
Tidak terasa sudah lebih dari sebulan Mita merawat Ibunya yang masih terbaring di rumah sakit.Hanya alat bantu sajalah yang membuat hidup nya bertahan.
Selama itu pula Mita menjaga nya,mendadak seperti rumah sendiri,satu ruang kamar khusus untuk Mita dan Hafi tempatti di sana.Hal yang tidak mungkin dilakukan untuk keluarga Brahmana.
Siapa lagi jika bukan nama Opa dan Fandi yang mereka bawa.
Setiap hari hanya cerita yang Mita perdengarkan kepada Ibu nya.Dari dia kecil hingga menikah.Ibu nya hanya merespon dengan tetesan air dari sudut mata nya.Alangkah pedih nya Mita melihat itu.
Banyak pertanyaan di lubuk hatinya,ketakutan yang terus menghantui dalam satu bulan ini.Ketakutan akan ibu nya yang tidak mampu bertahan,ketakutan jika ibu nya sadar dan menyadari jika kaki nya tidak seperti dulu lagi.Paling Mita takuti adalah Ibu yang bisa saja tidak ingat sama sekali dirinya.
Meski Ibunya terbaring,mungkin saja dia bisa merasakan.Setiap hari Mita di sana menangis dan menangis tak henti.Hafi hampir dibuat nya stres jika tidak ada Ara yang menyemangati.
"Apa ibu tidak merindukan ku?Kata perawat disini,badan ku jadi langsing Bu.Katanya juga mataku sudah seperti panda.Hanya Ibu yang selalu mengatakan aku anak mu yang paling cantik!"
Mita menyusut hidungnya.
"Bu,bisakah bangun sebentar? Jika ibu bangun,aku akan pulang dan membawa Mina kemari.Pasti dia sangat merindukan nenek nya yang sudah lama tak bertemu.Begitu juga dengan ku.Aku selalu disini menemani Ibu,aku ada di kamar sebelah bersama Hafi." Mita menoleh ke kaca,dan tersenyum pada suaminya.
"Bu coba ibu membuka mata.Hafi selalu ada di sana menemani ku jika bersama Ibu.Dia sangat mencintai ku Bu."
Alat di sebelah Mita semakin sering berbunyi,dia pun panik bukan main.Serombongan tim dokter masuk.Salah satu suster pun mempersilahkan Mita ke luar,untuk menunggu di sana.
Hafi yang sudah menunggu di depan,meraih bahu Mita dan memeluknya.Mita membalas pelukan suaminya.Pelukan yang erat karena malam itu langit mendung dan sangat dingin di luar.
Pembatas kaca pun di tutup oleh dokter karena akan melakukan tindakan.
Hafi dan Mita duduk,berpelukan saling menenangkan.
Suara panjang alat di dalam sana berbunyi,Mita mendongak melihat wajah Hafi.Tubuhnya mendadak lemas tak bertulang,tak bertenaga,dada Mita berdetak cepat.Otak nya sudah tidak bisa berfikir lagi.
Menangis sejadinya,ketika gorden penutup kaca di buka dan melihat Ibu nya sudah tertutup selimut hingga sampai ujung kepala.Mendadak dunia nya runtuh,dada nya bergetar hebat.Hafi yang berada di sebelah nya memeluk dengan erat,Mita sudah tak bertenaga lagi.
Suara Mita hilang seketika,hanya air mata yang terus mengalir deras di ujung matanya.
"Kita pulang ya,kita tunggu ibu di rumah!"
Mita tak menjawab apapun,pandangan nya kosong.Hanya kedipan mata nya saja yang menandakan setuju atau tidak.
Kaki nya lemas tak bisa berjalan, akhirnya Hafi menggendong hingga ke parkiran mobil.Seperti biasa,pengawal tidak lepas dari mereka.
__ADS_1
Menyandarkan kepala di bahu suami nya,mata Mita terpejam namun air terus mengalir dari sudut mata.Beberapa kali Hafi sudah mengusap air mata,namun Mita tak bisa berhenti menangis.
.
.
.
Mobil berhenti, Ara yang sejak tadi sudah menunggu lama membuka pintu mobil dan meraih tubuh Mita,menantu nya langsung memeluk dan menangis kencang di bahu mertua nya.
"Menangis lah hingga kau puas Nak.Menangis lah sampai tidak ada air mata yang tersisa.Setelah ini mamah dan papah janji akan menangkap pelaku nya!"
