
"Kenapa melamun Bos?"
Siku tangan nya bersandar di pintu mobil.Hafi memikirkan perkataan rekan kerja nya beberapa saat tadi.Bukan menguping atau sejenisnya.Hanya saja tidak sengaja mendengar obrolan Bos dan kedua anak buah nya tadi,pada saat Hafi sudah di ambang pintu akan keluar
"Aku tadi tidak sengaja mendengar sesuatu Rick!"
"apa itu Pak Bos?"
"Mungkin tidak jika Pak Vito itu selingkuh?"
"Hah?!!..Bagaimana bisa Anda tahu?
"Tadi aku mendengar nya 'Bilang saja pada istriku,jika aku sedang tidur.Jika dia bertanya.Aku akan di sini beberapa jam lagi,menunggu seseorang' Itu ucapan Pak Vito"
Ya.Rekan kerja Hafi kali ini adalah Vito Fernando.Papah biologis Mina,dan Vito sudah pernah melihat Mita saat itu di perusahaan Brahmana Group.Hanya saja Vito belum berani bertanya-tanya sebagai apa Mita di sana.
"Mungkin teman atau keluarga bisa jadi kan Pak?"
"Kalau keluarga tidak mungkin dia berbohong,tapi jika teman.Apa iya istrinya tidak mengijinkan jika hanya bertemu?!"
Ricko yang mendengar kan hanya mengedikan bahu nya saja.
Perjalanan hanya dua puluh menit,tak terasa mobil memasuki basemant perusahaan.Ricko turun lebih dulu,melihat bos nya yang belum turun.Dia berbalik ke pintu sisi sebelahnya.
Pintu terbuka "Rick.. Bolpen ku sepertinya tertinggal"
"Bolpen Pak?" Ricko merasa aneh dengan bos nya, padahal hanya bolpen dan itu pasti banyak yang lain di ruang kerja nya.
"Iya bolpen,itu Mita yang buat desain nya dan ada namaku di sana!"
Ricko baru mengerti jika bolpen itu berharga "Lalu bagaimana Pak?"
"Masuk lah lebih dulu,aku akan ke restoran dan menanyakan kembali pada pelayan disana!"
Ricko pun hanya mengangguk.Hafi terpaksa harus kembali lagi ke Restoran untuk mendapatkan bolpen milik nyaa.
.
.
.
"Hallo Mas,dimana?"
"Tanya pada bagian receptionis dan kamu akan di antarkan kemari"
"Ok.."
Panggilan di tutup oleh Mita.Menempuh perjalanan empat puluh lima menit dan akhirnya sampai juga di Restoran yang Vito beritahu.
"Pak sup disini saja ya,tunggu saya ada urusan.Nanti pesan saja makanan di dalam Pak"
"Baik Non!..Tapi punten,jangan lama-lama ya Non?!" Suara dan tutur kata Pak sup sangat sopan.
Mita pun mengangguk,dan melangkah membuka pintu lalu masuk ke dalam.Seseorang mengantar kan nya ke ruangan yang Mita beritahukan.
__ADS_1
Menyelusuri koridor yang tidak terlalu terang pencahayaan nya,dan di sana tidak ramai karena memang ruangan untuk pertemuan intern saja.
Pintu di ketok oleh waiters dan terbuka.
Vito menatap pintu, mengetahui siapa yang masuk.
"Maaf Pak,saya mengantarkan tamu dan mencari anda!"
Vito mengangguk "Katakan pada nya,masuk lah!"
Waiters pun mengangguk dan membuka lebar pintu, mempersilahkan Mita masuk.
"Mass .." Mita mendekati Vito dan menjabat tangan nya,tak lupa meletakan punggung tangan nya di kening.
Vito tersenyum melihat itu,ternyata adik ipar nya masih sama seperti yang dulu.Sopan dengan nya.
"Duduk Mita,mau pesan apa? Biar Mas Vit pesan kan!"
Mita tersenyum "Terserah yang penting jangan racun!" Vito pun tersenyum mendengar nya.
"Mau langsung atau makan dulu?" Vito menawarkan pada Mita.
Mendengar itu raut wajah Mita langsung berubah menjadi tegang.
"Sembari menunggu pesanan,aku boleh bertanya pada Mas Vito?"
"Tanya lah Mit,silahkan!!"
"Apa Mas Vito mengajak ku kemari karena Mina? Bukan kah Mas sendiri sudah menikah dan meninggalkan Mbak Fadila pada saat itu,dan lagi kalian tidak pernah bercerai hingga sampai kejadian itu datang!" Wajah Mita sudah seserius mungkin melihat Vito di sebelah nya.
