
Setelah mendaftarkan istrinya dan dokter segera memberi penanganan.Melihat gejala yang Hafi jelaskan Dokter mengarahkan pada obgyn.
Dugaan sementara Mita sedang hamil muda dan terlalu banyak fikiran,terlalu capek dan stress.
"Suami Nyonya Paramita.."
Perawat memanggil Hafi,hingga ketiga kalinya Hafi menoleh.
Bukan hanya jaraknya yang jauh,Hafi masih menunggu di poli umum dan duduk dengan menundukkan wajah,badannya condong ke depan,dengan tangan berpangku pada paha.
"Suami Nyonya Paramita?!!!!"
Hafi menoleh dan mencari suara itu.
"Pak disana!" Seseorang kerabat pasien mentoel nya dan Hafi pun mengangguk.
"Terimakasih!"
Melangkahkan kaki dan segera ke poli kandungan,dia belum sadar jika memasuki ruangan yang beberapa tahun lalu menjadi kunjungan nya setiap bulan.
Melihat Mita yang masih berbaring dengan menutup mata,cairan infus berwarna kuning sudah mulai masuk lewat selang yang ada di tangan nya.
"Silahkan duduk pak!.."
Hafi pun menuruti dan duduk di kursi dekat dengan Mita.
"Ini mungkin akan menjadi kejutan jika istri anda tidak siuman hingga selesai pemeriksaan!"
Tatapan nya masih kosong dan Hafi belum sadar jika kemungkinan Mita hamil.
Perawat di sebelah kiri Mita mulai menyingkap pakaian Mita dan mengoles gel di perut lalu mengusap kan rata.
Dokter pun mulai menggerakkan alat nya si atas perut.
Dan benar saja detak jantung terdengar ketika alat itu persis di bagian nya.Perempuan berseragam putih itu pun tersenyum.
"Ternyata benar ya Pak, istri anda sedang mengandung."
Kekehan Hafi menandakan dirinya baru tersadar jika ini ruangan pemeriksaan kandungan ketika melihat monitor pada USG.
"Tujuh Minggu,dan ini sangat sehat.Dia bergerak terus, lihat?!"
Hafi menggenggam erat jemari Mita dan menciumi nya.Seketika matanya berkedip dan mulai tersadar.
"Sayang.." Hafi memeluk nya erat.
"Lepas aku sesak!"
Padahal gel di perut belum di bersihkan dan terpaksa dokter mengakhiri,dan mencetak hasilnya untuk di baca.
__ADS_1
"Aku dimana kenapa bisa disini?" Mita menoleh dan melihat dua orang berseragam putih.
"Di rumah sakit.Lihat sayang!"
Hafi meraih hasil USG Mita yang diberi oleh dokter,terlihat masih sangat kecil.
"Kamu hamil lagi!" Hafi mengusap dan mencium perut Mita yang dilapisi bahan pakaiannya.
Mita meraih hasil USG dan berusaha menegakkan tubuhnya.
"Aww!..."
Infus di tangannya sedikit terlepas karena tarikan yang kencang,darah pun kembali mengalir di selang kecil.
"Pelan-pelan bisa kan, bagaimana jika tadi tercabut dan darahmu menetes?!" Hafi panik dan bergeser,memberi ruang untuk perawat membenarkan selang infus.
Mita tersenyum melihat janinnya yang masih sangat kecil.Tak menduga secepat itu di berikan adik untuk Razka dan Nesha,padahal mereka saja baru satu tahun jalan sepuluh bulan.Menitikkan air mata, lagi-lagi harus mengalami kehamilan dengan berbagai drama, padahal drama kehamilan sikembar saja masih jelas teringat.
Tangan nya reflek menyentuh perut dan mengusap nya.Hafi yang melihat itu seketika menangkup wajah istrinya dan mencium kening hingga akan mendekatkan bibirnya di bibir Mita,namun Mita tahan menggunakan jarinya.
"Aku masih marah padamu Ayah Nesha!"
Hafi menggeleng "Terserah,yang aku tahu kita bahagia karena kehadirannya!"
Dia pun memeluk Mita tanpa di balas peluk oleh istrinya.
.
.
.
