
Beberapa hari Mita di rumah saja dan tidak ke kantor.Hafi merasa senang karena mungkin Mita berubah fikiran.
Hingga dirinya sedikit lega tidak mengkhawatirkan nya berlebihan.Mita sangat rentan jika pola makan nya tidak teratur,asam lambungnya naik dan bisa berakibat fatal.
"Coba jangan berfikir aku makan telat dan asam lambung ku kambuh.Apa kamu pernah tanya kepada ku,Apa yang aku fikirkan?"
Hafi langsung terdiam.Memang dirinya selama ini sibuk kerja dan Mita mungkin sedikit stress karena berulang kali mengajak piknik keluarga tapi hanya dibalas senyum olehnya.
"Sudahlah!..." Mita mengambil handuk kecil dan berlalu dari hadapan suaminya.
Bukan hal yang biasa jika ribut tentang persoalan rumah tangga.Banyak yang gara-gara hal sepele bisa menjadi perceraian.Lalu banyak juga yang baik-baik saja tiba-tiba bercerai.Dan masih banyak lagi.
Hari ini Mita seperti biasa,mengantar Mina sekolah lalu dirinya berangkat ke kantor.Hanya mengecek,ya hanya mengecek pamitnya kepada Hafi.
Ruangan Mita sedikit berantakan,karena terakhir dia pulang belum merapikan kembali.Meletakkan dan mengangkat barang-barang yang berserakan.
Duduk di kursi dan mulai membuka laptop nya kembali,mendadak rasa pusing menyerang kembali.Padahal sebelumnya tidak apa-apa dan biasa saja.Mencoba berkedip untuk melihat jelas layar monitor,alhasil tetap saja pusing yang dia rasa semakin bertambah.
Merebahkan punggung,Mita pun mencoba memijit keningnya.
.
.
.
Kediaman Brahmana
Hari ini Daffin meliburkan diri ke sekolah karena kesiangan,dan Ara pun mengijinkan.Bagi Daffin libur sehari dan akan kembali sekolah besok mengejar ketertinggalan pelajaran adalah hal yang mudah.
Duduk di ruang tengah setelah sarapan yang sangat siang,memegang ponsel dan bermain game adalah hal yang paling dia suka.
"Fin.." Hafi terlihat sudah di dalam.
Daffin pun menoleh.
"Iya kak,baru datang?"
Suara nya sudah tak semanja dulu lagi, remaja dan menduduki kelas delapan.Daffin terlihat lebih ke Ara,berkulit putih bersih,hidung mancung,dan rambut tebal.
"Mamah mana?"
"Sementara aku sendirian,mamah sedang bersama papah cek dokter"
"Sepagi ini?"
Daffin menoleh jam "Sekarang sudah siang kak!"
"Biasanya ke dokter sore Fin,makanya kakak bilang sepagi ini!"
Daffin pun mengedikan bahu nya dan kembali fokus ke layar ponsel nya.
__ADS_1
Setelah berbicara yang tidak penting dengan adiknya dan berlalu ke kamar nya sendiri.Hafi duduk di atas ranjang yang dulu tempat dia dan Mita sering berbagi peluh.
Berhari-hari tidak menyentuh istrinya yang jelas-jelas tak sedang halangan.Bahkan kedua nya sedang perang dingin.
Aku tidak tahu harus apalagi,kau keras kepala sekali Mita!...
Tiba-tiba terlintas ucapan Mamah nya 'Jangan pernah berpisah ranjang walau semarah apapun dengan istrimu!' .Hafi pun keluar dari kamar nya dan duduk di dekat Daffin.
Menghela nafas kasar,melihat televisi yang hanya menyala dan Daffin tak tertarik sedikit pun karena game di ponsel nya.
"Tidak sekolah,main game enak-enak dirumah!"
Melirik kakak nya yang sedang memperhatikan,Daffin pun keluar dari aplikasi permainan.Tak sengaja Hafi melihat wallpaper ponsel Daffin.
"Fin,tunggu sebentar!"
"Apa?!"
"Kesini kan ponsel mu,itu foto Mina kan?...Yang benar saja Fin,banyak perempuan seusia mu.Jangan Mina!"
Daffin terkekeh "Mina adikku,jadi terserah aku lah kak!"
