
Mendengar tangisan Mina hingga sampai ke lantai dua,Mita yang sedang serius mengobrol dengan Hafi,membuka pintu kamar dan berlari cepat ke bawah.
Dia tahu,jika Mina sampai menangis sekeras itu pasti sesuatu terjadi padanya.
Dengan berlari,Mita menuruni tangga.Langkah kakinya begitu cepat.Dari tangga.Hafi sempat bingung dan mengekor jauh di belakang nya.Kening nya berkerut,mata nya menyipit melihat Mita menggendong anak balita.
"Unda cakit ndaa!" suara nya parau karena menangis.
Jari tangan nya terjepit mainan bongkar pasang.Daffin yang melihat Mina menangis ikut takut jika terjadi sesuatu pada jari bocah balita itu.
Mengikuti mamahnya ke dapur untuk mengambil obat.
"Husttt!!! tidak apa-apa Mina,nanti sembuh.Ini hanya terjepit.Kakak Daffin sedang mengambilkan obat untuk Mina"
Dari balkon Hafi bisa melihat interaksi Mita dengan seorang bocah balita.Menangis di pelukan Mina,sangat dekat seperti Ibu dan anak.Hafi mendengar bocah itu menyebut Mita dengan sebutan Unda.
Unda?Apa maksud bocah itu Bunda?Dia sudah punya anak?Yang benar saja?Kenapa aku tidak tahu
Hafi pun menuruni tangga,tangan nya di masukkan di kedua kantong celana.Kaki nya melangkah pelan dan santai.Namun mata nya tak berkedip melihat interaksi Mita dengan Mina,hingga mata Mita bertemu dengan mata Hafi.
Sangat amadt tidak tahu latar belakang Mita.Tatapan Hafi seolah menggambarkan pertanyaan untuk nya.Banyak yang harus Hafi korek dan mendalami latar belakang wanita puluhan juta nya.
"Kak,ini obat untuk hari Mina" Daffin memberikan botol kecil berisi minyak.
Mita tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada Daffin.
"Sini Mina, Bunda obati luka mu!"
Mendengar itu mata Hafi membola,benar dugaan nya.Bocah balita itu memanggil Mita dengan sebutan Bunda.
Jadi,dari tadi bocah balita itu di bawah.Dan mamah tahu jika Mita mempunyai anak.Hayyss bagaimana dengan pikiran mamah setelah ini.Pasti dikira aku mengikuti jejak papah yang suka dengan janda.
Hafi melirik mamah nya,begitu pula Ara yang juga melirik Hafi.Seperti nya mamah nya membutuhkan penjelasan dari anak laki-laki nya.
Setelah mengobati luka Mina yang hanya terjepit dan kulitnya berganti merah meski tak berdarah,tangis Mina reda.
"Micu.." Mita tersenyum mendengar Mina minta sesuatu.
Ara, Inggira,Riza,dan Daffin terpana melihat Mita dengan lues merawat bocah bayi,yang masih di bawah lima tahu.
Hafi masih mematung di bawah tangga melihat itu.
"Nyo..Eh maksud ku,Ma-mah apa aku bisa membuatkan susu untuk Mina?Aku membawa nya di tas hanya saja belum diberi air hangat"
Ara mengangguk cepat "Oh tentu,tentu bisa..ayo,mamah antar kan ke dapur"
"Baik.. terimakasih dan maaf merepotkan" Mita tersenyum kaku pada Ara.
Mina masih duduk di sofa dan di jaga oleh Daffin.
__ADS_1
"Kak sini !! Adik Mina lucu kak,Mina akan menjadi adik ku kan kak?"
Daffin melambai kan tangan pada Hafi,mau tidak mau kakak nya mendekat dan duduk di sebelah Daffin.
"Mina..Ini namanya kak Hafi.Kak Hafi ini Mina,pasti kakak sudah mengenal lebih dulu kan?Bukan kah kakak dekat dengan bunda nya Mina?"
Hafi yang masih bingung hanya mengangguk.Mina di sebelah nya merangkak bergeser duduk di pangkuan Hafi dan memeluk lengan nya.
"Pantes sih Fi kalau di lihat-lihat!" Riza mengulum senyum,begitu juga dengan Inggi.Kedua nya hanya diam dari tadi.Berbicara ketika mengejek saja.
Hafi yang tahu itu sebuah ejekan,hanya melirik saja.
"Yayah!" Tiba-tiba Mina berbicara pada Hafi dan tersenyum ala bocah balita.
