sini"


"Baiklah,aku akan ke sana sebentar lagi"


Hafi mematikan panggilan telfon dari Om Abas,memakai baju dan celana pendek santai.Dirinya bergegas keluar kamar dan langsung menitipkan Mita ke adik nya Inggira.


Tidak berpamitan,bahkan untuk mengecup kening Mita saja Hafi tidak berani karena takut terbangun dan akan menjadi banyak pertanyaan.


"Kak!..." Inggira menghampiri Hafi yang baru saja turun,tak jauh dari sana Daffin yang sedang duduk di sofa menoleh ke kedua kakak nya.


"Kakak sudah tahu, Om Abas baru saja menelfon.Titip kak Mita,dia masih tidur.Jangan memberitahukan apapun pada nya!"


Inggira mengangguk,mata Hafi menoleh pada Daffin.Anak kecil itu mengerti situasi,jari telunjuk dan jempol nya dia rekatkan di depan bibir.Hafi pun tersenyum pada nya dan mengacungkan jempol.


.


.


Hafi keluar menuju rumah sakit,melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi, Ibu Dalilah adalah Ibu mertua yang sangat baik baginya,tidak pernah mengeluh dan menuntut banyak hal.


Tidak menyusahkan Mita bagi Hafi,terlebih setelah Mita menikah.Ibu Dalilah selalu di perhatikan kesehatan nya, akhir-akhir ini tidak pernah mengeluh apapun.


Semua keluarga Brahmana menganggap seperti keluarga sendiri walau hanya besan.


Tak butuh waktu lama,Hafi sudah sampai di rumah sakit.


Melihat mertua nya terbaring tak berdaya hati nya sangat sakit,terlebih lagi jika Mita yang melihat.Berbagai alat bantu nafas dan perban di kaki nya.Luka nya tidak hanya di sana,pipi dan keningnya juga lebam.


"Pelakunya masih sama,itu prediksi Papah dan aku." Riza mendekati Hafi yang bersandar di kaca yang terhubung ke ruang ICU.


Hafi melirik sekilas pada saudara nya.


"Mereka akan semakin menjadi jika tidak mendapatkan Mita,apa kalian akan seperti ini terus.Kalau saja ada Opa uyut,mungkin semua ini akan cepat selesai!!"


"Jangan salahkan ketidak beradaan nya.Introspeksi lah diri,siapa yang mendahului ini semua!"


Hafi yang mendengar ucapan Riza langsung berbalik dan menatap nya.


"Apa maksud mu?!"


"Yang mereka inginkan bukan Mita,tapi kau.Sharena menginginkan mu!!"


Hening.


"Nikahi dia!Maka semua ini akan selesai!"


"Za!!!" Hafi menerjang Riza,mencengkram kerah kemeja nya.


Fandi yang berada di sana segera menggenggam tangan Hafi yang sudah kencang di kerah Riza.


"Lepas Fi!! Ini di rumah sakit.Rendahkan Ego mu!! Jika tidak Papah yang akan menghajar kalian!!"


Hafi membuang nafas kasar.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2