"Jika itu terjadi,kakak yang akan kena imbas nya oleh Kak Mita,mengertilah sedikit Fin!"
Daffin turun dari sofa "Iya aku tahu,kak Mita tidak membolehkan aku menyukai Mina? Jadi aku anggap suka ku itu sebatas adik dan kakak tidak lebih,kakak tenang sajalah!"
"Syukurlah jika kau mengerti!" Hafi pun ikut beranjak dari sana dan melenggang ke arah pintu keluar.
Daffin yang mendengar itu pun memutar bola mata,kakak nya sangat bucin.Meski Kak Mita sedang mogok bicara,kakak nya tetap agresif.Namun tetap kalah.
Hmmmm....Dasar bucin!
.
.
.
Menuruni tangga dengan sangat tergesa-gesa.Mita,setelah makan siang dan berhasil memulihkan kepalanya untuk sejenak.
Di bawah ada keramaian,seorang pelajar tiba-tiba di giring ke kantor security karena kedapatan berkelahi.Alasan nya melihat perselingkuhan kekasihnya.
"Astaga!!.. "
Mita tetap duduk di pos security,sebagai pemilik Mall dia hanya diam dan menyetujui atau tidak pendapat security untuk menindak lanjuti.
Mita memejam kan matanya sejenak, berkedip dan membuka nya berulang kali.Bayangan di sekeliling nya terus bergerak dan ganda.Rasa pusingnya menerjang lagi,badannya tiba-tiba ber keringat dingin dan perut nya sangat tidak enak.
"Maaf Pak,saya tinggal ke ruangan saya dulu ya?!"
Salah satu Pak Security pun mengangguk dan mempersilahkan Mita keluar.
__ADS_1
Berjalan sedikit gontai dan melewati dapur kantor,Mita meminta tolong office girl untuk membuatkan segelas teh manis hangat.
"Jangan lama-lama,bawakan ke ruangan ku!"
"Baik Bu!"
Melanjutkan langkahnya lagi dengan sesekali memegang keningnya.Kakinya mulai menaikki anak tangga yang hanya beberapa undakan saja.
Penglihatannya mulai tidak bisa dikondisikan,sakit di kepalanya semakin bertambah kala Mita melirik ke bawah.Berputar-putar,dan mulai kabur.Tubuhnya mulai hilang keseimbangan dan dia jatuh di undakan ke tiga.
"Mita!!!..."
"Bu Bos!!..."
Bersamaan dengan Hafi yang datang dan office girl yang membawa nampan.Hafi menangkap tubuh Mita tepat pada waktunya.
"Mitaa!..."
Mita belum sepenuhnya pingsan,dia masih bisa melihat siapa yang memeluknya.
"pusing!.."
Teh manis hangat pun segera diminum beberapa detik dan setelah itu Mita benar-benar pingsa.Tanpa basa basi Hafi mengangkat dan menerima tas Mita beserta kunci kantor yang di berikan oleh office girl.
Mengendarai mobil dengan kecepatan penuh,tangan nya terus terulur memegang kening Mita,wajah istrinya sudah sangat pucat,tubuhnya terkulai di jog dan sandaran.
Aku benci kamu seperti ini sayang!
Hafi sangat panik,ketegasan nya tidak mempan untuk menghalangi Mita tidak bekerja.Selalu mengalah jika berdebar dengan istrinya dan sekarang dia menyesal melihat Mita pingsan dan terkulai lemas.
Tak butuh lama untuk ke Rumah Sakit,karena sudah di kota dan hanya tinggal putar balik dan beberapa kemacetan traffic light yang tak berarti.
Sedang di tangani oleh dokter dan Hafi menunggu di luar.Beberapa saat lalu Ricko menelfon bahwa mobil Mita sudah di ambil dan kini di rumah.
"Suami nyonya Paramita?"
Hafi yang sedang bersandar di tembok dengan mata yang nanar melihat taman bunga kecil terperanjat saat nama istrinya disebut.
"Pak..ke bagian obgyn ya,istri anda sudah dipindahkan lewat lorong darurat!"
"Apa sudah sadar dok?"
"Belum,hanya saja ada penanganan khusus!"
Hafi mengangguk,langkahnya tak bergerak padahal hanya beberapa meter saja dari sana.
.
.
.
__ADS_1
To be continue