Kamu menyebalkan,selalu melarang ku ini dan itu.Sekarang aku bahkan tidak bisa kemana-mana.Kamu menang Hafi,suamiku.
Senyum nya sangat tipis hingga tak terlihat sama sekali.
Membantu Mita mengganti pakaian setelah mandi.Awalnya Hafi yang akan memandikan namun Mita tidak mau.Menyisir dan memakaikan body lotion di tubuh istrinya.
"Sekarang kamu tidak punya alasan untuk tetap bekerja.Nanti aku bicarakan pada Ricko untuk mencari seseorang menggantikan mu!"
Mita hanya mengangguk dan melirik pada suaminya.
Hafi pun duduk di sebelah nya.
"Maaf untuk semua.Aku tahu kamu capek mengurus rumah dan anak-anak.Tapi aku tidak pernah membandingkan mu dengan Mamah,iya kalian berbeda.Besok kita cari baby sitter lagi ya.Tapi aku mohon sayang.Istirahatlah dan jangan menyentuh pekerjaan apapun termasuk menggendong Razka dan Nesha,anak ku disini belum kuat,mengertilah jika kamu mempunyai riwayat pernah keguguran!"
Mendengar penuturan Hafi yang sangat lembut dan berulang kali mengusap perut nya,Mata istrinya mengembun dan dia pun mulai mengusap bawah mata.
"Aku juga minta maaf, karena ego ku dan aku sampai tidak sadar jika ada adik lagi di sini!"
__ADS_1
Air mata nya mulai menitik.Hafi pun memeluk Mita sangat erat.Butuh pendekatan dan menurunkan ego masing-masing ternyata jauh lebih baik dari pada terus dengan keinginan sendiri yang harus di penuhi.
.
.
.
Hingga sore hari Hafi terus di samping Mita,mereka seperti mengawali saat mempunyai anak pertama nya.
Bersandar di bahu Hafi,dan merasakan nyaman disana.Mita sebenarnya rindu,hanya saja untuk mengutarakannya sedikit gengsi.Hafi terus mengusap Surai indah milik istrinya.Selesai membersihkan tubuhnya dan mengecek cctv,twin dan Mina bahkan sangat pintar untuk mandi dan makan sore.
Ceklek!!!
Dia awali Mina yang membuka pintu dan di ikuti oleh Baby twin.Mereka masuk dan berhambur naik ke ranjang yang ukurannya sangat besar.
"Hati-hati nak!..." Hafi membantu Nesha menaikki ranjang,begitu juga Mina yang mendahulukan adik laki-laki nya lalu dia duduk bersila di depan mereka berempat,tangan nya berlipat di depan dada.
"Ayah dan Bunda,kenapa tidak kebawah?"
Mina melirik adik-adik nya yang sedang di asi ih oleh Mita.
"Sini,Mina dengan Ayah!"
Gadis itu pun langsung mendekat dan tidur telungkep di atas Hafi yang sedang bersandar.Posisi nya melihat kedua adiknya yang sedang memeluk Mita erat.
Mita tersenyum melihat Mina yang seperti itu.
"Mina mau seperti ini?" tanya Mita.
"Tidak Bund,aku sudah besar.Mana mungkin aku mau!!"
Hafi menyelipkan anak rambut Mina yang menutupi matanya.Dia tahu anak sambungnya sedang di mode cemburu pada kedua adiknya.
"Dengarkan Ayah!.. " Hanya Mina yang benar mendengarkan nya,kedua adiknya terus tersenyum dan bermain.
"Di perut bunda,ada adik lagi.Mina tidak apa-apa?"
Mina mendongak melihat Hafi bergantian dengan Mita di depan nya.Dia sedang tidak bermimpi dan pendengaran nya pun tak sedang bermasalah.
"Mina??..." Tangan Mita terulur,gadis kecil itu pun mendekati Mita dan mencium pipi Bunda nya.
"Mina tidak apa-apa,Adik adalah pemberian Tuhan dan Mina harus bersyukur"
Terharu sekali Mita mendengar penuturan anak gadisnya.Mina dituntut untuk mengerti segalanya.Beruntung didikan Mita dan Hafi membuat cara berfikir Mina jauh di banding anak seusianya.
.
.
__ADS_1
.
To be continue