"Sebenarnya ucapan mu hampir benar.Aku ingin bertemu Mina!"
Mita langsung berdiri dari kursinya.Pergelangan tangan nya di cekal oleh Vito.
"Duduk lah lagi,aku belum selesai Mita!"
Mita menghela nafas kasar,menatap penuh dengan rasa cemas dan marah.Pantat nya dia jatuhkan lagi di kursi.
"Aku hanya ingin bertemu,karena terakhir aku meninggalkan kakak mu saat Mina berada tujuh bulan di dalam kandungan.Dan itu harus aku lakukan,aku harus kembali ke keluarga ku Mita.Papah dan Mamah ku membutuhkan ku pada saat itu.Mereka menjadi korban keserakahan saudara ku sendiri yang ingin menguasai harta ku.Dan kau tahu sendiri bukan,aku menikah dengan Fadila tanpa restu mereka.Aku bertekad untuk memperbaiki hidupku dan akan menjemput Dila hidup bersama ku,Na..."
"Apa Mas tahu,mbak ku menjadi salah satu korban bencana itu.Tapi sayang sekali jasad nya tidak ditemukan!"
Vito mengangguk dan mencoba meredakan emosi adik ipar nya.Mita,yang dada nya sudah naik turun dan emosi nya naik.Mengambil nafas dalam-dalam.
"Saat itu orang ku ke lokasi untuk membantu.Mereka menemukan Dila dan membawa nya ke rumah yang aku sewa.Kakak mu tidak langsung meninggal.Dia mampu bertahan meski hanya tiga hari.Namun hanya itu yang dia ingat,selebihnya tidak.Termasuk Mina.Dan aku sadar Mina saat ini milik mu.Dan apa boleh Mina bersama ku unt..."
"Tidak!!!..." Kesabaran Mita mulai habis,dia pun berdiri,dan untuk kedua kalinya Vito mencengkram lengan nya kuat.
"Aku mohon Mita!"
"Gak mas,Mina tidak akan ku berikan pada mu.Dia tetap bersama ku dan tetap menjadi putri kecilku"
Mita mencoba melepaskan tangan Vito yang sangat kencang di lengan nya.
"Ini sa...."
__ADS_1
Ceklek...
"Per ... " Mata Hafi membola dan hampir jatuh.
Membuka pintu dengan maksud memberi salam,namun mata Hafi melihat Mita dan lengan nya di cengkram oleh Vito.
"Mitaa??!!!"
Begitu juga Mita sangat terkejut melihat suami nya ada di sana dan masuk.
"Hafiii?"
Seketika hati Hafi tercubit melihat itu.Tangan seorang laki-laki lain memegang lengan Mita yang polos tanpa lengan baju.
Hafi mendekati Mita.
"Fi... Aku!"
Langkah Hafi melewati Mita,dan mendorong Vito dengan kuat ke tembok.Cengkraman di lengan Mita terlepas.Vito yang masih bingung terdiam,tak berbicara apapun.Tangan Hafi mulai menyerang,namun Vito menangkis nya.
Mita yang melihat itu pun bingung,kaki nya melangkah mencoba meraih tangan Namun Hafi yang tahu itu menoleh seketika.
"Diam ,tetap di sana!"
"Fi.." Mita mencoba melerai.
"Diam kata ku!!!" Suara nya sangat lantang hingga Mita terperanjat,langsung mundur dan terpaku melihat suami nya dengan ganas mencoba memukul Vito yang beberapa kali di tangkisnya.
"Hafi stop aku mohon fii..!!!" Suara Mita sudah berteriak lantang di sana,namun Hafi tetap saja menyerang Vito.
"Hafi..Hafiii...Aku mohon!!!"
"Diam!!!"
"Aku mohon hentikan,biarkan aku jelas kan dulu!" Mata Mita sudah berair karena melihat Hafi yang sangat marah.
"Hafi..."
Hafi pun menoleh dan mendekat pada istrinya.Tangan Mita langsung di cekal dan ditarik ke luar dari ruangan.Menyelusuri lorong yang cukup panjang.
"aakhhh.. Pelan-pelan Fi,perut ku sakit!"
Mendengar itu Hafi langsung melepas tangan,dan mengangkat Mita ala bridal.
Sepanjang jalan mata Hafi nyalang dan terus melihat Mita.
"Aku bisa jelaskan Fi!!.." Dengan menahan rasa sakit nya,Mita mencoba berbicara dengan suaminya.Namun Hafi tak menghiraukan.Hanya melirik dengan ekor mata saja!.
.
.
.
to be continue
__ADS_1