"Dia bilang apa Fi?" Riza penasaran dengan celotehan Mina.
Hafi menggeleng "Diam kalian!!! Naik sana,gak guna kalian disini.Nggi Za,please naik lah ke kamar kalian masing-masing!"
Inggira yang langsung berdiri dari duduk dan menaikki tangga,dia paling takut jika kedua kakak nya berkelahi.
"Riza!! aku mohon Za!" Hafi meminta sekali lagi pada saudara kembar nya untuk menyusul Inggira naik ke atas masuk kamar.
"Ada syarat nya"
"Zaaa.....!!"
"Zaaa!!!"
Riza pun lari menaikki tangga setelah Hafi menyebut namanya kembali.
.
.
Hafi Ara dan Daffin benar-benar melihat kedekatan Mita dan Mina.Hanya dengan memberikan satu botol mini kepada Mina,bocah balita itu tertidur di gendongan Mita,dagunya dia sandarkan pada bahu Mita.Tangan Mita tak kenal lelah menepuk pantat Mita,dan menggoyang kan tubuhnya sebagai ganti ayunan.
"maaf,Mina merepotkan!"
"Tidak apa-apa.Tidur kan saja di kamar Hafi jika kau lelah Mita.Mina akan lebih nyaman jika tidur di ranjang dengan kasur busa yang empuk"
Mata Mita beralih menatap Hafi.Hafi yang tahu wanita itu butuh jawaban,Berdiri dan meraih Mina dari gendongan Mita.
"Biar aku saja yang menggendong naik ke kamar"
Demi drama yang mereka buat,Mita pun menyerahkan Mina pada Hafi.Bocah itu tidak menangis,padahal biasanya akan lama berdekatan dengan orang asing.Meski matanya terpejam dia dapat merasakan.Tapi dengan Hafi,Mina tidak terasa jika gendongan nya berganti.
Hafi mulai menaikki tangga menuju kamarnya.
"Mit,naiklah temani Hafi"
__ADS_1
"Tapi maa....?"
"Tidak apa,naik lah! Mamah akan di sini saja menunggu Papah Hafi pulang,mungkin sebentar lagi."
Mita terpaksa menuruti kemauan Ara untuk menyusul Mina di kamar Hafi.
.
.
"Hehmm... ternyata kau sudah pernah menikah?Atau hamil di luar pernikahan?Aku tidak heran,wanita dengan profesi seperti mu pasti terjadi hal semacam itu!"
Baru juga membuka pintu dan menutup nya.Mita sudah mendengar suara Hafi yang berbicara tidak di saring dulu.
Perkataan nya bahkan membuat hati Mita sakit.Hampir seluruh rumah ini sangat terlihat memandang sebelah mata Mita yang datang membawa anak balita.
Hanya mamah nya saja lah yang bersikap biasa saja.
Memang mereka menganggap janda itu aib?dasar!! sementara biarkan mereka menganggap apapun.Tapi setidak nya aku tahu keluarga ini seperti apa.. terimakasih Mina 😘
Mita berbicara dalam hati,sedikit senang dan beruntung membawa Mina bersama nya.
Mita melihat Hafi jengah "Ya memang keadaaan ku seperti ini"
"Siapa ayah nya pasti kau tidak tahu kan?"
Mita menarik nafas nya dalam dan memejamkan mata.Stok kesabaran nya harus lebih panjang.
"Itu bukan urusan mu! Jika hanya ingin mengejek ku dan menguliti ku,sebaik nya aku pamit.Nanti akan aku cicil hutangku padamu lewat transfer bank.Kita tidak usah ada perjanjian apapun,batalkan saja semuanya!"
Langkah Mita panjang menuju ranjang,namun tangan Hafi segera menarik nya,Tubuh Mita dihempaskan di tembok.
"Jangan mencoba lari dari hutang mu.Aku perlu klarifikasi tentang kita kemarin.Jika tidak saham perusahaan ku anjlok!"
Mita tersenyum dan lama kelamaan tertawa terpingkal mendengar nya.
"Dasar orang kaya,tidak jauh dari image!"
Melihat Mita yang awalnya tersenyum lalu tertawa,lesung pipi nya terlihat jelas.Wajah nya begitu bersih.Siapa yang akan menyangka jika gadis itu mempunyai anak balita dari hasil kerja paruh waktu nya.
Cantik
.
.
.
to be continue
__ADS_1