Mita hanya mengangguk tak berdaya,tenaga nya habis.Hafi yang selalu melingkarkan lengan di pinggang istrinya,takut jika tiba-tiba jatuh pingsan kembali.
Di depan pintu sudah ada Fandi dan Riza,Fandi mendekati Mita dan mengusap kepala.
"Maafkan kami, Ikhlaskan ibu mu.Ibu sudah tenang di sana.Beliau pasti bangga punya anak seperti mu!"
Fandi memeluk Mita dan mencium ujung kepala nya.Seperti Inggira,Mita pun sudah seperti anak nya sendiri.
"Pah!!.." Hafi menatap tajam Papahnya sendiri.
Kediaman Brahmana mendadak banyak bunga berkabung yang berjejer di sana.Segelintir orang mengetahui Bu Dalilah adalah kerabat keluarga Brahmana.
Namun pandangan mereka berisik ketika melihat Mita yang terus menangis di pelukan Hafi.Tak sedikit pula menerka-nerka jika Ibu Dalilah istri simpanan Fandi,dan Mita adalah adik Riza dan Hafi.
Lebih terkejut lagi ketika seorang anak batita yang menangis mendekati Mita,mengucap Unda kepada nya.Dan Yayah kepada Hafi.
Jenazah sudah siap untuk di makam kan,Mita yang tidak boleh ikut ke pemakaman karena fisik nya yang tidak kuat terus saja memaksa suami.Akhirnya Hafi mengijinkan dengan syarat harus kuat.
Butiran pasir di lempar hingga menjadi gundukan tanah, peristirahatan terakhir untuk semua yang bernyawa adalah tanah.Mita memejamkan mata erat menahan tangis nya ketika pemakaman sudah selesai,dan gundukan tanah terlihat di depan nya.
Raga yang tak bisa disentuh lagi itu telah tertimbun Tanah,kenangan yang selalu di ingat akan abadi selamanya.
Selamat tinggal Ibu,Aku akan selalu menjaga Mina.Tenanglah dan berbahagia bersama belahan jiwa mu di sana..Ayah.Mita akan selalu mendoakan kalian disini.
Pelukan terakhir yang Mita berikan di atas pusara Ibu nya,memeluk gundukan tanah yang bertabur bunga.
"Sayang.." Hafi mencoba mengangkat tubuh istrinya,namun terasa berat!
__ADS_1
Hal yang sudah Hafi duga,Mita pingsan kembali untuk yang kedua kalinya.Menggendong dan membawa ke mobil dengan cepat.
.
.
.
Matanya terpejam namun tetesan air masih mengalir di sudut.Mita enggan membuka mata.
"Sayang..." Hafi berbisik di telinga istrinya.
"Aku tahu kamu sudah bangun,buka lah mata.Aku akan selalu di sini.Isi dulu perut mu,dari kemarin kamu belum makan bukan?"
Mita mengerjapkan mata nya,hampir tak terlihat karena menangis terlalu lama.Tangan nya mengusap kening sendiri.
"Aku pusing Fi!"
"Itu karena kamu terlalu lama menangis,Ibu sudah tidak sakit.Ikhlaskan lah,beliau sudah bertemu ayah dan saudara mu yang lain di sana!"
Hafi menyeka air yang lagi-lagi terjatuh di pipi Mita.
"Boleh bersedih,tapi tidak boleh berlama-lama.Masih ada Mina yang membutuhkan mu,masih ada aku juga.Aku akan bingung jika kau seperti ini terus sayang."
Mita tersenyum,meski sangat tipis tapi Hafi tau itu.Saling memeluk,Hafi mencium bahu Mita,selama mereka di rumah sakit,selama itu pula Hafi tak meminta apapun pada Mita,sementara berpuasa karena mood istrinya tidak baik.
"Aku akan selalu disamping mu, Paramita Berliana!"
Mita mengangguk.Kecupan di leher membuat Mita sedikit meremang.
Kehilangan orang yang paling di sayang adalah hal yang paling menyakitkan.Meniadakan yang dulunya ada.Mungkin bagi bumi dia adalah penghuninya,tapi bagi Mita dia adalah dunianya.
Hari itu Mita berjanji akan bangkit dari sedihnya,benar kata Hafi.Bersedih boleh tapi tetaplah lanjutkan hidup mu.Karena masih ada orang-orang yang menyayangi mu di luar sana.
.
.
.
__ADS_1
To be continue